Bab 1: Mimpi yang Selalu Sama
Langit malam itu kelam, sekelam tatapan pria itu.
Sudah tiga malam berturut-turut, Alira bermimpi tentang seorang lelaki berpakaian gelap yang berdiri di bawah pohon mati, menatapnya… memanggil namanya.
"Alira."
Suara itu berat. Dalam. Seolah ia mengenal setiap bagian dari dirinya—padahal Alira tak pernah melihatnya seumur hidup.
Dan malam itu, saat hujan mengguyur genting rumahnya, ia terbangun dengan d**a sesak dan bisikan asing di telinganya.
“Sudah waktunya.”
Alira membuka matanya dengan napas tersengal. Kamar tidurnya gelap, hanya disinari temaram lampu jalan dari jendela. Hujan deras mengguyur genting, menciptakan irama yang biasanya menenangkan, tapi malam ini justru membuat suasana makin mencekam.
Ia menoleh ke jam dinding. 02.47 AM.
Matanya masih berat, tapi pikirannya terlalu gelisah. Ia bangkit dari tempat tidur, berjalan menuju dapur untuk mengambil air. Rumah itu sunyi. Ibunya masih di rumah sakit, menyelesaikan shift malam sebagai perawat jaga.
"Tenang, cuma mimpi... cuma mimpi," gumamnya sambil membuka kulkas.
Tapi perasaan itu—perasaan diawasi—belum pergi. Udara di dapur seperti mengeras. Lalu... saat ia menutup pintu kulkas dan berbalik...
Seseorang berdiri di ambang pintu.
Dia tinggi. Mengenakan mantel panjang berwarna gelap, berdiri tegak seperti bayangan, dengan mata yang gelap pekat dan dalam.
Mata yang sama seperti di mimpi.
Alira membeku. Gelas yang dipegangnya jatuh dan pecah di lantai, tapi ia tidak mendengar bunyinya. Seluruh fokusnya tertuju pada pria itu.
"Alira," ucapnya pelan, namun suara itu menggema di pikirannya.
Suara yang persis seperti... suara dalam mimpinya.
"Aku datang untuk menjemput milikku."
Alira mundur satu langkah, hampir terpeleset oleh pecahan kaca.
"A-apa maksudmu? Siapa kamu?"
Pria itu melangkah masuk dengan tenang. Gerakannya nyaris tanpa suara. Hujan di luar semakin deras, seolah alam pun menahan napas.
"Aku Kael. Dan kau... milikku, sejak sebelum kau lahir."
"Omong kosong," desis Alira, mencoba terdengar tegas meski tubuhnya gemetar. "Aku enggak kenal kamu. Kamu salah orang."
Kael tidak menjawab. Ia hanya menatapnya. Tatapan itu bukan ancaman. Tapi... anehnya, seperti pengakuan. Seperti seseorang yang telah lama merindukan sesuatu yang seharusnya menjadi miliknya.
Flashback Singkat: Mimpi Awal
Saat Alira berusia sembilan tahun, ia pernah bermimpi masuk ke taman yang penuh bunga hitam. Di tengah taman, ada sebuah kursi batu, dan seorang pria duduk di sana. Ia tidak punya wajah. Hanya bayangan gelap.
"Aku akan menunggumu sampai waktunya tiba."
Ia pikir itu hanya mimpi masa kecil. Tapi sejak ulang tahunnya yang ke-18 dua minggu lalu, mimpi itu kembali—dengan sosok yang makin jelas. Dan malam ini, sosok itu nyata.
"Aku akan panggil polisi!" seru Alira.
Kael menatap ke arah ponsel yang tergeletak di meja. Dalam sekejap, lampu rumah berkedip—lalu mati.
Gelap total.
Lalu terdengar suara dari Kael, di antara deru hujan.
"Jika aku ingin mencelakakanmu, Alira, kau sudah tak akan ada sejak malam pertama mimpi itu datang."
Gemetar. Marah. Bingung.
Alira berlari menuju kamar. Mengunci pintu. Tapi tak butuh waktu lama sebelum suara langkah kaki Kael muncul... lalu lenyap.
Saat ia menoleh... Kael sudah berdiri di dalam kamarnya.
Percakapan yang Membuka Awal Takdir
"Bagaimana kau bisa masuk?!"
"Aku bukan manusia biasa."
Kael melangkah pelan ke arah jendela dan membuka tirai. Cahaya kilat menyinari wajahnya—wajah itu begitu asing, namun terasa familiar.
“Kau mungkin tak mengingatku. Tapi aku mengingatmu. Bahkan sebelum kau lahir.”
"Kau gila..."
Kael menghela napas. Untuk sesaat, ketenangan itu pecah. Wajahnya terlihat... rapuh?
"Saat ibumu hampir kehilanganmu dalam kandungan, ia membuat perjanjian. Darah untuk darah. Hidupmu ditukar dengan jiwaku. Aku mengikat diriku pada keberadaanmu, agar kau tetap hidup."
Alira terpaku. Cerita itu... seperti dongeng gelap. Tapi matanya tak mampu membohongi logikanya. Ada sesuatu dalam kata-kata Kael yang mengguncangnya.
"Kenapa sekarang?"
"Karena kontraknya hidup 18 tahun. Dan sekarang waktunya kau memilih."
"Memilih apa?"
"Hidupmu… atau cintamu."
Emosi yang Menggantung
Kael mendekat satu langkah lagi.
"Aku tahu ini tak adil. Tapi kau berhak tahu siapa kau… dan siapa aku dalam hidupmu."
Tatapan itu… hangat sekaligus sedih. Seperti seseorang yang mencintai dalam diam terlalu lama.
"Aku tidak bisa jatuh cinta padamu, Alira. Tapi kenyataannya... aku sudah terlalu dalam."
Sebelum Alira sempat bertanya lebih jauh, ponselnya menyala sendiri. Layar menunjukkan satu pesan yang tak punya nama pengirim:
“Jika kau mencintainya, dia akan musnah. Jika kau menjauhinya, kau akan hidup… tanpa kenangan.”
Alira mendongak. Kael menghilang dalam bayangan.
Hujan berhenti. Sunyi kembali menguasai rumah.
Dan di kaca jendela… terlukis kabut berbentuk tangan—seolah ada yang mencoba menyentuhnya dari sisi lain dunia.