BRAKKK
Pintu kamarnya terbuka. Josephine menoleh dan tersenyum tipis saat melihat wajah merah Millie. Perempuan tua itu pasti marah atas perlakuan Josephine pada kedua anaknya.
"Kau! Berani beraninya kau menyentuh wajah Dellia dan Elli!!" bentaknya pada Josephine. Millie berjalan tergesa dan langsung mencekik Josephine.
Perempuan itu merasakan nyeri di lehernya. Dia bisa merasakan kuku tajam Millie menembus kulitnya. Josephine merasakan matanya mulai berair, nafasnya juga sudah mulai sesak.
Tangan Josephine mencengkram tangan Millie yang ada di lehernya. Perempuan itu terbatuk dan mengusap lehernya sendiri saat cekikan Millie berhasil terlepas dari lehernya.
"Kau sendiri bilang jika aku lemah, kan? Apa menurutmu aku sekuat itu hingga bisa mengalahkan kedua anakmu yang hebat itu?" tanya Josephine dengan suara seraknya. Ekspresi wajahnya yang dibuat semenyedihkan mungkin. Mengisyaratkan jika dirinya hanya perempuan yang lemah dan polos.
Millie berdecak. Dia tahu jika kedua anaknya tidak akan berbohong. Tapi jika hal ini dia bicarakan dengan orang lain, mereka akan meragukan kemampuan Elli dan Dellia.
Tidak bisa. Millie sudah menyiapkan posisi yang tinggi untuk kedua anaknya di dalam klan Werewolf. Berita tentang kekalahan Dellia dan Elli dari Josephine yang tidak memiliki kekuatan, sama dengan menyeret kedua anaknya untuk mundur dari posisi tinggi yang diincarnya.
Menyadari jika tidak ada yang bisa di lakukan oleh nya, Millie segera keluar dari kamar Josephine.
Tepat saat pintu kamarnya kembali tertutup, Josephine merubah ekspresi nya. Seulas senyuman puas menggantikan raut wajah melas dan lemah nya tadi.
Perempuan itu tertawa kecil, "Ah... Seharusnya aku menjadi seorang aktris. Aku mungkin bisa meraih piala penghargaan dengan bakat aktingku."
Setelahnya, Josephine berjalan menuju ranjang nya. Dia membaringkan tubuhnya dan menatap semburat jingga di langit.
Hari benar benar sudah beranjak sore. Rasanya baru tadi pagi dia kabur dari rumah dan bertarung melawan Andy. Tapi ternyata dia sudah cukup lama bersenang senang.
"Jika ini di dunia asalku, apa yang sedang aku lakukan?" gumam Josephine
Dia memejamkan matanya, perlahan mulai mengingat kebiasaan sore hari di rumah nya. Mencari investor, mempelajari berkas dan grafik, mempelajari rival sekaligus relasi bisnis nya, dan mungkin-berkencan.
"Cih, b******n itu kan sudah menduakan aku! Jangan jangan ini karma karena aku menolak keras perjodohan yang diatur oleh Ayah dan Ibu?!" rutuk Josephine
"Gara gara si bodoh itu, aku jadi kecelakaan dan bangun di antah berantah seperti ini."
"Pokoknya, jika aku kembali ke dunia ku, aku harus membuat perhitungan padanya!"
Sesaat setelah mengatakannya, Josephine terdiam. Kembali ke dunia asalnya. Apa dia bisa melakukan hal itu? Dan apa yang harus dia lakukan untuk kembali?
Apa setelah Arhea bahagia, dia akan otomatis pulang ke dunia asalnya? Jika Arhea sudah bahagia, lalu bagaimana dengan dirinya? Setelah memperjuangkan kebahagiaan Arhea, Josephine harus kembali berjuang untuk kebahagiaan nya sendiri?
Tetapi bukannya itu berarti tidak adil? Josephine harus berjuang dua kali dalam hidupnya. Tapi Josephine juga tidak mau hidup pasrah dalam tubuh Arhea.
Regenerasi tubuh perempuan itu mungkin terhitung sangat cepat. Tapi tidak dengan hatinya.
"Lagipula... tidak ada jaminan Arhea hidup bahagia jika aku pasrah dalam keadaan seperti saat ini. Di dunia ini, Arhea hanya sosok kecil yang kehadirannya sangat semu, atau bisa di sebut antara ada dan tiada. Tidak akan ada yang menangisinya jika dia pergi dan tidak ada yang akan membahagiakan nya selain dirinya sendiri."
Josephine bangkit dari tidurnya, dia termenung dan memeluk lututnya sendiri.
"Sedangkan aku... rasanya, sedikit lebih baik. Kedua orangtua ku mungkin akan menangis jika aku tiada. Walau mungkin mereka menangis karena tidak ada pewaris yang bisa mewarisi kekayaan keluarga, setidaknya mereka menangis." gumam nya
"Sebenarnya, takdir macam apa yang terjalin diantara kita, Arhea?" bisik Josephine
"Nona!"
"Astaga, Neri! Ketuk pintu terlebih dahulu!" seru Josephine saat suara Neri tiba tiba memenuhi kamarnya
Neri tertawa kecil, dia berlari dan menghampiri Josephine yang berada diatas ranjang.
"Nona tidak mau pergi?" tanya Neri
"Kemana?"
"Pesta penyambutan para Alpha. Katanya Alpha Christ telah mengundang Alpha Jacob untuk pesta resmi pengangkatan calon Alpha yang baru. Nona tahu siapa dia, kan? Dia Alpha terkuat dari klan Werewolf!" jelas Neri. Kedua matanya berbinar membayangkan sebuah pesta besar dengan banyak pria tampan. Dia mendengar banyak desas desus soal Alpha terkuat yang katanya masih berusia muda.
"Tidak. Aku tidak diundang." sahut Josephine sekenanya. Perempuan itu bangkit dari ranjang dan mengikat rambut nya, "Tolong buatkan aku air hangat, Neri. Aku ingin mandi."
Neri mengangguk, "Akan aku buatkan. Nona, kau yakin jika kau tidak mau datang? Semua rakyat diundang. Nona bisa datang tanpa membawa surat undangan."
"Entah kenapa aku merasa jika kau sedang memaksaku." sarkas Josephine. Perempuan itu menggelangkan kepalanya, bersikeras untuk tidak pergi dan menghabiskan waktunya sendirian, "Jika kau mau pergi, pergi saja. Aku bukan bayi yang harus kau jaga setiap jam."
"Lihat air liurmu! Hanya membayangkan para Alpha saja, kau sudah terlihat seperti seekor kucing yang melihat ikan." cibir Josephine
"Nona serius?!" seru Neri
"Ya, pergilah. Aku titip salam pada Alpha kalian. Sampaikan permintaan maafku." ujar Josephine
"Asik!! Terima kasih, Nona!" teriak Neri sambil berlari keluar dari kamar
Josephine melirik kepergian Neri melalui cermin riasnya. Dia tersenyum kecil dan menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir kenapa semua orang di dunia ini begitu menyukai pesta. Berbanding terbalik dengan dirinya. Dia sudah muak dengan sesuatu yang berhubungan dengan pesta.
"Apa sebaiknya aku keluar malam ini? Jalan jalan?" gumam perempuan itu. Beberapa saat setelahnya, dia mengangguk kecil, menyetujui idenya sendiri untuk jalan jalan dan mungkin menikmati suasanya sepi dunia baru ini. Lagipula semua orang akan pergi ke pesta, tidak akan ada yang mempedulikannya.
"Aku akan pergi setelah semua orang di rumah ini pergi."
****
Seorang perempuan berjalan mengendap endap menuju sebuah tempat. Sesekali dia akan menunduk dan menghentikan langkahnya untuk memastikan keadaan sekitar. Tingkahnya seperti seorang pencuri, tapi nyatanya, tempat yang akan ia datangi hanyalah sebuah perpustakaan tua.
Josephine kembali ke perpustakaan yang sebelumnya dia dan Calvin datangi. Perempuan yang mengaku alergi pada buku itu kini memutuskan untuk datang secara diam diam ke tempat ini setelah menyadari jika ada sesuatu yang menarik dari buku yang dibaca nya.
"Apa aku akan dikenakan sanksi jika ketahuan menyelinap masuk seperti ini ke perpustakaan?" gumam Josephine
Dia berjalan menuju salah satu dari deretan rak buku yang ada di dalam perpustakaan. Perempuan itu menggeser beberapa buku berukuran tebal untuk meraih buku bacaan nya yang tadi dia sembunyikan agar tidak dipinjam oleh siapapun.
Josephine sedikit menepuk buku berukuran tebal ditangannya, dia segera berjalan menuju salah satu kursi yang ada untuk membaca buku itu. Sebuah meja dan kursi yang berada di dekat jendela menjadi tujuan Josephine. Apalagi mengingat perpustakaan yang gelap, dia akan membutuhkan cahaya bulan untuk membaca sebuah buku.
Josephine mengedarkan tatapannya ke seluruh penjuru perpustakaan. Hening dan sunyi. Saking hening nya, suara langkah kaki nya terdengar bergema di ruangan besar ini. Sebelumnya, suara itu tidak terdengar karena ia berusaha mengendap-endap. Tapi setelah menyadari jika dirinya hanya seorang diri di tempat ini, Josephine merasa bebas.
Perempuan itu mulai membuka buku yang ada di dekapannya. Jarinya mengusap lembar demi lembar halaman buku, hingga sesaat setelahnya, dia menemukan bagian yang sempat di baca nya.
Disaat bulan merah bersinar terang, sebuah lambang dari kesucian, keberanian dan harapan akan bangkit. Terbangun setelah sekian lama nya terkubur di dalam jiwa yang dikutuk. Di saat itu tiba, sebuah cahaya yang hangat akan menyinari seluruh wilayah. Nyanyian disertai tangisan akan mengiringi kebangkitan nya.
Nama nya akan dikenal sebagai salah satu dari pilar cahaya dunia Werewolf. Sang harapan akan berusaha menjadi tumpuan dari semua orang, walau jauh di dalam hatinya, dia tidak memiliki harapan untuk dirinya sendiri.
Kedua mata Josephine menyendu. Paragraf dari buku yang dibaca nya seperti sebuah ramalan. Walau bahasa yang dipakai terkesan indah, namun Josephine merasa sakit. Hatinya sakit. Membayangkan seseorang yang menanggung harapan banyak orang, namun jauh di dalam dirinya, dia sama sekali tidak memiliki harapan.
"Nyanyian... dan tangisan. Apa maksudnya?" bisik Josephine
"Kau ingin mengetahui nya, nak?"
Pertanyaan singkat yang membuat Josephine tersentak kaget. Perempuan itu mengangkat kepalanya dan menemukan sesosok pria paruh baya yang rambutnya sudah memutih sepenuhnya.
"Kau... siapa?" tanya Josephine. Dia segera mengamankan buku yang sedang di baca nya dan menyembunyikan benda itu dari pria tua yang ada di hadapannya.
Pria itu terkekeh, dia duduk di bangku yang ada di hadapan Josephine tanpa di persilahkan.
"Aku tetua di Klan Werewolf." ucapnya
"A-ah begitu ya." gumam Josephine. Perempuan itu bangkit dan menunduk, memberi penghormatan kecil pada seseorang yang jauh lebih tua dari nya itu.
"Hentikan itu, nak." kekeh pria tua tadi. Dia mengetuk meja yang ada diantara mereka, mengisyaratkan pada Josephine untuk menyimpan buku tadi ke atas meja, "Kau ingin mengetahui arti dari ramalan itu?" tanya nya pada Josephine
"Iya. Sedikit. Apa maksud dari nyanyian dan tangisan?" balas Josephine
"Menurutmu, apa yang berkaitan dengan nyanyian?"
Dahi Josephine berkerut, "Sebuah pesta? Opera? Kompetisi?"
Pria tua itu tersenyum, "Baik. Anggaplah nyanyian merupakan kiasan dari sebuah kesenangan. Dan bagaimana dengan tangisan?"
"Tentu saja itu hal yang menyedihkan. Apa ada lagi yang bisa dikaitkan dengan tangisan selain kesedihan?"
"Kedua hal itu adalah sesuatu yang saling berkaitan. Sebuah kesenangan dan kesedihan. Dua hal itu terjadi saat sang harapan telah bangkit." jelas pria tadi
"Aneh... Bukannya seharusnya mereka senang karena orang yang mungkin bisa menjadi harapan mereka telah bangkit?" tanya Josephine. Dia menatap serius pria tua yang ada di hadapannya, "Apa... ada seseorang yang mungkin tidak menyukai kehadiran sang harapan?"
Pria tua itu menggelengkan kepalanya. Kedua mata teduh nya menatap Josephine dengan hangat, "Tidak ada yang tahu. Ramalan ini terlalu ambigu. Sampai saat ini, diantara semua ramalan yang tertulis, hanya ramalan ini yang belum terwujud. Beberapa petinggi sudah putus asa dan mulai mengabaikan ramalan ini."
"Kasihan sekali. Apa sang harapan adalah orang yang tidak kalian harapkan?" sarkas Josephine
Pria tadi terkekeh, dia menggeleng pelan menanggapi sarkasme dari Josephine.
"Kau shewolf yang unik." ucapnya
Josephine tersenyum tipis. Dia menatap kosong buku berisi ramalan itu dan menutupnya. Tangannya beralih meraih buku lain yang ada di atas meja. Kemudian mulai melanjutkan kegiatan nya membaca silsilah keluarga miliknya.
"Ada sesuatu yang sedang kau cari?"
Josephine mengangguk, "Iya. Aku mencari jati diri ku. Sejauh ini aku hidup, rasanya aku tidak mengenal diriku dengan jelas."
"Apa kau anak dari Ketua Warrior Abraham?"
Josephine terdiam sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Dia tahu hal ini. Nama Abraham pernah masuk ke dalam ingatannya. Seorang pria yang dijuluki sebagai tombak klan Werewolf. Kekuatannya bahkan disebut sebut setara seperti seorang Alpha.
"Aku mengenal Ayahmu." ucap pria tua tadi.
"Apa dia benar benar sosok Warrior yang kuat?" tanya Josephine. Seulas senyuman terlukis di bibir perempuan itu saat melihat anggukan dari tetua klan Werewolf itu.
"Dia Warrior terkuat sepanjang sejarah klan Werewolf. Kematiannya sempat menjadi masalah besar bagi klan Werewolf." jelas nya
"Warrior kuat sepertinya... memiliki anak yang lemah sepertiku?" bisik Josephine. Perempuan itu tertawa miris. Sekarang dia tahu kenapa dia ditertawakan dan bahkan ditindas oleh rakyat klan Werewolf.
"Apa maksudmu, nak?"
"Aku tidak memiliki wujud serigala ku. Disaat anak lain memilikinya diumur enam belas tahun, aku tidak. Bahkan sampai saat ini. Aku sama sekali tidak memilikinya." ucap Josephine
"Apa kau putus asa?"
"Apa aku putus asa? Ya, sangat. Aku merasa jika aku ditindas dan di kucilkan atas sesuatu yang bukan kesalahanku. Bukan keinginan ku, aku menjadi lemah seperti ini. Bukan keinginan ku, aku tidak memiliki wujud lain." lirih Josephine
"Nak, apa kau pernah berfikir kenapa seseorang menjadi kuat? Apa kau pernah berfikir kenapa pisau atau belati bisa menjadi sangat tajam?"
Mendengar pertanyaan dari pria tua di hadapannya, Josephine terdiam. Jawaban dari kedua pertanyaan itu adalah sama.
"Karena di latih dan di asah." jawab Josephine
"Benar. Kekuatan seseorang menjadi semakin berkembang saat ia dilatih. Sebuah pisau belati menjadi sangat tajam karena diasah. Begitu juga dengan kemampuan mu." timpal tetua klan itu
"Sebagai seseorang yang sudah hidup lebih lama darimu, aku tahu kegelisahanmu. Kau tidak lemah, nak. Kau istimewa, dengan caramu sendiri."
"Apa menurutmu... Ayah ku akan merasa malu karena memiliki anak sepertiku?" bisik Josephine
Pria itu menggeleng, "Tidak, nak. Ayah mu adalah Warrior yang bijak. Ayah mu, adalah orang yang sangat bahagia saat kelahiranmu. Apa kau mau membuatnya marah karena anak yang paling dicintai oleh nya, merendahkan diri nya sendiri seperti saat ini?"
"Tidak. Aku tidak mau."
"Lihat keluar sana."
Josephine mengarahkan tatapannya keluar jendela, dia bisa melihat sebuah bintang besar bersinar terang di langit. Berdampingan dengan sang bulan.
"Aku sudah mendengar semua tentang mu. Aku tahu betapa putus asa nya dirimu tentang identitas mu. Tapi aku mau, kau tidak berhenti berharap, nak. Jangan biarkan harapan itu memudar di dalam dirimu. Biarkan dia berkembang, semakin besar dan indah. Hingga nanti, suatu saat, dengan kemampuan dan kerja keras mu sendiri, kau akan mengatakan dengan bangga jika kau adalah Josephine Arhea Iris, anak dari Abraham Iris sang Warrior yang melegenda."
Josephine tersenyum. Kedua mata nya berkaca kaca. Entah kenapa, dia merasa sangat ingin menangis. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama, ada orang yang mengatakan hal ini padanya. Sebuah kalimat penyemangat yang tidak dipercantik.
"Terima kasih. Aku... merasa sangat tenang."
Dan saat Josephine mengalihkan perhatiannya pada lawan bicaranya, pria tadi menghilang. Josephine seolah tidak pernah berbincang dengan siapapun. Seolah dirinya hanya seorang diri sejak tadi.
"Apa itu tadi?" gumam nya
Namun, walau pria yang mengaku tetua pack tadi menghilang, ucapannya tetap berbekas bagi Josephine. Dia tidak akan melupakan nasihat yang diberikan pria tua tadi.
Josephine tersenyum, dia menghembuskan nafasnya dan mengepalkan tangannya kuat kuat.
"Suatu saat nanti, aku akan berdiri dengan tegak dan mengatakan jika aku adalah Josephine Arhea Iris."
Perempuan itu memejamkan matanya dan bersandar pada tepian jendela.
Benar. Kali ini, tidak ada perbedaan antara dirinya dan Arhea. Josephine sudah memutuskan jika mereka adalah satu. Dia akan menerima semua keadaan yang terjadi saat ini. Dia sudah berdamai dengan dirinya sendiri dan berjanji, untuk menciptakan takdir yang indah untuknya.
"Aku menginginkan akhir yang indah, dan aku akan mendapatkan nya dengan tanganku sendiri."