Tiga Serangkai

1922 Kata

Ryan membuka mata, kemudian melirik jam di dinding, hari sudah pukul 04.00 pagi. Ia bangun dan mengemas dirinya sendiri. Kemudian menyeduh secangkir kopi. Sarapan hanya empat keping roti dengan selai cokelat saja. Hari ini mantannya—Soledad, datang. Dulu ia dan Eda pisah baik-baik, karena sama-sama sibuk bekerja. Eda mencari artefak dan ia sebagai mata-mata, tak ada waktu bahkan untuk bertukar cerita sejenak. Rasa cinta, tentu masih ada di dalam hati. Sulit menghilangkannya, karena sudah banyak peristiwa yang mereka lewati bersama. Lelaki itu memeriksa ponselnya, masih setengah jam waktu tersisa untuk berangkat. Ia buka laci yang isinya semua senjata tajam, baik senapan ataupun pisau. Lalu ia ingat hanya akan pergi ke bandara bukan mengunjungi tempat-tempat berbahaya. Ia tutup kembali la

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN