“Sayang, kamu kenapa?” Ryu keluar dari mobil ketika tunangannya terdengar menjerit. Ia tak mau mereka menjadi pusat perhatian. Lekas saja lelaki asal Jepang itu membawa Anggun masuk dan berusaha menenangkannya. Naik turun napas dokter forensik tersebut. Anggun memang sudah sering mengalami hal-hal menyeramkan. Namun, yang sekarang ini terasa sangat luar biasa. Ryu memberinya sebotol air mineral dan ia masih berusaha membuat dokter itu tenang dalam genggaman tangannya. “Jalan terus, Sandi. Kita nggak boleh terlambat, acara hari ini sangat penting.” Perintah Ryu, sekeretaris pribadinya lekas saja melajukan kemudi. Anggun masih memandang sisi kiri dan kanan mobil. Ia takut ada sosok bertudung hitam yang mengintainya. “Kenapa, apa yang kamu lihat di luar sana?” Ryu menyentuh jemari halus tu

