Keesokan paginya aku terbangun karena rasa mual diperutku lagi. Dengan cepat aku berlari menuju kamar mandi yang berada di kamar tidur aku dan Erick. Erick yang tadi ketika kutinggalkan masih tertidur, sekarang sudah berada di sampingku mengusap punggungku. "Kamu sakit Ri? Kok tidak bilang aku? Kalau tahu kamu sakit semalam aku telepon dokter Rani." Yang aku tahu Dokter Rani adalah teman Erick semasa kuliah tapi beda jurusan. Sehingga ia sudah seperti dokter pribadi untuk Erick. "Tidak usah. Mungkin hanya masuk angin. Nanti siang juga sudah mendingan." Aku meyakinkan Erick. Tangannya yang hangat masih mengusap punggungku. "Ya sudah. Makanya kamu makan yang banyak supaya tidak sakit. Kalau kamu sakit aku mana bisa peluk kamu seperti ini. Ia menarikku ke dalam pelukannya. Hangat dan nya

