Part 10 "Undangan khusus"

2013 Kata
"Nona, apa yang sudah Nona lakukan?" tanya Neri saat Josephine baru saja membuka matanya dipagi hari. Perempuan itu mengerutkan dahinya dan kembali menenggelamkan dirinya dalam selimut, tidak mempedulikan Neri yang merengek di sisi ranjang nya. "Ck, berisik Neri!" decak Josephine saat perempuan yang menjadi teman pertama nya itu tetap merengek di samping tempat tidurnya. "Nona! Jawab dulu apa yang baru saja kau lakukan!" paksa Neri Josephine membuka matanya dan menatap perempuan itu dengan dahi berkerut, "Daripada menjawab pertanyaan mu, lebih baik kau bilang dulu apa yang sedang kau lakukan? Hari ini matahari bahkan belum terbit dan kau sudah mengangguku. Aku lelah, pergi sana!" "Nona, kau baru saja mendapatkan undangan spesial dari Alpha!" pekik Neri dengan suara tertahan "Undangan bodoh apa lagi itu?" erang Josephine sebelum kembali menyelimuti dirinya dengan selimut tebal. "Buang saja. Aku tidak akan datang. Lagipula aku adalah makhluk transparan. Seorang Alpha tidak akan melihatku apalagi sampai mengirimkan undangan spesial. Mungkin itu milik Dellia atau Elli." lanjut nya malas "Nona, di atas undangan nya, tertulis langsung jika ini untukmu!" "Ah, ini pasti mimpi." gumam Josephine yakin. Bukannya terbangun setelah mendengar pekikkan dari Neri, perempuan itu malah melanjutkan tidurnya. Lalu sedetik setelahnya, perempuan itu terlonjak sambil mengusap lengannya yang terasa perih. Kedua matanya yang masih sayu menatap Neri dengan tajam. "NERI APA YANG KAU LAKUKAN?! SAKIT!" "Membuktikan jika ini bukan mimpi." jelas Neri polos. Dia bahkan hendak kembali mencubit lengan Josephine sebelum perempuan itu menghindar dan menepis tangan Neri yang berada di dekatnya. "Psikopat!" desis Josephine sebal "Psi-apa? Nona, kenapa sejak sadar bahasa mu menjadi aneh? Kau banyak mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku pahami." keluh Neri "Lupakan." dengkus Josephine. Perempuan itu melirik sehelai kertas dengan aksen mewah yang ada di tangan Neri. Sekali lihat saja dia sudah bisa mengetahui jika itu adalah undangan yang dia maksud. "Kemarikan." perintah Josephine Neri tersenyum lebar dan menyerahkan kertas yang dibubuhi cap kehormatan khas klan Werewolf itu pada Josephine. "Pesta apa lagi ini?" keluh Josephine. Perempuan itu menatap Neri dengan sebal, "Bukannya kemarin kalian baru saja berpesta?" "Uh, itu pesta penyambutan para Alpha. Alpha Christ mengenalkan calon Alpha baru kemarin. Dan sekarang, pesta pengangkatannya secara resmi. Nona, bayangkan! Hari ini, para Alpha terkuat akan hadir disana. Dan Nona mendapatkan undangan khusus dari Alpha Christ. Bukannya itu berarti Nona menjadi tamu istimewa?" ucap Neri semangat. Josephine memberikan wajah sebalnya saat mendengar penjelasan dari Neri. Apalagi saat menyadari mata bling bling yang dikeluarkan Neri pada Josephine saat menjelaskan tentang para Alpha. "Kau yakin aku tidak datang kesana untuk dijadikan bahan hinaan?" sarkas Josephine "Astaga, Nona..." hela Neri. Dia berdecak dan menggelengkan kepalanya, seolah kasihan pada Nona nya sendiri yang selalu larut dalam pikiran buruk. "Kau kira aku bodoh? Mungkin disana aku akan dijadikan sebagai contoh buruk karena tidak bisa bertukar shift. Aku akan dihina di hadapan para Alpha terkuat. Seperti langit dengan bumi." ucap Josephine santai "Nona, apa Nona adalah tipe yang akan diam saja saat dihina?" tanya Neri "Tentu saja tidak." "Lalu apa yang harus kau takutkan, Nona?! Kau hanya perlu datang dan memberi salam. Sekedar itu. Jika Nona tidak datang setelah diberi undangan khusus seperti itu, Nona malah akan lebih di bicarakan orang orang." desak Neri. Dia melebarkan matanya dan memberikan tatapan melas pada Josephine. "Nona, mengeluarkan undangan seperti ini, tandanya Nona dianggap spesial oleh Alpha. Menolak dan tidak datang, sama artinya dengan menghina Alpha Christ dan calon Alpha." lanjut Neri Josephine kembali menatap surat undangan yang ada di tangannya. Hatinya mengatakan jika ucapan Neri adalah kebenaran. Apalagi dia juga tahu jika setiap keluarga, biasanya hanya menerima satu surat undangan. Sedangkan dirinya, diberikan surat terpisah dari ibu dan juga saudara tiri nya. "Apa Dellia, Elli dan Millie juga menerima undangan seperti ini?" tanya Josephine "Ya. Satu undangan untuk mereka bertiga." jawab Neri "Haruskah aku datang?" tanya Josephine pada Neri Yang ditanya segera mengangguk dengan semangat, "Tentu saja!" "Tapi aku tidak punya gaun." elak Josephine "Nona bisa membeli nya!" sahut Neri "Aku juga tidak punya uang." jelas Josephine berbohong. Dia jelas punya uang. Koin emas yang dia titipkan pada Calvin sama sekali belum pernah dipakai olehnya. "Aku bisa meminjamkan nya pada Nona! 200 keping koin pun akan aku belikan! Itu cukup untuk perawatan Nona, gaun serta perhiasan." sahut Neri cepat Josephine mengerutkan dahinya. Untuk sosoknya di masa lalu, dia tahu betapa berharga nya sebuah uang. Apalagi 50 koin emas saja sudah bisa dibelikan untuk sebuah gaun dan perhiasan kecil. Tapi kini Neri memberikan pinjaman padanya dengan mudah, tiga kali lipat dari 50 koin emas. Jiwa pebisnis nya meronta dan meraung, menyalakan sirine tanda curiga di dalam kepalanya. "Apa ini, Neri? Kau sepertinya sangat menginginkan aku datang kesana." ucap Josephine curiga Neri menghela nafasnya, "Nona... Kau benar benar lupa ya? Kau bilang, kau menyukai Calon Alpha. Walau samar, katanya kau bisa merasakan jika kalian adalah mate. Dan pesta ini, undangan istimewa ini, bisa saja ini adalah cara Calon Alpha memberikan perhatian padamu!" Josephine terdiam. Bukan lupa. Dirinya bahkan tidak tahu jika Arhea menyimpan perasaan pada Calon Alpha. Aneh, padahal biasanya ingatan Arhea akan langsung ada di kepalanya saat seseorang menyebutkan nama yang familier. "Okay. Aku akan datang. Aku pinjam dulu uang mu ya, akan aku ganti malam nanti setelah pesta." putus Josephine Neri bersorak gembira. Perempuan itu membayangkan apa yang akan terjadi dipesta. Dansa, diakui sebagai pasangan, berciuman, kemudian hidup bersama dengan bahagia. Josephine menaikan satu alisnya saat Neri tersipu. Dan saat menyadari jika temannya itu tengah berhalusinasi, Josephine menggelengkan kepalanya. "Hentikan isi kepalamu itu. Jangan berandai andai terlalu jauh." tegur Josephine "Apa salahnya berandai andai? Impian harus setinggi langit." ucap Neri "Tapi jangan terlalu tinggi. Nantinya, ketika sesuatu tidak sesuai dengan ekspektasi mu, kau akan jatuh dari tempat yang sangat tinggi." tukas Josephine. Dia bersidekap dan menatap lurus sebuah lemari kayu yang berisi pakaian. "Nona, kau terlihat sangat berpengalaman." gumam Neri "Tentu saja aku berpengalaman. Aku juga pernah berandai andai dicintai kemudian hidup bersama selama nya. Tapi-tidak. Hal itu tidak terjadi. Dia menduakan aku, aku memergoki nya berkencan. Dan dari sana, aku belajar jika sebuah mimpi tidak boleh terlalu tinggi. Karena jika tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka kita akan merasa jauh lebih terpuruk." ungkap Josephine. Dia melirik Neri dan terdiam saat melihat ekspresi melongo yang ditunjukan perempuan itu atas cerita nya. "N-nona? Kapan itu terjadi? Siapa yang melakukannya? Kenapa aku tidak mengetahui hal itu?" sosor Neri Josephine berdeham, merutuki mulutnya yang seenaknya mengatakan tentang cerita cinta nya pada Neri yang tentu saja bukan cerita milik Arhea. Kehidupan Arhea tidak memiliki kesempatan untuk melakukan hal itu. Kepala cerdas nya berfikir keras, berusaha menemukan jawaban atas rentetan pertanyaan dari Neri tanpa membongkar identitas nya yang asli. "Dalam mimpi." celetuk Josephine pada akhirnya. Wajahnya merona merah saat menyadari jika alasan yang diberikan nya walau masuk akal, tapi terlalu konyol. Neri menghela nafasnya, "Dalam mimpi ya... Astaga, Nona, aku kira kau benar benar mengalami kejadian menyedihkan seperti itu." Josephine tertawa canggung, "Contoh nyata tentang mimpi yang tidak boleh terlalu tinggi adalah saat upacara kedewasaan ku, Neri. Banyak orang berekspektasi tinggi tentang wujud wolfku. Dan nyatanya- dia tidak keluar. Mereka menyesal karena berekspektasi tinggi dan aku menerima semua hinaan karena ekspektasi tinggi milik mereka. Dasar." Neri mengangguk membenarkan. Tapi setelah nya, dia menggeleng dan menarik lengan Josephine untuk bangkit dari tempat tidur besarnya itu. "Baiklah, baiklah. Aku tidak akan berandai andai. Tapi Nona akan datang, kan?" tanya Neri semangat "Ya. Untuk formalitas dan menghormati Alpha." jawab Josephine Neri berseru, dia segera mendorong Josephine untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri. "Wha-APA YANG KAU LAKUKAN, NERI?!" teriak Josephine yang dikurung di kamar mandi oleh Neri "Nona, cepatlah mandi. Nona harus sarapan dan kemudian aku akan mengantar Nona menjalani perawatan!" seru Neri yang dibalas dengan dengkusan sebal dari Josephine. "KAU BERCANDA?! INI MASIH PAGI!" "Cepatlah, Nona. Kau tidak akan tahu bagaimana persiapan para bangsawan untuk tampil cantik dihadapan para Alpha. Mereka akan mengantre sejak pagi di salon." "MEREKA GILA! BUKAN BERSIAP UNTUK MEMPERCANTIK DIRI!" "Nona... tolong ikuti saja ucapanku. Mereka begitu demi tampil cantik dan mungkin bisa membuat Alpha melirik mereka bahkan jika hanya satu detik." **** "Nona, apa sarapan hari ini sesuai dengan selera mu?" Josephine melirik seorang Omega yang menanyakan hal itu padanya. Bibirnya mengulas senyuman tipis menyadari jika semua Omega di rumah nya kini memanggilnya dengan sebutan 'Nona'. Perempuan itu kembali mengalihkan pandangannya pada sepiring roti dengan telur dan s**u di samping nya. Belum tersentuh sama sekali. "Lumayan. Kau tidak menaruh racun, kan?" sahut Josephine sambil menatap Omega itu sepenuhnya. "M-mana mungkin?" "Mungkin saja. Aku tahu semua orang di rumah ini tidak menyukaiku." balas Josephine. Dia menyandarkan tubuhnya pada kursi dan menatap lurus Omega yang berdiri di samping nya. "Lain kali, lakukan dengan lebih lembut. Bubuk hitam ini bukan lada hitam, ini racun kan?" terka Josephine sambil menyeringai "Racun?" beo Neri Josephine menaikan satu alisnya, menunggu jawaban atau setidaknya penjelasan dari orang yang menyuguhkan sarapan untuknya. Omega itu meremas pakaiannya dengan gugup. Dia merasakan d**a nya berdebar kencang, matanya menatap liar ke segala penjuru, menghindari tatapan setajam elang yang diberikan Josephine padanya. "Hahahahah," ketegangan mereda saat Josephine tertawa sambil bertepuk tangan. Dia menyeka sudut matanya yang basah dan menggelengkan kepalanya, "Duh, aku kan hanya bercanda!" ucapnya Perempuan itu menghela nafas untuk meredakan tawa nya. Kemudian bangkit tanpa menyentuh makanan yang ada di atas meja. "Tapi terima kasih. Berkatmu, aku jadi tahu apa yang ada di dalam piring itu." desis Josephine penuh arti "Ahh, bagaimana ini Neri? Keluargaku sendiri mau meracuniku~" rengek Josephine dengan sedikit berlebihan. Perempuan itu menghentak kakinya dan keluar dari dalam rumah dengan bibir mengerucut. Meninggalkan Neri yang menatap rekan kerja nya dengan terkejut. "Aku terpaksa. Nona Dellia menyuruhku melakukan itu." Josephine kembali menetralkan ekspresinya saat samar samar mendengar suara Omega yang membubuhkan racun pada sarapannya. Tak lama kemudian, Neri menyusulnya dengan nafas terengah. "Nona, lalu kau mau sarapan dimana?" tanya Neri cemas "Aku bisa makan dimana saja. Asal tidak di rumah. Aku lebih percaya tangan orang lain daripada tangan orang di rumahku." jawab Josephine santai Neri mengangguk. Keduanya mulai melangkah menuju sebuah pasar yang menjual dan menawarkan banyak hal. Perawatan kecantikan, toko roti, tabib yang menjual ramuan, penjual buah buahan, parfum dan masih banyak lagi. Josephine membawa kedua kakinya memasuki sebuah toko roti. Dia duduk di salah satu kursi yang ada dan melambaikan tangannya pada seorang pelayan yang ada di sana. "Aku mau membeli roti gandum yang masih hangat. Ukuran besar, 2." pinta Josephine. Pelayan perempuan itu sempat melirik Josephine sebelum akhirnya mengangguk kecil dan berlalu dari sana. Sambil menunggu, Josephine menatap Neri yang berdiri di samping nya. "Sedang apa kau?" tanya Josephine "Nona, aku sedang berdiri." jawab Neri "Ya karena itu. Kenapa kau tidak duduk?" tanya Josephine bingung "Mana ada Omega yang duduk dengan majikan? Harga dirimu bisa jatuh, Nona." sahut Neri "Memang nya aku majikanmu? Lagipula, apa kau melihat aku memiliki harga diri diantara orang orang yang ada di luaran sana?" balas Josephine. Dia menatap orang orang di luar toko roti yang tengah terang terangan memperhatikannya dengan seksama. Seolah tengah meneliti nya. Bahkan ada seorang perempuan yang berlagak seolah tengah memilih buah buahan, tapi matanya menatap lekat pada Josephine. Sementara tangannya terus menerus menyerahkan buah pada sang penjual. "Aku terlihat seperti seorang mangsa." gumam Josephine sebal "Nona, aku yakin mereka mengetahui soal undangan khusus itu." timpal Neri percaya diri "Apa informasi memang menyebar secepat itu?" "Ya, Nona. Sangat. Jangan remehkan kekuatan para bangsawan." Josephine bergidik ngeri. Dia tidak habis pikir. Informasi dari mulut ke mulut ternyata lebih cepat tersebar dibandingkan media lain. Beberapa saat setelahnya, seorang pelayan datang dengan dua bungkus besar roti gandum dan sebuah kantung berukuran sedang. Dia menyerahkan semua nya pada Josephine. "Kantung apa ini? Aku kan hanya memesan dua roti itu." ujar Josephine sambil menunjuk roti yang ada diatas meja "Uhm, itu hadiah." Josephine mengerutkan dahinya, "Hadiah?" "Iya. Katanya, itu untuk Nona Josephine Arhea Iris." Josephine mengangguk mengerti, "Ah, apa ini dari Calvin?" Tanpa di sadari oleh Josephine, kedua mata pelayan dan Neri itu melebar. Dengan kaku si pelayan toko mengangguk membenarkan. "Ah okay. Terima kasih." gumam Josephine. Perempuan itu kemudian beranjak dari duduknya dan pergi dari sana tanpa mempedulikan ekspresi terkejuf Neri dan pelayan toko. "Ru-rumor itu benar?" "Aku tidak tahu. Kemarin kan kalian yang melihatnya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN