Luka

1833 Kata

Anggun memeluk dirinya sendiri di depan jendela kamar. Sudah satu bulan lebih mereka berada di pulau yang bisa dikatakan tidak terlalu terpecil. Kota masih bisa ia lihat meski kecil-kecil sekali di pandangan matanya. Wanita itu sudah jauh lebih baik, sesak napasnya jauh berkurang. Ketika berjalan ke dapur dan pekarangan belakang rumah tidak perlu ada drama pingsan lagi bagi Anggun. Yang lebih menyenangkan demamnya tak lagi naik turun, suhu tubuh dokter forensik itu sudah berangsur normal seperti sedia kala. Meski untuk sehat dan lincah seperti dulu rasanya masih sangat jauh. Namun, dari semua hal yang patut ia syukuri yaitu memiliki suami seperti Ryu. Lelaki itu menaruh perhatian besar pada istrinya. Satu hal yang membuat dokter forensik itu rendah diri. Ia belum bisa menjadi istri sepe

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN