Josephine menatap pantulan dirinya di cermin. Hari ini, dia sudah kembali ke rumahnya. Cukup mengejutkan karena perempuan yang menjambaknya kemarin dan menekan nya untuk terus menunduk memberi hormat adalah kakak dan ibu nya.
Sejak kepulangannya, Josephine atau yang sekarang adalah Iris, tidak menemukan satu orang pun yang memberikan wajah senang atas kepulangan nya ke rumah. Bahkan orang orang yang memakai pakaian pelayan malah menggunjingkan nya.
“Arhea, sebenarnya apa yang selama ini sudah kau hadapi hingga aku masuk ke tubuhmu?” gumam Josephine sambil menatap pantulan wajahnya dicermin
Ingatan nya melayang pada ucapan pria yang mengaku sebagai dokter kemarin. Dokter tersebut menjelaskan jika dia bernama Josephine Arhea Iris. Dia hidup bersama dua kakak tiri dan ibu tirinya.
“Menyedihkan. Cinderella saja sepertinya masih memiliki teman walaupun hanya hewan.” Decak Josephine
“Sedangkan kau? Siapa temanmu, hah?” tanya nya pada pantulan dirinya di cermin
Josephine menghela nafasnya.
“Mungkin ini hukuman untukku. Di kehidupanku sebagai Josephine, aku memiliki segalanya dan aku tidak hidup dengan baik. Dan kini, aku harus hidup sebagai Josephine Arhea Iris yang tidak memiliki apapun.” Gumam nya
Dan yang terpenting, dia kini seorang Werewolf.
Walau mungkin statusnya sebagai Werewolf sangat tidak penting untuk diingat karena dia sama sekali tidak bisa bertukar shift ke wujud serigala nya.
“ARHEA!”
Josephine berbalik dan menatap seseorang yang masuk ke kamarnya sambil meneriakan nama nya dengan lantang.
“Apa?” sahutnya malas
“APA?! KAU BILANG ‘APA’?! CEPAT BERESKAN KAMARKU!” sentak seorang perempuan bernama Elli. Josephine mengenalnya sebagai kakak tiri Josephine Arhea Iris.
Josephine menatap Elli dengan wajah aneh.
“Sudah sebesar ini dan kau tidak bisa membereskan kamarmu sendiri?” tanya Josephine tidak percaya
Wajah Elli terlihat semakin kesal. Dia berjalan menghampiri Josephine dan mengangkat tangannya, hendak menampar perempuan itu. Tapi pergerakan nya ditahan oleh Josephine.
“Kau kira siapa kau hingga memerintah ku seperti itu?” tanya Josephine dengan suara rendah
Elli menggertakan giginya kesal. Dia menarik kembali tangannya dan menatap Arhea dengan tajam.
“Dengar, sejak terbangun sepertinya kau melupakan siapa kau yang sebenarnya. Kau hanyalah OMEGA!” tekan Elli
“Dan kau hanya penumpang di rumah ini. Harus kau ingat, jika ini adalah rumah milik Ayahku. Dan kau, hanya anak dari seorang perempuan yang mengemis cinta pada Ayahku.” Sahut Josephine tajam
“Jangan lupakan posisi mu, parasit.” Bisik Josephine pada Elli. Kemudian Arhea mendorong Elli agar keluar dari kamarnya. Dengan emosi, Josephine membanting pintu tepat di depan wajah Elli.
Josephine menghela nafasnya dan berjalan kembali mendekati cermin. Dia mendudukkan b****g nya pada kursi rias dan menatap pantulan dirinya di cermin.
Wajah bulat kecil dengan bibir semerah mawar. Kedua mata nya bulat berwarna hitam. Jangan lupakan dengan kulit putih nya yang pucat dan hidung kecil yang lancip.
Secara keseluruhan, Josephine Arhea Iris, perempuan yang tubuhnya diisi oleh nya ini sangatlah cantik. Josephine jelas mengakui hal itu.
Sayangnya, entah karena raut wajah nya yang selalu murung, semua kecantikan itu jadi tertutup.
Josephine menyunggingkan senyuman tipis yang penuh dengan arti.
“Baiklah. Mari kita hidup sebagai Josephine Arhea Iris. Aku ingin tahu apa alasan dibalik Tuhan mengirimkan ku untuk mengisi tubuh dan kehidupan milik Josephine Arhea Iris.” Ujar Josephine penuh arti
“Pertama tama… Apa yang harus aku lakukan?”
Kedua mata gelap itu mengerling, menatap pantulan diri nya di cermin dan menatap pada rambut panjang lurus sepinggang milik Josephine Arhea Iris. Rambut itu terlihat tidak tertata. Sangat datar, flat, lurus, tidak ada sentuhan mode sama sekali.
“Ah, baiklah. Mari kita mulai dari yang satu ini.”
“Walau kita berbeda, tapi nama kita sama sama Josephine. Jadi seharusnya, kau tidak menderita seperti ini. Kita harus menunjukan kombinasi dari seorang ‘Josephine’.”
✴✴✴✴✴
Josephine keluar dari kamar nya. Dia mengibaskan rambut panjang nya yang kini hanya sedada. Ketika dia hendak maju dan membuang rambut panjang nya pada tempat sampah yang ada di dapur, seorang perempuan berpakaian pelayan menabraknya.
Air panas yang dibawa perempuan itu tumpah mengenai Josephine.
“ASTAGA, KAU TIDAK PUNYA MATA?!” kesal nya. Dia menatap kesal perempuan yang balik menatapnya dengan ekspresi datar.
“Minggir! Kau menghalangi jalan!” perempuan berpakaian pelayan itu malah balik menyentak Josephine. Padahal Josephine yang sekarang ada di dalam tubuh Arhea adalah anak asli dari pemilik rumah tempatnya bekerja.
Dalam diam, Josephine tertawa miris. Arhea bahkan tidak memiliki harga diri di hadapan para pelayan.
Sangat berbeda dengan dirinya yang sangat ditakuti oleh para pelayan.
‘Sepertinya ini poin pertama. Aku harus mengembalikan harga diri Arhea dihadapan para pelayan dan mengambil kembali kehormatan yang seharusnya dia miliki di rumah ini.’ Pikir Josephine
Dengan kesal Josephine menendang panci yang dipegang oleh pelayan itu. Suara nyaring dari benda itu ketika menyentuh tanah cukup untuk membuat para pelayan yang lain mengalihkan pandangan mereka dan melihat keributan yang dibuat Josephine.
“Apa?” tanya Josephine sombong ketika melihat pelayan itu menatapnya dengan kesal
“Kau mau benda itu? Ambil saja sendiri.” Lanjut Josephine sambil bersidekap dan menyunggingkan senyuman culas
Pelayan di depannya menunduk dan mengambil panci yang terletak tak jauh dari kakinya.
Josephine dengan cepat mencengkram bahu pelayan itu dan meremasnya.
“Menunduklah seperti ini jika bertemu denganku, Pelayan.” Bisik Josephine
Dia melepaskan cengkraman nya dan kembali menegakkan tubuhnya. Dia menatap para pelayan yang ada di sekeliling nya dengan datar.
“Siapkan air hangat untukku. Aku ingin mandi dengan air hangat.” Perintah Josephine sambil melempar potongan rambut panjang nya ke tempat sampah yang berada tak jauh darinya.
Dia langsung berbalik pergi meninggalkan dapur, tanpa menghiraukan para pelayan lain yang mengerubuni pelayan yang sempat bersitegang dengan Josephine.
Bahu pelayan itu terlihat gemetaran. Jangan lupakan dengan keringat yang memenuhi wajah pelayan itu.
“Dia terlihat berbeda. Dia bukan Arhea yang kita kenal.” Gumam nya ketakutan
Seorang pelayan perempuan berdecak kesal dan memenuhi sebuah panci dengan air dingin.
“Akan aku sadarkan siapa dia! Rupanya setelah kepalanya terbentur, dia juga lupa jika dia adalah seorang Werewolf rendahan yang tidak bisa bertukar shift! Itu menjadikan dia berada di kasta terendah. Lebih rendah dari seorang Omega!” gerutu pelayan itu dan berlalu keluar dari dapur, hendak menuju ke kamar Josephine.
Dia berjalan tergesa menghampiri kamar Josephine yang berada di lantai dua. Tangan nya membawa panci air panas yang baru saja mendidih. Dengan emosi, dia langsung memasuki kamar Josephine yang terbuka dan menyiram air panas itu pada Josephine. Malang nya, karena Josephine sedang memegang cermin, air panas yang dia siramkan pada Josephine berbalik ke arah nya.
Pelayan itu langsung menjerit dan merintih kesakitan, berbalik dengan Josephine yang malah tertawa dengan senang nya saat melihat raut wajah penuh amarah milik pelayan yang hendak menyiramnya.
"Sakit?" tanya Josephine tanpa menghentikan tawa nya. Dia menyimpan cermin besar yang dia pegang di atas ranjang dan berbalik menuju pelayan yang ada di hadapan nya. Dia menjambak rambut pelayan itu, "Turuti perintahku, pelayan." desis Josephine
"Sepertinya karena selama ini aku selalu diam saat kalian berbuat seenaknya padaku, kalian jadi merasa kalian ada di atas ya?" tanya Josephine jengah
Tanpa memperdulikan pelayan dan merintih kesakitan, dia menyeret perempuan yang berbuat lancang padanya itu keluar dari kamar. Dia bahkan melewati tangga sambil menyenandungkan sebuah melodi yang terdengar menyeramkan bagi siapapun yang mendengar.
"Sakit! Dasar perempuan gila!" jerit pelayan malang itu. Sayang nya, Josephine sama sekali tidak terusik. Dia tetap melangkah maju, menuruni tangga dan menyeretnya ke arah dapur.
Josephine mendorong pelayan tadi ke arah perapian. Pelayan itu memelototkan matanya ngeri saat menyadari jika wajahnya hanya berjarak sejengkal dari api yang ada di tungku.
"Kau tahu bagaimana panasnya jika terkena api?" tanya Josephine
Dia berjalan perlahan, mendorong beberapa Omega yang menahan langkahnya untuk mendekat pada pelayan yang hendak menyiram nya.
"Dan aku ingin menyiramkan air mendidih padaku? Majikan mu?"
"SEHARUSNYA KAU TAHU DIRI!" bentak Josephine
"Karena kebaikan hati ku dan Ayahku, kau bisa tinggal di rumah ini walau hanya sebagai Omega!" ujar Josephine dengan seulas senyuman miring. "Tapi berani berani nya, seorang Omega... berniat menyiramkan air panas pada majikan nya."
Josephine menunduk dan mencengkram dagu pelayan yang masih bersimpuh di dekat perapian. Tatapan nya terlihat dingin, datar, tanpa adanya emosi sama sekali.
"Anjing yang baik tidak akan menggingit majikan nya, kan?" tanya Josephine dengan nada rendah. Matanya menatap tajam pelayan yang memandangnya dengan tatapan horror.
'Benar. Beginilah seharusnya kau menjalani kehidupan, Arhea. Buat semua orang takut padamu. Setelah itu, barulah mereka tidak akan berani untuk menginjak mu lagi.' pikir Josephine dengan seulas senyuman miring
Dia kembali menegakkan tubuhnya, menatap datar semua Omega yang berada di dapur, mereka menatap Josephine penuh dengan rasa ketakutan. Cukup untuk membuat Josephine menyeringai puas. Dia berhasil mendapatkan apa yang sepantasnya Arhea Iris dapatkan. Rasa hormat.
"Aku masih menunggu air hangat untuk aku mandi." seru Josephine
"Jika kalian masih memiliki otak, aku harap kalian mengerti apa maksudku. Pastikan, untuk tidak macam macam padaku. Karena jika aku mengetahui ada yang berusaha mencelakaiku, aku tidak akan segan atau takut untuk melakukan hal yang serupa." lanjut Josephine
Tanpa mengendurkan tatapan tajam nya, Josephine berlalu. Dia keluar dari dapur dan kembali menuju kamarnya. Saat di perjalanan, dia melihat seorang Omega yang tersenyum padanya. Tidak ada unsur menghina ataupun meremehkan Josephine seperti Omega lainnya.
"Kau!" panggil Josephine
"Siapa kau?" tanya Josephine
"Aku? Aku pelayan baru disini. Nona Arhe sendiri yang memilihku saat ada lelang, kan?" sahut pelayan yang tersenyum itu
"Lelang?" bingung Josephine
"Iya, Nona Josephine Arhea Iris yang membantuku keluar dari tempat lelang. Kita berteman." sahut perempuan yang tidak melunturkan senyuman nya itu
Josephine terdiam sebelum akhirnya menghela nafasnya, "Ikut aku ke kamar." perintah Josephine
Pelayan itu tersenyum dan mengangguk. Dengan langkah perlahan, dia mengikuti Josephine yang berjalan di depannya.
:: Author Note::
Cerita ini akhirnya di acc :D Proses kontraknya entah seberapa lama hehehe. Tapi semoga bisa cepet cepet. Dann, ayo tebak kira kira perempuan yang ada bareng sama Josephine itu siapa?? Apa dia bakal jadi temen atau justru musuh?
Oh iya! Sama jangan lupa tap love cerita ini. Aku jamin kalian nggak akan nyesel buat baca dan tap love (●'◡'●)ノ♥
Salam kenal, dan happy reading semuanyaaaa!
-Sany Pathison-