bc

Asisten

book_age18+
280
IKUTI
2.0K
BACA
goodgirl
confident
sweet
bxg
office/work place
coming of age
tricky
gorgeous
stubborn
substitute
like
intro-logo
Uraian

Asisten – Squel dari I Like You So Much

Bagas kira kepergian Alena dan menggantikannya dengan Alana adalah suatu hal yang ia yakini keadaannya.

Alana, gadis cantik yang baru saja selesai dari dunia perguruan tinggi, langsung di tarik paksa oleh orangtuanya untuk menjadi seorang personal asistantnya Bagas. Yang dimana, mau tidak mau, Alana harus terus-menerus bertemu dengan laki-laki yang sebenarnya mulai menarik perhatiannya, tetapi sayangnya masih saja terjebak dalam ikatan masa lalunya.

Ibarat air dan api, Bagas dan Alana terus dipertemukan oleh perbedaan. Namun, Bagas yang telah siap menjadikan Alana sebagai ratu pentahta utama dihatinya, berusaha untuk mengejarnya, memberikan yang terbaik, mengusahakan apa pun, hingga tidak sadar, apa yang telah dilakukannya membuat Alana semakin terasa lebih sulit untuk di gapai.

chap-preview
Pratinjau gratis
Graduation
"Selamat wisuda, Alana Queneera Gantari. Semoga segala ilmu yang lo terima selama disini bisa bener-bener masuk kedalam otak lo ya. Jangan cuma membal di telinga lo, masuk kanan, keluar kiri," ucap salah satu temanku. "Selamat wisuda, Al. Lupakan Andre, temenin Sandra. Kasihan, anaknya butuh lo banget. Apalagi lagi hamil gitu,” ucap temanku yang lainnya. Mengingat Andre-mantanku- yang pada waktu itu ketahuan b******u dengan Sandra. Membuatnya mau tidak mau menelan pahitnya kenyataan bahwa Sandra telah hamil anaknya. "Heh, jangan sembarangan. Bukan hamil, nyet." "Jadi apa dong?" "Ya gak jadi apa-apa. Kan cuma khilaf doang." Mendengarnya, membuatku geleng kepala. Bukan bermaksud apa-apa. Cuma kasihan aja, anaknya diceng-cengin terus, padahal sudah lama berlalu, tapi masih aja memori tersebut seakan tersimpan erat-erat didalam otak mereka. "Selamat ya, Al. Lumayanlah sekarang gak jadi zombi lagi." Akhirnya, aku selesai dengan dunia perskripsian. Walaupun jadwal kelulusanku melebihi target yang sudah dijanjikan oleh kedua orangtuaku, namun mereka tetap tak mempermasalahkannya. "Congralution My Little Queen," ucap Papa, "Selamat, sayang. Selamat menjadi sarjana yang menyebalkan untuk Papa." Aku tertawa, memang nyatanya selama proses per-skripsian itu berlangsung, aku kerap kali mengganggu urusan kelonannya dengan Mama agar menemaniku hingga Adzan Subuh berkumandang. "Sudah gede banget anak Papa, uda sarjana pula, padahal dulu masih kecil banget. Papa bangga banget sama kamu, Papa bahagia karena kamu sudah berusaha keras untuk menjadi yang terbaik dengan versi dirimu sendiri. Kamu hebat, Queen," nada suaranya terdengar bergetar sambil memelukku. Dari awal aku meminta izin untuk bisa menginjakkan kaki di kampus ini, Papa dan Mama tak mempermasalahkannya. Apalagi prihal Fakultas, mereka semua mempercayakannya kepadaku. "Papa dan Mama pasti dukung apapun pilihan kamu. Terserah kamu mau ngambil apapun. Kamu yang jalanin, kamu yang ngerasain. Papa dan Mama cuma bisa mendukung, mendoakan dan menyemangati kamu." begitulah kata-kata mereka. Aku membalas pelukannya, "Thankyou so much, Paps, thankyou so much for everything. I love you." "I love you more than you know, Queen." Mama juga mengatakan hal yang sama. Rasanya aku sangat bersyukur bisa berdiri diantara orang-orang hebat seperti mereka. Ngerasain gimana indahnya saat-saat dimana kita sedang terpuruk, tetapi masih ada orang-orang yang selalu siap-sedia ada di dekat kita, tanpa berkomentar atau mengeluh sedikitpun. Padahal Mama itu termaksud ibu-ibu sosialita komplek, arisan sana-sini, nongkrong ala ibu-ibu rempong, sampai dulu aku berpikir kalau Mama itu tak bakal punya banyak waktu untuk menemani proses pendewasaanku. Papa juga, sibuk terus ngurusin kantornya, gak mudah percaya sama orang lain. Segalanya harus di urus sendiri, sampai akhirnya ada seseorang yang kini sudah dengan mudahnya masuk kedalam kehidupan Papa dengan versi sok kerennya. Aku sendiri tak tau mulainya dari mana, tetapi ia selalu berhasil masuk di ruang kosong pada hari-hariku, buktinya saja sekarang. "Selamat Alana," ucapnya tiba-tiba. Laki-laki itu sudah berdiri gagah dibelakangku, membuatku sedikit terkejut atas kehadirannya yang sangat tiba-tiba. "E-eh... Makasih P-pak? M-mas?" Dapat kutebak umurnya berada sangat jauh diatasku. Mulai dari penampilannya, bentuk wajahnya, postur tubuhnya serta suara rendahnya, sangat menjanjikan untuk segera dihalalkan. "Saya Bagas Dirgantara, tangan kanannya Papa kamu." Hnngg? aku tak tau kalau ternyata itu dirinya. Kupikir Papa bakal memilih seseorang yang umurnya tidak terlalu jauh darinya. "Saya Alana-" "Saya sudah tau." potongnya. Lalu menyerahkan satu batang cokelat Silverqueen Chunky Bar padaku, "For you." "Hah?" "Kurang?" "Hah?" "Mau lagi?" "Hngg?" aku semakin kebingungan. "Saya tadi buru-buru. Di Bali, saya cuma bisa beli ini untuk kamu. Gak sempat nyiapin bunga ataupun yang lainnya kayak teman-teman kamu. Tetapi saya harap, semoga ini bisa memperjelasnya. Memperjelas bahwa hari ini kamu terlihat lebih cantik dari biasanya,” jelasnya entah untuk apa. "Terus?" "Saya bingung kamu sukanya yang mana, putih atau cokelat. Saya juga gak paham masalah begituan, karena saya gak suka cokelat." Aku menatapnya heran, sampai-sampai dahiku ikut berkerut. Ini maksudnya gimana deh? kami baru berkenalan, terus kenapa ia seakan-akan mendesak aku agar lebih mengetahui tentang dirinya? "Makes? Mikes? Hobi? Cita-cita gak sekalian?" tanyaku mencoba mencairkan suasana yang mendadak jadi canggung. Laki-laki itu menggaruk tengkuk lehernya yang kuyakini tidak gatal sama sekali, "Makes? Mikes?" tanyanya. Wajahnya yang terlihat kebingungan, sempat membuatku terpana. Buru-buru aku menyadarkan diri, "Iya... makanan kesukaan, minuman kesukaan, hobi, cita-citanya gak sekalian?" ulangku. " "Ooo... makanan kesukaan gak ada yang spesifik, tapi dulu setiap apapun yang dimasak sama almarhumah istri saya, saya pasti suka. Kalau minuman, saya sukanya kopi, gak begitu manis, malah cenderung pahit. Adalagi?" Aku menghela nafas berat, susah melawan sama orang tua. Bawaannya pengen gigit, apa lagi yang modelan begini, tak akan rela kalau dibagi. "Maksudnya makanan dan minuman kesukaan saya, Bapak..." geramku. Pak Bagas atau... hmm lebih cocok Mas Bagas mengulum bibirnya menahan senyum, "Kamu cantik, sudah ada yang punya?" "Sudah." Balasku yakin. "Siapa?" "Kamu. Bagas Dirgantara." Kedua matanya membola. Tampak kedua tangannya mengepal kuat disetiap sisi badannya, "Waduh, saya diserang. Kayaknya jantung saya mau copot nih." "Senyum Bapak kayak Covid," ucapku lagi. "Kok gitu?" "Gak ada obatnya." Aku tertawa, melihat wajahnya yang mulai merah merona. Sungguh-sungguh menggemaskan. Aku yang merasa kegirangan sendiri, lantas langsung berdehem. Mencoba menormalkan apa yang tidak normal. Hingga aku teringat dengan kata-katanya tadi mengenai almarhumah istrinya. "Btw, tadi maksudnya gimana? almarhumah istri?" Pak Bagas mengangguk, "Iya. Istri saya, meninggalnya karena sakit, tiga tahun lalu." "Maaf, gak bermaksud buat ngingetin Bapak lagi-" "Mas," sangkalnya. "Hah? Mas?" mendadak otakku eror. Ni orang kenapa sih? "Panggil aja Mas. Istri saya dulu juga manggil saya Mas." "Tapi kan saya bukan istrinya Bapak..." "Tapi kamu mirip istri saya." "Insaf, Pak. Saya ya saya, istri Bapak ya istri Bapak. Jangan dimirip-miripin," mulai ngelantur. Mabuk deh kayaknya, atau mungkin jatlag. Padahal ke Bali doang. "Di dunia ini manusia mempunyai 7 kembaran, kalau kamu lupa. Dan memang benar adanya kemungkinan manusia itu punya 'kembaran' walaupun tidak berhubungan darah." "Terus?" "Terus mulu, ya nabrak lah." "Ihhh... terus hubungannya sama saya apa???" gemes deh, pengen cakar. Asli, kami berdua itu lagi berdiri diantara orang rame. Kayak ngerasa dilihatin aja gitu, risih bro. "Gak ada, saya cuma ngasih tau." "Gak jelas, kesel. Dah ah, tinggal dulu, saya mau jumpai temen saya yang lain. Permisi." Baru saja aku hendak melangkah kaki untuk pergi, laki-laki itu menahan tanganku. Tidak terlalu kuat, malah cenderung lembut. "Selamat sekali lagi," kemudian ia menyerahkan satu lembar kartu nama yang ia ambil dari dalam saku celana, "Kebetulan saya lagi butuh asisten pribadi, kalau kamu berkenan, silahkan hubungi saya, atau datang ke alamat yang sudah tertera secara langsung. Saya tunggu. Dan akan selalu menunggu," ujarnya ambigu. Aku mengangguk, mengiyakan. Supaya cepat. Demi, baru mau pergi, uda ditahan lagi, "Apa lagi, Bapak?" "Saya baru sadar, ternyata kita berdua itu sama-sama penjahat." Meresponnya, aku hanya menaikkan sebelah alis. Dan ketika mendengar perkataannya selanjutnya, membuat aku ingin memuntahkan isi perutku secepatnya. "Kamu yang sudah mencuri hati saya, dan saya yang sudah merampok pikiran kamu."

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
192.9K
bc

TERNODA

read
201.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
21.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
83.8K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook