Part 11 "Sang pemeran utama"

2143 Kata
Josephine memejamkan matanya saat beberapa perias membasuh rambutnya dengan air hangat. Tubuhnya benar benar relaks, menerima perawatan yang dulu sering dia dapatkan namun terasa seperti sebuah hal berharga saat dia tiba di dunia antah berantah ini. Josephine merasakan tangannya di tarik dengan lembut. Sesaat setelahnya, dia dapat mendengar suara orang orang terkesiap. 'Ada apa lagi kali ini?' pikir Josephine "Kau cocok juga menjalani perawatan seperti ini." Mendengar suara yang pria yang familiar itu membuat Josephine membuka kedua matanya. Dia melihat Calvin berada di sampingnya. Duduk di sebuah kursi yang ada disana dan menatap Josephine dengan serius. "Apa yang kau lakukan disini? Perawatan juga?" balas Josephine Calvin menarik satu sudut bibirnya, "Aku tidak memerlukan hal ini." "Lalu? Sedang apa kau disini? Kau juga duduk di kursi yang sama denganku." ujar Josephine skeptis. Tapi sesaat kemudian, dia menaikan kedua alisnya. Apalagi setelah mengingat perkataan Neri tentang kebiasaan para bangsawan. "Jangan jangan kau sedang mencoba menarik perhatian para perempuan bangsawan? Tidak mungkin kan kau mencoba menarik perhatian para Alpha?" tebak Josephine "Hah?!" "Wahh, perempuan itu sungguh berani." "Sejak gagal mati, aku dengar kejiwaan nya sedikit terganggu. Lihat saja sekarang, dia berani melakukan perawatan seperti para bangsawan lain. Sedang dulu? Dia akan bersembunyi dibalik gaun yang bahkan lebih cocok menjadi sebuah kain lap." "Dia kira, dia sedang berbicara dengan siapa?" Josephine melirik kumpulan perempuan yang terang terangan menatap dan menghina nya. Dia berdecak dan kembali menutup kedua matanya. "Ekhem," deham Calvin "Apalagi? Kau tidak lihat aku sedang pura pura tuli?" sahut Josephine "Aku kemari untuk mengatakan jika aku sudah mengirim sebuah gaun ke kediamanmu." ucap Calvin Josephine sontak kembali membuka matanya, "Apa-apaan itu? Tiba tiba? Dan kenapa kau tahu jika aku membutuhkan gaun?" "Kau diundang lewat jalur khusus, kan? Kau harus tampil cantik walau aku tidak tahu apakah gaun itu termasuk ke dalam selera mu atau tidak. Apalagi... kau sedikit unik." timpal Calvin "Unik atau aneh?" tanya Josephine "Dua duanya." sahut Calvin yang langsung membuat Josephine tersenyum dan melayangkan cubitan pada lengan pria itu "Aku sangat berterima kasih, Calvin. Tapi seperti nya, kau salah mengirim gaun itu ke rumahku. Aku yakin gaun itu tidak akan sampai ke tanganku. Dan jika sampai, mungkin keadaan nya sudah tidak akan utuh. Apalagi jika mereka tahu, gaun itu ditunjukan untukku." ucap Josephine sambil tersenyum tipis "Apa benar seperti itu?" tanya Calvin Josephine mengangguk, dia menepuk lengan Neri yang berdiri di samping nya, "Tanyakan padanya. Aku tidak ada waktu untuk berbohong." "Oh, tangan mu dingin sekali, Neri. Apa kau kedinginan? Sudah ku bilang untuk pergi sedikit lebih siang. Tapi kau malah memaksaku pergi sepagi ini." komentar Josephine pada teman sekaligus pelayannya itu "Apa itu benar? Gaunnya tidak akan sampai ke tangan Josephine dengan utuh?" tanya Calvin pada Neri Yang ditanya, mengangguk dengan kaku. Tangannya sudah dingin dan kaki nya juga sudah terasa lemas. "Kalau begitu, bagaimana jika kita membeli yang baru? Aku akan mempersilahkan dirimu untuk memilih yang kau sukai. Jangan melihat harga nya." ajak Calvin "Jangan melihat harga nya karena kau yang akan membayar? Atau kau takut aku akan terkejut dan pingsan?" tanya Josephine "Aku yang akan membayar. Sudahlah, ayo pergi sebelum toko gaun itu dipenuhi oleh perempuan lain." jawab Calvin Josephine mencibir pria itu. Dia merasakan rambutnya tengah di keringkan. "Sudah selesai?" tanya Josephine pada pelayan yang sejak tadi merawatnya "I-iya Nona. Sudah selesai." jawab nya gugup Josephine melepaskan sebuah kain yang menghalangi pakaiannya agar tidak basah. Dia menyisir rambutnya dengan tangan. Lumayan. Aroma nya wangi dan sangat lembut. "Ayo." ujar Josephine pada Calvin. Sebelum Calvin beranjak dari duduknya, Josephine berbalik dan menyodorkan telapak tangannya pada Calvin. Telapak tangan itu dengan ragu diraih oleh Calvin. Dia menggenggam tangan Josephine dengan dahi berkerut. "Apa ini?" tanya Josephine sambil menatap lekat genggaman tangannya dengan Calvin "Uh, kau mau aku menggenggam tanganmu kan? Jadi aku melakukannya." jawab Calvin yang disahuti helaan nafas oleh Josephine. "Bukan. Aku meminta uangku yang aku titipkan padamu." Calvin berseru, tapi bukannya melepaskan genggaman tangannya, pria itu malah mengangguk dan menarik tangan Josephine untuk keluar dari salon itu. "Uangmu aman di rumahku. Aku tidak membawa nya. Kalau kau mau, kau bisa datang ke rumahku dan mengambilnya." jelas Calvin "Oh, begitu ya? Tapi aku tidak mau. Malas. Besok kau bawa saja uang nya dan kita bertemu di pasar." tukas Josephine "Hmm, baiklah. Besok kita bertemu lagi." Saat keduanya keluar dari salon, barulah semua yang ada di dalam bisa bernafas lega. Bahkan perempuan yang tadi menggunjingkan Josephine saja mendadak terdiam kaku saat melihat bagaimana Josephine dan Calvin berinteraksi. "Malas, katanya? Orang orang seperti kita bahkan harus melakukan segala cara agar bisa menarik perhatiannya. Tapi bisa bisanya perempuan lemah itu mengatakan hal tadi di hadapan kita." Ailya menatap kepergian keduanya dengan tatapan tidak suka, "Aku akan mengabari Dellia. Adik tiri nya itu akan merebut pria yang disukainya." "Benar. Aku yakin dia belum mengetahui apapun soal kedekatan keduanya." *** "Hanya perasaanku saja atau memang iya? Banyak yang melihatku. Lebih banyak dari sebelumnya." gumam Josephine saat dia hendak pulang ke rumah nya. Di samping nya, Neri meringis. Entah apa yang harus dia jelaskan pada Nona nya. Tapi dia mengetahui alasan kenapa orang orang terus menerus menatap Nona nya dengan lekat. "Jangan di hiraukan, Nona. Ayo cepat kita pulang. Sebentar lagi, hari akan segera malam. Pesta akan segera dimulai. Nona masih harus berdandan dan tampil cantik." balas Neri. Sambil mendorong Josephine agar masuk ke dalam rumah. Sementara dirinya yang membawa tas berisi pakaian dan perhiasan milik Josephine memutuskan untuk jalan menuju pintu belakang rumah. Dia akan memastikan barang pemberian ini aman dan bisa dipakai oleh Nona nya. Saking berharga nya, pakaian dan perhiasan pemberian ini bisa di jadikan sebagai sebuah prasati. Neri tidak akan membiarkan benda ini dirusak. Sementara Josephine, hal pertama yang menyambutnya saat masuk ke dalam rumah adalah hawa dingin yang menyeramkan. Dia menaikan satu alisnya saat melihat Dellia berdiri di hadapannya, memberikan tatapan tajam yang penuh sarat permusuhan. "Kenapa kau tidak mati saja, Arhea?" desis Dellia "Kenapa kau tidak menanyakan hal itu pada dirimu sendiri? Kenapa kau tidak mati karena malu? Racun mu gagal, kan? Seharusnya kau takut, Dellia. Saksi mata masih ada dan hidup, kau bisa aku laporkan karena percobaan pembunuhan yang kau lakukan." sahut Josephine. Tangannya mulai terkepal, terlebih saat melihat kilatan dari mata Dellia yang berbeda dan dia mengenal mata itu. Mata dari serigala yang dulu pernah mendorong nya dari atas tebing. "Orang orang tidak akan mempercayainya." sangkal Dellia Josephine merasakan dirinya terintimidasi oleh aura yang dikeluarkan oleh Dellia. Mengerikan. Tapi bukan berarti dia takut. "Benar juga. Aku juga tidak sepenting itu hingga orang orang akan membelaku jika aku mati karena seranganmu. Bisa jadi mereka malah menertawakan ku dan mengatakan jika itu adalah salahku karena tidak bisa membela diri. Ahh, aku pintar juga. Tapi sayang nya nasibku menyedihkan sekali." decak Josephine. Perempuan itu melangkah maju dan mendekati Dellia. Dia menepuk bahu perempuan itu dan tersenyum. "Nah, aku sudah sedekat ini. Ayo bunuh aku." seru Josephine. Perempuan itu memejamkan matanya dan merentangkan tangannya, seolah siap untuk dieksekusi. Sesaat sebelum Dellia melayangkan pukulan padanya, Josephine menunduk. Perempuan itu menarik kaki Dellia dan membuat perempuan itu terjatuh. Josephine menghela nafasnya dan duduk di atas punggung Dellia. Perempuan itu menunduk, mendekatkan telinga nya pada saudara tiri nya itu. "Menyedihkan. Bahkan ketika aku sudah berada di jangkauanmu, kau sama sekali tidak bisa membunuhku. Kenapa? Karena kau lemah. Kau lah yang sebenarnya lemah karena terus berusaha menjatuhkan Arhea, kau baru diakui orang orang setelah mengalahkan aku yang tidak bisa apa apa ini." bisik Josephine. Dia menekan posisi duduknya, membiarkan Dellia berteriak marah dan memakinya dibawah sana. "Kakak, lihat tanganku! Cantik, bukan? Kuku ku tajam juga. Dan oh? Apa ini? Luka bekas cakaranku dua hari yang lalu belum juga sembuh di tanganmu?" seru Josephine dengan nada ceria nya. Perempuan itu tersenyum meledek Dellia dan tertawa puas. "Ah sudahlah. Aku harus bersiap dan tampil cantik. Ada pesta malam ini. Kau dan Elli serta Millie bisa pergi sendiri tanpa menunggu ku, kok! Aku punya undangan sendiri yang bertuliskan namaku." decak Josephine puas. Perempuan itu mengibaskan rambut nya dan segera berjalan berlenggak lenggok menuju ke kamarnya di lantai dua. Meninggalkan Dellia yang menggeram marah karena diperlakukan rendah oleh Josephine. "Sialan. Lihat saja malam nanti. Kau akan aku buat malu hingga kau merasa jika lebih baik kau mati daripada harus menanggung rasa malu." bisik Dellia penuh dendam Apa Josephine mendengarnya? Tentu saja. Dia merasakan telinga nya jauh lebih peka dari sebelumnya. Indra penciumannya juga lebih tajam, karena itu dia bisa mengetahui jika sarapannya di bubuhi racun. "Dia terlihat percaya diri sekali. Sebenarnya ada apa di pesta nanti?" gumam Josephine dengan suara yang tidak bisa terdengar oleh siapapun selain dirinya sendiri. "Nona?! Kau baik baik saja, kan?! Nona tidak terluka, kan?" tanya Neri khawatir. Perempuan itu ternyata sudah menunggu Josephine di kamar dan saat Josephine membuka pintu, dia langsung memberondong nya dengan pertanyaan. "Kau lihat aku terluka? Tidak, kan?" balas Josephine Neri menghela nafasnya. Dia mendudukkan Josephine di kursi yang ada dan mulai menyisir rambut Nona nya itu dengan hati hati. "Nona, kedepannya, pasti akan lebih banyak orang yang membenci sekaligus menyukai Nona." ucap Neri "Aku tahu. Jangan dipikirkan." sahutnya singkat "Oh iya, Nona... Tentang sesuatu yang Nona ingin aku cari tahu, aku sudah menemukan hal yang mungkin tidak Nona sukai." Josephine menatap Neri melalui cermin, "Tentang identitasku, kan? Apa?" "Nona...apa mungkin Nona di kutuk?" cicit Neri "Di...kutuk? Apa yang membuatku dikutuk?" tanya Josephine terkejut "Perjanjian. Aku dengar... Ibu kandung Nona melakukan perjanjian. Nona sempat mati saat Nona masih kecil. Dan kedua orang tua Nona, melakukan sebuah perjanjian agar Nona bisa kembali hidup." jelas Neri dengan nada lirih Josephine tertohok. Tangannya refleks menyentuh d**a nya sendiri, dia bisa merasakan jantungnya berdebar kencang. Dia pernah mati? Dan kembali hidup karena upaya kedua orangtua nya? "T-tapi Nona jangan dulu panik atau percaya sepenuhnya! Aku baru mencaritahu hal ini dari Bibi tertua yang mengenal kedua orangtua Nona." "A-aku di...kutuk?" gumam Josephine Neri menghembuskan nafasnya gusar, "Inilah yang membuatku tidak mau mengatakan nya pada Nona. Tapi cepat atau lambat, Nona juga harus tahu hal ini. Bisa jadi kutukan itulah yang membuat Nona tidak bisa bertukar shift." Josephine merasakan tangannya lemas. Matanya menatap gusar ke sekeliling nya. Nafasnya mulai terengah, bersamaan dengan keringat dingin yang muncul di dahinya. "Nona!" seru Neri. Dia menyentuh bahu Josephine dan menatap serius perempuan yang menjadi majikannya itu, "Ini baru sebuah dugaan! Jangan cemas. Aku pasti akan mencaritahu semua tentang Nona dan aku akan mengatakan semuanya pada Nona!" gumam Neri serius Josephine mengatur nafasnya. Dia memejamkan matanya dan menyeka keringat dingin yang ada di dahinya. Entah kenapa, dia terkena serangan panik. Tapi sebuah kutukan terdengar serius, dirinya cukup ketakutan karema hal itu. "Neri... Kau janji akan tetap berdiri di samping ku, kan?" lirih Josephine Neri mengangguk yakin, "Tentu. Aku hanya akan pergi jika Nona menyuruhku pergi." Josephine menghembuskan nafasnya dan menggangguk. Dia kembali mengatur nafasnya yang masih tersengal. "Nona terlihat sangat kuat dan berubah jauh dari sebelum nya. Tapi Nona tetap orang yang aku kenal, ya?" ucap Neri sambil tersenyum kecil "Memang nya kenapa?" "Nona dulu sering bertanya hal itu. 'Neri, kau tidak akan pergi kemana mana, kan?' selalu seperti itu. Padahal, jika dipikir lagi kemana aku akan pergi? Nona, aku tidak punya tempat tinggal lain selain rumah ini." jelas Neri sambil tertawa kecil Josephine membiarkan Neri merias dirinya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Hanya sesekali dia akan menjawab pertanyaan dari Neri soal keadaannya. "Kau akan ikut ke pesta?" tanya Josephine "Ya, tapi tentu saja tidak bergabung dengan para bangsawan. Mereka bisa mual mual jika kami berada satu lantai dengan mereka di Pack House." jawab Neri "Lalu aku dengan siapa?! Neri, kau tahu aku tidak punya teman, kan?" tanya Josephine cemas "Nona, tenanglah. Nona pasti akan memiliki teman disana." sahut Neri "Kenapa kau seyakin itu?" tanya Josephine dengan raut wajah frustasi nya "Entah kenapa firasatku mengatakan seperti itu. Nah, rambut dan wajahmu sudah selesai. Sekarang pergilah ke kamar mandi dan ganti pakaian Nona dengan gaun ini." seru Neri sambil menyerahkan kantung kertas pada Josephine. Perempuan itu menghela nafasnya dan meraih benda itu dari Neri sebelum akhirnya berjalan menuju kamar mandi yang ada di pojok kamarnya. Josephine menatap sebuah gaun berwarna merah yang ada ditangannya. Harus dia akui, selera Calvin sangat bagus. Pria ini dengan percaya dirinya menyodorkan gaun ini pada Josephine dan mengatakan jika dia pasti terlihat sangat cocok dengan gaun yang mengekspos tangan dan bahu nya itu. "Huft, okay. Baiklah, mari lakukan." gumam Josephine. Perempuan itu melepaskan pakaian yang dikenakan nya dan mulai memakai gaun dengan hati hati. Sering memakai benda seperti ini membuatnya tahu jika gaun terbuat dari material yang sangat mudah robek. Saat memastikan jika dirinya sudah siap, Josephine melipat pakaiannya dan keluar dari kamar mandi. "Woahh, Nona! Apa ini benar Nona Josephine Arhea Iris ku?!" pekik Neri senang. Perempuan itu menarik tangan Josephine dan berputar mengelilingi Josephine dengan pekikan penuh kesenangan. "Nona, rasanya aku akan menangis." ringis Neri "Melihat Nona yang seperti ini, rasanya aku tahu jika Nona akan menjadi pemeran utama dari pesta nya." ujar Neri takjub
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN