Anggun dan Ryu makan berdua dalam keheningan. Wanita cantik berusia 30 tahun itu nyaris tak percaya dengan apa yang ia alami barusan. Baru saja terluka lalu secepat itu sembuhnya. Tidak masuk akal, begitu yang ada di pikiran Anggun, sebab baginya semua harus masuk di logikanya. Namun, bukankah semua peristiwa akhir-akhir ini tidak masuk di nalarnya sama sekali. “Makan saja, jangan berpikir yang tidak-tidak.” Ryu menyentuh piring Anggun yang tak berdenting lagi. Ia tahu tunangannya sedang memikirkan sesuatu. “Ya, gimana nggak. Tadi beneran tangan aku luka.” Dokter Forensik itu di mana ia terluka. “Sudah sembuh, syukuri saja. Jangan menambah beban pikiran dengan hal-hal yang bukan tanggung jawab kamu. Kematian Anita, wabah penyakit, terus teror yang mungkin akibat kamu memikirkan merek

