“Aku menyarankan kau masuk ke sekolah akademi.” Kata Sara.
Setelah melihat kemampuan yang dimiliki teman dari Reana, Julian nama teman dari Reana itu membuat Sara yakin jika Julian akan menjadi orang sangat hebat dalam pengendaliannya setelah Sara melihat cara Julian dengan element airnya.
“Spy Academy maksudmu?” Tanya Julian.
Sebenarnya, Sara tidak menyebutkan sekolah itu. Namun jika sudah menjurus, sepertinya Sara akan membujuknya untuk masuk.
“Kau gila?” Itu Reana, “di sana kekuatanmu bisa berguna untuk apa? Di sana hanya untuk orang – orang yang mengenal beladiri dan tentu saja berkemampuan untuk menjadi mata – mata yang hebat.”
Jujur, Sara menyetujui apa yang Reana katakana. Di akademinya tidak ada yang memiliki kekuatan seperti itu. Hanya dirinya seorang.
Sara menggeleng, “siapa tahu jika kau masuk, akan ada orang yang mengalami hal yang sama denganmu. Memiliki kekuatan seperti itu dan tentu saja belajar mengendalikkannya bersama.” Ucap Sara.
“Apa kau berniat masuk ke sana juga, Sara?” Tanya Reana.
Sara memang tidak suka terkenal. Sara juga terkejut begitu penjaga perpustakaan itu mengenalnya. Hanya saja, Sara tidak terlalu senang diperhatikan.
“Jika bisa, aku akan masuk.” Kata Sara.
Reana kini menggeleng, “bagaimana jika orang – orang tahu akan kekuatanmu?”
Julian tidak terkejut karena Reana tadi membuat element angin di dekatnya. Membuat Julian juga mampu menunjukkan beberapa trik dari element yang dia miliki. Julian merasakan hal dimana dirinya mempunyai teman yang sama dengannya. Tidak mencemooh atau menganggapnya sebagai aib untuk dirinya sendiri.
Sara mengendik kemudian menyandarkan dirinya pada dinding rumah Julian yang sedikit kumuh dan tidak memiliki kursi tamu di dalamnya. “Mungkin aku akan menarik orang – orang sepertiku, pengendali maksudku, untuk belajar bersama di sana.”
“Apa itu akan berguna untuk akademi di sana?”
Sara tersenyum kecil, “aku mendengar ada perusahaan dengan perisai pengendali juga dan dirahasiakan public.” Kata Sara pelan, “kemungkinan tim mata – mata juga harus menyerupai musuhnya.”
Benar.
Sara beberapa kali mendengar Rico yang berusaha untuk menargetkan satu perusahaan itu namun selalu gagal. Ada yang menggunakan element di beberapa perusahaan karena mungkin kontak fisik saja tidak terlalu aman.
Itu sebenarnya mainan kotor para atasan. Sara sendiri, ingin mencoba untuk membobolnya. Tapi, Sara kekurangan orang. Siapa tahu jika Sara merekrut orang – orang sepertinya, mata – mata dengan element akan menang.
Bukan hanya otak yang pintar, namun bisa jadi pengendalian luar biasa akan membantu sekolah mata – mata ini.
“Apa yang akan aku dapat jika masuk ke sana?”
Sara melihat Reana sempat memukul lengan Julian yang bertanya, sepertinya, Julian mulai tertarik dengan sekolahnya itu.
“Kehidupan yang lebih baik dari ini tentu saja.” Kata Sara, “kemungkinan besarnya, kau juga bisa membeli rumah dengan gaji yang diberikan perusahaan untuk hasil dari kerja kerasmu.”
Reana menatap Sara, “kenapa kau tahu banyak tentang sekolah itu.”
Sara tersenyum kecil, “di perpustakaan aku membaca buku tentang sekolah itu.”
Sara tidak bohong. Dia juga sempat membaca tentang dirinya sendiri di dalam satu buku dengan penulis anonym. Kehidupan Sara di lebih – lebihkan. Tidak disebutkan nama dan tidak disebutkan bagaimana ciri – ciri dari Sara yang sebenarnya. Hanya disebutkan sebagai seorang mata – mata jenius dan cantik. Sara sedikit tersanjung dengan sebutan itu.
“Aku juga pernah membacanya.” Kata Julian, “apa nanti aku akan bertemu dengan sosok orang jenius dan cantik menurut buku itu?”
Lagi, Sara mengendikkan bahunya, “buku itu kebanyakan melebih – lebihkan kehidupan tokoh utamanya.”
“Dari mana kau tahu?” Ucap Reana.
Sara diam kemudian menanggah, “ada seseorang yang aku kenal di dalam sana.”
Untungnya, kedua teman barunya itu percaya apa yang Sara bicarakan.
“Kau juga harus mencobanya.” Kata Sara kepada Reana.
“Aku? Aku tidak bisa beladiri. Untuk apa aku ke sana?”
Sara tersenyum kecil, “program computer juga biasanya di terima.”
“Benar.” Kata Julian pelan, “kau sangat menyukai pelajaran computer. Kenapa tidak mencobanya? Bersamaku?”
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Sara sudah menelusuri lagi jalannya. Entah, namun tujuan pastinya untuk melihat bagaimana keadaan rumah lamanya. Sara hanya iseng. Namun, rumahnya masih sepi. Siang ini mungkin ibunya yang bekerja di bar itu sedang tidur karena kerja di malam hari. Tentu saja Sara tidak perduli. Sara ke sini hanya untuk mendatangi Emma, teman kecilnya.
Kebetulan sekali, Emma berjalan melewatinya. Sepertinya Emma tidak mengetahui Sara. Potongan rambut Sara memang berbeda dari sebelum dia pergi. Sekarang jauh lebih pendek. Sara sendiri lebih menyukai ini. Tidak ribet dan Sara bisa keramas setiap hari.
“Em?” Seru Sara ketika Emma benar – benar hanya berjalan melewatinya.
Yang dipanggil berhenti sebentar sebelum berbalik. Lalu tersenyum lebar saat Sara juga tersenyum ke arahnya.
“Ya ampun, Sara. Ini kau?”
Sara mengangguk di bahu Emma. Setelah tersenyum, Emma dengan tidak sadar melepaskan keresek jinjingannya dan tergesa memeluk Sara dengan erat. Sunggu, Sara sebenarnya merindukan Emma jauh dan sudah lama sekali.
Dari semenjak Sara masuk ke akademi dan Emma gagal, Sara merasa sangat bersalah pada Emma. Meninggalkannya sendiri tanpa teman mungkin menyedihkan. Namun, nanti mungkin Emma akan segera masuk ke akademi bersamanya.
“Bagaimana kabarmu, Em?” Tanya Sara setelah Emma melepaskan pelukannya kemudian benar – benar melihat Sara dari atas ke bawah dan sebaliknya.
Emma mengangguk, “baik. Jauh lebih baik sejak aku bertemu denganmu sekarang.”
Sara tersenyum, “bagaimana dengan ibumu?” Tanya Sara lagi.
Hal yang tidak di sangka oleh Sara adalah Emma menepuk keningnya lalu berbalik mengambil lagi kantong plastic yang tadi smepat di jatuhkannya dan tertawa kecil.
“Ayo, ibuku sepertinya punya firasat kau akan datang.” Kata Emma kemudian Sara mengangguk menyusul Emma yang berjalan terlebih dahulu.
Sara mengambil satu kantong plastic yang lebih besar dari yang satunya lagi kemudian menjinjingnya tanpa rasa berat. Sepertinya, latihan fisik di akademi benar – benar berguna sekarang.
“Kenapa ibumu punya firasat?”
Emma mendesah, “tadi pagi, ibuku merasa ingin memasak masakan kesukaanmu dan aku yang di suruh membeli bahan – bahannya.”
Senyuman dari Sara benar – benar tidak lepas begitu Emma dan dirinya sampai di depan rumah sederhana namun sudah terasa hangat walau Sara belum masuk ke dalamnya. Sara sendiri mengerti jika Emma baru saja pulang setelah melengkapi apa yang ibunya suruh.
“Sebenarnya aku malas untuk belanja seperti ini.” Kata Emma membuka pagarnya, “namun, aku juga tidak tahu jika akan bertemu denganmu di depan sana.”
“Sepertinya kau semakin menjadi pemalas setelah aku tidak ada di sini.” Kata Sara mengikuti Emma masuk ke halaman kecil milik Emma dan keluarganya.
Emma nyengir, “sepertinya iya.” Katanya kemudian membuka pintu rumahnya, “aku pulang. Ibu, lihat siapa yang datang.” Kata Emma setengah teriak.
Ibu Emma tergopoh menuju pintu depan karena tahu jika belanjaan yang di bawa Emma banyak dan berniat membantunya. Namun, setelah melihat ada dua orang yang masuk ke rumahnya, Ibu Emma terkejut.
“Sara?”
Sara mengangguk, “selamat siang, bu.” Kata Sara pelan.
Bukannya melanjutkan niatan membantu Emma, ibu dari Emma itu melewati Emma dan tergesa memeluk Sara. Sara berfikir di dalam fikirannya. Ibu dan anak sama saja. Sara kaget jika terus menerus mendapat pelukan dadakan seperti ini.
“Kamu belum mendengar beritanya?” tanya ibu Emma tiba – tiba.
Sara menatap Emma yang langsung mengendikkan bahunya, “berita apa, bu?”
Ibu Emma nampak tidak siap untuk membicarakan ini. Namun, pikiran dari ibunya Emma terlalu keras sampai pada akhirnya di dengar oleh Sara.
“Ibu kamu sudah meninggal.”
Sama persis.
Di dalam pikiran ibunya Emma dan mulutnya berkata sama.
“Sudah sekitar lima bulan yang lalu.”