Element #10

1118 Kata
Sara memang kaget mendengarnya. Namun, saat Sara mendengar dari ibu keduanya di dunia ini, Sara sedikit lebih tenang. Dirinya masih punya ibu untuk pulang. Sara tersenyum ketika ibunya Emma itu menuntun untuk duduk di ruang tengah. Ruangan yang baisa Sara dan Emma pakai waktu itu untuk bermain game. Sekarang, ruangan itu tampak kosong. Sepertinya, masalah ekonomi di kota ini juga berdampak pada keluarga Emma dan ibunya. Ayahnya Emma sedang kerja, namun tidak pernah muncul lagi. Emma sendiri sudah menganggapnya meninggal. “Bagaimana keadaan di akademi, Sara?” tanya ibunya Emma setelah Sara di dudukkan di kursi panjang di ruang tengah itu. Sepertinya, jika Sara mengatakan jika ayah Sara dan juga Prof Gamma adalah kakeknya, Emma dan ibunya akan shock. Untuk itu, Sara akan menyimpannya untuk di bicarakan nanti. “Baik, Bu. Bagaimana kabar ibu?” Sudah biasa. Sara menganggap ibunya Emma ini adalah ibunya juga. Karena sikap keibuan dan ibunya Emma ini benar – benar menerima dengan baik Sara tiap kali Sara main atau bahkan berkunjung sebentar seperti ini. Ibu itu mengangguk, “baik. Sangat baik.” Sara mendengar lagi pikiran bahwa ibunya Emma sedang tidak baik – baik saja. Ekonomi sedang susah namun belanjaan yang di bawa Emma tadi sangat banyak. “Ibu akan masak hari ini?” tanya Sara mengalihkan pandangan ibunya Emma kepadanya dengan penuh kasihan itu. Ibunya Emma itu mengerjap lalu mengangguk, “ibu berfirasat kalau kamu akan pulang. Jadi ibu akan memasakkan makanan kesukaanmu.” Katanya, “bagaimana dengan makan malam di sini?” Sara mengangguk kecil, “baik. Aku akan kembali besok pagi ke akademi.” Emma menggantikan posisi ibunya tadi. Duduk di depan Sara di kursi yang lebih pendek dari kursi yang sedang Sara duduki itu. “Terlihat lebih luas ya?” Ucap Emma memandang sekeliling. Sara mengangguk, “ibu dan kau menjual yang ada di sini?” Emma mengangguk polos, “ekonomi di kota ini benar – benar bukan main – main, Sar.” Sara mengerti. Seperti yang Sara katakan. Di kota ini yang miskin tettap miskin dan yang kaya semakin kaya. Tidak ada orang atas yang turun ke bawah untuk melihat seberapa menderitanya orang – orang di bawah sini. Termasuk Emma dan dia sudah Sara anggap sebagai keluarganya. “Di dalam akademi bagaimana?” Tatapan Emma seperti berharap untuk Sara menceritakan segala hal yang ada di sana. Sudah lebih dari dua tahun Sara ada di sana dan Emma melihat Sara baik – baik saja dan tidak dalam kondisi buruk. “Cukup baik.” Kata Sara sedikit berbohong, “kenapa kau tidak masuk ke sana saja?” Emma sekarang mendesah kemudian tertawa kecil, “aku sudah tujuh belas tahun. Bagaimana aku bisa masuk ke sana, Sara?” Sara meneguk minuman yang ibunya tadi sediakan. Lalu memandang Emma. “Sebenarnya ini belum boleh aku beritahukan.” Ucap Sara, “namun peraturan sekolah itu sudah di ubah.” “Di ubah?” tanya Emma kemudian di balas oleh anggukan dari Sara, “apa yang di ubah?” Sara tersenyum kecil, “umur tujuh belas tahun bisa masuk dengan kemampuan yang unik.” Kata Sara, “ini sebenarnya rahasia, namun aku sangat ingin kau ikut masuk ke sana.” “Benarkah?” Sekarang, ibunya Emma yang bertanya. Lagi – lagi, Sara tersenyum kecil kemudian mengangguk dan menatap ibu dari Emma, “benar, bu. Emma bisa menunjukkan panahan yang dia kuasai. Dia juga sedikit mengenal pedang.” Ucap Sara untuk Emma melalui ibunya. Ibunya Emma mengangguk, “benar. Kenapa kau tidak masuk ke sana saja, Em?” Sara ikut mengangguk menyetujui apa yang ibunya sudah bilang. Sedangkan Emma masih berfikir. “Jika peraturan di ubah, kenapa tidak ada pengumuman?” Benar. Sara biasanya mendengar pengumuman akan sekolah akademi itu dari speaker yang dipasang di setiap sudut kota. Aada juga layar lebar yang memperlihatkan fasilitas apa saja yang akan di dapat jika masuk ke sana. Oleh karena itu, di tahun dimana Sara masuk ke sana, banyak sekali orang yang ingin masuk. Alasannya jelasnya, adalah sudah putus asa dengan kehidupan di kota ini. Atau sudah benar – benar tidak bisa hidup di kota ini lagi. Sara terkekeh, “kau cukup pintar untuk masuk ke sana.” Kata Sara, “iya. Memang sengaja. Orang – orang akan mengetahui hal ini ketika menjelang pendaftaran. Mungkin sehari sebelum pendaftaran di mulai.” Emma mengerutkan keningnya, “kenapa sistemnya seperti itu?” Sara mengangguk, “aturan baru akan di umumkan menjelang pendaftaran agar tidak ada orang yang berlatih terlebih dahulu sebelum masuk ke sekolah. Penilaian itu menjadi nilai plus untuk tim seleksi.” Ibunya Emma memegang tangan Sara, “penilaian seperti apa yang kamu maksud, Sara?” Sara tersenyum kemudian menangkup tangan ibunya itu, “penilaian spontan.” Kata Sara, “penilaian ini adalah dimana orang yang tidak terlatih untuk mengikuti seleksi gelombang pertama. Dan penilaian ini di ukur dimana kesiapan orang yang ingin masuk ke akademi secara spontan.” “Apa untungnya bagi akademi dengan sistem seperti itu?” Sara menatap Emma yang bertanya, “sangat penting. Di dunia mata – mata, salah satu kesiapan untuk misi adalah spontanitas. Dimana orang yang menjadi mata – mata harus berkembang secara langsung atau spontan tanpa harus berfikir apalagi berlatih dalam keadaan tertentu.” Ibu Emma dan Emma diam berfikir. “Intinya, kata ‘spontan’ adalah kata yang sedang popular di akademi.” Emma mengangguk, “katamu, untuk gelombang pertama?” tanya Emma yang diangguki oleh Sara, “lalu ada test gelombang kedua?” “Tentu.” Jawab Sara cepat, “jika kau gagal di gelombang pertama, kau akan diberikan kesempatan beberapa hari untuk kembali mendaftar di gelombang kedua. Setidaknya, kau bisa berlatih.” Ibu dari Emma tersneyum, “siapa yang mencetuskan ide pintar seperti itu?” Kini Sara tersenyum, hasil rapat dengan tim inti adalah hal yang sangat unik dan mudah. Test di dalam ruangan juga tidak akan selama seperti test Sara sebelumnya. Test yang Sara lakukan waktu itu akan dilakukan jika semua orang yang mendaftar dan lolos di tahap pertama uji pendaftaran. Kenapa? Sara menyarankan agar test itu tetap ada tanpa menghambat dan memperlama proses penerimaan di luar sana. Sara sendiri merasakan bagaimana dulu mengantri sampai hari ke tiga. Sara tidak ingin membuat orang dengan kemampuan luar biasa menunggu lama di luar sana. Maka dari itu, Sara menyarankan beberapa hal penting yang nantinya akan di laksanakan sesuai dengan saran – saran yang Sara ajukan. Tentu saja atas persetujuan ayahnya Sara sebagai wakil kepala sekolah dan tentu saja sudah di setujui juga oleh Prof Gamma selaku kepala sekolah. Test kedua dengan cara melihat mimpi itu dilakukan karena menurut Sara, mimpi orang bisa berubah tergantung keadaan. Mungkin, mimpi Sara sewaktu pendaftaran pada saat itu sudah berubah karena Sara sudah menemukan ayahnya. “Semua anak muda di sekolah itu pencetusnya, bu.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN