Part 12 "Dipermalukan dan tujuan dibalik sebuah undangan khusus"

2264 Kata
Josephine berjalan memasuki sebuah aula besar. Sejak awal kedatangannya, orang orang langsung berbisik setelah melihat Josephine. Entah pujian atau justru hinaan yang mereka berikan. Tapi Josephine tetap acuh. Dia datang kemari karena ada undangan yang diterima nya. Jika tidak, Josephine juga tidak akan pernah mau datang ke tempat seperti ini. Perempuan itu mengibaskan pelan rambut nya yang dibuat curly. Josephine tiba tiba terdiam. Dia menatap jauh ke depan sana. Ada seorang pria yang berdiri tepat di hadapannya. Menatap lurus pada Josephine. “Ah, dia pasti pria yang dibicarakan oleh Neri. Pria yang disukai oleh Arhea?” Gumam Josephine Josephine berjalan tanpa tergesa. Ditangan nya ada sekotak hadiah berwarna merah yang akan dia berikan pada pria yang berulang tahun. Sebuah jam tangan yang terbuat dari kayu, Josephine menyukainya. Harga nya juga lumayan mahal, 100 keping koin emas. Dia meminjam nya dari Calvin, dan meminta pria itu mengambil gantinya dari kantung uang milik Josephine. “Wah, Alpha James mengundang mate nya?” Samar samar suara bisikan seorang perempuan terdengar olehnya. Dia mengedarkan pandangannya dan menemukan jika sepasang perempuan sedang bergosip sambil menatap ke arahnya. “Aku dengar Alpha James berpacaran dengan saudara nya. Elli.” Sahut suara lain dengan suara yang pelan Dalam diam Josephine menaikan satu alisnya. Jadi dia adalah mate dari pria itu? Apa akan ada drama penolakan? Apalagi katanya, pria itu berpacaran dengan Elli. Josephine menahan senyuman geli nya. ‘Wah, aku tidak sabar menantikan apa yang akan terjadi. Rasanya aku harus mengeluarkan sedikit bakat aktingku.’ Pikirnya Josephine berdeham dan mengangkat kepalanya, mengubah ekspresi nya menjadi lebih angkuh dari sebelumnya. “Selamat ulang tahun, Alpha James.” Sapa nya dengan nada biasa. Tidak ingin memperlihatkan perubahan sikap yang sangat pesat dari Josephine Arhea Iris yang mungkin dikenal oleh pria itu. Dia menyodorkan sekotak hadiah pada James yang diterima dengan acuh oleh pria itu. “Terimakasih. Aku harap kau tidak menjual dirimu untuk memberiku hadiah seperti ini.” Ujar James Josephine tertawa, dia berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan tawa paling dramatis untuk James yang telah meremehkan nya bahkan ketika dia belum masuk ke dalam aula utama tempat pesta berlangsung. “Untuk apa aku menjual diriku hanya untuk membelikan mu hadiah, Alpha?” sahut Josephine “Aku pikir, aku cukup kaya untuk memberikan mu hadiah murahan seperti itu.” Lanjut Josephine sambil mengendikkan dagunya pada hadiah yang ada di tangan James. Seakan mempertegas merk ternama yang tertera di atas kotak hadiah milik James dengan label murah. Josephine berlalu dan masuk ke dalam aula. Tanpa menghiraukan James yang terlihat sangat kesal setelah mendengar sahutan dari Josephine. “Arhea, dengar ini!” seru James Josephine menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap James yang kini tengah menatapnya dengan jijik. “Tadinya aku hendak membiarkan mu diam disini. Tapi nyatanya, aku tidak tahan melihatmu bahkan jika itu hanya untuk satu jam.” Ujar James “Josephine Arhea Iris, aku James Miller, menolakmu sebagai Mate ku!” Sedetik setelahnya, suasana menjadi sangat hening. “Jangan harap Werewolf lemah dan menjijikan sepertimu bisa menjadi pasanganku yang seorang Alpha.” Seru nya angkuh Terdengar tawa meremehkan setelahnya. Beberapa bahkan mengatakan jika apa yang dikatakan James adalah kebenaran. Tidak mungkin Werewolf yang tidak bisa bertukar shift seperti Josephine Arhea Iris menjadi pasangan dari seorang Alpha. Josephine menatap seorang pria yang berdiri di hadapan nya dengan raut tidak percaya, “Apa? Kau menolakku? Apa kau kira aku mau menjadi pasangan mu?!” Oh sial! Dia lupa jika saat ini dirinya berada di dalam tubuh seorang Werewolf yang dianggap paling lemah dan paling bisa ditindas. Josephine Arhea Iris. Sesaat kemudian, senyuman nya mengembang. Hal itu memancing perhatian dari orang orang untuk semakin memperhatikan nya. Josephine tertawa dengan tenang, perempuan itu berjalan ke hadapan James. Dia menarik kerah pakaian yang pria itu kenakan dan berbisik di samping telinga James. “Dengar ini, kau boleh menikmati sensasi kemenangan mu karena telah menolak dan mempermalukan ku, werewolf paling lemah di Pack ini di hadapan semua orang.” Bisik Josephine “Tapi tidak dengan nanti. Aku pastikan kau akan bersujud di kaki ku dan memintaku kembali padamu. Hingga saat itu tiba, aku akan membuat hidupmu sangat menderita.” Lanjutnya dengan suara pelan Josephine berjalan keluar dari dari aula. Dia melirik Dellia dan Elli yang berada di sudut aula, sedang menertawakan nya dengan sangat puas. “Boleh aku katakan sesuatu?” tanya Josephine tanpa berbalik “Aku yang lemah mungkin bukanlah standarmu, Alpha. Tapi satu hal yang harus kau ingat.” “Jika suatu saat nanti, aku menjadi kuat… Maka kau lah yang bukan standar ku.” "Oh! Dan satu lagi. Aku bukan datang tanpa diminta, Alpha James. Aku datang untuk memenuhi undangan yang katanya merupakan undangan khusus. Ku kira akan ada apa, dan ternyata hanya drama murahan mu yang memaksaku untuk masuk ke dalam nya." ucap Josephine dengan nada malas. Dia mengedarkan tatapannya dan mengendikan bahunya pelan, "Yah, tanpa sadar aku sudah masuk ke dalam drama murahan kalian. Saranku, lain kali, kau jangan mengadakan pesta seperti ini di aula. Sewa sebuah gedung opera dan aku akan tampil disana dengan sangat memuaskan." Setelahnya, Josephine berbalik pergi. Dia bisa mendengar seruan kagum serta takjub tertuju padanya. Entah kenapa, saat itu Josephine ingin menangis. Mungkin sisa dari diri Arhea yang berada di dalam tubuhnya meraung kesakitan setelah menerima penolakan. “Tenanglah, Arhea. Jika dulu, kau selalu menunduk saat melihat orang orang, maka akan aku tukar posisi mu. Orang orang lah yang akan menunduk dan memberi hormat padamu.” Gumam Josephine penuh kepercayaan diri Di dalam aula, tiga orang pria menatap kepergian Josephine dengan penuh ketertarikan. "Tahan perempuan itu." ucap seseorang yang membuat Leo mengangguk mematuhi Alpha nya. Josephine mendengar suara langkah kaki berderap di belakangnya. Dia sudah bersiap untuk melawan jika seandainya, orang yang tengah menuju kearahnya ini berniat mendorongnya dari atas. Josephine berbalik dan menepis tangan seorang pria yang menahan nya. Kedua matanya menatap tajam pria yang terlihat tenang itu. Dahinya berkerut samar, apalagi saat ia menyadari jika pria ini adalah salah satu dari dua pria yang ditemuinya di pasar. "Nona, perkenalkan, saya adalah Beta Leo. Jika berkenan, Nona bisa pergi denganku?" tawar pria bernama Leo itu sambil menyodorkan tangannya pada Josephine Alih alih menerima sodoran tangan penuh ketulusan itu, Josephine malah bersidekap. "Atas dasar apa aku harus mengikutimu? Apa kau memaksaku ke dalam sana untuk dihina lebih dari sebelum nya? Jika iya, aku tidak akan mau. Kau tidak punya kuasa untuk memerintahku dan aku punya kuasa untuk menolak hal itu." sahut Josephine Leo tersenyum, "Nona, saya mengenal Nona. Saya juga diminta oleh Alpha besar untuk membawamu dan berbincang. Saya yakin, Nona akan sangat tertarik dengan pembicaraan ini." Belum sempat Josephine menjawab ucapan Leo, perhatiannya teralih saat melihat Calvin berjalan ke arahnya. Pria itu terlihat berbeda dengan setelan rapi nya. "Sudah ku bilang kau harus datang." ujar Calvin sambil tertawa Josephine berdecak, "Kalian bersekongkol?" "Ups, aku tidak. Ayo, Josephine. Kau percaya padaku, kan?" tanya Calvin "Kenapa aku harus percaya padamu?" "Karena aku Calvin. Kau bahkan mempercayakan uangmu padaku. Kenapa sekarang tidak?" Tangan Josephine digenggam dengan lembut oleh Calvin. Pria itu langsung menarik Josephine untuk ikut dengannya menuju ke lantai dua aula. Dibelakang keduanya, Leo tersenyum dan mengangguk singkat pada Josephine yang meliriknya dengan mata tidak suka. Beberapa saat setelahnya, para Alpha berjalan menuju satu tempat yang sama. Kepergian mereka menarik atensi banyak orang di aula. Suara bisikan bisikan yang riuh sampai ke telinga Josephine yang masih menaiki tangga. Perempuan itu melirik sebal Calvin. "Sebenarnya apa yang kalian lakukan? Aku tidak datang untuk menerima penghinaan." kesalnya "Kau bukan diundang untuk menghadiri pesta, Josephine. Undangan itu dibuat khusus untukmu, bukan untuk hal tadi. Penolakan itu diluar skenario." jelas Calvin Josephine merasakan dirinya di bawa ke sebuah ruangan besar yang berisi sebuah meja kayu berukuran besar dengan banyak kursi mengelilingi nya. "Drama apalagi ini?" keluh Josephine Pandangan Josephine bertemu dengan seorang pria yang duduk jauh di sebrang nya. Tatapan pria itu mengarah padanya. Sulit diartikan apa maksud dari tatapan itu. Tapi Josephine tahu, pria itu adalah pria yang ditabrak nya tanpa sengaja di pasar. "Nah, duduklah disini." titah Calvin sambil mendorong bahu Josephine untuk duduk di kursi yang kosong. Perempuan itu berdecak dan menatap Calvin yang juga duduk di kursinya. Beberapa saat kemudian, kursi itu sudah terisi penuh oleh orang orang. Josephine hanya mengenal Calvin juga Beta Leo. Seorang pria tua yang Josephine tebak sebagai Alpha Christ juga ada di dalam sini. Total 7 orang dengan dirinya. "Beberapa hari yang lalu, ada keributan dipasar. Para Warrior terluka. Mereka melapor padaku, jika mereka dipukuli oleh seorang wanita." ucap pria yang duduk bersebrangan dengan Josephine "Apa kau berniat mengingatkan ku tentang para Warrior yang memukuli seorang pria karena disebut sebagai pencuri? Kasus itu sudah selesai, anda terlalu lambat membahasnya. Tapi aku tidak butuh permintaan maaf. Hal itu tidak pantas disebutkan oleh orang yang tidak mengetahui kesalahannya sendiri. Aku tidak melihat ada penyesalan di mata para warrior itu dan hal itu membuatku muak." tukas Josephine dengan wajah bosannya. Dia hendak beranjak dari ruangan sebelum Calvin menahannya dan menggeleng. "Apalagi yang harus aku lakukan? Masalah ini sudah tuntas. Aku tidak mau berbasa basi." kesal Josephine "Belum. Masih ada satu hal lagi." ucap pria di sebrang sana "Apalagi? Apa aku yang harus meminta maaf? Tapi jujur saja, para Warrior itu tidak pantas mendapatkan permintaan maafku. Aku sama sekali tidak menyesal memukul mereka." "Josephine, duduk dan dengarkan." bisik Calvin "Aku bosan." desis Josephine "Aku adalah orang yang kau hina di depan umum, Nona. Kau mengatakan jika aku egois dan mementingkan diriku sendiri tanpa memikirkan rakyatku." Josephine terdiam mendengarnya. Dia menatap pria yang duduk di sebrangnya itu dengan satu alis terangkat, "Lalu? Aku harus bersujud padamu dan meminta maaf karena sudah mengatakan hal itu pada mu, Alpha?" Perempuan itu tertawa dan kembali duduk di kursinya. Dia bertumpang kaki dan bersidekap, menatap lurus pria yang duduk bersebrangan dengannya itu dengan senyuman. "Satu lagi, itu bukan sebuah hinaan. Itu kritik dariku untukmu dan para Alpha lainnya." ralat Josephine "Aku lihat kalian cukup sering mengatakan pesta. Kalian terlalu sering melihat ke atas tanpa melihat ke bawah." gumam Josephine "Seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab atas wilayah yang dikuasainya, Alpha. Seorang pemimpin juga bertanggung jawab untuk kesejahteraan rakyatnya. Makanan enak, perhiasan mewah dan hadiah yang aku berikan tadi bisa menanggung biaya makan dari rakyatmu yang hidup sengsara. Menyedihkan." ujar perempuan itu dengan wajah seriusnya. Dia menggelengkan kepalanya dan mengibaskan tangannya. "Sudah lah, tidak ada yang perlu aku bicarakan lagi. Lagipula aku sudah terlalu banyak berbicara." ucapnya tenang. Perempuan itu kembali beranjak dari duduknya. "Nona," Josephine menolehkan kepalanya, dia tahu suara serak itu berasal dari pria yang disebut sebagai Alpha Christ. "Setidaknya nikmati dulu pesta nya. Nona adalah tamu istimewaku. Kritikmu akan aku terima dan akan aku berikan pada anakku, dia adalah Alpha yang akan bertanggung jawab selanjutnya menggantikan aku." lanjut Alpha Christ Josephine menggelengkan kepalanya, "Terima kasih, tapi tidak perlu, Alpha. Kau tidak seharusnya memberikan tanggung jawab sebesar itu pada anakmu yang angkuh. Sekali lihat saja, aku yakin dia tidak akan mengerjakannya. Biar aku yang melakukannya. Aku mengubah target hidup ku." "Apa kau dendam padanya karena dia menolakmu dan mempermalukan mu dihadapan banyak orang?" tanya pria yang disebut sebagai Alpha terkuat itu "Ha ha, kau tajam juga, Alpha. Tapi aku tidak dendam. Dia menolakku, dan itu hak nya. Alasannya menolakku juga masuk akal. Perempuan lemah sepertiku tidak pantas bersanding dengannya yang maha kuat." jawab Josephine setengah meledek. Perempuan itu bahkan tidak mempedulikan keberadaan Alpha Christ yang merupakan ayah dari pria yang menolaknya. Josephine menunduk memberi hormat, "Aku pergi, Alpha. Lain kali, tolong jangan berlebihan. Karena cap dan undangan khusus itu, aku jadi dimusuhi satu kota. Belum lagi dengan saudara tiriku yang terus menerus mengatakan hal tidak jelas tentang aku yang merebut pria yang dicintainya. Aku hanya ingin hidup tenang, jadi tolong jangan mengacaukannya." "Kau kira kau diizinkan pergi?" Josephine merotasikan matanya malas. Dia berbalik dan menatap Alpha terkuat itu dengan wajah angkuhnya. "Melihatmu, aku jadi teringat sesuatu. Bagaimana jika kau berada di posisi ku sekarang? Aku ingin melihat bagaimana caramu memimpin dengan baik, seperti kritik tajam mu." Josephine tertawa sarkas, "Untuk kesejahteraan rakyatmu, aku bisa menjamin jika aku lebih baik darimu, Alpha. Tapi untuk menahan emosi, aku tidak akan bisa melakukannya. Siapa yang tahu kapan aku akan menginjak harga diri tinggi Alpha yang lain jika kinerja mereka tidak sesuai dengan keinginan ku." Calvin menahan tawanya. Dia menipiskan bibirnya saat menyadari Josephine meliriknya dengan tatapan ketus. "Bagaimana menurutmu, Alpha Calvin?" Kedua mata Josephine melebar. Perempuan itu sontak menatap Calvin yang berdeham dan mengangguk kecil. Walau mencoba terlihat berwibawa, tetap saja Josephine bisa melihat kedutan disudut bibir pria itu yang menahan tawa nya. Sial. Calvin ternyata seorang Alpha?! "Aku setuju, Alpha Jacob. Josephine, bagaimana jika kau mengikuti sebuah kompetisi? Tidak perlu menjadi pemenang, cukup menjadi ketua di tim yang akan dibentuk untuk kompetisi. Jika kau berhasil memimpin mereka, tanpa perlu memenangkan kompetisi, maka kau sudah menang di mata kami para Alpha." Josephine mendengkus. Dia ingin menolak, terlebih setelah menyadari jika dirinya tidak memiliki wujud wolf. Bisa bisa dirinya dijadikan sebagai mangsa oleh wolf lain yang membenci dirinya. Tapi gengsi nya tentu saja tidak ingin menolak. Harga dirinya bisa jatuh jika menolaknya. Apalagi dirinya sudah melayangkan kritik pedas pada Alpha terkuat bernama Jacob itu. Menolak, sama artinya dengan mengalah dan menelan kritik pedas yang dia layangkan. Akhirnya, Josephine mengangguk. "Baik. Tapi karena kalian yang mendorong ku, maka kalian harus melatihku." ucap Josephine "Kenapa harus?" tanya Alpha Jacob "Alpha, jika aku mati dalam kompetisi, maka anda adalah orang pertama yang aku hantui. Aku ingin menuntut balas karena kematian tidak hormat ini. Jika aku lemah, aku tidak akan bisa menjadi pemimpin. Dan jika aku menjadi target pertama dari mereka yang tidak menyukaiku, maka anda adalah orang yang bertanggung jawab atas kematianku."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN