Air terus memenuhi kamar mandi Anggun hingga tubuh kurus itu tenggelam dan melayang di dalamnya. Saluran air dari sisi mana saja dan saluran udara tertutup oleh gumpalan rambut putih hingga alirannya tersumbat. Arwah gadis itu menatap Anggun dengan tatapan kosong lagi. Wanita berhidung mancung itu mengabaikannya, ia mencoba menggedor pintu kamar mandi yang terkunci rapat. Beberapa waktu mencoba, genggaman tangannya semakin melemah, matanya terpejam, napasnya telah sesak. Tubuh itu terjatuh di lantai kamar mandi, hingga perlahan-lahan air kamar mandi keluar melalui saluran air yang gumpalan rambut putihnya telah terurai. Nyawa Anggun antara hidup dan mati. Tanda ular di tangannya mulai bergerak-gerak, mencari bagian tubuh mana yang layak untuk diambil.
Ryu dan Sandi berjalan menuju apartemen Anggun. Sudah beberapa kali lelaki berdarah Jepang itu mencoba menghubungi tunangannya, tetapi tak juga ada jawaban, padahal malam itu adalah acara penting baginya. Acara yang akan menjadi kejelasan hubungan kerja sama antara Ryu dan pebisnis lainnya. Lelaki asal Jepang itu sekaligus ingin memperkenalkan Anggun pada khalayak ramai sebagai calon istrinya nanti.
Sampai di depan kamar Anggun, Sandi membuka pintu apartement sebab mereka juga memiliki kunci yang sama. Ryu masuk ke ruang tamu sedangkan asisten pribadinya menunggu di luar. Tidak ada tanda-tanda tunangannya sedang bersiap-siap. Ryu masuk ke kamar Anggun, meletakkan satu buah gaun yang akan dikenakan dokter forensik itu. Tak juga ia temukan tunangannya, lelaki berdarah Jepang tersebut kemudian nekat membuka pintu kamar mandi, dan saat itu juga ia melihat tubuh Anggun tergeletak di lantai tanpa mengenakan sehelai benang pun.
Cepat Ryu mengangkat Anggun dan memindahkannya ke ranjang, ia mencoba tetap tenang meski jantungnya berdetak tak keruan. Terlebih dahulu ia menekan perut tunangannya agar air di dalam perutnya keluar, lalu menekan uluhati sebagai pertolongan lanjutan, tak ada pergerakan dari tubuh wanita itu, ia pun nekat memberikan napas buatan beberapa kali, hingga Anggun terbatuk dan memuntahkan sisa air di perutnya. Ryu lanjut menepuk punggung wanita itu hingga semua sisa air keluar.
“Ada apa? Kenapa sampai pingsan di kamar mandi? Jangan bilang kamu coba bunuh diri?” Ryu menatap mata Anggun yang memerah. Ia lekas memberikan handuk pada tunangannya. Ryu takut lupa diri ketika melihat lekuk tubuh tanpa cela itu. Anggun berdiri dan tak menjawab tanya Ryu hingga membuat lelaki itu kesal.
“Jangan sampai aku bertanya dua kali!” desak lelaki dengan tinggi lebih dari 180 cm itu. Ia mencekal tangan dokter forensik tersebut lalu Anggun menepisnya dengan kuat, sekujur tubuhnya terasa membeku dan ia butuh sesuatu yang bisa menghangatkannya.
“Diganggu hantu,” jawab Anggun jujur. Ia tak bisa melihat sembari tak lepas sosok gadis itu memperhatikannya dari sudut ruangan.
“Non sense, ada hantu yang berani berhadapan denganmu?” Ryu tersenyum, ia menyugar rambutnya yang dipotong sangat rapi. Tak percaya, sebab tunangannya itu sudah sering membedah tubuh manusia. Secara logika justru hantu yang takut dengan Anggun.
“Ada, itu yang lagi duduk di ranjangku dan masuk tanpa izin ke kamarku. Sekarang lebih baik kamu keluar. Aku mau istirahat, hari ini i’m totally tired.” Anggun lupa dengan janjinya dengan Ryu. Namun, yang ia katakan pun benar. Tulang-belulang dokter forensik itu serasa lepas dari tempatnya. Ia ingin tidur seharian tanpa diganggu siapa pun.
“Kita punya jadwal makan malam hari ini, Sayangku.” Ryu mengingatkan janji mereka berdua.
“Batalkan saja, hidungku merah, dadaku sakit. Next time, bisa?” Anggun mengambil baju tidur. Ia melirik Ryan yang tak juga mau beranjak dari kasur juga kamarnya. Tak mau ia satu kamar dengan lelaki dari Jepang itu. Ryu bisa melakukan semuanya sesuka hati tanpa mempertimbangkan perasaan Anggun.
“No, ini dress untukmu. Aku tunggu di luar. Kalau setengah jam belum juga siap jangan salahkan aku yang akan mengganti bajumu itu!” ancam Ryu, “terus kita nggak jadi makan malam, dan kita buat film sendiri di atas ranjang, pilih mana?” Ryu menatap lurus ke bola mata Anggun. Wanita itu berpaling. Di apartemen yang sunyi itu rasanya jika menjerit pun sia-sia saja. Orang-orang di kiri kanan tak pernah ikut campur urusan penghuni kamar lainnya.
Kontan Anggun menyilangkan dua tangan di depan Ryu, ia memaki lelaki itu dengan sebutan pervert atau m***m. Ryu tak menghiraukan, lelaki itu tetap saja berjalan lurus dan mengunci pintu kamar Anggun setelah memberi peringatan waktu hanya 30 menit, tidak lebih atau hal-hal yang diinginkan pun terjadi.
Anggun mengeluarkan dress hitam dengan belahan punggung yang sangat rendah. Sejujurnya ia ingin sekali tidur tenang sekarang, tetapi sekali lagi ia mengingat bagaimana posesivenya Ryu jika sampai janjinya tak dipenuhi. Selama setengah jam ia berdandan, menyanggul rambutnya dengan sederhana sehingga terlihat sepadan dari ujung rambut dan ujung kaki. Setelah semuanya siap, Ryu dan Anggun menuju suatu tempat dengan Sandi sebagai sopirnya.
“Tato baru?” Ryu memegang tangan Anggun yang jelas tercetak gambar ular di sana.
“O, oh, iya, iseng,” jawab Anggun meragu, ia punya tato di bagian pahanya, Ryu tahu sebab pernah merobek rok wanita itu saat kejadian yang tidak terduga pertama kali, bukan hal m***m, melainkan penuh ketegangan. Ryu memandang tato itu dengan seksama, ia sedikit mengenali simbol itu sembari menyunggingkan senyum penuh kelicikan. Tato yang sama dengan apa yang menimpa leluhurnya 200 tahun silam.
Sepanjang perjalanan Anggun melihat ke arah jendela, deretan lampu kota yang semakin gemerlap tak mampu menghilangkan gundah di hatinya. Peringatan dari mayat yang hidup selama beberapa detik, lalat hijau yang berubah menjadi seekor ular yang masuk ke dalam jarinya, hampir mati di dalam air, semua hal aneh yang terjadi hanya dalam sehari nyaris membuatnya kehilangan akal sehat.
Anggun mengambil ponselnya, ia melihat pesannya telah terkirim ke Eda, tetapi tak ada jawaban, tidak seperti biasanya, padahal mereka adalah sahabat akrab dulu bersama Ryan sebelum sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
“Kita akan menikah tiga bulan lagi,” ujar Ryu membuka perbincangan sebab suasana di dalam mobil begitu dingin.
“Ha? Ti-tiga bulan?” Anggun menatap tunangannya dengan rasa tidak percaya.
“Oke, Sandi, majukan jadi dua bulan lagi, atur ulang semuanya!” tegas lelaki Jepang itu.
“Wait, apa-apaan ini. Tiga bulan itu terlalu cepat, aku sedang menangani kasus aneh, jangan membuat keputusan sendirian, deh. Yang mau nikah itu kamu sama aku, tanya dulu donk gimana maunya aku.”
“Aku bisa membantumu dalam setiap kasus, jangan kamu lupa siapa aku.” Ryan membanggakan dirinya sendiri.
“Berhenti!” perintah Anggun pada Sandi.
“Jalan terus,” lanjut Ryu pada asistennya.
“Berhenti, kalau tidak aku bedah kalian di ruang otopsi sekarang juga.”
Dengan kode dari tangan Ryu, Sandi menghentikan laju kendaraannya. Anggun membuka mobil dan keluar dari sana. Pikirannya sedang tak ingin membahas masalah pernikahan, sebuah ikatan yang akan mengurungnya seumur hidup bersama lelaki aneh dan posesive itu. Dulu bukan tak pernah Anggun mencoba untuk pergi, tetapi dengan segala kemampuan Ryu, ia pun kembali lagi. Lelaki yang memiliki usaha sebagai pemasok senjata api dan alat-alat di bidang kesehatan sangat memiliki jaringan yang luas. Menurut pengakuan Ryu, semua dibangun turun-temurun dari kakek moyangnya dulu di Jepang.
Anggun memperhatikan tato di tangannya, perlahan-lahan ia melihat gambar ular itu bergerak dan meliuk-liuk hingga membuat tangannya nyeri hebat. Ia pun berjongkok menahan sakit. Tak sanggup lagi Anggun pun menjerit kesakitan.