“Oh. Astaga!” Anggun menutup mulutnya ketika membuka jenazah yang baru saja diserah terima pada mereka berdua. “Why?” tanya Dokter Budi. “Ini, kan, yang nyanyi tadi malam, Dokter. Masih segar bugar, senyum indah menawan di atas panggung beberapa jam yang lalu.” Anggun seperti tak percaya apa yang ia lihat barusan. Ditambah pada tubuh Anita tidak terdapat tanda-tanda kekerasan, persis seperti yang dialami gadis tak berdosa yang baru beberapa hari lalu tewas. “Ya, umur nggak ada yang tahu, Dokter. Sudah, lebih baik kita bekerja dari sekarang.” Dokter Budi mendorong mayat gadis dalam laci besi, kemudian menggunakan dengan baik lagi APD lengkap dengan masker sebanyak dua lapis, sebab mayat yang datang berasal dari Desa Sekar Wangi yang terkena wabah mengerikan, anehnya tidak menular dan

