Part 5 "Calvin dan Cara Josephine"

2139 Kata
"Hm? Kenapa?" tanya pria itu saat menyadari jika Josephine menatapnya dengan pandangan rumit Josephine tersenyum dan menggeleng, "Aku menyadari ada sesuatu yang beda darimu. Dan tidak ada dalam diri orang lain." Keduanya menunduk saat mendengar suara tanah yang mengarah ke arah mereka yang diam di bawah tebing. Josephine menurut saat tangannya digandeng oleh pria yang bersama nya itu untuk mengarah ke tempat lain. Sesekali dia akan menengadahkan kepalanya dan mengamati banyaknya tanah dan batuan kecil yang terjatuh dari atas tebing bukit. "Kau tidak terluka? Kenapa kau tidak bertukar shift saat penyerangan tadi? Dengan begitu setidaknya mungkin kau akan terbantu melawan para Rogue itu." tegur pria asing yang tidak Josephine kenal itu Pertanyaan dan teguran halus dari pria itu membuat Josephine menghela nafasnya dengan dramatis. Perempuan itu menepis tangannya yang digandeng oleh pria tadi. Dia memberikan pandangan tajam dan menusuk. "Apa berganti shift memang sepenting itu?" sarkas Josephine Seolah tidak menyadari perkataan bernada sarkas dari Josephine, pria itu mengangguk yakin. "Selain bertukar wujud, serigala mu merupakan cerminan kekuatanmu. Kau lihat pertempuran tadi? Ukuran ku lebih besar dari para rogue. Menandakan jika aku lebih kuat dibanding mereka." jelasnya "Bagaimana jika tidak memiliki wujud serigala? Berarti tidak memiliki kekuatan?" tanya Josephine Pria itu mengangguk, namun sesaat setelahnya dia menggelengkan kepala nya tidak yakin. "Belum ada kasus seperti itu sepertinya... Iya kan?" ucapnya ragu "Tadaaaa, kasus nya ada di hadapanmu sekarang. Surprise!" ketus Josephine. Perempuan itu bersidekap dan menatap pria yang ada di hadapannya dengan angkuh. Dia sudah mempersiapkan diri jika dirinya akan ditindas. Dan dia tidak akan membiarkan pria yang ada di hadapannya menindas dirinya. "Apa? Kau mau menindasku? Seperti yang lain?" tantang Josephine Pria itu menggeleng, "Aku tidak tahu kenapa kau begitu galak." "Bukannya wajar aku bersikap seperti ini?! Aku tidak akan membiarkan diriku ditindas lagi!" tukas perempuan itu. Dia bahkan menaikan dagunya untuk mengintimidasi orang yang ada di dekatnya itu. Alih alih meremehkan Josephine, pria itu malah tertawa kecil. Suara seraknya menimbulkan sensasi menggelitik di perut Josephine, membuat perempuan itu sontak menyentuh perutnya sendiri. Dasar menyebalkan! Bisa bisanya suara pria menyebalkan ini terdengar seperti tipe ku! Josephine melengos. Dia menendang tulang kering pria yang ada di hadapannya untuk melampiaskan rasa kesalnya. "Kau mengejekku?" "Tidak-tidak. Kau lucu. Leluconmu bagus, coba lagi lain kali." Josephine berdecak sebal, dia bergegas untuk pergi meninggalkan pria menyebalkan yang baru ditemuinya itu. Tubuhnya terhuyung saat lengannya ditarik begitu saja oleh pria tadi. "Apa, ha? Apa?" dengkus Josephine Pria itu mengusap pucuk kepala Josephine dengan gemas, "Jangan bertingkah ganas seperti itu." tegurnya. Pria tadi tersenyum, "Apa aku terkesan seperti mengejek mu? Tapi jujur, aku terkejut dengan pernyataanmu." Josephine melirik tangan yang terjulur ke arahnya itu, dengan malas dia menjabat tangan nya. "Aku Calvin. Senang bertemu denganmu." ucap pria bernama Calvin itu Josephine tersenyum tipis, "Aku Arhea Iri- Ah bukan. Aku Josephine Arhea Iris." "Kau tidak tinggal disini, ya?" terka Josephine Calvin mengangguk, "Benar. Kenapa kau tahu?" "Tidak ingin merendahkan diriku sendiri, tapi aku terkenal disini." ungkap Josephine sambil melebarkan senyuman nya. Ucapannya disahuti dengan tepuk tangan dan seruan takjub dari Calvin. "Kau pasti terkenal karena kekuatanmu?" tebak Calvin "Ha-ha. Bukan." balas Josephine sambil tertawa sarkas. Perempuan itu mengibaskan rambut nya, "Aku terkenal karena tidak memiliki wujud serigala. Semua orang tidak ingin dekat denganku, padahal jika dipikir lagi... Hal ini bukan penyakit menular, kan?!" seru nya tertahan Calvin mengerutkan dahinya, "Jadi ucapanmu itu sungguhan?" Josephine mengangguk, "Kau kira aku berbohong?" "Yahh, aku kira begitu. Kau terlalu tangguh untuk ukuran Werewolf yang tidak bisa bertukar shift." "Entah pujian atau bukan, tapi, terima kasih. Dan lagi, apa menurutmu ada orang yang ingin terlihat lemah? Aku tidak bodoh seperti itu." balas perempuan itu sebal "Tapi mereka juga berlebihan. Mereka menindasmu?" tanya Calvin Josephine mengangguk semangat, "Benar. Mereka bodoh, kan? Walau aku tidak memiliki serigala, bukan berarti hal itu akan menular pada mereka, kan?!" desak nya pada Calvin Dia tersenyum puas saat Calvin mengangguk setuju. "Memang dasar siluman." dengkus Josephine Perempuan itu tertawa kecil saat menyadari jika Calvin tengah menatapnya dengan pandangan sebal. Sepertinya dia mengetahui apa arti dari ucapan Josephine. "Kau juga Werewolf, Josephine." tegur Calvin "Ups, hanya setengah nya. Sisa nya, aku bidadari." "Kau half-blood?!" "Bukan, aku hanya--ah sudahlah. Kau membosankan." ucap Josephine malas. Perempuan itu kemudian mengintip keadaan luar, setelah memastikan jika keadaan sudah aman, dia beranjak keluar dari tempat persembunyiannya bersama Calvin. Perempuan itu berjalan sambil berusaha memasang tudung jubahnya. Dia menoleh saat mendengar suara langkah dari Calvin yang menyusulnya. "Mau kemana?" tanya Calvin "Pulang. Walau aku tidak punya wolf sehebat dirimu, tapi aku masih punya rumah. Aku bukan gelandangan. Atau mungkin belum." jawab Josephine Calvin menghadang Josephine, dia berdiri di hadapan perempuan itu dan tersenyum lebar. "Apa? Senyum mu menakutkan sekali." komentar Josephine. Perempuan itu menatap Calvin dengan dahi berkerut samar. "Apa kita bisa bertemu lagi?" tanya Calvin "Mungkin. Tapi kau kan tidak tinggal disini." "Aku akan tinggal disini. Aku pendatang baru yang berasal dari kota. Jadi, aku butuh bantuanmu untuk mengenal tempat ini." ucap Calvin "Kau tahu? Aku juga tidak mengenal tempat ini. Jadi, mungkin kita sebaiknya jalan bersama?" balas Josephine ragu Calvin mengangguk semangat. Pria yang lebih tinggi dan lebih besar dari Josephine itu memberi jarak dari Josephine. "Biar aku mengantarmu ke rumah." Josephine menatap Calvin yang meraung kesakitan. Bunyi tulang yang retak membuat perempuan itu menutup telinga dan memejamkan matanya rapat rapat. Sesaat setelahnya, dia mendengar suara menggeram berasal dari sesuatu yang ada di hadapannya. Serigala hitam berukuran besar itu kembali ada di hadapannya. "Keren." decak Josephine. Perempuan itu berlari dan melompat naik ke punggung wujud serigala Calvin itu. "Ayo, Calvin." seru nya semangat. Serigala hitam itu menggeram sebelum akhirnya mulai berlari menembus gelapnya hutan. Josephine memejamkan matanya, bibirnya tersenyum merasakan sensasi tidak asing dari pelarian ini. Tudung perempuan itu terbuka, membuat rambut lebatnya berkibar tertiup angin. 'Ahh, aku merindukan sensasi seperti ini. Angin yang bertiup kencang ke arahku.' *** Josephine menatap tangannya yang kembali di perban. Dia tidak tahu kenapa dirinya mengikuti perintah Calvin, tapi ucapan pria itu terdengar bisa di percaya. Lagipula, sepertinya dia adalah satu satunya orang yang tidak menjauhi atau menindas Josephine seperti yang lainnya. Neri di kecualikan. Perempuan itu memang sudah sepatutnya baik padanya. Arhea sudah menyelamatkan nya dari tempat perdagangan b***k. Jadi jika Neri tetap jahat, Josephine bisa menyebutnya tidak tahu diri. "Selamat tidur, Arhea. Tentang tanganmu, aku sarankan untuk membalutnya kembali dengan perban. Rahasiakan tentang regenerasimu ini dari semua orang. Mengerti?" Begitu katanya. Apalagi wajah pria itu terlihat serius. Jadi Josephine tidak memiliki alasan untuk tidak melakukan apa yang diminta oleh Calvin. Josephine membuka pakaiannya, berniat mengganti baju rumahannya dengan pakaian lain yang lebih pantas. Namun saat perempuan itu membuka lemari miliknya, nihil. "NERI! APA AKU SEMISKIN ITU HINGGA PAKAIAN DI LEMARIKU TERLIHAT LEBIH COCOK DIJADIKAN KAIN LAP?!" teriak Josephine sebal Neri datang dengan tergesa. Perempuan itu mengatur nafas diambang pintu sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar Josephine dengan wajah bingung nya. "Ya, Nona?" "Neri... beritahu aku. Apa Ayahku kaya?" tanya Josephine sambil memijat dahinya "Ya, tentu saja. Lihat saja rumah ini. Perlu sepuluh pelayan untuk membersihkan lantainya hingga bersih total." sahut Neri percaya diri "LALU KENAPA BENTUK PAKAIANKU SEPERTI INI SEMUA?!" protes Josephine Pintu kamar Josephine terbanting. Dellia dan Elli berdiri di muka pintu. Keduanya terlihat kesal karena teriakan yang Josephine keluarkan di pagi hari ini. "Untuk apa kau membutuhkan pakaian yang bagus?" tanya Dellia "Benar. Pakaian sebagus apapun, akan terlihat norak jika kau yang memakainya." timpal Elli Josephine menghela nafas dan mengibaskan rambutnya, "Kalian iri, kan? Kalian takut pesona kalian akan tersaingi oleh ku jika aku berdandan, kan?" ledeknya "Kenapa kau mengira kami berfikir seperti itu? Omega, tetaplah seorang Omega. Tidak akan bisa berubah menjadi seorang Ratu." tukas Dellia "Oh ya? Bagaimana jika aku menjadi Ratu? Karena jika itu terjadi, aku akan menunjuk kalian untuk membasuh kedua kaki ku, memoleskan perwarna, merawat rambutku, dan mengurus hal hal kecil lainnya. Kalian siap?" tanya Josephine penuh percaya diri "Hmph, sudah lah kak. Ayo hiraukan dia. Sepertinya karena jatuh dari tebing membuat kejiwaan nya terganggu." tampik Elli sambil menyunggingkan senyuman mengejek nya pada Josephine. Keduanya keluar dari kamar Josephine sambil tertawa puas. Meninggalkan Josephine yang terdiam menatap kepergian keduanya dengan wajah datar. "Stress." decak nya Josephine melirik Neri yang masih berdiri di dekatnya, "Neri, kira kira dimana aku bisa mendapatkan banyak uang?" "Uhm, banyak. Menjadi pelayan di restoran, menyiapkan makan untuk para Warrior, atau Nona bisa menjadi pelayan di rumah para Werewolf bangsawan." jelas Neri "Berapa upahnya?" "Sekitar 50 keping emas...?" "Aku tidak mau. Aku mau suatu pekerjaan yang memiliki upah besar. 500 koin emas dalam sekali bekerja." elak Josephine Kedua mata Neri melebar, "N-nona?! Itu besar sekali. Pekerjaan yang memiliki upah seperti itu adalah pekerjaan yang melibatkan kekerasan." "Kekerasan?" "Iya, seperti bertarung untuk para penjudi. Mereka bisa membayar 500 hingga 1000 keping emas dalam sekali pertarungan." ungkap Neri Josephine terdiam. Dia sudah menduga nya. Pekerjaan yang berat pastilah memiliki upah yang besar. Tapi dia tidak menduga jika pekerjaan itu melibatkan kekerasan seperti sebuah pertarungan. Perempuan itu melirik tangannya yang diperban. Calvin bilang, regenerasi nya terhitung sangat cepat dibanding Werewolf lain. Jadi... mungkin Josephine tidak akan keberatan jika dia terluka. Toh semua luka nya akan sembuh dalam hitungan detik. Luka terberat hanya akan memakan waktu beberapa menit. "Neri, kau boleh pergi." usir Josephine "Nona tidak akan bermain dengan kekerasan seperti itu, kan? Tubuhmu... tidak sekuat itu." ucap Neri "Hm. Pergi sana." ulang Josephine sambil mengibaskan tangannya pada Neri Setelah memastikan Neri keluar dari kamarnya, Josephine membaringkan tubuhnya di atas ranjang. "Apa harus aku lakukan?" tanya Josephine pelan "Tapi aku tidak mau di pukuli. Luka semalam juga terlalu mengerikan." "Tapi semalam itu luka tusukan. Bukan luka karena pukulan. Jadi... apa harus aku lakukan?" Josephine mengepalkan tangannya, "Baik. Mari lakukan. Tapi sebelum itu, aku akan riset tentang para petarung yang ada." **** "Nona, jangan bercanda. Arena pertarungan bukan untuk seorang perempuan kecil seperti Nona." tegur pria yang Josephine percayai sebagai sang pemilik dari tempat judi ini Josephine mendengkus, "Aku tidak akan meminta ganti rugi atas pukulan atau lebam yang ada di tubuhku, tenang saja." "Hahh, baik baik, terserah anda. Tapi jika nanti anda sudah menyerah, langsung lambaikan tangan padaku. Aku akan menghentikan pertarungan." balas pemilik tempat itu Josephine mengangguk. Dia sudah bertekad untuk melakukan hal ini. Entah apa yang terjadi kedepannya, tapi jika gagal, maka anggap ini sebagai langkah awal menguasai dunia. Ah bukan, tetapi langkah awal menjadi orang kaya. Perempuan itu duduk di sebuah kursi yang menampilkan arena bertarung. Ukurannya tidak besar, tapi cukup bagi Josephine untuk menghindar dan mungkin melompat jika diperlukan. Ya, melompat. Josephine menyadari jika tubuh nya ringan. Seharusnya dia bisa melompat tinggi untuk menghindari pukulan atau serangan dari beberapa arah. Seorang petarung memasuki arena. Tubuhnya tinggi dan besar, membuat Josephine menelan ludahnya sendiri. Perutnya mendadak diserang oleh rasa sakit. Dia merasa tidak yakin untuk berhasil melawan pria itu. Dan untungnya, pria itu bukan lawan dari Josephine. Katanya, pria itu akan dijadikan sebagai lawan akhir dari petarung yang melawan petarung lainnya. Dan sang pemenang dari pertarungan kecil itu akan melawan pria besar tadi. Josephine pastikan, pria itu pasti adalah juara bertahan di tempat ini. Terdengar bunyi teriakan dan seruan semangat dari para pengunjung yang membuat Josephine menghela nafas. Tempat ini sudah jelas bukan arena pertandingan, melainkan sebuah arena dimana para orang kaya yang membutuhkan hiburan datang dan membuang uang mereka. Menyedihkannya, Josephine membutuhkan uang itu. "Ah, aku benar benar sangat tidak beruntung. Lahir sebagai orang kaya, namun aset yang aku punya adalah nihil." gumam Josephine "HEY!" Tubuh Josephine tersentak kecil, dia mendongkak dan menatap seorang pria yang berdiri di dekatnya. Tubuhnya kurus, mungkin tidak berbeda jauh dengan Josephine. "Aku dengar kau adalah satu satunya petarung dalam sejarah arena ini!" seru pria tadi Josephine mengangguk, "Hm, kenapa?" Pria itu tertawa, "Aku mungkin akan melawanmu. Pemilik arena bilang jika kita adalah lawan yang seimbang." Josephine meneliti pria di hadapannya. Dia jelas lawan yang lebih mudah dibandingkan juara bertahan tadi. Walau dia tidak tahu apakakah dia bisa mengalahkan nya atau tidak, tapi Josephine pastikan dirinya akan berusaha dengan sungguh sungguh. "Apa kita akan menjadi orang pertama yang bertanding?" tanya Josephine Pria itu mengangguk, "Iya. Ayo bersiap." Josephine bangkit dari duduknya. Dia berjalan mengikuti pria tadi dengan patuh menuju ke bawah arena. Dia menatap tangga yang akan membawanya ke arena dengan berdebar, tangannya berkeringat dingin. "Kau tahu aturannya?" tanya pria tadi yang disahuti Josephine dengan gelengan "Di arena, kau tidak boleh bertukar shift dengan serigala mu. Sesulit apapun lawan mu, kau tidak boleh bertukar shift." jelas si pria Josephine mengangguk mengerti, bukan hal yang sulit. Lagipula dia tidak memiliki hal itu. "Lalu apa yang terjadi jika lawan bertukar shift?" tanya Josephine "Akan di eliminasi. Walau dia lebih kuat dari lawannya, tapi gelar pemenang akan diberikan pada pihak yang tidak bertukar shift." Josephine mengulas senyuman tipis nya sesaat setelah mendengar penjelasan itu. Sepertinya dia tahu apa yang harus di lakukan kedepannya. Yah, sedikit curang memang. Tapi Josephine pastikan dia tidak akan melakukan cara ini berkali kali. Hanya di saat dia terdesak.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN