Part 13 "Kuat, namun rapuh disaat yang sama"

2045 Kata
Josephine berjalan keluar ruangan diiringi para Alpha yang lain. Perempuan itu berjalan menuruni tangga menuju aula utama. Dia mengedarkan tatapannya ke seluruh penjuru ruangan, perempuan itu tahu dirinya menjadi objek utama dari berbagai pembicaraan malam ini. Beberapa perempuan lain bahkan mengatakan jika Josephine tengah di hukum karena menghina Alpha Jacob terang terangan di pasar beberapa hari yang lalu. "Apa-apaan loyalitas ini? Mereka tidak bisa membedakan kritik dengan masukan karena terlalu loyal pada pemimpin mereka." gumam Josephine lelah. Perempuan itu menggelengkan kepalanya dan berniat untuk keluar dari aula, lagipula urusannya sudah selesai dan tidak ada yang bisa menahan nya ditempat ini. Yah, tidak. Kecuali genggaman tangan dari Calvin seperti sekarang. Pria itu sepertinya tahu jika Josephine hendak kabur dari pesta. "Mau kemana?" tanya pria itu "Pulang. Aku lelah dan ingin tidur." jawab Josephine "Kau pergi merawat diri seharian untuk tidur?" tanya Calvin tidak percaya Josephine menarik tangannya dari genggaman Calvin. Perempuan itu bersidekap dan menatap Calvin dengan mata memicing, "Sekarang aku tahu kenapa orang orang di pasar menatapku dengan terkejut saat aku memanggil nama mu." "Dan...? Kenapa itu?" sahut Calvin sambil tersenyum geli "Kau seorang Alpha. Dan aku dengan kurang ajar nya memanggilmu hanya dengan nama." "Aku suka sifat kurang ajar mu. Hal itu yang membuatku terus mengikutimu kemanapun." balas Calvin Josephine menghela nafasnya, "Terserah, Alpha. Jadi tolong jangan menahanku dan biarkan aku pulang." Alih alih membiarkan nya pulang, Calvin malah merangkul pinggangnya. Membawa Josephine untuk maju ke lantai dansa dan berusaha membaur dengan para penari lainnya. "Apa yang kau lakukan, Alpha?" desis Josephine. Terlebih saat menyadari kini para perempuan menatapnya dengan pandangan membunuh. Josephine melirik kakak tiri nya, Dellia. Perempuan itu terlihat terbakar dalam api cemburu saat melihatnya berdansa dengan Calvin. 'Ahh, jadi ini maksud mu Dellia? Kau iri karena aku dekat dengan Calvin? Pria yang menjadi incaranmu?' pikir Josephine. Perempuan itu tersenyum tipis, mulai menikmati irama lembut melodi yang dimainkan dan menyentuh bahu Calvin. "Apa yang membuatmu berubah menjadi penurut, Josephine?" bisik Calvin saat menyadari jika Josephine tidak memberontak seperti sebelumnya "Saudara tiri ku, Alpha. Dia sepertinya sangat menyukai mu. Dan saat ini, tengah terbakar api cemburu." lirih Josephine Calvin mendekatkan bibirnya di telinga Josephine, "Jadi kau menggunakan aku sebagai objek balas dendam terhadap saudara tirimu yang lain? Aku dengar anak dari Alphs Christ menolakmu agar bisa bersama dengan saudara tirimu yang kedua." Josephine tersenyum, dia merapatkan dirinya pada Calvin dan melingkarkan tangannya di leher pria itu. Mempersempit jarak antara mereka demi menciptakan sebuah moment intim yang bisa dilihat banyak orang. "Aku harap kau tidak keberatan, Alpha." gumam Josephine "Aku tidak. Lagipula... mate ku belum terlihat sosoknya. Mungkin saja itu dirimu, kan?" balas Calvin Josephine tersenyum, "Terdengar menggiurkan... Tapi sedikit mustahil, Alpha." Calvin tertawa. Dia memutar Josephine dan kembali merangkul pinggang perempuan itu. "Setelah malam ini, akan beredar kabar jika kau bersama dengan perempuan lemah seperti diriku. Harga dirimu mungkin saja akan turun, Alpha Calvin." ucap Josephine lagi "Tak masalah. Aku melihat sendiri jika kau hanya pura pura lemah." elak Calvin. Pria itu melepaskan rangkulannya dan menunduk memberi penghormatan pada Josephine, "Dan hentikan panggilan 'Alpha' mu itu. Panggil aku Calvin seperti biasa." "Tidak bisa. Kau adalah seorang Alpha. Aku bisa digantung oleh para penggemarmu jika aku terus memanggilmu seenaknya." sahut perempuan itu sambil menunduk. Dia berbalik, hendak berjalan ke ujung ruangan dan mungkin pulang ke rumah. Namun lagi lagi, hal itu tidak terjadi. Dellia tiba tiba berada di hadapannya. Dan perempuan itu menampar Josephine di hadapan banyak orang. "Menjijikan." desis Dellia Josephine tersenyum, dia menyelipkan helaian rambut yang terjatuh ke wajahnya dan menatap Dellia dengan alis terangkat. "Siapa yang kau sebut menjijikan, kak?" balas Josephine "Kau! Seharusnya kau malu! Kau berdansa dan memanggil Alpha terhormat seperti Alpha Calvin hanya dengan nama nya!" seru Dellia Josephine tertawa miris, "Aku bahkan baru mengetahui jika dia adalah seorang Alpha. Dan, jika ada yang bisa kau sebut sebagai 'makhluk memalukan' adalah saudara kembar mu, Elli. Dia yang merebut mate ku, bukan?" Perempuan itu berjalan mengitar Dellia. Tangannya bersidekap di depan d**a, "Setahuku, sebuah hubungan mate adalah ikatan yang sakral. Takdir yang digariskan langsung oleh Moon Goddess. Lalu Elli dan mantan mate ku itu menodainya." Josephine mengerjapkan matanya. Dia menengadah dan menatap bulan penuh yang bersinar indah malam itu. Semilir angin meniup helaian rambutnya, membuat Josephine memejamkan matanya dan tersenyum. "Aku harap, karma tidak berbalik padamu atau Elli. Kejahatan kalian selama ini padaku, mungkin suatu saat dibalas oleh seseorang. Dan jika saat itu tiba, aku mungkin akan menjadi orang pertama yang tertawa diatas penderitaan kalian." Ucapan Josephine bergema di aula besar itu. Semua orang bisa mendengar apa yang dia katakan. Apalagi keheningan yang terjadi akibat tamparan Dellia padanya membuat banyak orang terdiam karena terkejut. "Apa apaan ini?! Drama apa lagi yang tengah kau buat, Arhea?!" bentak Millie "Ahh, Ibu tiriku tercinta. Kau pasti kesal karena racun yang kau berikan padaku tadi pagi tidak berhasil membunuhku. Tapi aku tidak berminat membuat drama. Salahkan putri sulung mu yang lebih dahulu menamparku karena berdansa dengan pria yang disukainya. Padahal... belum tentu jika Alpha Calvin adalah mate nya. Menyedihkan. Bagai seekor semut kecil yang ingin menggapai bulan." desah Josephine. Perempuan itu tersenyum dan menatap Millie dengan mata yang berkilat jahat. "Racun?" "Astaga, apa itu tidak berlebihan?" "Aku tahu hubungan mereka buruk tapi... menaruh racun?" "Tapi ucapan Arhea juga keterlaluan! Dia membongkar hal seperti ini dihadapan banyak orang dan juga para Alpha." Josephine tersenyum mendengar berbagai ujaran dari orang orang di sekitarnya. Dia berbalik dan menatap Calvin yang berdiri di belakangnya dengan tatapan hangat yang terasa janggal. "Sudahlah. Bagaimana pun cara ku mengungkap sebuah fakta, hanya aku yang akan di salahkan. Kalian bahkan mengucapkan selamat pada Elli yang telah menodai sebuah ikatan sakral dan berbalik menyalahkanku yang sangat lemah ini." hela Josephine dan menggeleng dengan dramatisnya. Perempuan itu menunduk hormat dan keluar dari aula dengan kepala terangkat, memandang angkuh orang orang yang tadi merendahkannya. "Oh iya. Terima kasih atas penghinaan mu, Alpha James. Sampai mati pun, aku tidak akan pernah melupakan hal ini." **** Josephine menatap bulan yang terlihat jauh lebih besar dari tempatnya berdiri saat ini. Perempuan itu melepaskan heels yang dipakainya dan membiarkan kaki telanjang nya menyentuh rerumputan. "Moon Goddess, apa yang kau inginkan dari Arhea?" tanya Josephine "Perempuan ini, sudah sangat terluka karena kekurangannya. Dan sekarang, kau membuatnya ditolak orang yang dicintainya. Walau aku tidak menyukai pria tadi, tapi Arhea mencintainya. Rasa sakit, yang saat ini aku rasakan pasti berasal dari pecahan jiwa perempuan itu yang masih tersisa di dalam tubuh ini." Josephine meremas gaun bagian d**a nya, dia merasakan sesak yang teramat sangat. Ada sesuatu yang tidak kasat mata menusuknya tepat di sana. Sesuatu, yang membuat Josephine ingin berteriak dan melampiaskan semua rasa sakit di hatinya. Hidup ini tidak adil. Dunia ini terlalu busuk untuk ditinggali oleh perempuan berjiwa murni seperti Arhea. "Sebenarnya... takdir macam apa yang kau ukir untuk Arhea?" lirih Josephine. Perempuan itu menyandarkan tubuhnya di pepohonan dan membiarkan tubuhnya di tiup oleh angin malam yang dingin. "Apa sebaiknya aku mati saja?" Menyadari apa yang baru saja dia gumamkan, Josephine menggelengkan kepalanya cepat, "Jangan gila. Kau bukan Josephine jika kau menyerah dalam keadaan seperti ini. Kau kuat, kau menjadi anak pertama perempuan yang menanggung sebuah beban besar. Kau disiapkan sejak kecil untuk hal seperti ini." "Josephine." Perempuan itu menoleh, dia menemukan Calvin yang berjalan menuju ke arahnya. Jas pria itu sudah ditanggalkan, menyisakan sebuah kemeja berwarna hitam dengan celana bahan berwarna senada. "Sudah ku duga kau akan ada disini." ucap pria itu sambil tersenyum tipis. Dia duduk di samping Josephine dan turut menatap bulan. "Apa yang sedang kau lakukan?" "Merutuki diriku sendiri." gumam Josephine "Kau baik baik saja?" tanya Calvin "Ya. Aku kuat. Aku baik baik saja." Dapat Josephine rasakan pria yang ada di samping nya itu mengangguk kecil. Setelahnya, hanya keheningan yang mengisi waktu mereka. Kedua nya sama sama terdiam memandang satu satunya benda yang memberikan cahaya pada mereka ditengah gelapnya hutan. "Calvin, apa menurutmu aku akan baik baik saja?" tanya nya tanpa mengalihkan pandangan dari sang rembulan Calvin terdiam. Pria itu menatap Josephine yang terlihat termenung menatap bulan. Tangan pria itu menjulur pada mata Josephine, menghalangi pandangan perempuan itu dari cahaya bulan. "Menangislah." "A-apanya? Aku kuat. Aku tidak menangis." ucap Josephine sambil menggeleng, seolah meyakinkan dirinya sendiri. Namun perempuan itu enggan menatap Calvin. "Aku... aku kuat. Aku... tidak akan menangis..." lirih perempuan itu Di detik selanjutnya, suara isakan pelan mulai terdengar dari Josephine. Bahu perempuan itu bergetar, berusaha menahan tangisannya sendiri agar tidak diketahui oleh Calvin. "Iya. Kau kuat, Josephine. Kau kuat karena sudah bertahan selama ini." sahut Calvin dengan suara tenang nya Calvin mengalihkan pandangannya ke arah lain, tangannya masih setia menutupi wajah Josephine. Seolah menjaga privasi perempuan tersebut walau mengetahui jika tidak ada siapapun selain mereka berdua disana. Ucapan menenangkan Calvin malah membuat Josephine semakin menangis tersedu. Perempuan itu memukul pelan d**a nya yang masih terasa sesak. Tangan Josephine diraih oleh Calvin. Pria itu tidak akan membiarkan Josephine menyakiti dirinya sendiri seperti itu. "Maaf sebelum nya." gumam Calvin. Pria itu menggeser tempat duduknya, meraih tubuh Josephine ke dalam pelukannya dan membiarkan perempuan itu menangis di bahunya. "Aku sakit, Calvin. Sangat sakit." bisik Josephine. Perempuan itu meremas gaun bagian d**a nya dan menggigit bagian dalam bibirnya sendiri untuk menahan suara isakannya, "Apa kehadiran ku berarti? Apa ada orang yang bahagia atas keberadaan ku?" "Kau lihat tadi, kan? Bagaimana pun aku menyerukan sebuah kebenaran, orang orang itu tetap menyalahkanku. Seharusnya aku tidak begini, harusnya aku tidak begitu. Aku seolah dituntut untuk selalu bersabar dan menjadi orang baik tanpa mengetahui apa akan ada kebahagiaan untukku?" Calvin mengangguk, dengan ragu mengarahkan tangannya untuk mengusap punggung Josephine. Berniat menenangkan perempuan itu. Sementara Josephine, perempuan itu memejamkan matanya. Pelukan hangat yang ditawarkan Calvin entah kenapa meninggalnya luluh. Pria itu seolah mengatakan jika semua nya akan baik baik saja. Entah sejak kapan dirinya menjadi serapuh ini. Apa menjadi Arhea sebegitu melelahkan nya? Beban yang ditanggung perempuan itu terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Sedangkan dirinya tidak memiliki siapapun. Hanya ada Neri yang bisa mendengar keluh kesahnya. Josephine menyadari suatu hal. Tidak mudah untuk mempertahankan kewarasan Arhea. Perempuan itu dihancurkan luar dan dalam di dunia ini. Dalam keadaan apapun, dia harus siap kehilangan dan menerima serangan dari orang orang. "Aku malu..." lirih Josephine. Perempuan itu menyeka air matanya dan berusaha menstabil kan nafasnya yang tersengal karena menangis, "Beberapa menit yang lalu, aku masih angkuh dan membalas semua perkataan orang orang itu seolah aku perempuan yang kuat. Tapi di menit selanjutnya, aku malah melarikan diri dan bahkan menangis di bahumu." "Menurutku, kau tidak begitu. Kau kuat, Josephine. Kau hebat karena sudah bertahan sejauh ini." tukas Calvin Josephine mengeluarkan tawa lirihnya, ucapan Calvin entah kenapa terasa menusuknya. Menusuk jiwa Josephine, bukan Arhea seperti saat ini. Tanpa sadar, perempuan itu tersenyum. Rasanya, dia telah menemukan apa yang dia inginkan. Ya, dia hanya ingin mendengar kalimat itu keluar dari orang terdekatnya. "Semua nya akan baik baik saja. Kau percaya padaku, kan? Aku akan membantumu, Josephine. Dengan cara apapun. Kau tidak akan kesepian lagi. Kau punya aku, kau juga punya Neri. Walau dia masih terlihat kecil, tapi dia memiliki loyalitas yang tinggi terhadapmu." "Apa ini, Alpha? Rasanya kau memberikan semua kalimat yang sangat ingin aku dengar." gurau Josephine. Suara nya terdengar aneh karena baru saja menangis. "Tapi terima kasih... Rasanya, itu adalah kalimat terbaik yang pernah aku dengar seumur hidupku." Josephine mendengar Calvin tertawa pelan. "Kau pasti lelah ya?" tanya Calvin Josephine mengangguk, "Iya. Sangat." "Tidurlah. Kau bisa percaya padaku. Aku tidak akan melakukan sesuatu diluar batas." Josephine merasakan tubuhnya melemas. Dirinya sudah bersandar sepenuhnya pada pria itu. Perlahan, kedua matanya tertutup. "Apa yang kau berikan padaku, Calvin? Kenapa aku mengantuk?" gumam Josephine "Tidak ada. Aku hanya memberimu apa yang mungkin kau butuhkan. Pelukan hangat dan sebuah dukungan." balas Calvin sambil mengelus pelan rambut lembut Josephine dengan tangan besarnya Sesaat setelahnya, nafas Josephine mulai teratur. Perempuan itu sudah terlelap sepenuhnya ke dunia mimpi, mempercayakan dirinya sepenuhnya pada Calvin. "Kau hebat, Josephine. Kau membuatku bertekuk lutut seperti ini. Entah apa yang kau lakukan, tapi... aku tertarik padamu. Bukan sebagai teman. Melainkan sebagai seorang pria." Pria itu menunduk, memanggil Beta nya yang sejak tadi berdiri dibalik pepohonan. "Bawa sepasang sepatu itu." perintah Calvin "Alpha, kau akan membawanya kemana?" "Mungkin ke rumahku. Kau lihat keadaan nya tadi? Dia terlihat kuat, namun disaat yang sama juga terlihat sangat rapuh. Aku tidak bisa membiarkan perempuan seperti nya tinggal dengan orang orang seperti itu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN