Dengan handuk di pinggang Ron keluar dari kamar mandi. Dan alangkah terkejutnya dia saat melihat siapa yang kini berada di hadapannya. Zea… gadis kecil yang selalu berada dalam ingatannya.
Gadis yang membuatnya berantakan seperti orang gila dan berakhir pada ranjang dan wanita berbeda setiap harinya. Gadis yang membuat dirinya tidak bisa menahan gairah.
“Kak…”
Ron langsung mundur satu langkah saat Zea maju mendekatinya.
“Di sana saja Zea, aku tidak bisa bicara padamu lebih dekat dari ini.”
Wajah Zea langsung berubah, “Kenapa?” dia tetap melangkah maju. “Katakan kenapa tak bisa bicara denganku lebih dekat? Apa yang kau lakukan sebenarnya kak? Aku meminta dirimu untuk menunggu! Aku masih kuliah dan sedikit lagi selesai, kenapa kau tak bisa melakukannya? Kita akan menghadapi semuanya bersama.”
Ron melempar handuk yang ada di tangannya ke sembarangan tempat, lalu dia duduk dengan menyilangkan kaki di sofa malas.
“Aku sudah bilang padamu, Zea. Aku tak berniat membangun rumah tangga. Pernikahanku dengan Sinar pun akan berakhir dalam waktu yang singkat. Kami sudah memiliki kontrak dan menandatangani bersama.”
“Hah..” Zea menghela napas. “Kau benar-benar tidak ingin menikah tapi malah melakukan pernikahan bersama wanita itu. Apa hubungan kita? Aku selama ini cukup tegas menghadapi semua orang, aku juga sudah menyiapkan diri untuk bertemu denganmu. Tapi apa yang kau lakukan malah hal gila seperti ini!”
Ron tidak mengatakan apapun, dia masih menunduk seribu bahasa! Mencoba mendengarkan apa yang Zea ingin katakan.
“Apa kau sudah selesai bicara?!”
Zea tahu Ron akan mengatakan hal yang menyakitkan. “Bicaralah sekarang, aku akan mendengarkan.” jawabnya duduk di hadapan Ron.
“Aku tidak mungkin menikah denganmu, Zea. Kenapa aku katakan seperti itu? Karena aku tidak ingin menyakiti dirimu. Selain itu aku sudah katakan bahwa kami hanya akan menghasilkan keturunan saja.”
Tubuh Zea rasanya lemas sekali, “Hah? Lakukan denganku saja! Aku bukan lagi gadis SMA yang tak bisa menentukan mana yang salah mana yang benar!”
Ron merebahkan kepalanya ke belakang. “Zea, ini tidak semudah yang kau pikirkan. Aku mencin-” Kalimat Ron berhenti, dia berteriak sembari meremas rambutnya. “Sudahlah Zea, aku tidak ingin menyakitimu. Aku tidak ingin kau menangis lagi karenaku!”
“Tapi aku sudah sakit dan menangis karenamu bertahun-tahun. Aku juga mencintaimu! Apa yang salah dari kita? Kita sama-sama memiliki perasaan dan aku sudah dewasa.”
“Tidak Zea, kau hanya terobsesi padaku.”
“Jadi kau akan tetap melakukan ini? Aku hanya ingin bertanya hal ini padamu.”
Ron mengangguk! Zea yang melihat itu mulai ingin menangis, dia berdiri! Beberapa kali dia menelan saliva menatap Ron yang membuang wajahnya. Air mata itu tak bisa berhenti, Zea tak ingin terlihat lemah tapi tetap saja tak bisa.
“Stop Zea, jangan menangis.”
Ron berdiri, dia menarik tangan Zea dan menghapus pelan. “Dengarkan aku! Kau gadis yang baik, sedangkan aku pria b******k yang tak ingin menikah sama sekali. Aku dan Sinar hanya kontrak.”
“Walaupun hanya kontrak aku tetap ingin melakukannya. Kau hanya boleh melakukannya denganku! Perasaan ini bukan obsesi, kau bisa merasakannya, kak!”
“Oh Tuhan Zea, apa yang kau pikirkan.”
“Hah,” dia kembali menghela napas. “Aku sudah katakan, aku ingin kita bersama seperti janjimu dahulu. Kau jadikan pernikahan Clara sebagai alasan tak siap! Kau membodohi dirimu sendiri, kak.”
“Zea, dengarkan aku! Semua ini adalah yang terbaik.”
Ron menatap mata Zea, tapi sayang dia terjebak di sana. “Terbaik katamu? Kau hanya melarikan diri.” Zea tak melepaskan mata Ron yang menatapnya begitu dalam. “Menunduklah, aku ingin menciummu.” Zea mengalungkan kedua tangannya di leher Ron dan memaksanya.
“Zea…”
“Aku ingin kau menciumku. Aku ingin kau melakukannya agar aku yakin hati ini hanya untukku dan aku akan berusaha mengambilnya kembali, meyakinkannya kembali, bahwa hanya aku yang boleh berada di sana. Aku akan menyingkirkan Sinar.”
Ron tanpa ragu langsung mengangkat tubuh Zea, dia mencium bibir gadis itu dengan rakusnya. Kedua kaki Zea kini sudah melingkar di pinggang Ron.
Sudah 3 tahun mereka tak bertemu, sudah selama itu mereka saling menunggu. Walau kini hati Ron di penuhi ketakutan karena sebuah ikatan pernikahan, tapi dia sangat yakin mencintai Zea sepenuhnya.
“Akh…”
Ron membuka kancing belakang gaun yang Zea gunakan dengan terburu-buru. Dia mencium kembali bibir Zea yang kini terbuka karena terengah-engah. Lidahnya mengoreksi setiap bagian mulut Zea.
“Ganti sandi!” ucap Ron agar pengaman pintarnya tak mengizinkan siapapun masuk ke dalam kamar saat ini. “Gunakan level 3.” sambungnya lagi.
Zea tersenyum, dia selalu kagum melihat pria yang ada di hadapannya saat ini. Tangan Zea mengusap lembut rahang keras milik Ron.
“Kenapa kau begitu keras pada dirimu sendiri? Aku mencintaimu, kak!” kini Zea yang menyambar bibir Ron pelan. Dia mengulum bibir seksi Ron hingga pria itu kini tak bisa menahan gairahnya.
“Zea, aku!”
Gadis ini lagi-lagi mengusap pelan rambut Ron. “Aku juga mencintaimu, aku selalu berusaha mengerti kak! Pertunanganmu 2 jam lagi dan keluarga sudah menunggu di bawah.”
Ron tak bisa melepaskan Zea saat ini, dia sudah begitu keras dan menegang. “Zea, kita masih punya waktu! Aku tidak bisa mengendalikan diriku.”
Zea yang kini bersandar di dinding dan masih dalam gendongan Ron menatap matanya sangat dalam. “Aku juga ingin melakukannya, tapi ingat ini hanya boleh satu kali karena waktumu tak cukup lagi.”
Jantung Ron berdebar, “bukankah kau datang untuk mengacaukan pertunangan in, Sayangi?!”
Zea mengangguk! “tapi aku sudah kembali berpikir. Ini juga bisa menjadi penguji perasaan kita! Jika hati ini hanya untukku, kau hanya bisa bersama denganku, dan memiliki anak bersama.”
Jantung Ron terasa sakit, dia melepaskan Zea dari gendongannya. “Aku tak yakin pada diriku sendiri.”
Zea menarik tangan Ron. “Ayo yakini hatimu, aku tak akan merusak apapun yang sudah kau putuskan, kak!”
Ron berbalik dia langsung menyambar bibir Zea yang terasa sangat manis di bibirnya. Tanpa banyak bicara Ron mengangkat kedua kkai Zea, menekuk pelan, dan berbisik. “Aku mencintaimu.”
“Akh…”
pisang Ron penuh memasuki Zea, dia tak tahu bagaimana menggambarkan kenikmatan ini. Semuanya terasa tak nyata, bahkan Ron yang tak pernah meracau atau lepas kendali pun kini sudah tak tentu.
“Zea, Zea… tolong aku Zea…”
“Keluarkan saja.”
“Akh tidak, aku selalu begini saat melakukannya padamu.”
Zea tersenyum dan mengusap rambut Ron pelan, “Karena kakak sangat menikmatinya.”
“Zea,” panggilnya lagi. “Oh tidak, aku tidak bisa menahannya, aku akan keluar! Maafkan aku, CROT!”
Ron tersungkur, di atas tubuh Zea. Dia kembali mencumbui tubuh gadis ini. “Ingat, hanya satu kali. Kau harus bertunangan kak, apa kau ingin mereka semua naik dan menangkap basah kita?!”
Ron menggeleng, dia selalu begini setiap melakukannya dengan Zea. Tak sabaran dan selalu tergesa-gesa. Padahal Ron sudah banyak meniduri wanita lain dan tak pernah seperti ini. Dia sudah berlatih dengan sangat intens, tapi ketika menghadapi Zea maka semuanya seolah sia-sia.
“Jangan di pikirkan! Ini semua karena kau terlalu menikmati, kak!”
“Zea, kamu mau kemana?!” Ron menahan tangannya.
Zea tersenyum manis, “Membersihkan diri dan melihat kekasihku bertunangan.”