Element #8

1098 Kata
Sara kembali sebagai orang biasa di luar perpustakaan itu. Baru satu orang di luar sini yang tahu jika dirinya adalah pengendali. Sara sebenarnya tidak ingin memperlihatkan kekuatannya, namun harus. Sara harus memberitahu orang – orang sekitar jika element bukanlah aib. Element dan pengendalinya bisa dipakai untuk kebaikan. Kebaikkan itu sendiri bisa Sara pelajari nantinya. Hukum di dunia ini masih seram. Seseram hukuman mati yang di pertontonkan pada masanya. Hukuman di sini masih sama seperti dulu. Pengendali di larang hidup. Oleh sebab itu, Sara ingin menghapuskan hukum itu. Bukan kehendak Sara, memang. Hanya saja, hukuman itu kurang adil. Sara sendiri jika diperlakukan seperti itu kemungkinan tidak akan pernah menggunakan element dan mempelajari detailnya. Sara takut jika dirinya harus mati dengan elementnya. Dengan ilmunya dan juga dengan kelebihannya. Sara sendiri tidak ingin jika dirinya harus berdiam diri. Sara harus membantu orang – orang yang asalnya pengendali menjadi orang yang harus bisa berkehidupan normal. Tanpa menyembunyikan kekuatannya. Tanpa harus takut untuk memperlihatkan kepada dunia jika pengendali bisa hidup berdampingan dengan orang non- pengendali. Satu lagi yang terpenting, ini adalah kelebihan yang tuhan ciptakan. Para pengendali tidak bisa sepenuhnya di salahkan karena mempunyai kelebihan seperti ini. Pengendali juga tidak bisa memilih dirinya untuk hidup dengan atau tidak mengendalikan element. Hanya saja, jika Sara bisa, dirinya akan segera membuka semuanya di sini. Membuka jika element itu tidak berbahaya selama orangnya bisa mengendalikan dan bisa menyesuaikan kebutuhan. “Masih di sini?” Sara menatap orang yang mengajaknya berbicara. Reana ada di sana. Dengan pakaian bebas. Sara baru ingat jika hari Sabtu dan Minggu adalah hari liburnya para pelajar biasa. “Masih ada yang perlu di cari.” Kata Sara. Bukan menjawab. Namun Sara hanya memberikan pernyataan apa yang akan dilakukannya nanti dan besok. “Aku melihatmu di perpustakaan tadi.” Sara tersenyum kecil karena ucapan Reana yang bahkan membuat Sara sedikit terkejut namun di sembunyikan sebisa Sara. Itu artinya, Reana juga sudah melihat kekuatan yang ia berikan untuk membantu Mr. Klinton tadi. “Aku punya teman yang hampir mirip denganmu.” Kata Reana. Pernyataan itu membuat Sara cukup terkejut. “Apa yang beda?” Tanya Sara pelan. Reana mendesah, “dia mengendalikan air kamar mandi untuk hukuman membersihkan toilet.” Ucapnya. Sara tersenyum kecil, “bisakah aku bertemu dengannya?” Kini Reana menatap Sara yang cukup memmbuat Reana tersenyum kecil. Wajah dan mata penuh pengharapan itu membuat Reana tidak segan untuk menolak. “Apa yang akan kau lakukan padanya?” Tanya Reana sebelum dia menyetujui untuk bertemu dengan temannya dan memperkenalkan kepada Sara. Sara menggeleng, “belum tahu. Tapi, aku akan mencoba menjelaskan jika itu bisa di atasi.” Reana diam sebentar kemudian mengangguk, “asalkan kau janji tidak akan membunuhnya, maka aku akan membawamu melihat dia.” “Aku tidak punya alasan untuk membunuh orang yang memiliki kemampuan yang sama denganku, Reana.” Reana mendelik karena ucapan Sara. Sepertinya benar. Sara sudah berubah. Di luar sini, jika kamu dingin sedingin es, tidak akan ada yang mau mendekatimu. Sara melakukan dengan baik untuk pertama kalinya ia keluar dari akademi. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * Sara benar – benar tidak menyangka ada hal yang seperti ini di kotanya. Di era modern dengan segala kecanggihan yang diciptakan beberapa ilmuan, masih ada saja yang terpuruk dan hidup di dunia yang cukup buruk menurut Sara. Lingkungan yang kurang bersih dan kumuh menjadikan Sara yakin, orang di atas sana. Di bangku para pemimpin kota ini benar – benar tidak bisa menyamaratakan semua hal di dunia termasuk hal kecil di kotanya. “Maaf.” Kata Reana merasa tidak enak karena membawa Sara ke tempat seperti ini. Satu hal yang Reana yakini, Sara ini adalah orang yang terpandang namun tidak terkenal. Sara punya banyak uang dan tidak memperlihatkannya. Sara punya satu hal atau mungkin banyak yang tidak di ketahui oleh Reana. “Tidak apa – apa.” Kata Sara. Reana mengangguk kecil sambil terus memimpin jalan dengan tujuan temannya yang memiliki keahlian dalam element. Sara juga tidak terlalu keberatan dengan jalanan becek penuh tanah merah dengan air yang entah darimana. Padahal hari ini cukup cerah. Tidak ada hujan atau sungai di dekat sini. Kacau. Satu kata untuk mewakili kota ini. Benar – benar warganya di tuntut untuk bekerja keras dan tentu saja para pemimpin tidak bisa menginjakkan kakinya di sini. Lagi pula, mereka punya harga sepatu seharga nyawa untuk anak kecil yang orang tuanya tidak bisa memberi makan anak mereka sendiri. Walaupun nyawa bukanlah harga yang murah. Namun, begitulah para atasan. Sara pernah bertemu dengan seseorang di atas sana. Dagu yang naik dengan d**a tegap dan bicara penuh kesombongan itu membuat Sara muak berada lama – lama di sana. Sara sendiri ingin sakali menginjak – nginjak mereka jika saja Sara tidak menyadari jika sekolahnya adalah investasi dari para orang atas sana. “Menurutmu, apa orang – orang akan menerima hal semacam itu nantinya?” Sara menatap punggung Reana yang ada di depannya. Awalnya, Sara tidak mengerti dengan hal yang ditanyakan oleh Reana. Namun, setelah berfikir dan sedikit mencuri pikiran Reana, Sara mengerti apa yang dimaksud dengan pertanyaan yang diajukan oleh Reana. “Entahlah.” Kata Sara singkat menjawab pertanyaan dari Reana. “Kau bilang pada penjaga perpustakaan itu bahwa element bisa membantu sesama manusia lainnya.” Kata Reana kemudian berbelok ke kiri di jalan sana, “apa itu benar?” Tarikan nafas dari Sara membuat Reana mengerutkan keningnya. Reana membalikkan badannya untuk melihat Sara dengan jelas. “Apa perkataanmu tadi di ruangan itu salah?” Sara menggeleng, “aku bermaksud untuk mengatakan jika orang dengan element tidak sepenuhnya berbahaya ketika orang dengan sebutan ‘pengendali’ itu bisa menguasai dirinya sendiri.” “Lalu bagaimana jika orang yang terkuat dengan element tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri?” Lagi. Sara menarik nafas panjang dan menghembuskannya cukup kasar. “Dunia akan sepenuhnya hancur.” Kerutan di kening Reana semakin dalam. Lalu Reana mendesah, “apa yang kau maksud dengan hancur?” Sara menarik nafasnya lagi untuk menjawab pertanyaan Reana, “jika pengendali tidak bisa mengendalikan element yang dia miliki, apalagi dirinya hanya ingin menjadi yang terkuat. Dunia akan hancur karena kubu yang berbeda.” “Kubu?” Anggukan dari Sara membuat Reana semakin bingung, “kubu pengendali dan kubu non pengendali.” “Apa mereka tidak bisa hidup dengan masing – masing?” Gendikkan dari bahu Sara membuat Reana kembali bingung, “entah. Aku belum membaca situasi seperti itu.” “Rea?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN