Demian mengusap kepala belakangnya, “Maafkan aku, karena sudah salah paham, dan sekali lagi terimakasih karena sudah menyelamatkan nyawaku. Saat itu aku takut padamu, karena Arsenil bilang kau ingin aku menjadi pendamping hidup.” Sea yang menarik sudut bibirnya akhirnya terkekeh geli. “Ada-ada saja! Mereka benar-benar gila, aku ini masih 17 tahun. Tidak mungkin aku ingin masuk dalam penjara pernikahan secepat itu, kak! Aku belum gila. Tapi ya sudahlah, biarkan mereka berpikir begitu. Aku tidak berniat untuk menjelaskan. Jadi jangan di bahas lagi.” “Aku lebih banyak di Indonesia sejak lahir. Jadi tidak terlalu akrab denganmu. Dan kita jarang sekali bertemu, apa mau kembali berkenalan? Pertemuan pertama kita setelah sekian lama sungguh tidak baik.” Demian mengulurkan tangan pada Sea, gadi

