Bab 8. Menyangkal Dugaan

1025 Kata
Marco yang melihat itu segera mencuci kedua tangannya, lalu bergegas menyusul kekasihnya ke toilet restoran tersebut. Liora tengah memuntahkan semua yang baru saja dimakan. Tanpa rasa jijik, Marco memijat tengkuk gadis itu dan membantu membersihkan sisa cairan yang ada di bibirnya. "Lio, kamu kenapa, Sayang?" tanya Marco dengan raut penuh kekhawatiran. Liora hanya menggerakkan tangan sebagai isyarat bahwa dirinya baik-baik saja. Rasa lemas membuatnya tidak sanggup untuk bicara. "Sudah selesai belum?" Liora mengangguk sebagai jawaban. Wajahnya terlihat sangat pucat. Tanpa menunggu persetujuan, Marco segera memapah gadis itu untuk kembali ke tempat mereka. Namun, saat melewati dapur bau bakaran dari asap ikan tercium ke hidung Liora. Rasa mual yang semula hilang kembali muncul disertai dorongan kuat dari dalam perutnya. Liora melepas paksa tangan sang kekasih, lalu berlari menuju toilet untuk memuntahkan kembali isi perutnya. Berbeda dengan yang tadi, kali ini yang dia keluarkan hanya berupa air. Gadis itu menyandarkan tubuh pada dinding untuk menetralisir debaran jantungnya serta memulihkan kembali tenaga. "Mas, istrinya di dalam udah selesai belum? Saya kebelet soalnya." Suara seorang wanita dari arah luar mengalihkan perhatian Liora. Sadar akan posisinya saat ini, Liora segera membersihkan bekas muntahan, lalu keluar dengan sisa tenaga yang dimilikinya. "Sudah, Bu. Maaf, ya sudah buat ibu menunggu," ucap Liora ketika membuka pintu toilet. "Mbaknya habis muntah, ya? Pucat gitu mukanya," tebak wanita itu. Liora hanya mengangguk pelan diiringi senyum canggung. "Gak tahan nyium bau bakaran ikan sampai mual begini, Bu." "Si embak lagi hamil, ya ... yang mbak alami ini persis yang saya alami dulu sewaktu hamil anak pertama. Paling gak bisa nyium ikan bakar. Semoga sehat-sehat ya ibu dan bayinya." Ucapan wanita itu berhasil membuat Liora menegang. Dia berusaha mengenyahkan prasangka itu. Wanita itu sibuk dengan pikirannya sendiri, hingga mengabaikan keberadaan sang kekasih. "Lio, kamu kenapa, sih? Setelah mendengar ucapan ibu-ibu tadi kamu jadi aneh." Suara Marco menarik paksa kesadarannya. "Jangan bilang kamu beneran hamil?" sambungnya dengan mata memicing. Tidak hanya Liora, Marco pun merasa terganggu mendengar ucapan wanita tadi. "Ngaco! Emang kamu udah DP ke aku? Aku cuma masuk angin gegara telat makan, ditambah lagi suhu AC di ruanganku tadi terlalu dingin." Marco berusaha mempercayainya, meski timbul perasaan ganjil dalam hati. Alasan wanita itu masih bisa diterima oleh akalnya. Sejak dulu, Liora memang tidak bisa telat makan dan berada di ruangan terlalu dingin. Bila sampai itu terjadi, dia akan mudah masuk angin seperti sekarang ini. "Kamu kalau mau lanjut makan, silakan!. Kepalaku terlalu pusing, aku tunggu di luar." "Kita pulang! Aku gak mau kamu sakit. Biar makanan tadi dibungkus aja," putus Marco. *** Sesampainya di rumah, Liora segera masuk ke dalam kamar. Dia ingin merebahkan tubuh sebab kepalanya masih terasa berputar. Sementara Marco hanya singgah sejenak. Pria itu segera berpamitan setelah memberikan bingkisan yang dipesan di restoran tadi kepada Adelyn. Wanita paruh baya itu terlihat sumringah melihat kedatangan kekasih putrinya. Dia bahkan menyambutnya dengan ramah dan menganggap Marco layaknya putra sendiri. Adelyn sempat menawarkan untuk masuk dan minum teh terlebih dulu. Namun, tawaran itu ditolak dengan halus. Dia beralasan 'harus segera pulang karena ditunggu ibunya di rumah'. "Liora, kamu kenapa? Pulang kantor kok lemes gitu." Adelyn menghampiri putrinya yang tengah beristirahat di kasur. "Aku gak apa-apa cuma masuk angin aja, Bu," sahut gadis itu lemah, matanya tampak terpejam dengan memeluk guling. Karena merasa khawatir, Adelyn segera meraba kening putrinya yang memang terasa hangat. Dia menduga Liora kelelahan. "Ya udah kamu istirahat, jangan lupa minum obat! Besok kalo gak enak badan gak usah masuk dulu." Liora hanya mengangguk menanggapi ucapan ibunya. "Tapi, kamu udah makan, 'kan? Kalo belum biar ibu bawain kesini. Kebetulan tadi Marco bawa makanan banyak." "Udah, Bu ...." Adelyn mengangguk sebelum akhirnya menutup pintu kamar. Liora tidak benar-benar tidur. Kepalanya memang terasa sangat pening, tetapi dia kesulitan untuk menyusuri alam mimpi. Ucapan wanita di depan toilet tadi kembali terngiang dalam ingatan. Dia segera bangkit, lalu meraih kalender kecil yang berada di atas nakas. Matanya membelalak sempurna saat mendapati kalender bulan ini masih bersih, tidak ada coretan spidol seperti pada bulan-bulan sebelumnya. Liora masih berusaha untuk tenang. Dia beralih membuka laci paling atas, tempat stok pembalut bulanannya berada. Satu kotak penuh masih utuh dan tersegel rapi. Kegelisahan tiba-tiba merasuk dalam pikirannya. Berbagai dugaan bergelayut dalam benaknya. Namun, ia segera menepisnya. "Gak ... gak mungkin! Bisa aja bulan besok bulananku datang. Biasanya 'kan emang gitu gak lancar." Wanita itu berusaha menenangkan pikirannya sendiri. Sebagai pembuktian jika dugaannya salah, besok dia berencana membeli alat tes kehamilan di apotik. "Tenang, Liora! Besok kita buktikan kalau sangkaanmu salah." *** Keesokan paginya Liora berangkat ke kantor lebih pagi dari biasanya. Sebelum menuju kantor, dia menyempatkan diri untuk mampir terlebih dulu ke apotik. Dia benar-benar merealisasikan rencananya semalam. Tidak tanggung-tanggung, wanita itu membeli beberapa jenis alat tes kehamilan mulai dari yang biasa hingga ke harga yang termahal. Setelah dari apotik, Liora langsung melanjutkan perjalanannya menuju kantor. Waktu masih pagi saat ia sampai, suasana kantor masih terlihat lengang hanya beberapa OB yang lalu lalang melaksanakan tugasnya. "Ini waktu yang tepat, mumpung sepi aku gunakan kesempatan sebaik mungkin." Wanita itu segera berlari menuju lift, kebetulan hanya dia seorang dalam lift tersebut. Namun, pada saat pintu hendak tertutup seseorang menerobos masuk dan berdiri di samping Liora. Liora sontak merasakan mual saat mencium parfum orang tersebut. Dia segera mengipasi bau itu dengan tangan berharap baunya bisa sedikit mereda. Beberapa kali pula, dia tampak bernafas melalui mulut agar tidak mencium bau-bau menyengat lagi. Dia sendiri heran, kenapa akhir-akhir ini hidungnya sangat sensitif? Waktu yang semestinya hanya beberapa menit terasa lebih lama bagi Liora. Beruntung, lantai yang dituju tersisa satu lantai lagi. Suara dentingan lift bak angin segar bagi gadis itu. Tak menunggu lama, dia bergegas keluar dengan tangan membekap mulut seraya berlari ke kamar mandi. Lagi dan lagi, dia harus memuntahkan semua sarapannya saat itu juga. "Sial! Perutku kosong lagi," gumamnya di sela nafas yang terengah. Tangannya mencengkeram kuat pinggiran wastfel sebagai sandaran tubuh. "Tenang, Lio! Ini hanya asam lambung yang kambuh bukan seperti dugaanmu." Liora segera mengeluarkan benda yang dibeli tadi. Dia akan mengetesnya saat itu juga di dalam kamar mandi. Kini, wanita itu telah siap dengan cawan kecil berisi cairan kekuningan miliknya. Hatinya merasa was-was menunggu hasil yang hendak keluar dari alat berbentuk pipih itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN