Arleta membiarkan air mata mengalir dikedua pipinya. Wajahnya tampak datar. Tak ada garis kesedihan atau kecewa. Entah apa yang sedang dirasakan oleh wanita itu. Tak lama kemudian wanita itu tertawa keras. Membuat Erick memandang dengan tatapan tidak mengerti di wajahnya. Arleta mendengus, "Kebahagiaan? Kamu membicarakan kebahagiaan denganku? Tidak tahukah kamu jika kamulah sumber kebahagiaanku. Aku menunggu dan mencarimu selama ini. Kau membuat dirimu seperti benar-benar hilang ditelan bumi. Hingga akhirnya aku bertemu dengan Bram. Ia begitu mencintaiku tapi sayangnya aku hanya memanfaatkannya. Sebab mungkin dengan menerima tawaran pertunangan dari Bram membuatku dapat bertemu denganmu lagi." "Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Saat Sarah mengenalkanmu padaku sebagai kekas

