Part 4 "Pria diatas bukit"

2578 Kata
"Nona Rhea, mau aku bawakan makanan?" Josephine menggeleng, "Tidak. Pergilah, aku tidak apa apa. Aku akan meminta nya padamu jika aku lapar." Neri mengangguk, Omega itu kemudian berjalan mundur dan menutup pintu kamar milik sang Nona yang tengah sibuk memikirkan sesuatu. Jauh dalam hatinya, Josephine tertegun. Dia tidak menyangka kalimat yang mengatakan tentang kebebasan akan keluar dari mulutnya. Perempuan itu mengerti, selain karena nama mereka yang sama, mereka juga menginginkan sesuatu yang sama. Sesuatu yang mungkin tidak berarti bagi orang lain, namun sangat berarti bagi Josephine dan Arhea. Kebebasan. Josephine menatap tangannya sendiri yang terbalut perban. Telapak tangan nya tertusuk oleh pecahan kaca oleh Dellia. Atau mungkin bukan tertusuk, melainkan ditusuk. Perempuan itu menusuk Josephine untuk menyelamatkan Millie yang di intimidasi oleh Josephine. Senyuman samar yang mengisyaratkan kepuasan terdapat di bibir Josephine. Setidaknya dia bisa melihat raut ketakutan dari ketiga orang menyebalkan dalam hidupnya itu. Josephine mendesah pelan. Dia turun dari ranjang dan berjalan menuju balkon sempit yang ada di kamarnya. Kedua matanya menerawang ke arah langit malam yang gelap. Perempuan itu menyandarkan tubuhnya pada dinding. "Malam bulan purnama. Seharusnya puncak kekuatan seorang Werewolf ada pada malam ini. Bukan begitu, Arhea?" tanya Josephine pada dirinya sendiri Perempuan itu memejamkan matanya, "Lalu kenapa kau tidak ada? Kenapa kau tidak memiliki itu disaat orang orang yang jahat padamu memiliki nya, Arhea?" Josephine terdiam selama beberapa saat. Dikepalanya, terngiang suara Neri. Sejak peristiwa berdarah siang tadi, Neri terus menempel padanya. Omega itu sepertinya cukup khawatir dengan kondisi sang Nona. Dia terus menerus menanyakan keadaan Josephine. Yah... Memang seharusnya begitu. Beberapa tamu Millie, Dellia dan Elli bahkan terkesiap saat menyadari jika ada darah mengucur dari belakang kepala Josephine. Namun alih alih membantu perempuan malang ini, para tamu itu malah menatapnya seperti sebuah tontonan menarik. "Sialan." desis Josephine Perempuan itu kembali membuka matanya, binar matanya terlihat berbeda dari sebelumnya. Terlihat lebih gelap dan menusuk. "Aku harus melakukan sesuatu. Arhea dan aku menginginkan kebebasan. Karena itu, aku akan mewujudkan nya. Dengan cara apapun. Bahkan jika aku harus bekerja keras dengan tubuh lemah ini tanpa ditompang oleh siapapun." gumam Josephine. Perempuan itu kembali memasuki kamar, tangannya meraih jubah berwarna merah darah yang ada diatas ranjang. Tanpa di ketahui oleh siapapun, Josephine menyelinap keluar melalui balkon. Perempuan itu melompati pagar pembatas dan menggunakan seutas tali untuk turun menuju ke tanah. Setelah memastikan jika dia tidak di ketahui oleh siapapun di rumah itu, Josephine memakai tudung nya. Dia berjalan menuju sebuah hutan yang ada di balik bukit. Malam ini, Josephine bisa mendengar suara raungan dari para Serigala. Sepanjang perjalanan menuju hutan, dia bisa mendengar bunyi bunyian yang cukup menyeramkan. Dengan kepala yang tertunduk, Josephine berusaha agar keberadaan nya tidak dilihat oleh apapun yang dilewatinya. Entah rusa yang sedang disantap oleh seekor serigala besar ataupun kerumuman serigala yang tengah berlari menuju suatu tempat. Josephine hanya memastikan agar keberadaan nya tidak menarik atensi mereka. Di tengah perjalanan menuju puncak bukit, Josephine mendengar suara retakan tulang yang terdengar mengerikan. Perlahan, perempuan itu menghentikan langkahnya saat mendengar suara geraman dan dengusan dari sesuatu yang ada di depannya. "....apa ini." gumam nya saat menyadari seekor serigala yang berukuran jauh lebih besar darinya berdiri tepat di depannya. "Kau mau menindasku, ha?" sarkas Josephine pada serigala itu. Dia membuka tudung jubah yang dipakainya dan menatap serigala berwarna hitam yang ada di hadapannya dengan nyalang, "Jangan jangan kau adalah wujud serigala dari orang orang yang tadi siang melempari kepalaku dengan batu?!" tuduhnya Josephine meraih batu yang ada di bawah kaki nya dan melempar serigala yang ada di hadapannya dengan batu. Lemparan yang tepat sasarannya membuat serigala itu meraung. "Berlebihan sekali. Batu sekecil itu tidak akan membuatmu terluka." ucap Josephine penuh dendam. Perempuan itu mengibaskan rambutnya dan tersenyum miring, "Kedepannya, kau akan menemukan hal yang baru dariku. Entah itu kepribadian Arhea Iris yang baru atau justru kekuatannya. Dan saat itu terjadi, wujud manusia mu yang akan menghadapiku." "Awas, menyingkir!" usir perempuan itu sambil mengibaskan tangannya pada serigala besar itu Dengan sekali usir, serigala itu menepi, seolah memberi jalan pada Josephine untuk melanjutkan perjalanan nya ke puncak bukit. "Haruskah kita membunuhnya?" "Kau gila? Biarkan saja. Kita ikuti dia. Lagipula ucapannya benar. Batu kecil itu tidak akan membunuh kita. Dan lagi, aku penasaran kenapa kita bisa menjadi korban salah sasaran seperti ini." **** Josephine bersandar pada batang pohon besar yang ada di puncak bukit. Dia menatap semua tempat yang terlihat kecil dibawah bukit. Perlahan perempuan itu mengulas senyumannya. "Aku mengerti kenapa orang orang seberani itu pada Arhea." gumam nya "Karena mereka, melihatku dari sebuah tempat yang tinggi. Dan karena itu, mereka menjadikan ku sebagai sosok makhluk kecil yang bisa mereka tindas seenaknya." lanjut Josephine Kedua mata Josephine perlahan mengabur, perempuan itu meringis kecil saat merasakan bagian belakang kepalanya berdenyut sakit. "Ah, perban ini mengganggu." decak Josephine sambil menatap tangan kanan nya yang diperban. Dengan kesal, dia membuka perban yang membalut rapi tangannya itu. Sesaat kemudian, matanya melebar. Luka goresan yang cukup dalam itu tidak berbekas. Hanya menyisakan sedikit darah yang juga hanya samar samar terlihat. Tangan Josephine perlahan menyentuh bagian belakang kepalanya, "Apa luka di kepalaku juga seperti ini? Menghilang tiba tiba?" Dengan hati hati, Josephine menyentuh kapas dan plester yang ada di belakang kepalanya. Dia mencabut benda itu sebelum menyentuh bagian yang terluka parah. "Tidak sakit atau mengeluarkan darah lagi." gumam nya Perlahan, Josephine mengulas senyuman lebar nya. Dia berseru kecil, menemukan apa yang bisa dibanggakan nya sebagai seorang Josephine Arhea Iris. "Tapi tunggu! Apa sebenarnya ini hal normal? Apa kebanyakan Werewolf juga seperti ini? Atau luka nya memang tidak terlalu dalam, karena itu hilang dalam waktu yang cukup singkat?" gumam nya bingung Josephine mengarahkan kepalanya ke sekitar, mencari sesuatu yang mungkin bisa dipakai oleh nya untuk membuktikan teori gila yang ada di kepalanya. Perempuan itu berseru senang saat menemukan sebuah ranting yang cukup tajam. Dia segera berlari dan mendekat pada benda itu. "Oke, kita buktikan. Jika teoriku benar, ini akan menjadi langkah awalku untuk menguasai dunia!" tekadnya semangat Josephine menarik dan menghembuskan nafasnya berulang kali sebelum akhirnya mengangkat tangannya. Dia menatap lekat telapak tangannya yang sempat sobek karena pecahan kaca. Josephine mengangkat tinggi tinggi tangannya, dan menusukkan ranting yang berukuran besar dan tajam itu ke telapak tangannya. Perempuan itu menjerit tertahan. Dia menggigit bibirnya sendiri untuk menahan jeritan yang sangat ingin diteriaki nya untuk melampiaskan apa yang dia rasakan. Sakit, sudah tentu. Dengan tangan gemetar, perempuan itu menarik kembali ranting yang menusuknya. Kedua matanya mulai basah saat menyadari jika dia terlalu menusukkan benda itu dengan cukup dalam hanya untuk membuktikan teori gila yang belum tentu kebenaran nya. Josephine menatap nanar telapak tangannya. Darah mengalir cukup deras dari sana, tetesan darahnya bahkan mengalir hingga ke lengan dan sikutnya. Dan apa yang diharapnya tidak terjadi. Josephine terduduk lemas di tempatnya. Dia menatap pasrah tangannya yang mulai mati rasa. "Teori ku tidak berhasil, ya?" kekehnya lemah Josephine menyandarkan tubuhnya pada batang pohon. Dia menghela nafas dan menatap langit malam dengan mata basahnya. "Moon goddess, tidakkah kau berfikir jika ini sangat tidak adil? Kau bahkan memberi wujud serigala pada seorang Omega. Tapi kenapa kau tidak memberikannya padaku?" ucap Josephine, memyuarakan protesnya pada sang Dewi yang disebut sebagai penguasa kaum Werewolf "Dunia sudah tidak berlalu adil pada ku... Apa kau yang dianggap sebagai tuhan oleh Arhea juga akan melakukan hal yang sama?" Perempuan itu menutup matanya, "Sepertinya memang benar... Selain Arhea sendiri, tidak akan ada yang menyayangi dirinya..." lirihnya "Aku bahkan yakin jika Arhea sendiri sudah putus asa dengan dirinya. Hanya keyakinan jika suatu hari, dirinya akan bahagia lah yang menjadi kepercayaan nya dan membuatnya bertahan." "Tapi... Jika kepercayaan untuk hidup bebas dan bahagia nya di hancurkan... Apa yang harus dia lakukan?" Tanpa sadar, Josephine menangis terisak. d**a nya merasa sesak untuk beberapa hal. Dia yakin Arhea memiliki kepercayaan dalam hatinya. Kepercayaan jika suatu saat kehidupannya akan lebih baik. Diakui oleh Ibu tiri nya, atau bahkan oleh orang lain. Dia hanya ingin dianggap seperti orang lain. Tanpa dipandang hina untuk sesuatu yang bahkan tidak dia ketahui. Perempuan itu merasa bebas meluapkan tangisan yang entah kenapa sangat ingin dia luapkan. Di masa lalu, dia tidak akan pernah bisa menangis. Dia tidak diizinkan untuk menangis seberat apapun beban yang ada di bahu nya. 'Benar. Bagaimana jika kepercayaanku dihancurkan? Apa yang harus aku lakukan jika saat itu tiba?' Tangisan Josephine mendadak terhenti. Dia merasakan tangannya basah dan hangat. Perempuan itu mengalihkan perhatian nya pada tangan yang menjadi bahan percobaan dari teori nya. Luka nya hilang. Benar benar hilang hingga tidak berbekas apapun. Bahkan untuk goresan. Kemudian, Josephine mengangkat kepalanya. Seekor serigala berukuran besar yang sempat dilempari batu olehnya, berada di dekatnya. Serigala itu menatapnya tajam. Kedua mata nya menyala di kegelapan. "Apa kau mau balas dendam? Karena aku melemparimu batu?" tanya Josephine Perempuan itu menghela nafasnya, "Tolong lakukan itu nanti. Jangan sekarang. Aku masih memiliki sesuatu yang ingin aku lakukan." Hening setelahnya. Serigala besar itu tidak melakukan apapun. Hanya diam menatap Josephine. "Kau bukan serigala dari orang orang yang melempariku batu, ya?" terka Josephine "Tunggu, apa mungkin kepribadian serigala dan manusia nya bisa berbeda?" gumam Josephine Tapi kemudian ingatan Arhea kembali memasuki kepalanya. Dia melihat bagaimana bengisnya wujud serigala dari Dellia yang mendorongnya dari tepi jurang. Sesaat kemudian, perempuan itu berdecak. "Mungkin kau benar benar bukan wujud serigala dari orang orang tadi." tukas Josephine Dia menatap lurus serigala yang juga tengah menatapnya. Seulas senyuman tipis terukir di bibir Josephine. Merasa bersalah, sekaligus malu karena tuduhannya beberapa saat yang lalu. "Kau pasti kemari untuk menuntut permintaan maaf dariku." "Maaf. Hal itu tidak akan terjadi lagi. Aku akan berusaha mengenalimu dan juga mengingatmu." tulus Josephine Josephine tersentak kecil saat serigala yang ada di hadapannya terlihat bersiaga. Perempuan itu segera berdiri dari tempatnya duduk sesaat setelah mendengar bunyi lolongan serigala yang bersahutan menuju ke tempatnya. "Apa? Apa? Ada apa ini?" cerca nya tanpa sadar pada serigala yang sedang menemaninya Serigala itu menggeram, dia berbalik membelakangi Josephine saat puluhan serigala yang berukuran sama besarnya dengannya berada di dekat mereka. Josephine mengerutkan dahinya, ini pengalaman pertama nya menyaksikan semua ini. Serigala, kawanan mereka, sikap dan perilaku mereka. Semua nya menyeramkan. Josephine menutup telinganya rapat rapat saat para Werewolf itu melolong keras. Dia merasa kepalanya akan meledak karena mendengar lolongan sekeras itu. "HEI, BISA TIDAK KALIAN BERKELAHI DI TEMPAT LAIN?! TIDAK SOPAN! AKU YANG PERTAMA KEMARI! SIAPA CEPAT, DIA DAPAT!" teriak Josephine kesal. Perempuan itu melempari semua serigala yang tiba tiba datang itu dengan batu. Rasa kesal nya menumpuk dan akan meluap karena gangguan mereka. "Ck, tidak bisakah aku menemukan tempat aman?! Tempat dimana tidak ada satupun yang bisa mengganggu ku!" decak Josephine Serigala besar yang sejak tadi bersama Josephine itu menggeram, dia menerjang dan mencabik lawan nya. Sementara Josephine, dia terdiam. Memandang pertarungan yang ada di hadapannya. Tatapannya menelisik serigala yang ada bersama nya, tubuh serigala itu lebih besar dari yang lainnya. Serigala itu juga lebih mendominasi pertempuran. Dia seolah menunjukan siapa diantara mereka yang jauh lebih kuat dan jauh lebih berkuasa. 'Kenapa aku ada disini, sih?!' pikir Josephine. Tubuhnya mulai gemetar, dia mulai merasakan tatapan para serigala itu terarah padanya. Dia memundurkan langkahnya, selangkah demi selangkah. Berusaha menghindar dari para makhluk buas itu. Josephine kembali menatap serigala yang membantunya tadi, walau terlihat kuat, tapi makhluk itu tengah disibukan dalam pertarungan. Josephine juga tidak mungkin bergantung pada serigala tadi. Langkah Josephine perlahan terhenti. Dia mengingat jika tidak ada lagi pijakan dibelakang nya. Selangkah lagi, dan dia akan tewas. Dia akan senang jika dia pulang ke dunia asalnya, tapi dia tidak ingin meninggalkan Arhea yang bernasib sama sepertinya, mati dalam keadaan tragis. Josephine tidak akan membiarkan hal itu. Karena itu, Josephine berlari menuju serigala yang sedang berjalan ke arahnya. Perempuan itu melompati serigala berukuran cukup besar itu dan menendang perut nya hingga terlempar ke sisi bukit. Tidak berhenti disana, Josephine mulai memasang kuda kudanya. Dia mengepalkan tangannya dan mulai melayangkan pukulan pada serigala yang datang bertubi tubi padanya dengan sekuat tenaga. Gerakan tangan dan kakinya lincah, walau serigala yang berukuran lebih besar itu terlihat mustahil untuk di kalahkan, setidaknya Josephine bisa sedikit menghambat serangan mereka. Para serigala itu melolong, membuat Josephine merasa jika perlawanan nya tadi bukanlah sebuah akhir. Melainkan merupakan awal dari suatu perang kecil antar Werewolf. Josephine memutar kepalanya, dia menemukan serigala yang sejak tadi menemaninya itu sudah bersimbah darah. Gigi tajam serigala itu meneteskan banyak darah. Dengan gerakan kaku, dia mengalihkan perhatian nya pada seekor serigala yang terlihat sekarat. Ketakutan mendera tubuh Josephine. Terlebih saat serigala yang beberapa waktu lalu dianggapnya sebagai kawan yang tidak berbahaya, kini berbalik melangkah padanya. Serigala yang beberapa waktu lalu terlihat agak bersahabat, kini terlihat mengerikan dengan banyaknya darah yang didapat dari pertarungan antar sesama. 'Jangan jangan... dia juga bukan sesuatu yang bisa aku percaya?' Alarm pertanda bahaya berbunyi di kepala Josephine. Perempuan itu menelan ludahnya dan menatap waspada serigala yang tengah berjalan ke arahnya itu. Dan kedua mata Josephine melebar saat serigala besar itu melompat dan menerjang ke arahnya. Setelahnya, Josephine tidak bisa merasakan rerumputan ataupun tanah dibawah kakinya. Kedua mata nya terpejam erat, dia bisa merasakan tubuhnya di selimuti oleh udara dingin yang menusuk. Dirinya, lagi lagi terjatuh dari ketinggian. Bedanya, diatas tubuhnya ada serigala besar yang turut terjatuh bersama dengan dirinya dari atas tebing bukit. 'Apakah aku akan mati?' 'Seperti ini? Tanpa melakukan apapun untuk Arhea Iris?' Sesaat setelahnya, Josephine merasakan tubuhnya menghangat. Dibarengi dengan rangkulan di pinggul serta tubuhnya. 'Hangat... Apa yang terjadi?' Memutuskan untuk menyingkirkan kengeriannya karena akan melihat dirinya yang jatuh menghantam sesuatu yang ada di bawah, Josephine membuka matanya. Kedua netra bulatnya menemukan dirinya tengah berada di pelukan seorang pria yang bertelanjang d**a. Dia bisa merasakan bagaimana kerasnya otot d**a dan lengan pria itu yang bergesekan dengan tubuhnya. Pria itu memutar posisi mereka sebelum akhirnya mendekap Josephine erat erat. Seolah tidak mengizinkan perempuan itu untuk melihat bagaimana proses mereka untuk mendarat dengan mulus setelah terjatuh dari ketinggian. Tubuh mereka berdebum. Josephine sama sekali tidak merasakan kesakitan apapun. Tapi pria yang berada di bawah tubuhnya, pasti merasakan hal itu. Josephine lantas bangun dari posisi nya, dia segera menolong pria itu untuk bangkit. "Kau baik baik saja?" tanya pria itu pada Josephine "Seharusnya aku yang bertanya. Tubuhmu menghantam tanah sekeras itu. Apa kau baik baik saja?" balas Josephine Pria itu mengangguk, "Iya. Maaf karena aku mendorongmu dari atas sana. Tapi hal itu aku lakukan sebelum kawanan rogue tadi datang lebih banyak." Josephine melongo. Dia benar benar salah sasaran. Siang tadi, orang yang merundungnya adalah perempuan. Namun malah seorang pria yang menjadi korban pembalasan dendam nya yang ceroboh. "Kau... wujud manusia dari serigala besar tadi?" ucap Josephine Pria di hadapannya mengangguk dan tersenyum, "Hm." Oh sial. Rasanya Josephine ingin kabur saja. Terlebih saat menyadari jika pria di hadapannya menyunggingkan senyuman mengejek padanya. Seolah menertawakan dendam Josephine yang tidak tepat sasaran. "Kepalamu pasti sakit. Jadi, uhm, aku..." Mendadak, banyak kosa kata yang menghilang dari mulut Josephine. Perempuan itu mendadak kikuk saat menyadari jika dirinya hanya berdua dengan pria yang bertelanjang d**a. Josephine bukan perempuan yang polos. Dia mengetahui semua tentang pria. Tapi lain lagi dengan Arhea. Josephine tahu, perempuan itu tidak terbiasa dengan hal ini. Apa yang membuat nya kikuk adalah sikap alami dari Arhea. Bagaimana pun, dirinya kini mengisi tubuh perempuan polos itu. "Tak apa. Aku baik baik saja. Batu kecil tidak akan membunuhku, kan?" Tuh kan. Pria ini malah menggodanya dengan mengulang ucapan ketus Josephine padanya beberapa waktu lalu. Josephine rasanya ingin berpura pura pingsan, terbangun lalu pura pura amnesia atas sikapnya tadi. Namun sesaat setelahnya, dia tertegun. Dia menyadari jika sejak tadi, dirinya sama sekali tidak di anggap sebagai makhluk yang hina oleh pria di hadapannya. Dia tidak menemukan tatapan meremehkan, tatapan jijik ataupun tatapan menghina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN