Part 3 "Perundungan dan tujuan hidup Arhea Iris"

2158 Kata
Josephine bertumpang kaki, menatap serius sebuah gelas berisi minuman yang dipesannya tanpa di sentuhnya sama sekali diatas meja. Di kepalanya, tersusun beberapa peristiwa yang akhir akhir ini menimpa nya. 'Jadi aku ada disini setelah kecelakaan itu. Tapi jika aku disini... bagaimana kabar tubuhku yang asli?' batin perempuan itu Tatapan Josephine kemudian beralih pada tempat lain. Dia bisa melihat sekelompok orang di sudut lain tempat ini tengah tertawa sambil melihat ke arahnya. "Apa mereka menertawakanku? Tidak jelas sekali." gumam Josephine. Perempuan itu bersidekap dan menyandarkan tubuhnya pada kursi kayu yang jauh dari kata empuk. Tatapan kosongnya menerawang isi tempat ini. Sebuah bar, mungkin. Banyak pria betubuh besar dan memakai berjubah ada di tempat ini. Beberapa dari mereka mengeluarkan sekantung koin emas dan menyodorkan nya ke tengah meja. "Bahkan mereka tahu berjudi? Sebenarnya tahun apa ini?" gumam perempuan itu bingung Dia memijat dahinya pelan. Clueless. Dia tidak tahu apapun tentang tempat ini. Hanya satu hal yang dia tahu, yaitu identitas dari para makhluk yang ada disini. Mereka semua bukanlah manusia normal. Josephine menarik tudung yang dipakainya. Dia bangkit dari tempatnya duduk dan mengikuti kemana para orang orang berjubah itu pergi. "Oh, s**t. Bau sekali. Seperti kandang babi." gerutu Josephine saat dia memasuki sebuah tempat yang tidak terlalu besar dan luas. Dia mengedarkan tatapannya ke sekitar dan menemukan seseorang terikat di bagian tengah ruangan. Terlihat lemah, tidak berdaya dan seorang perempuan. Dahinya berkerut saat mendengar seruan dan siulan dari orang orang yang ada disana. Dia menutup telinganya saat mendengar seorang pria berteriak, menyerukan kata kata tidak pantas pada perempuan yang terikat tidak berdaya itu. Satu hal yang ada di kepala Josephine. Perdagangan b***k. Perempuan itu menggelengkan kepalanya dan memundurkan langkahnya. Segila apapun kehidupan nya yang asli, dia tidak pernah melihat hal seperti ini. "Ah!" Josephine terkesiap. Dia memutar tubuhnya dan menatap singkat seorang pria yang tanpa sengaja di tabraknya. "Maaf." ucap Josephine sambil berlari keluar dari sana. Dia tidak mendengarkan seruan dari orang orang yang ditabraknya. Perempuan itu masih berlari keluar dari bar. "Gila. Jangan jangan sebelumnya tempat itu yang disebutkan oleh Neri." decak Josephine sambil melirik ke arah bar yang jauh dibelakangnya. Dia mengatur nafasnya yang tersenggal sebelum akhirnya kembali berjalan. 'Tapi jika Arhea bertemu dengan Neri disana, apa yang dia lakukan di bar?' pikir Josephine Sisa dirinya meneriakan jika dia harus kembali ke bar dan menolong perempuan yang terikat tadi. Tapi sebagian kewarasannya melarang hal itu. "Nanti. Aku belum cukup kuat. Jika aku mau menolong orang lain, maka aku harus menolong diriku sendiri. Menjadi kuat dan membuat orang lain tunduk padaku. Ya, begitu. Sama seperti keadaanku yang sebelumnya." tekad Josephine "Nona! Nona Arhea!" Josephine menatap Neri yang berlari ke arahnya. Perempuan itu sepertinya sangat ketakutan. "Apa?" tanya Josephine "N-nona di panggil. Oleh Nona Elli." ucap Neri dengan terbata Josephine menaikan satu alisnya. Lagi lagi saudara tirinya. "Neri, apa aku tidak punya teman selain dirimu?" tanya Josephine Neri menatap Josephine dengan iba, "Nona benar benar lupa? Sebenarnya Nona bunuh diri dari tebing mana hingga bisa lupa seperti ini?" "HAH?! BUNUH DIRI?! NERI, TUTUP MULUTMU!" seru Josephine kesal. Perempuan itu bersidekap dan menatap Neri dengan tajam, "Gosip darimana yang berhembus hingga kau menyimpulkan jika aku bunuh diri, Neri?!" desisnya "Gosipnya menyebar seperti itu, Nona." sahut Neri dengan tubuh gemetar. Dia sedikit takut dengan kepribadian baru Nona nya. Sebelum nya, Arhea Iris bukanlah orang yang akan menaikan volume suara nya pada orang lain. Josephine menghela nafasnya. Dia membuka tudung yang dipakainya dan menatap Neri dengan kesal. "Ck, sepertinya aku tahu darimana gosip bodoh itu beredar." decaknya Josephine segera berjalan cepat menyusuri jalanan. Kedua pandangannya menatap lurus ke depan, enggan untuk menoleh atau bahkan melihat ke arah lain. Dia tahu, reputasi Arhea Iris di tempat ini sangatlah memalukan. Lemah, dianggap bodoh, dan kini beredar gosip jika dia bunuh diri. Sebenarnya gosip itu cukup masuk di akal. Seorang She Wolf lemah yang tidak bisa bertukar wujud dengan serigala nya, dicampakan oleh orang orang dan hanya hidup dengan Ibu dan saudara tirinya. Latar belakang cerita yang cocok jika disambungkan dengan gosip bunuh diri nya. "Aku tidak tahu orang-orang ini yang bodoh, atau dua orang licik itu terlalu pintar mengarang cerita." gumam Josephine Langkah Josephine sedikit terhuyung saat bagian belakang kepalanya di lempari oleh sesuatu. Perlahan, perempuan itu menghentikan langkahnya. Tangannya meraba bagian belakang kepalanya yang terasa basah. "Oh, Moon Goddess! Nona, darah!" seru Neri Josephine merasakan tangannya sedikit gemetaran. Dia kembali menarik tangannya dan menatap jari jarinya yang berdarah. Bersamaan dengan itu, dia merasakan kepalanya mulai di dera oleh rasa pusing yang amat sangat. Kedua pandangan Josephine perlahan mulai mengabur. Perempuan itu menegakkan tubuhnya dan mengepalkan tangannya. "Nona, kemari. Bersandar padaku, aku akan membantu Nona pulang atau ke rumah sakit." ucap Neri sambil meraih lengan Josephine. Sayangnya, Josephine menepis bantuan dari Neri. Dia berbalik dan menatap sekelompok perempuan yang berdiri jauh di belakang nya. Beberapa dari perempuan itu menertawakan nya, mengatakan betapa buruknya refleks seorang Arhea Iris yang katanya anak dari seorang Beta legendaris di masa nya. "Tidak heran kenapa Nyonya Millie malu mengakuinya sebagai seorang anak. Yah, walau hanya diakui sebagai anak tiri, rasanya seperti melemparkan kotoran ke wajahnya jika dia mengakui She Wolf lemah seperti Arhea sebagai seorang anak." seru seorang perempuan yang terlihat seperti seorang pemimpin diantara yang lainnya Josephine menatap batu berukuran cukup besar yang ada dibawah kaki nya. Dia meraihnya dan membali menatap sekelompok perempuan itu dengan tatapan lurus tanpa emosinya. "Kalian yang melemparnya?" tanya Josephine "Wahh, sulit kuduga ternyata dia tidak gagu!" ucap para perundung itu "Ya, aku yang melakukannya. Kenapa? Mau menangis dan meratap seperti yang biasanya kau lakukan di danau kematian?" ledek salah satu dari mereka Josephine mendengus, dia menggenggam batu itu dan langsung balik melemparkan nya hingga mengenai dahi orang yang merundungnya. "Refleks ku mungkin buruk. Tapi aku tahu lemparan ku tidak akan meleset." ucap Josephine. Perempuan itu menyunggingkan senyuman miring nya saat mendengar jeritan kesakitan dari orang yang dilemparinya batu. Tapi senyuman Josephine lenyap saat mendengar orang orang berbisik di sekeliling nya. Mereka seolah menyalahkan Josephine atas apa yang dilakukannya. Padahal... Josephine tidak akan melakukan hal itu jika para perundung tadi tidak memulainya. "Ayo pergi, Neri. Aku muak berada disini." ajak Josephine sambil berlalu dari tempat itu. Rambut nya berkibar dengan indahnya. Saat Josephine menyadari jika darah masih mengalir dari kepalanya, dia segera menarik tudung jubah dan memakainya. "Neri, kenapa aku tidak pingsan ya? Padahal lemparan tadi terhitung kuat." "Uhh, Nona... sepertinya ini karena Nona terlalu sering menerima penghinaan seperti ini." Josephine menghela nafasnya, "Jadi secara tidak langsung kau bilang jika aku lebih kuat mungkin karena perundungan dan kekerasan yang sudah sangat sering aku terima." "Terima kasih atas pemberitahuan fakta menyedihkan yang satu itu, Neri." Neri tertawa canggung. Dia sepertinya harus lebih banyak berhati hati dalam berbicara. Walau masih terhitung baik hati, tapi Arhea Iris yang dulu dia temani bukanlah orang yang akan membalas perundungannya. "Neri," panggil Josephine. Perempuan itu menatap Neri yang berjalan sedikit di belakangnya, "Apa aku memang semenyedihkan itu, ya? Rasanya tidak adil. Aku tidak melakukan apapun, tapi aku ditindas seperti ini." Neri menatap Josephine dengan raut kasihan nya, dia juga tidak tahu kenapa Nona nya bisa mendapatkan perlakuan yang buruk dari orang orang. "Jika di telaah lagi, tidak ada alasan bagi mereka untuk menindasku. Mungkin, aku memang lemah, tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk menindasku. Walau lemah, aku tidak hidup dibawah belas kasih mereka." ungkap Josephine. Dahinya berkerut samar, biasanya dia tidak suka berbicara banyak hal pada orang lain. Dia adalah anak pertama dari keluarga konglomerat. Beban besar diberikan padanya sejak dia masih kecil. Dia terbiasa menanggung beban berat sendirian tanpa berbagi pada orang lain. Intinya, di dunia asalnya, Josephine sudah dipersiapkan untuk memakai mahkota sejak kecil. Kedua orangtua nya selalu berkata, jika ingin memakai mahkota, maka kita harus siap menanggung beban yang berat. "Aku juga tidak tahu, Nona. Atau sebelumnya Nona menggoda salah satu pasangan dari Nons Elli atau Dellia?" tuduh Neri sambil menunjuk Josephine Josephine menepis tangan Neri yang ada di depan mata nya dan menggeleng pelan. "Aku tahu, aku cantik. Tapi apa menurutmu aku ada kesempatan seperti itu?" sarkas Josephine sambil mengibaskan rambutnya pelan. Dia meringis kecil saat melihat darah yang menetes di rambutnya mengotori tanah karena perbuatan nya. Neri menggeleng, "Nona kan sibuk melayani Nona Dellia dan Nona Elli. Juga Nyonya Millie." "Neri, aku tidak tahu kau bodoh atau apa... Tapi jika kau sendiri menilai jika aku sibuk melayani mereka, bagaimana bisa kau menduga jika aku menggoda pasangan Elli dan Delia?!" rutuk Josephine. Dia mati matian menahan tangan nya yang sangat ingin menjambak Neri karena kepolosan dan kebodohan teman satu satunya itu. Neri tertawa, "Maaf, Nona. Habis, Nona serius sekali. Lagipula kepala Nona kan masih sakit karena lemparan batu tadi. Tapi Nona malah mau memikirkan sesuatu yang berat." Neri melangkah ke depan Josephine. Seorang Omega yang diperkirakan oleh Josephine jauh lebih muda dari umur nya itu terlihat menyunggingkan senyuman semangatnya. "Nona, biar aku yang mengurus hal ini! Aku akan bersungguh sungguh mencari tahu alasan kenapa orang orang memusuhi Nona seperti saat ini." tekad perempuan itu Josephine tersenyum tipis, "Baiklah. Aku minta tolong ya. Hanya kau satu satunya orang yang bisa aku percaya." *** "Bagus sekali! Kau mengabaikan tugasmu dan berjalan jalan seperti itu." seru Millie saat melihat Josephine berjalan memasuki rumah tanpa mengatakan sepatah katapun "Dirumah ini ada banyak pelayan. Jika aku yang membersihkan rumah, apa pekerjaan mereka?" tantang Josephine sambil menaikan satu alisnya "Uhm, Nona, jangan di lawan. Ingat kepalamu." bisik Neri pada Josephine yang tentu saja di acuhkan oleh perempuan itu "Kau berani melawanku?!" tanya Millie. Perempuan yang sudah terlihat kerutan di wajahnya itu berjalan menghampiri Josephine dan mencengkram rahang perempuan itu dengan kuku tajam nya. "Kau lupa jika dirimu sama sekali tidak berguna di rumah ini?" desis Millie Bukannya takut, Josephine malah membalas tatapan Millie. Alih alih memberikan tatapan memelasnya, Josephine malah memberikan wajah datar pada Ibu Tiri nya itu. "Apa kau lupa, ibu? Ini rumahku. Kedua orang tua ku membangun nya, agar aku menjadi seorang Putri. Bukan untuk menjadi seorang pelayan dan melayani kalian." ucap Josephine dengan suara kecil, mengikuti suara Millie yang mencoba mengintimidasi nya dengan suara rendah. Tangan Josephine menepis kuku Millie yang menusuk wajahnya. Setelahnya perempuan itu memasuki rumahnya. Dia tidak mau tahu dan tidak ingin tahu dengan keramaian yang ada di sana. Dia hanya ingin pergi ke kamar dan mengobati kepalanya. Lagipula Josephine tidak mungkin membawa tubuh Arhea yang terluka ke rumah sakit. Terlalu memalukan. Baru beberapa hari keluar dari sana, dia sudah kembali karena terluka. "Aakkk!" Josephine mengerang kecil. Rambutnya di jambak oleh seseorang di belakang nya. Tepat di bagian yang berdarah karena lemparan batu tadi. "Semenjak sembuh, kau kembali bertingkah ya." desis Elli Josephine berbalik dan meraih lengan Elli yang menjambaknya. Dia mencengkram lengan itu dan memutarnya dengan kuat. "Apa? Memang nya apa yang aku perbuat?" "Sebagai seorang perempuan, aku juga ingin jalan jalan. Sama seperti kalian. Apa yang salah?" Sayangnya, karena lengah, Josephine ditarik oleh seseorang. Dia memejamkan matanya kuat kuat saat orang yang menariknya membenturkan kepalanya ditangga. "NONA!" Terdengar teriakan histeris dari Neri. "Nyonya, aku mohon! Biarkan Nona! Lepaskan dia! Biar aku yang menggantikan hukuman Nona Arhea, kepalanya berdarah. Jika Nyonya membenturkan kepalanya seperti itu, wajahnya bisa hancur!" Josephine terkekeh miris dalam hatinya. Percuma saja Neri meminta dan memohon seperti itu. Ibu tiri nya tidak jauh beda dengan Iblis. Hanya sesama Iblis yang bisa menghadapi nya. Josephine menahan kepalanya yang akan kembali di benturkan dengan tangannya sendiri. "Sial, kepalaku pusing." umpatnya "Lawan mereka, Rhea." bisik seseorang di kepalanya Josephine menggerakan kakinya, dia menendang tubuh Millie yang ada didekatnya hingga wanita itu terhuyung di tangga. Dengan sisa kesadaran dan kekuatannya, Josephine bangkit. Dia berjalan menuruni tangga dengan wajah nya yang lebam. Perempuan itu mengepalkan tangannya, memukul kuat kuat Elli yang berniat menolong Ibu nya itu. "Aku tanya pada kalian..." ujar Josephine dengan kepala tertunduk "Apa salahku?" "Apa yang aku perbuat hingga kalian menyiksaku seperti ini?" Josephine terkekeh. Dia menyentuh belakang kepalanya yang masih mengeluarkan darah. Tubuhnya sakit. Bukan hanya itu, hatinya juga sakit. Walau memang yang mereka hina adalah Arhea Iris yang sama sekali tidak berhubungan dengan sosok nya di dunia asli, tapi entah kenapa Josephine merasa terhina. Mungkin satu satunya persamaan mereka hanyalah nama. Apa karena dia juga merasakan sosok Arhea Iris yang menanggung tanggung jawab besar, sama seperti dirinya di dunia asalnya? Atau karena... Sebenarnya Josephine hanya marah karena dia terperangkap di dunia ini dan harus menghadapi hinaan yang belum pernah diterima nya saat dulu? Josephine rasanya ingin mengutuk takdir. Kehidupannya yang sebelumnya memang buruk, dia juga tidak memperlakukan orang di sekitarnya dengan baik. Tapi, kenapa dia menerima hukuman berat seperti ini? Tidak ada jaminan jika Arhea bisa hidup dikelilingi oleh rasa hormat seperti kehidupan Josephine di dunia asalnya. Sebenarnya apa yang tuhan minta darinya? Apa yang tuhan inginkan hingga Josephine harus hidup sebagai Arhea Iris? Walau saat ini, di sekeliling nya ramai, Josephine merasa dirinya hanya sendirian. Perempuan itu memejamkan matanya saat mendengar suara berdengung dari telinga nya. "Aku ingin bahagia." Dan ketika kalimat itu terucap dari bibir nya... Josephine tahu dirinya dan Arhea memiliki kesamaan lain. Mereka, hanya ingin hidup bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN