Kota semakin sunyi. Yang sakit semakin banyak dan yang sembuh hanya tinggal dongeng saja. Gedung-gedung tinggi dibersihkan dengan desinfektan agar virus tak menyebar dengan mudah. Manusia ibarat binatang yang terpenjara dalam kandang. Sudah dua bulan wabah menyebar. Kematian menembus angka ratusan ribu. Tiga sosok pelayan tuan semakin mendapatkan angin segar. Masjid sepi dari adzan, gereja tak lagi berbunyi loncengnya, dupa tak lagi dihidupkan di dalam kuil. Semuanya takut dengan penyakit tak terlihat. Tidak ada yang bisa melihat mata besar yang menggantung di langit. Hanya para pelayan saja yang mengetahui tentu saja si rambut putih juga demikian. Tiga pelayan sang tuan melepaskan arwah-arwah yang mereka tangkap dan mati karena wabah. Arwah-arwah itu mengarah ke langit di antaranya Salm

