“Morning, Honey.” Anggun memeluk Ryu yang sudah bangun dari tadi. Rencananya wanita itu ingin sholat Shubuh. Namun, ya begitulah tertidur karena kelelahan meladeni suaminya. “Morning, you okay?” Ryu memindahkan nasi goreng dan telur mata sapi dalam satu buah piring. Teringat lelaki keturunan Hithosi itu bagaimana tadi malam melepas semua dalam sebuah keindahan yang tidak bisa dilukiskan oleh kata-kata. “I’m fine, so much fine, because of you.” Anggun mengambil sendok dan garpu. Tentu saja sambil mengedipkan sebelah matanya. Entahlah, karena ulah Ryu tadi malam jadinya pagi ini ia ingin lebih genit pada suaminya. “Really? What about if i want more?” tanya Ryu. Mata lelaki separuh Jepang itu tidak bisa berpaling dari pergerakan pinggul Anggun yang pagi ini sengaja menggunakan kemej

