Part 6 "Pembalasan Goddess, sang Dewi"

2280 Kata
"Sial! Seharusnya tadi aku bertaruh untuk perempuan itu!" "Ha-ha-ha. Berikan 80 koin emas untukku! Kau kalah bertaruh!" "Siapa perempuan tadi? Aku tidak pernah melihatnya di arena." "Kau kira aku bisa melihat wajahnya? Tudung nya tidak terlepas sepanjang pertarungan." "Siapa nama julukannya tadi?" "Goddess." "Apa minggu depan, dia akan bertarung lagi?" "Seharusnya, iya. Dia akan melawan petarung lain sebelum berhadapan dengan juara tetap Mr. Dough." "Dia lebih banyak menghindar. Dan hanya sedikit mengeluarkan kekuatannya." "Bukannya itu menarik? Hanya dengan cara itu saja dia bisa memenangkan pertarungan. Bagaimana jika dia mengeluarkan kekuatannya?" "Sial!! Lain kali aku akan bertaruh untuknya." Dan lebih banyak lagi pembicaraan soal pedatang baru perempuan yang bermain di arena itu. Josephine yang mendengar beragam pujian itu tersenyum senang. Dia merapatkan tudung jubahnya dan turun dari arena. Pria yang menjadi lawannya tadi sudah dibawa ke ruangan sang pemilik arena. "Apa aku harus meminta bayaranku sekarang? Pemilik arena ini bilang jika bayarannya bisa di dapat dalam sekali bertarung." gumam Josephine sambil mengedarkan tatapannya ke sekitar. Pandangannya bertemu dengan seorang penjaga yang berjaga di depan pintu. "Ini ruangan pemilik arena?" tanya Josephine Pengawal itu mengangguk, dia mempersilahkan Josephine untuk masuk ke dalam ruangan. Suara memohon seorang pria menjadi hal pertama yang menyambut Josephine. Perempuan itu sontak mengarahkan tatapannya pada pria yang menjadi lawannya itu. "Ada apa ini?" tanya Josephine "Ah, bukan apa apa Nona. Kau datang untuk mengambil hadiahmu ya?" balas sang pemilik arena. Dia melemparkan sekantung penuh koin emas pada Josephine yang langsung ditangkap oleh perempuan itu. "Tuan, saya mohon! Terima saya untuk bertarung sekali lagi di tempat ini!" "TIDAK BISA! KAU KIRA SUDAH BERAPA BANYAK KESEMPATAN YANG AKU BERIKAN PADAMU?!" "T-tolong! Saya mohon! Saya sangat membutuhkan uang itu!" "Masih untung kau tidak aku jual ke pasar b***k karena kalah dalam pertarungan awal, Andy. Pergilah. Jangan harap kau bisa kembali dan bertarung di tempat ini." usir pemilik arena Josephine menghela nafasnya. Dia memutuskan untuk keluar dari ruangan setelah menerima uang itu. Tangannya mencengkram erat kantung emas itu, kepalanya menyerukan suara suara yang mengumpatinya. Sedikit merasa bersalah. Pria itu cukup kuat, hanya saja Josephine lebih lincah dalam menghindar. Dia baru memberikan perlawanan disaat pria bernama Andy tadi sudah mulai lelah dengan pertarungan. Karena itu, alih alih pulang dan mungkin berbelanja, Josephine menunggu pria tadi di luar arena. "Hai." sapa Josephine Andy, pria tadi tersenyum dan mendekat pada Josephine. "Selamat atas kemenanganmu. Tidak aku sangka perempuan kecil sepertimu bisa mengalahkanku." balas Andy "Aku lihat kau benar benar membutuhkan koin emas ini, ya?" tanya Josephine berterus terang dengan pertanyaan nya Andy mengangguk, "Iya. Aku ini miskin. Koin emas sebanyak itu bisa menanggung kehidupan ku selama beberapa minggu." "Apa kau harus berterus terang dengan keadaan mu?" dengkus Josephine. Perempuan itu tersenyum dan menyerahkan 50 keping emas yang ada di dalam kantung pada Andy. "Untukmu. Aku lihat, kau lebih muda dariku. Tidak baik jika anak muda seperti mu memiliki beban yang terlalu berat. Dan satu lagi, jangan terlalu terbuka soal keadaan mu pada orang lain. Kita tidak tahu dia datang untuk membantu atau justru menertawakan mu dari belakang." ucap Josephine Andy berseru senang. Dia menatap Josephine dengan mata berbinar, "Nona, kau benar benar seorang Dewa sesuai dengan julukan mu, ya?" Josephine tertawa. Daripada seorang Dewa, dia hanya merasa bersalah karena mengalahkan pria itu dengan cara yang terbilang curang. "Sudahlah. Pergi sana. Beli makanan atau apapun itu untukmu." usir Josephine sambil mengibaskan tangannya Andy berseri seri, "Nona, siapa namamu?" "Panggil aku Goddesss saja. Sesuai julukan orang orang tadi. Walau terdengar berlebihan, tapi aku cukup menyukainya." jawab Josephine "Nona Goddess! Mulai saat ini, aku adalah hamba mu." seru Andy sambil menundukkan kepalanya memberi hormat "Hamba apanya? Pergi sana! Aku tidak gila hormat." Andy tertawa dan berlari menuju suatu tempat yang diyakini Josephine sebagai sebuah pasar. Perempuan itu kemudian menghela nafas dan pergi dari arena. Josephine meyakini jika dirinya hanya beruntung hari ini. Entah bagaimana dia akan menghadapi lawannya minggu depan. Tapi karena koin emas yang akan didapatnya dua kali lipat lebih besar dari ini, dia akan menerima nya. "Apa aku gila uang?" gumam Josephine pada dirinya sendiri. Sesaat kemudian, perempuan itu menggelengkan kepalanya, "Aku tidak kuat. Jadi setidaknya aku harus banyak uang. Aku tidak memiliki tahta disini, jadi setidaknya aku harus memiliki harta." "Tapi... sampai kapan ini akan bertahan? Aku harus terus merahasiakan identitasku sambil mengumpulkan benda kecil berwarna emas ini." "Hahh, banyak uang pusing... tapi tidak punya uang lebih memusingkan." decak Josephine Perempuan itu melanjutkan perjalanan nya menyusuri perbukitan sepi yang akan membawanya pulang ke rumah. Saat menyadari jika dia sudah benar benar sendirian, Josephine melepaskan tudung nya. Dia mengamati lengannya yang lebam karena pukulan dari Andy. Josephine menekan lebam itu dan meringis. Cukup menyakitkan. Belum lagi dengan memar lain di kaki nya. Josephine memutuskan untuk duduk dan berdiam diri. Dia mengamati semua lebam berwarna kehijauan itu yang perlahan mulai memudar. "Ah, luka ringan benar benar hanya memakan beberapa detik untuk disembuhkan. Kemampuan regenerasi yang luar biasa, Josephine. Ayo tingkatkan lagi." pujinya pada dirinya sendiri Pandangan Josephine kemudian teralih pada kantung koin emasnya. Dia tidak mungkin membawa nya begitu saja. Apalagi jika Neri sampai mengetahui nya. Pelayannya itu sedikit ceroboh dan cerewet. Walau baik, tapi tidak ada jaminan jika dia akan menjaga rahasia. Jadi Josephine memutuskan untuk tidak memberitahu perempuan itu tentang hari ini ataupun kantung koin emas nya. Lalu pada siapa dia bisa menitipkan kantung berisi harta nya ini? Dia tidak akan bertindak bodoh dengan menyimpan harta berharga di rumah. Bisa bisa benda ini lenyap begitu saja. Calvin? Tiba tiba nama pria itu terlintas di kepala Josephine. Namun sesaat kemudian, perempuan itu menggelengkan kepalanya. Walau Calvin baik padanya, dia masih belum bisa sepenuhnya percaya pada pria itu. Lagipula mereka baru bertemu dan dia sama sekali tidak mengetahui apapun tentang pria itu. Walau dari wajahnya terlihat seperti berasal dari keluarga berada, Josephine tidak mau mengambil resiko. Dia takut uang nya dicuri oleh Calvin. "Hmmmmm, menyebalkan." Josephine juga tahu jika didunia ini tidak ada rekening, BANK ataupun ATM. Mobil saja tidak bisa dia temukan di tempat ini. "Apa-apaan ini?! Aku tidak bisa menyimpan uang dimanapun?!" rutuk Josephine Perempuan itu bangkit dari duduknya dan melanjutkan kembali langkahnya untuk pulang ke rumah. "Hai!" "OH ASTAGA, AKU TIDAK MAU MISKIN!" Josephine menyentuh d**a nya sendiri yang berdebar kencang. Dia menatap terkejut pria yang ada di samping nya. Yang di tatap malah tertawa keras, seolah senang melihat Josephine yang terkejut karena berhasil mengejutkan perempuan itu. "Tenang saja. Kau tidak akan miskin karena aku kejutkan." ucap Calvin Josephine melengos. Dia mempercepat langkahnya, enggan berjalan berdampingan dengan pria menyebalkan bernama Calvin itu. "Apa yang kau pikirkan hingga mengatakan miskin?" tanya Calvin "Aku memikirkan uangku." jawab Josephine acuh. Sesaat kemudian, dia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Calvin. "Calvin, apa kau kaya?" tanya Josephine serius Mendengar pertanyaan aneh dari Josephine, Calvin mengerutkan dahinya. Dia tahu Josephine adalah perempuan yang unik, tapi dia tidak tahu jika perempuan yang ditemui nya semalam itu bisa mengeluarkan pertanyaan seperti tadi. "Eum, aku rasa... cukup kaya." jawab Calvin Josephine menghela nafasnya, "Oke, bagus. Kalau begitu aku titipkan padamu saja ya?" Perempuan itu menyerahkan sekantung penuh koin emas pada Calvin. "Tolong jaga baik baik. Itu uang yang aku hasilkan dari keringatku sendiri. Kau boleh menambahnya, tapi kau tidak boleh menguranginya." pinta Josephine serius. Perempuan itu bisa melihat jika Calvin tengah menahan tawa sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya untuk menjawab permintaan Josephine. "Baik, baik. Aku akan menjaga uang mu dengan segenap nyawaku. Aku bersumpah." ucap Calvin "Bagus, aku percayakan padamu uangku yang berharga." sahut Josephine sambil tersenyum senang "Oh iya, apa kau baru saja bepergian?" tanya Josephine saat melihat pria itu memakai jubah sama sepertinya Calvin mengangguk, "Aku baru jalan jalan sedikit. Aku mau mengunjungimu, tapi aku ingat jika kau melarangku datang ke rumahmu." "Datang saja jika kau mau." "Kau serius?" Josephine mengangguk, "Tentu. Tapi yang akan kau temui bukan aku. Melainkan tiga nenek sihir. Kau akan disihir menjadi katak." "Apa? Aku baru tahu jika sekarang klan Penyihir tinggal di wilayah klan Werewolf." balas Calvin serius Perempuan yang tadi melontarkan candaan itu menghela nafasnya dan menggelengkan kepalanya, "Sudahlah. Kau tidak asik, Calvin. Aku tidak mau bercanda lagi denganmu." decaknya Calvin tertawa, dia mengikuti Josephine yang sudah terlebih dulu berjalan di depannya. "Kau tahu? Sebelumnya tidak pernah ada yang memperlakukan ku seperti ini." ucap Calvin Josephine memberikan wajah sebalnya, "Sebelum nya lebih parah, kan? Mereka langsung mengatakan jika kau sangat kaku dan tidak menyenangkan." cibir perempuan itu Pria yang menjadi lawan bicara Josephine itu mengeraskan tawa nya. Dia bisa mendengar nada sebal dan dongkol yang dilontarkan Josephine padanya. Calvin berdeham dan menundukkan kepalanya saat mereka bertemu dengan sekelompok perempuan. "Wahh, kau punya teman, sekarang?" tanya mereka pada Josephine "Kira kira siapa yang mau berteman denganmu? Apa dia adalah orang yang sudah sangat putus asa dengan hidupnya?" Josephine berdecak, "Aku tahu kalian sebegitu tertariknya dengan kehidupanku. Sulit sekali menjadi seorang publik figur." ucapnya bangga. Perempuan itu mengibaskan rambutnya dan menyunggingkan senyuman penuh kepercayaan dirinya, "Tapi kalian jangan menyerangku di hadapan orang lain, dong. Aku kan jadi tidak bisa bebas melawan kalian untuk menjaga image ku." Dibalik tudung nya, Calvin tengah menahan tawa nya. Dia bisa merasakan suhu di sekitarnya kian menghangat, tampaknya mulai ada yang terbawa emosi karena perkataan Josephine yang kelewat santai dan juga sombong. "Apa? Tertarik padamu? Kenapa juga aku harus tertarik pada seorang Werewolf yang tidak bisa bertukar shift seperti mu?" hina Ailya. Dia berteman dekat dengan Dellia dan Elli. "Kau tanya kenapa kalian bisa tertarik padaku? Tentu saja karena aku cantik. Walau tanpa wujud Serigala ku, aku bisa mempesona seperti saat ini." decak Josephine sambil mengibaskan rambut nya dengan berlebihan "Aku yakin, jika aku memiliki wujud serigala, aku pastikan orang orang seperti kalian tidak akan memiliki mate. Mereka mungkin akan menolak kalian, dan jatuh pada pesona seorang Josephine Arhea Iris." sambung nya Perempuan itu menyunggingkan senyuman geli saat menyadari jika oramg orang itu terdiam tidak berkutik. Dia mengendikkan bahunya acuh dan kembali melanjutkan perjalanan nya tanpa menghiraukan orang orang yang menindasnya tadi. "Ucapan mu penuh percaya diri juga." puji Calvin Josephine menyeringai, "Harus. Aku tidak mau ditindas lagi." "Tapi bagaimana pun, wujud wolf mu itu penting, Josephine." ucap Calvin Perempuan itu memijat dahinya pelan, dia berdecak dan menatap Calvin dengan wajah datarnya. "Aku juga sedang mencari cara nya, Calvin. Pencarian ini harus dimulai dari identitas Arhea. Aku harus mengetahui asal usul nya sebelum mencari jalan keluar dari ketidakmunculan wolf milik Arhea." tegas Josephine "Kau berkata seolah kau adalah orang lain, Josephine." kekeh Calvin "Anggap saja begitu. Sosok Arhea yang lama sudah mati. Hanya ada Arhea yang baru untuk saat ini dan kedepannya. Jadi, bersiaplah." sahut Josephine "Butuh bantuanku?" tawar Calvin "Bantuan apanya? Memang nya kau bisa memunculkan wolf ku dalam sekali panggilan?" "Maksudku, mencari tahu identitas mu. Semua data tentang keluarga yang ada di klan werewolf, ada di perpustakaan. Kita bisa mencarinya disana." ralat Calvin Josephine menghembuskan nafasnya, "Tapi... aku malas membaca. Wilayah klan Werewolf kan luas sekali. Harus berapa lama untuk menemukan silsilah keluargaku?" "Tidak masalah, kita punya banyak waktu." "Aku malas..." "Aku temani, ayo." "Calvin, kenapa aku merasa jika kau lebih semangat dariku?" "Hanya perasaan mu. Ayo cepat, kita pergi ke perpustakaan kota sebelum mereka tutup jam 4 sore." "Apa?! Itu kan masih lama!" protes Josephine "Kita harus berjalan dua jam, Nona Josephine. Dan sekarang sudah pukul dua belas siang. Terlihat dari matahari yang sejajar dengan kepala kita." "Calvin, gendong aku..." "Tidak mau. Jalan sendiri." "Calvin aku serius! Kaki ku pegal, sakit sekali." ringin Josephine "Maaf, Josephine. Tapi aku tidak akan terhanyut dalam ekspresi memelasmu. Coba lagi lain kali." Josephine mengerang malas, dia membiarkan dirinya di seret oleh Calvin untuk pergi ke sebuah tempat yang dipenuhi aroma buku. *** "Wah, lihat siapa yang baru saja pulang setelah seharian ini pergi dari rumah." Josephine berdecak malas. Dia lelah, membaca buku tidak hanya menyiksa mata nya, tapi juga batinnya. Dan kini dia harus berhadapan dengan kedua saudara tiri nya. Dellia dan Elli. Perempuan itu melirik sepatu yang dilemparkan Dellia padanya. "Bersihkan sepatu ku. Malam ini ada pesta yang harus aku hadiri dan aku mau memakai nya." titah Dellia "Bersihkan sendiri. Aku bukan pelayanmu." tolak Josephine "Sepertinya sejak bunuh diri itu, kau jadi mendapat banyak keberanian ya?" sarkas Elli pada Josephine "Kita semua tahu betul itu bukanlah sebuah upaya bunuh diri. Dasar bodoh." gumam Josephine. Perempuan itu kemudian berlalu, hendak menaiki tangga menuju lantai dua rumah nya. Tangannya di cekal oleh Elli. Perempuan itu bahkan mencengkram lengan Josephine, hanya untuk sekedar menahan nya. Tidak menyukai tindakan Elli, Josephine berbalik dan membanting tubuh perempuan itu ke lantai. "Jangan menyentuhku dengan tangan menjijikkanmu!" tekan Josephine Melihat adik kembarnya di perlakukan seperti itu oleh Josephine, Dellia bangkit dan melayangkan pukulan pada perempuan itu. Tangannya sudah bertransformasi menjadi kuku tajam serigala, seolah mempertegas keunggulannya dibandingkan Josephine. Pukulan dan cakaran yang dilayangkan Dellia berhasil di tangkis oleh Josephine. Perempuan itu berhasil membuat Dellia kesal dan bertukar shift ke wujud serigala nya. Josephine mulai terdesak, serigala milik Dellia ternyata cukup kuat. Tapi dia juga tidak ingin mengalah. Saat serigala besar itu mencakar leher nya, Josephine meraih sebuah belati dari belakang saku celana nya. Dia menyambit bagian leher serigala itu, membuat sebuah luka yang sama persis dengan apa yang sudah diberikan oleh Dellia padanya. Disaat ada kesempatan, Josephine segera mendorong serigala besar itu dari atas tubuhnya. Dia menginjak perut wujud serigala Dellia dan menekan nya. "Darah dibalas darah, Dellia. Jangan karena aku tidak memiliki wujud serigala ku, kau bisa seenaknya." berang Josephine 'Sialan, sejak kapan dia jadi sekuat ini?' Elli menatap Josephine dengan tajam. Seingatnya, Josephine bukanlah orang yang akan melawan saat diperintahkan oleh nya ataupun Dellia. Josephine akan menurut dan melakukan apapun yang diperintahkan oleh mereka tanpa bantahan. "Jadi, perlu aku membersihkan sepatu mu itu di mulutmu? Membersihkan nya dengan lidahmu?" tawar Josephine sambil tersenyum tipis "Karena jika iya, maka adik mu ini akan dengan senang hati melakukan nya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN