19

1255 Kata
Hari ini bagaimanapun Kael tidak akan membiarkan Kaena di dekati siapapun. Walaupun sejak tadi dia terus saja menerima panggilan dari sang ibu tapi tetap saja gerak-gerik Kaena masih dalam pengawasan Kael. “Kalian harus kemari, tidak mungkin tidak hadir di acara pertunangan Claron.” “Bu, kami sibuk dan baru saja selesai masa orientasi. Bagaimana bisa kami ke sana begitu saja, aku rasa keluarga akan tetap mengerti.” “Kael.” Kaena menatap tangan pria yang menahan dirinya keluar dari bathtub. Dia masih sibuk bicara dengan ibu, sedangkan Kaena sudah mulai merasa tak nyaman. “Aku akan bicara lagi pada ibu nanti, tapi saat ini aku harus segera mematikan panggilan ini.” “Kenapa di matikan? Ibu masih ingin bicara denganmu, apa kau benar-benar tidak ingin bicara pada ibu lagi? Sekarang sudah saatnya kau bersikap lebih dewasa, Kael.” “Oke!” jawabnya sembari mematikan panggilan tersebut tanpa permisi sedikit pun. “Kau mau kemana, Kaena?!” Kael kembali memeluk wanitanya sangat erat di dalam bathtub yang penuh dengan busa. Bibir Kael tak henti menciumi leher Kaena yang gini sudah mulai terbawa suasana. “Bagaimana? Apa kita bisa melakukannya lagi? Aku mohon.” Kaena menggeleng, Dia mengusap wajah Kael yang kini memuja dirinya. “Tidak Kael, kita tidak boleh melakukannya lagi. Apa yang pernah terjadi di antara kita adalah sebuah kesalahan.” Kael yang tak suka mendengar jawaban Kaena langsung berdiri dan keluar dari Bathtub. “Apa maksudnya sebuah kesalahan, Kaena? Kau dan aku sama-sama sadar ketika kita melakukannya pertama kali. Apa kau lupa itu?!” “Aku tidak melupakannya barang satu menit pun. Tapi kita salah! Kita ini saudara kembar, bagaimana bisa kita melakukan perbuatan di luar norma masyarakat. Aku tidak bisa meneruskannya. Kau dan aku harus sama-sama bahagia.” Kael tak peduli dengan apa yang Kaena katakan saat ini. Dia hanya fokus pada shower yang kini membasahi tubuhnya. Kaena tak perlu mengatakan apapun tentang hubungan mereka. Karena Kael sangat paham, dan dia tak ingin semua ini menjadi penghalang perasaan mereka. “Aku sudah ke psikiater. Aku pikir kegilaan sudah menguasai diriku. Tapi nyatanya aku tak bisa melepaskan dirimu sama sekali. Bahkan aku tak menyesali apa yang pernah kita lakukan.” Kael memejamkan matanya, sedangkan Kaena hanya berusaha merenungi diri saat air hangat kembali mengisi bathtub tersebut. Mereka berdua sama-sama memejamkan mata, mengingat hal yang sama-sama pertama kali mereka lakukan. Hari itu hujan begitu deras, di ulang tahun mereka yang ke 16 kedua orangtua mereka mengajak ke sebuah Villa yang sangat sejuk dan dingin. Kael tak menyapa Kaena sama sekali karena sebuah kesalahpahaman. Kael pikir Kaena berpacaran dengan kakak kelas padahal itu tidak terjadi sama sekali. Kaena sangat memegang janjinya. Mereka berdua sama-sama tak ingin berpacaran dan akan fokus pada nilai-nilai yang akan di peroleh saja ke depannya. Namun semua itu menjadi sebuah alasan bagi Kael untuk memonopoli Kaena. Bukan hanya pacar, dia pun tak boleh Kaena berkenalan dengan pria lain. Kaena yang semakin lama kesal dengan tingkah Kael pun akhirnya berontak dan mereka berdua seolah melakukan perang dingin selama berhari-hari. “Kael, Kaena. Ibu dan ayah kalian ada keperluan mendadak. Paman Rey tiba-tiba jatuh sakit! Jadi maafkan ibu dan ayah, kalian tetap di sini bersenang-senang dan kami akan berangkat saat ini juga.” Kael mengangguk, begitu juga Kaena. Paman Rey adalah saudara kandung ibu satu-satunya saat ini yang masih ada. Jadi ibu pasti sedih dan tak mungkin bersenang-senang di sini bersama mereka berdua. “Hati-hati di jalan, Bu.” “Kalian tetap makan, dan jangan lupa tidur lebih cepat. Pengurus rumah tangga akan datang besok sore. Kalian bisa makan yang sudah kita beli tadi, kalian tahu harus melakukan apa, bukan? Kaena jangan lupa masak yang enak untuk Kael. Untung saja kita sudah selesai tiup lilin.” “Pergilah Bu, kami akan sangat baik-baik saja.” Karina melambaikan tangannya, dengan helikopter dia menuju bandara. “Kalian anak baik, jadi jangan bertengkar ya! Berbaikanlah.” Kaena dan Kael saling menatap, kini mereka pun mulai saling menuduh satu sama lainnya. Mereka mulai berpikir salah satu pasti ada yang mengadu pada ibunya, padahal Karina sebagai ibu sangat paham kalau mereka berdua dalam sebuah masalah. Bagaimana mungkin dia tak sadar saat mereka yang begitu akrab, namun beberapa hari tak saling menyapa. “Apa yang kau katakan pada ibu, Kaena.” “Bukannya dirimu yang mengadu, wahai manja?!” Kael tidak suka saat Kaena meledek dirinya seperti ini. “Hey, apa yang kau katakan barusan? Apa kau sedang mengejekku? Aku tidak manja dan kau bukan wanita yang bisa mempertahankan kalimat.” Kaena menatap Kael yang berjalan menjauh dari dirinya. “Apa salahku? Aku tidak tahu, Kael? Aku bahkan tidak tahu siapa senior itu! Jadi jangan menuduhku sembarangan.” “Hah, kau selalu saja mengatakan hal konyol padaku. Jelas-jelas tadi kalian sama-sama bicara. Bagaimana mungkin kau tidak mengenalnya sama sekali.” “Huh, bagaimana aku menjelaskan semua ini padamu? Dia datang ke kelas, mengajakku ke kantin dan aku menolak karena masih ada tugas yang belum aku selesaikan. Semua anak-anak ke kantin dan tinggal kami berdua, dia bertanya apa aku sudah punya pacar dan saat ini kau juga masuk ke dalam kelas.” “Hah, bohong! Aku tidak percaya padamu sama sekali. Dasar tidak jelas, aku tahu kau selalu berusaha mencari alasan.” Kaena terdiam sejenak, dia tidak ingin membuat Kael semakin marah padanya tapi pria itu tak berhenti bicara sejak tadi. Cetar, hujan lebat dan petir menyambar. Lampu padam dan mereka berdua sama-sama terkejut. Kael yang tahu Kaena takut gelap dan petir pun meraih tangannya dan memeluk Kaena sangat erat. “Sini, jangan takut! Ada aku di sini.” Kaena mengangguk, “Terimakasih Kael, aku sangat takut. Kenapa lampunya belum menyala juga? Apa tak ada cadangan untuk menghidupkan listrik?!” “Kaena, kau tunggu di sini sebentar biar aku yang mencari tempat listriknya. Mungkin ada yang konsleting!” “Jangan, di sini saja bersamaku! Aku mohon…” “Kalau begitu kita naik saja ke atas, kita tunggu lampunya hidup di kamar saja. Bagaimana?! aku rasa lebih baik kau tidur saja sekarang!” “Temani aku…” Kael mengusap rambut Kaena pelan dan mencium keningnya. “Ayo naik.” Suara petir menyabar saling bersahutan, rintik hujan terdengar semakin deras. Kaena pun semakin erat memeluk Kael, hingga pria itu agak sulit bernapas. “Kael…” “Hm…” “Maafkan aku, apa kau benar-benar tidak percaya dengan apa yang aku katakan?! aku dan senior itu tidak ada urusan sama sekali. Aku tidak berbohong padamu.” Dalam remang Kaena menatap wajah Kael. Hanya lampu ponsel yang membantu mereka saat ini. Dengan jari telunjuk Kaena meraba wajah Kael. “Kaena.” “Ya?!” Kael tidak menjawab lagi karena dia sejak tadi sibuk mengatur napas yang kini mulai tidak menentu. Jantungnya berdebar sangat kuat, hingga Kaena mungkin bisa mendengar dengan sangat jelas. “Jangan sembarangan menyentuhku.” “Kenapa Kael? Kau dan aku kembar! Walau wajah kita tak mirip sama sekali. Aku punya hak menyentuhmu seperti ini!” Kael menahan tangan Kaena. “Berarti aku juga punya hak menyentuh dirimu seperti ini!” Tangan Kael masuk ke dalam pakaian yang Kaena gunakan. Perlahan jari jemarinya membelai lembut perut datar Kaena yang banyak di kagumi para gadis di sekolah. “Kael, jangan lakukan itu! Aku merasa tidak nyaman.” Kaena tak sengaja mendesah dan tentu saja membuat Kael b*******h. Dia memang masih berumur 16 tahun tapi dia memiliki postur yang sungguh luar biasa. “Kenapa tidak nyaman? Kita sudah dewasa dan bagiku ini sama dengan apa yang kau lakukan tadi. Aku punya hak menyentuhmu.” “Kael jangan lakukan itu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN