Kedua netra hitam milik Dimas tak pernah lepas memandangi gadis kecil yang dengan damai menutup kedua netra coklat madunya. Tangannya membelai lembut surai halus gadis kecil itu. Sesekali jemarinya menelusuri setiap inchi wajah gadis kecil itu. Setetes bulir bening jatuh dari pelupuk matanya bersamaan dengan rasa nyeri yang menyerang ulu hatinya kala fakta mengejutkan menamparnya telak. Ia merutuki kebodohannya, bagaimana ia telah menyakiti fisik maupun batin gadis kecil yang ternyata adalah anak kandungnya, malaikat kecilnya, buah hatinya bersama Tania, mengapa ia tak pernah belajar dari masa lalu, mengapa ia meragukan kesetian wanita yang benar-benar terjaga kehormatan selama ini dan bagaimana ia meragukan gadis kecil yang wajahnya adalah copy-an dirinya saat kecil. Tangan Dimas menggen

