Part 9 "Keberanian Josephine"

2386 Kata
"Kenapa kau membantunya?" tanya Calvin "Tidak ada alasan khusus." jawab Josephine. Tudung nya sudah dibuka, apalagi menyadari jika tidak ada siapapun selain dirinya dan Calvin di tempat ini. Keduanya terdiam saat mendengar suara batuk yang berasal dari ruangan yang berbeda dengan mereka. Suara Ibu Andy. Terdengar benar benar sakit parah, seperti apa yang dikatakan oleh Andy. "Aku tahu kau punya alasan, Josephine." ucap Calvin "Andy terlihat menyayangi Ibu nya. Satu hal yang aku tahu, Ibu nya pasti memperlakukannya dengan baik hingga Andy terlihat sangat sedih saat beliau sakit." balas Josephine. Perempuan itu menatap lurus bilik lain, dia yakin jika Ibu Andy berada disana. Tapi dia masih ragu untuk menemui nya. "Kenapa kau berfikir seperti itu?" "Karena jika Ibu dari Andy seperti Ibu tiri ku yang jahat, aku yakin Andy tidak akan sedih seperti itu. Andy mungkin tidak akan berharap atas kesembuhannya." ucap Josephine yakin. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju bilik tempat ibu Andy berbaring. Dengan tergesa, perempuan itu memakai tudung jubah nya dan menyentuh dahi Ibu Andy yang panas. Dia tersentak kecil saat tangannya di sentuh oleh tangan panas ibu Andy. "Ah, maaf. Aku kira kau adalah Andy." lirih perempuan tua itu Josephine tersenyum, dahi nya berkerut saat menyadari jika perempuan yang terbaring lemah itu tidak menatapnya dengan benar. Pandangan perempuan itu kosong, seolah tidak bisa melihat apapun. Dan saat menyadari hal itu, Josephine terkesiap. Dia menggelengkan matanya dan menghembuskan nafasnya tanpa suara. "Aku teman Andy. Andy sedang pergi untuk mencari tabib agar Bibi bisa sembuh." sahut Josephine "Nak, kami tidak punya uang untuk membayar mereka. Seharusnya Andy tidak perlu repot repot untuk memanggil tabib." gumam wanita paruh baya itu "Jangan khawatir. Bibi tidak perlu memikirkan hal itu." balas Josephine. Dia mengamati tubuh renta yang terbaring tak berdaya itu. Ibu dari Andy... benar benar kurus. Pakaian yang dipakainya bahkan sudah robek disana sini. Tanpa sadar, Josephine mengepalkan tangannya sendiri. Mulai menyesali perbuatan nya kemarin yang membuat Andy kalah dalam pertarungan melawannya. Padahal, jika pria itu menang, mungkin saja saat ini, Andy tengah mengobati Ibu nya yang sakit. "Jangan menyalahkan dirimu." bisik Calvin. Dengan lembut, pria itu membuka tangan Josephine yang terkepal. Dia mengusap telapak tangan Josephine yang berdarah karena kuatnya kepalan tangan perempuan itu. "Ah, ada orang lain ya?" tanya Ibu Andy "Aku temannya Andy juga. Salam kenal, Bibi." sapa Calvin sambil tersenyum tipis walau mengetahui jika wanita ringkih di hadapannya tidak akan melihat itu. "Andy punya banyak teman ya?" gumam wanita paruh baya itu "Hm, mustahil anak seperti Andy tidak punya teman. Dia anak yang baik." sahut Josephine lembut. Walau dalam keadaan seperti ini, Josephine bisa mengetahui jika wanita yang terbaring tak berdaya ini adalah orang baik. Bahkan mungkin adalah sosok ibu idaman banyak orang. Kelembutan nya bahkan terpancar saat sedang sakit. Ahh, hatinya mendadak sakit. Bahkan matanya sudah mendesak untuk mengeluarkan air dari sana. Keadaan yang ada disana membuatnya sakit, jauh lebih sakit ketika ada orang yang menghina nya. "Bibi, apa bibi akan baik baik saja aku tinggalkan? Aku harus menyusul Andy. Dia sudah pergi terlalu lama." tanya Josephine memastikan. Ini bukan alasan untuk keluar dari keadaan yang akan membuatnya menangis. Andy benar benar sudah pergi cukup lama. Seharusnya, Andy bisa kembali dalam waktu 15 menit. Terlebih karena Josephine tahu jika dekat arena bertarung, ada rumah tabib yang terkenal. "Aku tak apa, pergilah nak." Setelah mendapatkan izin, Josephine mengusap pelan punggung tangan wanita paruh baya itu. Dia tersenyum dan menggumamkan doa agar perempuan itu bisa segera sembuh. Setelahnya, perempuan itu keluar dari ruangan yang di sebut kamar itu dan segera keluar dari rumah mencari Andy. "Kenapa tiba tiba pergi?" tanya Calvin "Firasat ku buruk. Aku mengkhawatirkan Andy." jawab Josephine "Kau menyukai dia?" Josephine menatap Calvin dengan wajah datarnya, "Itu konyol. Dia terlihat seperti adikku. Aku mengkhawatirkannya karena dia lebih muda dariku." Calvin terkekeh. Dia mengikuti langkah cepat Josephine untuk kembali ke wilayah pasar dan arena pertarungan. "PENCURI!!" "TANGKAP DIA!!" "PUKULI DIA! JIKA PERLU, BUNUH DIA AGAR JERA!" Teriakan dan suara pukulan dari orang orang menjadi hal pertama yang menyambut Josephine serta Calvin. Jantung perempuan itu berdebar kencang, kedua matanya melebar saat melihat kerumunan orang orang itu berada di depan rumah seorang tabib. Rumah yang kemungkinan di datangi oleh Andy. "Mereka para pengawal Alpha." gumam Calvin yang membuat Josephine menoleh dengan dahi berkerut. Belum sempat dia menanyakan apa maksud dari ucapan Calvin, perhatiannya teralih saat menyadari sesuatu. Perempuan itu segera berlari saat mendengar suara teriakan lemah yang meminta tolong berada di bawah orang orang yang berkerumun itu. Terlebih saat menyadari jika teriakan lemah yang meminta tolong itu berasal dari Andy, orang yang dikhawatirkannya. "BERHENTI, BODOH!" bentak Josephine pada orang orang itu. Dia segera melayangkan pukulan dan tendangan pada orang orang yang memukuli Andy dengan ganas. Perempuan itu bahkan tidak menghiraukan tudung jubah nya yang terbuka karena terbakar amarah. Seolah tuli, orang orang itu tidak berhenti memukuli Andy. Josephine menekan bahu pria yang ada di depannya dan melayangkan tendangan para pria lain. Dia menjadikan kaki kanan nya sebagai tumpuan dan melompat ke sisi lain. Kedua tangan nya bergantian melayangkan pukulan pada orang orang itu. Nafasnya terengah, dia lelah, tapi dia juga tidak bisa diam saja saat melihat hal seperti ini di hadapannya. "BERHENTI, b******k! AKAN KU BUNUH KALIAN SEMUA!" teriak Josephine. Rambut perempuan itu sudah berantakan. Matanya menatap nyalang beberapa orang yang menatap kearah nya dengan terkejut. Tangan Josephine meraih leher pria yang ada di dekatnya, dia mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk mencekik orang itu. Tatapan penuh kebenciannya semakin menguat saat menyadari jika di bawah sana, Andy masih mengerang kesakitan. Josephine menghempas cekalan di tangannya, dia menepis dan menatap tajam orang orang yang ada di sekeliling nya. Saat dirasa orang orang itu berhenti bersikap kasar dan anarkis, Josephine meraih Andy. Memposisikan pria itu untuk berada dibelakang, untuk melindunginya. "Ck, apa lagi ini?! Untuk apa shewolf lemah sepertimu datang dan ikut campur urusan tabib?!" decak seorang pria "Siapa dia?" tanya Josephine pada Andy yang terlihat lemah "Dia... meneriaki aku pencuri." lirih Andy Dahi Josephine berkerut. Dia menatap tidak suka pria yang menuduh Andy. Tangannya meraih kepingan emas yang ada di tangan Andy, perempuan itu menarik lengan pria tadi dan menyimpan puluhan keping emas di tangannya. Setelah memastikan pria tadi menerima koin emas, Josephine menangkat tangannya tinggi tinggi. Bunyi tamparan yang memekakkan telinga seketika terdengar oleh semua yang ada di sana. "APA YANG KAU LAKUKAN?! APA KAU TAHU, YANG KAU LAKUKAN SAAT INI ADALAH PENGHINAAN!" bentak pria yang meneriaki Andy sebagai pencuri itu Josephine mendengus, perempuan itu tertawa sarkas tanpa mengendurkan tatapan tajam nya pada lawan bicara nya. "Lalu apa yang kau lakukan tadi, bodoh? Kau memukuli nya, dan berteriak menyerukan jika orang ini adalah pencuri. APA MAKSUDMU ITU BUKAN SEBUAH PENGHINAAN?!" sarkas Josephine Pria yang menjadi lawan bicara Josephine itu mengeratkan rahang nya. Dia mengenal jelas siapa Josephine. Dan harga dirinya sebagai asisten tabib sangat terluka karena shewolf lemah ini menamparnya dihadapan banyak orang. "Pria ini miskin! Kau kira aku tidak tahu jika dia beberapa kali luntang-lantung di jalanan?! Apalagi jika bukan mencuri?!" Dua kali. Suara tamparan dari Josephine kembali terdengar sesaat setelah pria tadi menyerukan suaranya untuk membela diri. "Jangan bicara lagi, dungu. Aku semakin muak mendengar ucapanmu." desis Josephine. Perempuan itu meraih sekantung penuh koin emas, dia membuka tali nya dan menjatuhkan semua emas yang ada di dalam kantung. "Dia mendapatkan semua emas itu dariku!" teriak Josephine lantang. Dia menatap sekelilingnya dengan datar, sorot mata nya mengatakan jika dirinya sudah sangat muak dengan semua nya. "Pria ini, bukanlah pencuri. Dia hanya ingin memanggil tabib untuk ibu nya yang sedang sakit!" jelas Josephine. Tangannya meremas kantung emas yang kosong itu, menyalurkan seluruh amarahnya yang terpendam. Disamping nya, Andy meremas pelan lengan Josephine. Dia terkejut, sangat. Ternyata Goddess yang selama ini baik hati padanya adalah orang yang sering di gunjingan oleh kalangan bangsawan. Dan dia sangat terkejut, saat melihat kemampuan bertarung perempuan itu. Dengan tangannya yang bebas, Josephine menunjuk barisan para warrior dan pria yang mengaku sebagai asisten dari tabib itu. "Suatu saat, aku pastikan aku akan menginjak kepala kalian di bawah kaki ku." ucap Josephine. Jari telunjuknya di genggam dan di turunkan oleh Calvin. "Tenanglah." gumam pria itu padanya Josephine mendengkus. Perempuan itu segera berbalik dan pergi kembali menuju rumah Andy. "Kau ikut lah pulang dengan Josephine. Biar aku yang menangani hal ini." ujar Calvin pada Andy yang langsung di turuti oleh pria itu "Nona." panggil Andy pada Josephine yang berjalan cepat di depannya "Jadi Nona Goddess adalah Nona Arhea?" tanya Andy Josephine menghentikan langkahnya, dia menatap Andy dan mengangguk. Sesekali dia akan melirik tajam orang orang yang terang terangan membicarakan perkelahiannya. "Kau menyesal aku yang membantumu?" sarkas Josephine Andy meringis, dia menggeleng cepat untuk menanggapi pertanyaan sarkas Josephine, "Aku hanya terkejut. Kenapa Nona tidak memberitahu ku sejak awal?" "Coba beritahu aku kapan kau bertemu denganku?" "Ehm, saat Nona bertarung denganku." "Bagaimana kesanmu terhadapku?" tanya Josephine lagi "Kuat! Hebat! Nona bahkan hanya memerlukan beberapa perlawanan untuk melumpuhkan ku di arena." jawab Andy semangat "Karena itu. Kesan yang kau lihat sangat jauh dari kesan yang selama ini beredar di kalangan orang orang." ucap Josephine santai "Nona, apa kau marah padaku?" tanya Andy "Tidak. Aku marah pada orang yang kalian sebut sebagai pemimpin kalian. Orang yang kalian sebut sebagai alpha terkuat juga tidak ada bedanya." decak Josephine Andy merasakan wajahnya pucat, dia menatap Josephine dengan wajah takutnya, "N-nona, kau terlalu berani." lirihnya "Apa? Kenapa? Ucapanku benar. Pemimpin yang bijaksana tidak akan membiarkan rakyatnya hidup menderita. Dan kau, kau bukan hanya menderita tapi juga sengsara! Andy, kau bahkan dipukuli oleh orang orang yang katanya pengawal dari Alpha terkuat. Kau dianggap pencuri. Apa kau kira itu tidak keterlaluan?!" seru Josephine dengan suara tertahannya. Terlebih saat menyadari jika orang orang menatapnya dengan raut terkejut. "Nona... tidak pernah ada orang yang memberikanku keping emas sebanyak itu. Jadi, aku kira wajar jika aku dianggap sebagai pencuri." elak Andy, berusaha menenangkan Josephine yang terlihat siap meledak lagi "Terserah! Tapi pandanganku terhadap pemimpin kalian tetap tidak akan berubah." desis Josephine. Perempuan itu berbalik dan mengerutkan dahinya saat dihadapkan dengan d**a bidang milik seseorang. Dia menggeser tatapannya, ada seorang pria lagi di belakang nya. Keduanya menatap Josephine dengan tatapan yang berbeda. Josephine mengangkat kepalanya, tatapannya bertemu dengan tatapan datar seorang pria. "Menyingkir." usir Josephine Tanpa membantah, pria itu menggeser tubuhnya. Dia mengikuti kepergian Josephine dengan kedua matanya hingga siluet perempuan itu menghilang di telan jarak. Tepat di depan rumah sang tabib, Calvin tertawa kecil. Dia mendengar seluruh pembicaraan Josephine dengan Andy. Dan mungkin, semua yang ada disekitarnya mendengar hal itu. "Mulut perempuan itu pedas sekali. Bagaimana reaksinya setelah mengetahui jika orang yang dia kritik adalah pria yang ada di belakang tubuhnya." ujar Calvin *** Josephine menatap lekat perempuan yang masih terbaring lemah. Hanya saja, rona di wajahnya sudah sedikit terlihat. Tidak terlalu pucat seperti sebelum nya. Tatapannya kemudian teralih pada seorang pria yang berdiri di samping tabib. Pria yang menerima tamparan darinya lebih dari satu kali. Bahkan wajahnya masih terlihat kemerahan. "Kau ganas juga." bisik Calvin "Kau juga sulit kuduga tidak melakukan apa apa." desis Josephine "Aku akan memberikannya obat dan ramuan. Hanya saja, membutuhkan waktu untuk membuatnya." ujar tabib itu pada Josephine. Sebuah senyuman terlukis di bibir pria tua itu. "Kau perempuan yang tangguh. Aku minta maaf atas sikap tidak menyenangkan yang ditunjukan cucu ku padamu." lanjut tabib tua itu Josephine melirik pria yang menerima tamparan darinya, "Dia cucu mu? Sikap nya jauh sekali dari mu. Mengejutkan." sahutnya jujur. Perempuan itu bersidekap dan menatap lekat asisten sang tabib, "Tapi aku bukan orang mudah memaafkan. Entah aku akan melupakan nya atau tidak, kita lihat saja nanti." "Andy, kau dengar kan ucapan tabib? Obatnya membutuhkan waktu. Tapi jangan khawatir, aku pastikan obatnya akan jadi tepat waktu. Ibu mu akan baik baik saja." ujar Josephine pada Andy yang duduk di samping ibu nya "Terima kasih, Nona Goddess." sahut Andy tulus. Dia meremas kedua tangannya dengan gugup, "Menerima semua kebaikanmu, rasanya aku akan benar benar menjadi hamba mu yang setia." Josephine mendengkus geli. Dia menggeleng, mengekspresikan rasa menggelitik di hatinya saat mendengar ucapan berlebihan dari Andy. "Rawat saja Ibu mu. Aku akan berkunjung sesekali." timpalnya. Josephine berjalan mendekat dan mengelus punggung tangan wanita paruh baya yang baru saja di obati itu, "Bibi, semoga kau lekas sembuh." Perempuan tua itu menyunggingkan senyuman lembutnya. Entah apa yang terjadi, tapi dia bisa merasakan kebaikan benar benar terpancar dari sosok perempuan yang mengaku sebagai teman dari anak nya itu. "Terima kasih, nak. Aku harap aku juga bisa melihat sosok Dewi yang menolongku." Josephine tertawa kecil, "Aku bukan dewi. Aku hanya teman dari Andy." "Baiklah, aku pamit. Sudah terlalu sore. Aku harus pulang sebelum orang orang di rumah mencariku... untuk memarahiku." pamit Josephine. Perempuan itu mengangguk kecil dan keluar dari rumah Andy. "Kau mau pulang?" tanya Calvin "Kau kira aku tidak punya rumah?" balas Josephine "Mungkin saja Ibu tiri mu itu akan menendangmu keluar dari rumah. Apalagi setelah tahu jika dirimu menghina Alpha terang terangan di hadapan semua orang di pasar tadi." jelas Calvin Josephine mengerutkan dahinya, "Itu bukan penghinaan. Itu sebuah kritik yang mungkin bisa membangun kinerja nya agar lebih baik. Jika dia tidak bisa menerima nya, aku sarankan dia turun dari tahta." Perempuan itu kemudian tersenyum miring, "Dan, ralat ucapanmu itu. Ibu tiri ku yang baik itu mungkin tidak akan bisa menendangku keluar dari sana. Harus di catat, itu adalah rumahku! Aku lah yang seharusnya menendang b****g mereka untuk keluar dari rumah." Calvin tertawa. Menyukai karakter yang jujur dan terbuka dari perempuan yang ada di samping nya itu. Hingga saat mereka mulai kembali memasuki wilayah pasar, semua orang berbisik bisik. "Apa apaan ini? Aku digunjingkan lagi? Karena membela orang? Lama lama aku muak juga dengan jalan berfikir orang orang disini." gumam Josephine "Kau hebat." deham Calvin. Pria itu tersenyum dan membuka tudung yang dipakai oleh Josephine, "Tidak ada gunanya menutupi rambutmu. Orang orang sudah mengenalmu. Perempuan kuat yang menampar cucu tabib, menendang para Warrior Alpha dan mengkritik pedas sang Alpha. Selamat, Josephine. Mungkin sebentar lagi mahkota yang bertuliskan 'sang pahlawan' akan disematkan di kepalamu." sambung nya sambil tertawa puas. Pria itu kemudian berlari untuk menghindari amukan Josephine yang sudah terlihat sejak dia mengatakan hal yang menyebalkan pada perempuan itu. "CALVIN! KEMARI KAU! GILIRAN MU YANG AKAN AKU TENDANG!" teriak Josephine kesal. Perempuan itu berlari menyusul Calvin dengan penuh semangat. Saking semangatnya, perempuan itu bahkan tidak menghiraukan wajah terkejut yang diberikan orang orang padanya saat mendengar teriakan nya. "Calvin? Hanya Calvin?" "Astaga, ini rumor yang bagus!" "Para bangsawan harus mengetahui hal ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN