"Stop, Alen!" Viona mendorong tubuh sang suami yang berada di atasnya. "Kau buru-buru mengejar pelepasan sendiri. Aku gak nyaman sama permainanmu."
Wanita itu memasang muka masam, kekesalan tergambar jelas pada raut wajahnya. Niatnya ingin memadu kasih bersama harus pupus akibat ulah Alendra.
Alen menggulingkan tubuh dengan kasar di samping sang istri. Dia memilih memejamkan mata dengan satu lengan bertumpu pada wajah. Sebenarnya, dia pun merasakan hal yang sama. Gairahnya mendadak hilang. Dia tidak tertarik lagi melihat kemolekan tubuh sang istri. Meskipun Viona telah berulang kali menggoda dengan tubuh polosnya. Jika bukan karena paksaan sang istri, dia tak berminat bercinta malam ini.
"Apa aku gak menarik lagi di matamu, Alen?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir wanita itu.
Keadaannya masih sama seperti beberapa menit yang lalu, tidak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.
Alendra hanya diam tak tahu harus menjawab apa. Dia sendiri juga bingung dengan keadaannya. Semenjak peristiwa malam itu, dia tidak tertarik lagi untuk berhubungan dengan siapa pun. Bayangan tubuh mungil Liora selalu membayangi pikiran. Dia berusaha mengenyahkan bayangan itu. Namun, semakin dia mencoba bayangan itu terlihat semakin nyata.
Viona tersenyum kecut. Kebungkaman suaminya telah menjawab segalanya.
"Apa wanita itu yang membuatmu seperti ini?"
"Sudahlah, Vio! Ini sudah malam. Sebaiknya kita tidur daripada berdebat." Alendra berbalik memunggungi sang istri.
"Masalah kita tidak akan selesai kalau kamu terus-terusan menghindar, Alen! Aku capek bertengkar terus sama kamu," ucap wanita itu dengan nada tinggi.
Satu minggu berlalu sejak peristiwa pagi itu, hubungan keduanya belum juga membaik. Tiada hari bagi mereka tanpa perdebatan atau pun pertengkaran. Viona dengan sikap arogannya selalu berhasil memancing amarah sang suami, sedangkan Alendra dengan sikap abainya selalu berhasil menghindar.
"Kamu yang memulai. Aku menghindar agar kita tidak bertengkar," sahut Alen tanpa membalikkan tubuh.
Jawaban itu berhasil memantik api amarah dalam diri Viona. Dia bergegas turun dari tempat tidur, lalu mengenakan kembali lingeri yang teronggok di lantai. Hasrat yang tak bisa dikeluarkan berhasil membuat dirinya uring-uringan.
Balkon kamar tempat yang dituju untuk mendinginkan pikiran. Dia membiarkan dinginnya terpaan angin malam menembus kulit putihnya.
"Lama-lama aku bisa gila kalau seperti ini tiap hari," gerutunya seraya menyalakan sebatang cerutu, lalu menghisapnya. Kepulan asap nikotin itu ia biarkan membumbung tinggi ke udara hingga tak berbekas.
Sebelumnya dia akan sembunyi-sembunyi melakukan kegiatan ini. Namun, tidak untuk kali ini. Dia tidak peduli jika Alen akan mengetahui kebiasaannya.
"Percuma aku minta tinggal terpisah. Toh, tinggal terpisah atau seatap nyatanya sama saja. Nenek tua itu selalu merecoki hubungan kami." Viona berucap seorang diri mengungkapkan kekesalannya.
Dulu, pada awal pernikahan, Alendra mengajaknya untuk tinggal bersama kedua mertuanya dengan alasan mereka sudah tua, tidak tega meninggalkan mereka jauh dari pengawasan. Viona tidak mempermasalahkan hal itu, selama keinginannya selalu terpenuhi dan tidak menuntut banyak hal yang memberatkan dirinya.
Wanita itu bukan tidak ingin memberi keturunan untuk sang suami. Dia pun ingin menjadi wanita sempurna, tetapi tidak saat ini. Dia punya alasan kuat yang tidak bisa dijelaskan. Namun, untuk saat ini, dia ingin fokus pada karirnya di bidang entertain terlebih dulu.
Lambat laun keadaan Viona yang tak kunjung hamil selalu dipertanyakan oleh ibu mertuanya, terlebih usia pernikahan mereka telah menginjak tahun kelima. Awalnya, ia mengabaikan, tetapi semakin dibiarkan keinginan ibu mertuanya semakin menjadi hingga membuat dirinya tidak nyaman. Akhirnya, ia memaksa sang suami untuk tinggal terpisah.
***
Alendra perlahan bangkit saat menyadari sang istri tidak berada di sisinya. Dia bergegas menuju lemari pakaian, mengenakan pakaian secara acak, merapikan sedikit penampilan yang terlihat berantakan sebelum akhirnya keluar kamar.
Sebuah mobil mewah telah disiapkan sopir di depan mansion atas perintah Alendra. Sopir pribadi menawarkan diri. Akan tetapi pria itu menolak dengan berkata, "Sedang ingin berkendara sendiri".
Perlahan mobil yang dikendarai Alendra mulai melaju hingga menghilang di balik gerbang yang menjulang. Dia berkendara dengan kecepatan sedang.
45 menit berlalu, mobil hitam itu tiba di sebuah rumah mewah bergaya eropa klasik. Setelah menyerahkan urusan mobil pada penjaga, Alen melenggang masuk begitu saja, bahkan mengabaikan sapaan para pelayan yang ia lalui.
"Al, kamu datang malam-malam begini? Mana istrimu?" Sapaan seorang wanita berusia 50 tahunan menghentikan langkahnya. Wanita itu tampak melongok ke sana kemari barangkali menantunya tertinggal di belakang.
"Di rumah," jawab Alendra singkat, kemudian melanjutkan kembali langkahnya menuju lift yang akan membawa ke kamarnya.
Merlin menghela nafas panjang, kedatangan Alendra seorang diri pada larut malam seperti ini tentu bukan sesuatu hal yang baik. Firasatnya sebagai seorang ibu mengatakan jika hubungan anak dan menantunya sedang tidak baik-baik saja.
"Ada apa, Ma?" Wijaya—sang suami mendekati sang istri yang terlihat murung di depan lift.
"Alen datang," sahutnya lemah.
"Lah, terus? Ya, biarin dia berkunjung. Ini juga rumahnya."
Merlin hanya menjeling ke arah suaminya. Pria tua itu selalu menganggap remeh keadaan. Apa dia tidak merasa aneh saat putra mereka berkunjung pada larut malam seperti ini? Namun, pertanyaan itu hanya mampu terucap dalam hati.
"Bukan begitu, Pa. Alen datang sendirian, tengah malam lagi. Mbok ya, jadi orang itu peka sedikit. Jangan dikit-dikit nanya!" Merlin berucap ketus khas dengan logat jawanya.
"Halah, Ma ... kayak gak tau kebiasaan itu anak. Paling mereka bertengkar cuma sehari dua hari, nanti juga akur lagi." Wijaya tak ingin ambil pusing dengan permasalahan rumah tangga putranya. Pria baya itu justru melanjutkan langkah menaiki tangga dengan membawa serta secangkir kopi yang sengaja ia bawa dari dapur.
Berbeda dengan sang suami yang terlalu mengabaikan, Merlin justru merasakan hal yang berbeda. Dia merasa ada yang tidak beres. Firasatnya mengatakan, masalah yang dihadapi anak dan menantunya adalah masalah yang tak biasa.
Demi memutus rasa penasaran, wanita itu bergegas menuju kamar putranya. Dia harus mengetahui permasalahan putranya daripada tidak bisa tidur nyenyak.
"Al, sudah tidur?" Suara nyaring Merlin beradu dengan suara ketukan pintu.
"Boleh mama masuk?" tanyanya lagi.
Pintu perlahan terbuka menampilkan sosok pria dengan wajah datarnya.
"Boleh mama masuk?" Merlin mengulang pertanyaannya.
Alendra membuka pintu lebih lebar memberi jalan untuk sang ibu. Dia membiarkan ibunya untuk masuk lebih dalam ke ruang pribadinya.
"Sini duduk!" Merlin menepuk sisi kasur di sampingnya.
Tanpa banyak berkata, dia menuruti perintah ibunya.
"Apa masalahmu gak bisa dibicarakan berdua sampai main kabur-kaburan begini?"
Alendra menunduk dalam, mulutnya terkatup rapat enggan untuk menjawab. Helaan nafas panjang terdengar dari mulut wanita itu.
Untuk sesaat terjadi keheningan antara ibu dan anak itu, hingga tak lama kemudian Merlin kembali bersuara, "Apa keinginan mama yang memicu pertengkaran kalian?"
Alendra mengusap kasar wajahnya. "Bukan cuma mama, aku juga mau punya keturunan. Tapi Viona selalu menolak padahal aku sudah memenuhi semua keinginannya."
Merlin menatap iba putra semata wayangnya. Keinginan itu bukanlah masalah besar, setiap pasangan suami istri pasti mendamba kehadiran anak. Tapi kenapa menantunya masih berkeras hati seperti ini? Apa kandungan Viona bermasalah?
"Kalau istrimu gak bisa ngasih anak, kamu bisa mendapatkannya dari wanita lain."
Alen sontak mengangkat kepalanya, menatap lekat sang ibu. "Tapi, aku gak bisa menceraikan Viona, Ma. Aku masih sangat mencintainya.”
Merlin merasa jengah mendengar jawaban putranya.
"Mama gak minta kamu cerai sama istrimu. Mama izinkan kamu buat nikah lagi, Al. Mama gak masalah punya menantu lebih dari satu. Asal kamu bisa punya keturunan untuk meneruskan bisnis keluarga ini."