Bab 7. Bahagia dan Sedih Menyatu

1117 Kata
"Mana sih? Kok tumben lama banget." Liora tampak resah menunggu di sebuah halte yang berada tak jauh dari kantor. Taksi yang dia pesan sejak setengah jam yang lalu tak kunjung tiba, padahal jarum jam menunjukkan malam yang semakin larut. Berulang kali, wanita itu melihat arloji dan jalan secara bergantian. Namun, nihil. Tidak ada tanda-tanda sebuah mobil berhenti di depannya. Terbesit niatan untuk membatalkan. Namun, niat itu kembali urung saat mengingat kantor telah tutup dan semua temannya sudah pulang termasuk Inka. Timbul sebuah penyesalan dalam hati karena tadi sempat menolak tawaran Inka yang ingin memberinya tumpangan. "Tau gini tadi terima aja tumpangan Inka." Liora menghembuskan nafas kasar karena mulai lelah menunggu. Wajah wanita itu kembali murung. Ingatannya tiba-tiba mengembara tertuju pada sang kekasih. Biasanya bila sedang lembur seperti ini, Marco akan siap siaga untuk menjemput, bahkan menunggu hingga pekerjaannya selesai. Sekumpulan kristal bening bergerumul di pelupuk mata. Dia merasa sangat emosional setiap kali memgingat kekasihnya. Satu bulan berlalu, hingga kini pria itu tidak ada kabar sama sekali. Bahkan ratusan pesan yang dia kirimkan keseluruhan hanya centang satu. Sampai kapan hubungan mereka akan menggantung seperti ini? Seandainya, dia mengetahui keberadaan sang kekasih, tentu akan mendatangi tempat itu untuk meminta penjelasan. Dia akan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan seperti Marco yang selalu mencecarnya setiap tidak ada kabar. Tak jauh darinya, sepasang mata tajam sejak tadi memerhatikan awas gerak-geriknya di dalam mobil. Manik tajam itu perlahan memicing kala melihat samar-samar jika gadis di depan sana terlihat menggerakkan tangan mengusap mata. "Apa dia menangis? Cengeng sekali. Nunggu taksi gak datang-datang sampai nangis," gumamnya. Akan tetapi, tak ada niatan sedikit pun bagi Alendra untuk menghampiri. Biarlah dirinya mengamati pergerakan Liora dari kejauhan. Sejak beberapa hari terakhir pria itu memang sering menguntit pergerakan Liora hingga ke rumahnya. Netranya kembali memicing kala melihat sebuah motor sport berhenti tepat di depan gadis itu. Dia memasang sikap waspada sekaligus bersiap-siap dengan menyalakan mobil. Kedua tangannya telah siap di balik kemudi dan pedal gas pada kakinya. Dia akan langsung tancap gas ketika ada yang berniat buruk pada Liora. Namun, sedetik kemudian dugaannya ternyata salah. Liora tampak memeluk pengendara motor itu. "Siapa dia?" *** "Marco, kamu kemana saja?" tanya Liora seraya mengeratkan dekapan pada pria itu. "Aku mengirimkan banyak pesan ke nomormu, tapi semua centang satu," keluhnya lagi disertai wajah yang masam. Kedua matanya pun tampak memerah menahan tangis. Sehingga beberapa menit kemudian, buliran bening itu luruh membasahi pipinya. Marco melerai dekapan itu. Wajah wanita yang sangat dia cintai tampak basah oleh air mata. Jemarinya tergerak menghapus kristal bening itu. "Ssst, tenang ya ... maafin aku. Aku mendadak harus ke pedalaman desa. Ada masalah sama proyek pembangunan jembatan di sana. Kamu tau sendiri 'kan di sana susah sinyal? Sekali lagi maafin aku ya ... udah ninggalin kamu lama tanpa kabar." Liora hanya mengangguk, tak menyangka akan seemosional ini berhadapan dengan kekasihnya. Dia sempat mengira jika seseorang yang tiba-tiba berhenti di hadapannya tadi seorang begal atau penculik. Dia sudah memasang kuda-kuda untuk berlari saat pria itu turun dari motor, lalu mendekatinya. Namun, ternyata dugaannya salah. Pria di balik helm full face itu adalah sosok yang selama ini ia nantikan kehadirannya. Liora tak dapat membendung perasaannya. Setelah mengetahui bila itu sang kekasih, dia langsung menghambur dan memeluknya dengan erat. "Kamu tau dari mana aku lembur?" "Siapa lagi?" jawab Marco disertai senyum jahilnya. "Inka?" "Yup." "Nyebelin! Bukannya aku duluan yang dihubungi malah cewek lain," sungutnya seraya memukul lengan itu bertubi-tubi. "Kalau aku hubungi kamu duluan, gak jadi surprise, dong ...." Marco segera menangkap kedua tangan itu. "Nyebelin! Kamu nyebelin." Bibir wanita itu masih manyun disertai wajah masam. "Oh, jadi gak suka nih ... aku datang." "Suka tapi kamu nyebelin." Karena gemas melihat bibir bebek itu, Marco segera mengecupnya tanpa permisi. "Marco!" pekik Liora, netranya memerhatikan keadaan sekitar berusaha memastikan tidak ada yang melihat aksi kekasihnya. "Udah, jangan manyun terus! Mau jalan-jalan, gak?" Liora mengangguk dengan antusias, dibonceng pria ini dengan motor sport-nya adalah sesuatu yang sangat dia suka. Selain lebih dekat, posisi mereka juga terlihat mesra. Keduanya telah bersiap pada posisi masing-masing. Marco memasangkan helm pada wanita itu. Deru mesin motor terdengar mengerung di tengah kesunyian. Tak lama setelahnya, satu tarikan gas berhasil membawa sepasang kekasih itu melesat meninggalkan tempat itu, bahkan melewati mobil Alendra yang sejak tadi terparkir mengintai posisi Liora. Alendra mencengkeram kuat setir kemudi. Ada rasa panas menjalar dalam d**a saat melihat kemesraan mereka. Sudut hatinya seolah memberontak tidak terima melihat Liora disentuh pria lain. "Ada apa denganku? Gak mungkin aku cemburu." *** "Marco, i-ini?" Mata Liora berkaca-kaca melihat sebuah cincin tersemat pada jari manisnya. "Iya, aku melamarmu. Aku ingin kamu jadi istriku." Mulut wanita itu terkatup rapat, rasa bahagia dan sedih menjadi satu. Bahagia karena sesuatu yang ia nantikan akhirnya terwujud, sedih kala mengingat keadaan dirinya yang sudah tidak perawan lagi. Akankah Marco bisa menerima keadaannya dengan legowo? Liora tak bisa membayangkan betapa kecewanya pria itu ketika mengetahui semuanya suatu saat nanti. "Hei, kok nangis? Kamu gak suka?" Liora segera menyeka air matanya. "Aku suka, sangat menyukainya. Aku terharu, gak nyangka dapat kejutan bertubi-tubi dari kamu." Kedua sudut bibir pria itu melengkung membentuk segaris senyum manis. Kebahagiaan wanita itu turut menular kepadanya. ''Nangisnya udahan dulu. Perut aku laper. Makan dulu, yuk! Kayaknya pesanan kita udah datang," ajak Marco untuk menyudahi kejutan yang mengharu biru ini. Kebetulan saat ini mereka berada di sebuah restoran dekat pantai. Itu pun atas permintaan Liora. Wanita itu mengatakan ingin mencari tempat romantis untuk sekaligus mencari makan. Setelah memesan makanan, Marco sengaja mengajak Liora ke pinggiran pantai berniat untuk memberi kejutan yang tertunda. Lamaran ini memang telah ia rencanakan sejak lama. Namun, tertunda karena Liora tidak datang saat unniversary hubungan mereka. Liora mengangguk diiringi senyum manisnya. Keduanya menuju ke tempat mereka semula. Marco menatap lapar berbagai hidangan laut yang tersaji di depan mereka. Pria itu segera mencuci tangan, lalu menyendok nasi dan mengambil ikan bakar beserta sambalnya. Ekspresi yang ditunjukkan Marco sangat kontras dengan mimik wajah yang ditunjukkan Liora. Dia terlihat seperti tidak selera, terlebih bau amis ikan bakar di depannya tercium sangat menyengat di hidung. Sehingga membuat dirinya mual padahal bumbu pada ikan tersebut terlihat pekat. Beruntung, dia masih bisa menahannya. Wanita itu memilih mengambil selada air dan timun yang dicocolkan ke sambal. Tak ada niatan sedikit pun untuk menyentuh ikan bakar dan hidangan laut lainnya. "Lio, kok cuma ambil sayur? Ah, aku tau kamu nggak mau tanganmu bau, 'kan? Sini aku suapin!" Marco menyodorkan tangan yang berisi nasi beserta ikan bakar yang telah terlumuri sambal. Liora ingin menolak, tetapi tak kuasa karena sodoran itu berada tepat di depan mulutnya. Dengan penuh keterpaksaan dia membuka mulut dan menerima suapan itu. Rasa mual yang dirasa sejak tadi semakin tak tertahankan. Dia segera berlari menjauh untuk mengeluarkan semua isi perutnya. "Lio, kamu kenapa, Sayang?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN