Kiri. Kanan. Kiri, kiri, kanan.
Akhiri perlawanan nya dengan pukulan di area perut dan dagu.
Bukan mantra. Kalimat itu hanya sesuatu yang Josephine ucapkan di dalam kepalanya. Dia tengah melawan seorang petarung di arena. Mengumpulkan uang, tentu. Apalagi?
Selain menjadi kuat, Josephine juga ingin menjadi kaya. Dia ingin agar aroma uang tercium dari dirinya. Kuat, cantik dan kaya. Tidak ada salahnya dengan ketiga hal itu. Karena itu Josephine menginginkan nya.
Perempuan itu berbalik cepat, melayangkan tendangan side kick pada pria yang menjadi lawannya. Nafasnya terengah, tapi senyum penuh kepuasan terulas di bibir Josephine. Dia kembali memenangkan pertarungan dengan tangannya sendiri. Tidak dengan mengandalkan keberuntungan seperti sebelum nya.
"Kau hebat juga." puji pria itu sambil bangkit dari posisi nya
"Aku penasaran dengan tudung mu. Kenapa sama sekali tidak terlepas saat kau bergerak aktif seperti tadi?" tanya nya
"Aku mempunyai trik khusus." jawab Josephine seadanya. Perempuan itu menunduk kecil dan turun dari arena. Walau sudah terhalang jarak, dia masih bisa mendengar banyak orang yang menyerukan dirinya. Gelar 'Goddess' kini terasa semakin nyata saat Josephine benar benar mengeluarkan kekuatannya, tidak bermain-main seperti sebelum nya.
"Kau hebat, Nona. Bagaimana dengan tawaranku? Kau tertarik menjadi petarung di tempat ini? Kau akan mendapatkan bayaran yang besar." tawar si pemilik tempat. Matanya berbinar menyadari jika perempuan bertudung yang ada di hadapannya bisa dijadikan sebagai ladang uang, sepadan dengan apa yang dia berikan pada sang Goddess si pemenang.
"Tidak. Aku kemari untuk bersenang senang dan mungkin memenangkan pertandingan." balas Josephine. Perempuan itu membuka tudungnya dan tersenyum tipis pada sang pemilik arena.
Pria tua yang mengetahui perempuan yang ada di hadapannya itu terbelalak. Dia jelas tahun siapa Josephine. Shewolf lemah yang bahkan tidak bisa mengangkat tangannya untuk memukul, kini bertanding di arena miliknya. Bahkan dua kali memenangkan pertandingan.
"Kau?!" pekik nya terkejut
"Hm? Kenapa?" tanya Josephine
"Kau shewolf lemah itu?! Kau bertanding?! Bahkan memenangkan nya?!" seru pria tua itu
Josephine tertawa, dia mengangguk dan bersidekap, "Kau terkejut?"
Pria tadi mengangguk kecil. Dia meneliti sosok perempuan yang ada di hadapannya. Benar. Berapa kali memastikan pun, dia mengenal jelas jika dia adalah Arhea Iris. She wolf paling lemah di wilayah ini.
"Apa kau melakukan perjanjian dengan klan Penyihir hingga bisa sekuat ini?" tanya pria pemilik arena itu
Josephine mengerutkan dahinya, "Memangnya kita bisa melakukan hal itu?" sahutnya
"Bisa. Tapi itu hal terlarang. Nona, kau bisa dibakar di dalam api suci jika melakukannya." ucap pria tadi
Josephine menghela nafas nya, "Tidak. Aku tidak melakukan itu. Anggap saja aku sudah berlatih. Aku hanya tidak bisa mengeluarkan sosok wolf ku, bukan lumpuh hingga membuatku tidak bisa berlatih dan menjadi kuat." keluh perempuan itu kesal
Pria pemilik arena itu menelan ludahnya. Tapi sesaat kemudian, dia menghembuskan nafasnya lega.
"Benar. Jika kau datang ke hutan terlarang pun, aku sudah sangat terkejut." gumam nya
"Oh iya, panggil aku Jody." lanjut pria tadi
"Baik, Tuan Jody. Bisa kau rahasiakan hal ini dari banyak orang? Jangan sampai mereka tahu siapa aku. Cukup mereka mengetahui jika aku adalah Goddess. Jangan sampai mereka tahu jika aku adalah Arhea Iris yang lemah." ujar Josephine serius
"Tentu, Nona. Aku akan tutup mulut soal identitas mu. Tapi untuk popularitasmu, aku tidak bisa merahasiakan nya. Kau sudah terkenal sebagai seorang Goddess, dewi petarung."
Josephine mengangguk mengerti, "Aku paham, terima kasih atas pengertian dan kerja sama mu." perempuan itu kembali memakai tudung nya, "Walau sebenarnya aku juga terkejut karena kau tidak meremehkan ku atau menindasku."
Pria bernama Jody itu terkekeh, "Tidak ada alasan bagiku untuk menindasmu, Nona. Aku sudah melihat bagaimana ganasnya dirimu di atas arena. Bisa bisa tulang dan tubuh renta ku patah jika aku menindasmu seperti yang lain di luaran sana."
Josephine mendengkus dan tersenyum tipis. Dia membuka kantung berisi koin emas yang diberikan Jody dan menatap pria di depannya dengan kedua mata bulatnya.
"Tuan Jody, apa kau mengetahui tentang pria yang bertarung denganku sebelum ini? Andy?" tanya Josephine
"Dia anak yang tinggal di dekat bukit. Keluarganya miskin, benar benar miskin. Anak itu berkali kali juga datang ke tempat ini, memohon padaku untuk bertarung. Tapi ya, kau lihat sendiri kemarin. Dia kalah telak. Aku juga enggan memperkerjakan nya lagi. Tubuhnya sudah sangat kurus, hingga hanya tersisa kulit dan tulang. Aku khawatir dia akan mati jika bekerja keras."
Josephine tertawa. Dia menyodorkan 50 keping emas pada Jody, "Titip ini. Untuk Andy. Jangan bilang jika ini dariku. Bilang padanya jika ini dari penonton di arena yang menyukainya."
"Nona, kau serius? Koin emas ini bisa ditukar untuk satu set gaun mewah beserta sebuah perhiasan kecil. Dan kau memberikan padanya dengan cuma cuma?"
"Tidak ada salahnya memberikan itu pada Andy. Bukan keinginan nya untuk hidup dalam kemiskinan. Sebagai orang yang sering di remehkan, aku tahu hal itu." ucap Josephine
Jody tersenyum, dia mengangguk mengerti dan berjanji untuk memberikan titipan Josephine pada Andy.
"Tapi tunggu. Bukannya... kita semua memiliki pemimpin? Dimana dia saat ada rakyat nya yang kelaparan?" tanya Josephine
"Maksud mu, Alpha terkuat? Alpha Jacob?" tanya Jody memastikan
Josephine mengangguk, dia mengerutkan dahi saat mendengar lawan bicaranya mendengkus.
"Dia Alpha yang sibuk. Sangat sibuk. Kita harus berusaha sendiri, memutar roda kehidupan sendiri tanpa bergantung pada Alpha Jacob."
"Tapi dia seorang pemimpin?"
"Nona, kami berasal dari sebuah desa kecil. Dibandingkan wilayah klan Werewolf yang di kuasai nya, kami seperti wilayah yang tidak terlalu berarti. Alpha Jacob tidak akan terlalu memperhatikan kita." jelas Jody. Pria itu mengangguk kecil pada Josephine dan berbalik, "Terima kasih atas pemberian mu. Aku akan memberikannya pada Andy."
Josephine mengangguk. Dia kembali memakai tudung jubah nya dan pergi dari sana. Sepanjang perjalanan untuk keluar dari arena, dia benar benar memikirkan ucapan dari Jody.
Ditempat seperti ini, tempat yang di katakan penuh kekerasan, dia bisa mengetahui hal yang berbading terbalik dengan dunia luar. Dia mengingat bagaimana Neri memancarkan mata yang berbinar saat membicarakan Alpha Jacob yang katanya sangat mempesona itu.
Saking mempesona nya, rasanya semua perempuan menyukai pria yang disebut sebagai pemimpin mereka itu.
Berbanding terbalik dengan ucapan Jody. Pria itu mengatakan hal yang jujur, Josephine tahu itu. Dia bukan mereka yang berkumpul, mengadakan pesta teh dan menggosipkan semua hal dari A sampai Z.
"Mengerikan." komentar Josephine. Perempuan itu tiba tiba menghentikan langkahnya. Dia menatap sebuah jalan yang mengarah ke bukit yang berbeda dari biasanya.
"Apa disana tempat tinggal Andy?" gumam Josephine. Perempuan itu mengarahkan kakinya ke jalanan baru itu. Dia hanya mengandalkan insting nya untuk bertemu dengan pria yang menjadi lawan pertama nya saat bertarung itu.
"Jalan yang salah, Josephine. Kau mau kemana?"
Josephine merotasikan netra nya bosan saat mendengar suara pria yang selalu mengikuti nya itu. Dia menoleh dan menemukan Calvin tengah berada di sisi nya dan tengah tersenyum lebar.
"Kau mau kemana?"
"Bukan urusan mu." sahut Josephine
"Kau ketus sekali padaku." protes Calvin. Pria itu menatap kesal Josephine yang masih acuh pada keberadaan nya, "Padahal kemarin kau mengakui ku sebagai temanmu di hadapan para penindas itu. Memangnya teman melakukan hal ini?"
"Apa menurutmu, seharusnya aku bilang jika kau bukan temanku? Aku tidak mau terlihat semenyedihkan itu, terima kasih dan maaf karena telah mengakuimu sebagai temanku." sarkas perempuan itu. Tidak lupa dengan sorot mata tajam andalannya yang mengarah pada Calvin.
"Kau menyeramkan juga. Mau kemana? Aku kan sudah mengajakmu untuk berkeliling melihat wilayah ini. Kau juga menyetujuinya. Jadi anggap saja kita saat ini tengah jalan jalan." balas Calvin
Josephine menghentikan langkahnya dan membuka tudung yang dipakai olehnya. Perempuan itu memutar tubuhnya menghadap Calvin dan memberikan wajah seriusnya pada pria itu.
"Calvin, jalan yang mau aku tuju saat ini, tidak ada yang bisa dilihat disana. Kemiskinan bukan sebuah pertunjukan. Aku tahu, aku sudah menyanggupi agenda jalan jalan kita. Tapi sekarang, aku tidak pergi untuk melakukan hal itu." tegur Josephine
Calvin terdiam saat mendengar nada tegas yang diberikan perempuan itu padanya. Belum lagi dengan ekspresi yang perempuan itu tunjukan saat ini, berbeda jauh dengan ekspresi angkuh dan sombong yang biasanya ditampilkan perempuan itu pada semua orang termasuk dirinya.
"Baik. Aku akan ikut. Bukan untuk jalan jalan. Melainkan melihat apa maksud dari ucapanmu. Percayalah Josephine, aku mungkin akan berguna bagimu dan sesuatu yang akan kau lakukan nanti." timpal Calvin
Josephine menghembuskan nafasnya dan kembali melanjutkan langkahnya. Dia mengacuhkan Calvin yang mengekor dibelakang nya seperti sebuah ekor.
Keduanya melalui jalan berbukit dengan keheningan. Sesekali orang akan berbisik saat keduanya lewat di hadapan mereka. Entah dalam konteks apa, Josephine juga tidak ingin mengetahui nya. Tujuan nya saat ini hanya satu, mencari tahu soal ketidakpedulian Alpha kuat mereka pada hal penting seperti kesejahteraan rakyat nya.
"Kemarin, kenapa kau tidak datang ke pesta?" tanya Calvin yang mulai canggung dengan keheningan yang terjadi diantara mereka
"Malas."
"Kau serius?! Astaga, Josephine. Kau bahkan malas untuk pergi ke pesta penting?" tanya Calvin yang tertohok dengan jawaban yang diberikan perempuan itu padanya
"Pesta penting macam apa yang kau maksud? Pesta dimana para bangsawan bergosip dan menyampaikan kabar angin dari utara ke selatan dan dari barat ke timur?" balas Josephine sambil memutar kepalanya menghadap Calvin
Pria yang menjadi lawan bicaranya itu terkekeh, "Tajam juga perkataanmu. Mungkin ucapanmu benar, sebuah pesta menjadi ajang menyebarkan sebuah informasi. Tapi malam tadi, banyak Alpha yang kuat dan berperan penting datang ke pesta."
"Tidak peduli."
"...Kejam sekali. Josephine, kenapa kau bersikap seperti itu pada para Alpha? Apa mereka musuhmu dan menindasmu juga?"
"Aku tidak mau peduli pada orang yang berkuasa dan mementingkan diri sendiri seperti mereka. Beritahu aku, pesta nya pasti sangat mewah kan? Banyak makanan enak dan pakaian bagus disana." ucap Josephine. Perempuan itu menatap lurus kedepan tanpa memperdulikan Calvin yang mengangguk mendengar ucapannya.
"Jangan lihat aku, Calvin. Lihat ke hadapanmu. Ada apa di depan sana." lanjut perempuan itu
Josephine tersenyum tipis saat mendengar Calvin terkesiap, "Beritahu aku juga... seberapa jauh perbandingan keadaan pesta semalam dengan keadaan yang kau lihat saat ini."
Tanpa mempedulikan Calvin, Josephine kembali melanjutkan langkahnya. Perempuan itu mengedarkan tatapannya untuk mengamati keadaan di sekitarnya. Sesekali dahinya akan berkerut saat menyadari jika wilayah kumuh yang tengah dikunjungi nya ini ditinggali oleh banyak orang.
Josephine tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Tidak biasanya dia mempedulikan hal seperti ini. Dia selalu menganggap jika mereka yang mengalami kesulitan ekonomi disebabkan karena mereka yang enggan bekerja keras. Tapi pandangannya berubah saat bertemu Andy dan mendengar perkataan Jody.
Perempuan itu menghentikan langkahnya dan menepuk bahu perempuan kecil yang sedang memainkan sebuah pedang usang, "Hai. Apa kau mengenal Andy?" tanya nya
"Andy? Apa dia Andy Marco?" sahut perempuan tadi
"Ada berapa Andy disini?"
"Hanya satu."
"Baiklah, berarti yang aku cari memang Andy Marco. Bisa kau antarkan aku padanya?" tanya Josephine. Anak perempuan tadi mengangguk dan mulai berlari kecil, mengantarkan Josephine pada sebuah gubuk kecil yang mengkhawatirkan.
'Jika ada badai besar, sudah dipastikan jika benda yang mereka sebut rumah ini sudah terbang tertiup angin.' batin Josephine
Josephine tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dia mengintip keadaan di dalam gubuk, sayup sayup terdengar suara seorang pria yang tengah menangis.
"Andy." panggil Josephine saat menyadari jika suara yang didengarnya berasal dari seseorang yang dia kenal
"Nona Goddess? Apa itu kau?" tanya Andy
"Eum. Ini aku. Boleh aku masuk?"
Andy mengangguk, dia menggeser posisi tubuhnya agar Josephine bisa masuk dan duduk bergabung bersama nya.
"Ada apa? Kau tidak terlihat di arena. Apa terjadi sesuatu?" tanya Josephine
"Ibu ku sakit." jawab Andy
Josephine mendadak terdiam. Dia menelan ludahnya dan menatap Andy dengan mata sendu nya, "Apa disini ada tabib? Kau tidak membawa ibu mu kesana untuk berobat?"
"Koin emas darimu sudah habis untuk aku belikan makanan dan aku bagikan untuk semua orang yang ada disini."
Josephine menipiskan bibirnya. Dia meraih kantung berisi koin emas miliknya dan memberikan setengah dari pendapatannya pada Andy.
"A-apa ini, Nona?" gagap Andy
"Koin emas, tentu saja. Apalagi?" balas Josephine
"Maksudku, untuk apa? Jumlah nya sangat banyak. Lima kali lipat dari kemarin yang kau berikan padaku."
"Untukmu. Pergilah. Panggil tabib, beli ramuan agar ibu mu sembuh. Jika masih ada sisa nya, beli makanan untukmu. Apa itu cukup?" jelas Josephine
Andy terkesima. Dia menatap Josephine dengan kedua mata nya yang basah, "Nona... koin ini pasti hasil kerja kerasmu. Aku tidak bisa memakainya."
Josephine tersenyum tipis, "Kau tahu apa julukan ku, kan?"
"Nona Goddess. Dewi arena pertarungan."
"Menurutmu aku pantas dengan julukan itu?" tanya Josephine lagi
"Iya, pantas sekali. Tidak ada yang lebih pantas dari Nona untuk memakai julukan itu."
"Kalau begitu, pakai koin dariku untuk melakukan hal hal yang aku suruh. Turuti ucapan Dewi petarung ini. Sembuhkan ibu mu. Aku tahu kau sangat menyayanginya."
Andy tersenyum, hatinya menghangat karena menerima banyak kebaikan dari perempuan yang baru di temui nya kemarin. Pria itu menunduk dalam dalam dan menggumamkan terima kasih bersamaan dengan isak tangis nya.
"Hey, daripada kau menangis, pergi sana. Aku akan menunggu disini, menjaga Ibu mu." usir Josephine dengan seulas senyuman tipis. Dia mengikuti arah kepergian Andy tanpa menghilangkan senyumannya.
Tatapannya kemudian bertemu dengan Calvin yang berdiri di depan rumah. Pria itu bersidekap dan tersenyum menatap Josephine.
"Goddess, hm? Tidak berlebihan. Sebutan itu memang cocok denganmu."