Ternyata, laki-laki yang selalu kuhindari itu, terus berkeliaran didalam pikiranku. Layaknya seperti seorang teroris, ia terus merorku, memasang jeratan berupa ucapan manis lalu meledakannya tepat diotakku.
Aku seperti dihipnotis, apapun yang dikatakan Papa, langsung aku menyetujuinya. Tanpa pikir panjang. Sehingga aku baru tersadar, ternyata dalang dibalik semua ini adalah dirinya, Bagas Dirgantara.
Tentu saja dengan aku yang sudah berhasil menjadi asisten pribadinya.
"Lo uda gak sama si kepin lagi, Lar? Gue liat-liat tu anak uda ganti cewek aja. Sepet abis gue liatnya, bisa ae di depan umum megang-megang pinggul ceweknya. Kan miris bagi kaum rebahan kayak gue." Tiba-tiba suara cempreng Dyra menyapa telingaku atau lebih tepatnya telinga kami. Aku yang sedang berjalan hendak balik kemejaku, jadi terhenti, bersender dibalik kubikel Lara.
"Seriusan, bro? Kemarin kan baru annive, masa uda putus aja,” kini giliran Jovita, gadis itu ikut berdiri. Kedua tangannya naik keatas pembatas kubikel dengan dagu yang sengaja ditopang. Wajahnya terlihat antusias, seperti apa yang akan kami bicarakan adalah suatu hal yang sangat penting.
Dyra, Lara dan Jovita berada disatu divisi yang sama. Hanya dipisahkan oleh sekat-sekat separo badan maupun tembok sehingga ruang kerjanya terdiri dari kamar-kamar pribadi untuk melakukan berbagai aktivitas pekerjaannya.
Setiap staf diberi kebebasan untuk men-design kubikelnya sendiri. Tidak ada batasan, yang penting sipekerja merasa aman dan nyaman.
"Lambe turah nangis pasti, Dyr, dengernya, karena kalah saing sama lo,” ucapku miris, membuat Dyra ikut merapatkan dirinya, hingga kini kami berdiri mengelilingi kubikel Lara. Untung saja pembatasnya hanya separo badan. Kalau tidak, ya susah, kasihan kaum mungil kayak Dyra, harus bekerja ekstra demi memenuhi kekepoannya.
Perempuan yang sedang diserbu itu tertunduk, "Anjrit lo, Dyr. Padahal gue mau move on, jadi gagal nih." Ucapnya lesu.
"Halah, buk-buk. Baru juga beberapa hari," saut Jovita. Lantaran mereka baru saja merayakan Annivesary ditanggal 1 kemarin, dan bisa-bisanya putus ditanggal 4.
"Padahal gue uda berdoa, meminta sama Tuhan. Gue tau gue gak nyebutin namanya, tapi gue selalu bilang, ya Tuhan, dekatkan hanbamu ini dengan laki-laki yang terbaik. Laki-laki yang akan melamarku dan menikahiku serta laki-laki yang akan menemaniku dalam urusan agama, dunia juga akhirat. Beratus-beratus kali gue memohon, dan Tuhan dengan baiknya ngabulin," Lara mendongak menatap kami bergantian, "Sebelum gue benar-benar terjatuh lebih dalam, Tuhan memperlihatkan gue bentuk aslinya yang nyata. Mas Kevin selingkuh, didepan mata gue. Parahnya dengan orang yang sama."
Mendengarnya membuatku geleng kepala, haduh Kevin-Kevin, tak ada tobat-tobatnya, padahal uda dua kali kepergok selingkuh.
Jovita menepuk dahinya sedangkan Dyra semakin membara.
Dyra dan Lambe Turah itu tidak ada bedanya. Ngebet banget kalau uda urusan orang lain. Maju terus, pantang mundur.
"Kan uda gue bilang, buk, selingkuh itu penyakit, sekalinya lo maafin, dia bakal ketagihan terus. Lo sih kebaikan, pakek acara ngeiyain waktu dia janjiin lo, gak bakal selingkuh lagi," cecar Dyra, "Kalau jumpa gue tonjok dah tu orang, lumayan sekalian latihan otot gue, supaya gak terasa sia-sia banget selama ini nge-gymnya."
Aku tertawa, "Emang lo nge-gym uda berapa lama, buk?"
"Baru satu hari." Dyra memperlihatkan otot tangannya, kemudian memukul-mukulnya, "Tinggal pilih aja dia, kanan rumah sakit, kiri kuburan."
"Yeu!!! Satu hari mah bisa apa, bro?!" balas Jovita.
Dyra mendekat, memasuki kubikel Lara, "Sebetulnya gimana ya, Lar, gue itu benci banget sama lo. Lo naif banget, mau banget di bego-begoin sama sikepin itu, padahal lo tau dia itu aslinya b*****t. Seriusan deh, lo t***l, lo bego, lo bodoh, pokoknya semua yang jelek-jelek ada di lo. Pengen banget gue flash sale-in lo ke olshop terdekat, tapi gue gak bisa. Kasihan aja gitu kalau memang ada yang beneran beli lo." Kemudian ia menepuk puncak kepala Lara yang kembali tertunduk dengan dahi yang dibiarkan terjatuh menyentuh meja.
Dyra itu tipikal teman yang ceplas-ceplos. Kata-kata yang keluar dari mulutnya seakan mengalir semaunya tanpa disaring. Hobinya yang jujur mengkritik didepan umum, terkadang bikin risih. Apalagi kalau kita sendiri lagi baper, kata-katanya tadi seakan menusuk-nusuk perasaan. Tapi mau gimana lagi, namanya juga Dyra.
Dibalik itu semua, teman seperti Dyra itu banyak sisi positifnya. Ia akan selalu berkata jujur, tak pernah membicarakanmu dibelakang, nyaman kalau diajakin curhat, bisa jaga rahasia, to the point dan punya rasa peduli yang tinggi.
Buktinya sekarang Dyra lagi ngepuk-pukin punggungnya Lara yang bergetar akibat tangisnya. Dengan sabar, Dyra berucap bahwa secepatnya perempuan itu akan melenyapkan Kevin dari padangan matanya. Dan dengan polosnya Lara mengangguk setuju. Ditambah Jovita, ikut menimpali akan membantu Dyra kapanpun perempuan itu membutuhkannya. Aku ngapain? Tim hore saja, menikmati drama yang ada. Untung lagi sepi, jadi Lara bisa sedikit leluasa menangis.
Setelah beberapa menit berlalu, aku mendengar derap langkah yang terburu-buru mendekat kearah kami, aku menoleh, mendapati seorang perempuan sedang berjalan tergesa-gesa.
"Alana, Kamu dipanggil Pak Bos, doi lagi marah-marah diruang sebelah, katanya pada gak becus buat laporannya."
"Seriusan, Mbak?"
Mbak Tari mengangguk cepat, "Tolong, Ya. Takutnya anggotaku kena lagi, kasihan mereka."
Aku mengangguk, "Makasih ya, Mbak." Kemudian berjalan cepat meninggalkan mereka.
Dadaku bergemuruh hebat, kalau sudah marah, pasti semua terkena imbasnya. Pintu yang tak tertutup itu memperlihatkan seorang laki-laki berparas rupawan tengah sibuk menbentaki satu-persatu stafnya. Tanpa pandang bulu, laki-laki itu mencecarnya. Tak ada yang berani membantah, semuanya tertunduk takut melihatnya.
"Permisi," Ucapku mengintrupsi. Semua yang berada diruang tersebut langsung mengalihkan pandangannya, "Maaf,-"
"Masuk." Potongnya cepat.
"Saya gak tau diposisi ini yang salah itu siapa. Entah saya yang telah salah memilih kalian masuk kesini, atau kalian yang emang gak becus kerja disini. Saya sudah berkali-kali bilang, jangan main tunggal, kalian itu satu kelompok, satu tim, satu divisi. Keroyokan dong, rame-rame. Jangan seenaknya sendiri. Bisa-bisanya hasilnya berbeda-beda. Yang ini salah memperhitungkan persediaan barang lah, yang itu salah memperhitungkan keuangan lah. Kalian itu bukan bocah ingusan yang masih perlu saya bimbing lagi. Anak magang diluar sana ketawa lihat kebodohan kalian, buat gini aja gak becus, gimana yang lain." Laki-laki itu melemparkan semua laporan yang sudah tersusun rapi kelantai.
"Yang capek itu bukan kalian saja, saya juga. Demi ini, saya rela lembur. Padahal itu sudah menjadi jatah kalian. Jangan merasa paling tersakiti," Pak Bagas menjeda kalimatnya, menghembuskan nafasnya dalam, "Kalau memang uda gak berminat gabung disini lagi, silahkan, pintu keluar terbuka lebar buat kalian."
Aku terkejut saat menyadari matanya melihatku tajam, "Suruh Tari berhadapan dengan saya, saya sudah muak dengan mereka. Kasih mereka surat pemberhentian kerja, sore ini. Jangan ditunda, karena itu mau mereka,” lanjutnya, lalu pergi meninggalkan kehebohan.
Ngerti gak sih, aku jadi kebingungan sendiri. Istilah pribahasanya bagai makan buah simalakama yaitu keadaan ketika seseorang harus memilih antara dua hal yang sulit untuk ditentukan.
Kalau aku menurutinya, akan banyak pekerja hebat yang keluar begitu saja dari sini, kalau tidak aku ikuti, aku lah yang menjadi tumbalnya. Bisa-bisa aku yang ditatar habis-habisan olehnya.
"Alana, please, jangan dong." Mas Adi mulai memohon dihadapanku. Disusul beberapa orang yang lainnya.
"Kalau aku beneran didepak dari sini, mati lah aku. Mana istriku lagi hamil tua, anak ku juga lagi gemes-gemesnya." Mas Ari ikut menimpali.
Hana, salah satu junior disini mengangguk setuju. Seakan memberi dukungan atas keresahan mereka.
Memangnya mereka tidak perduli sama aku? Walaupun aku asisten pribadinya, suara ku tidak sepenting itu baginya, sampai harus sedikit memberi negoisiasi agar permintaannya bisa dibatalkan.
"Ayo, Mbak, jangan diem aja. Gunakan jabatanmu sebagai asisten pribadinya," ucap Hana. Perempuan mungil itu tersenyum kikuk, kedua tangannya mengepal kuat didepan dadanya, seakan memberi semangat.
"Betul tuh, dari pada kebingungan sendiri, mending kamu negosiasi sama dia. Aku juga yakin, kamu pasti gak rela kalau kita disusahin begini."
Disusahin dari mana? Jelas-jelas merekalah yang meciptakan kondisi seperti ini. Terus aku yang harus bertanggug jawab?
"Saya memang asisten pribadinya, Mas. Walaupun begitu, pendapat saya gak akan berpengaruh sebegitu hebatnya. Akan saya usahakan, tapi saya gak bisa berjanji," paparku mulai jengah.
"Harus bisa dong! Jangan pesimis," dukung mereka. Bukannya membaik, aku malah semakin pusing.
"Gitu aja kenapa gak bisa sih? Terus gunanya kamu jadi asistennya apa? Pajangan doang? Atau cuma untuk dipamerin aja karena punya asisten modelan kayak kamu?" Kalau yang itu giliram Mbak Laras. Yang aku tau umurnya tak beda jauh dari Pak Bagas. Sudah menikah, bahkan sudah memiliki anak-anak yang menurutku sangat menggemaskan.
Beberapa bulan yang lalu, saat pertama kali datang kesini, aku memperkenalkan diri sekaligus memberitahu bahwa aku sudah termaksud bagian dari mereka, segalanya terasa sangat menyenangkan. Mereka menerimaku, membantu segala urusanku. Namun sayangnya, semua berubah saat Pak Bagas memintaku secara langsung untuk menjadi asisten pribadinya, ada banyak pro dan kontra yang timbul. Apalagi bagi staf perempuan, aku jadi dipandang sinis. Dan salah satunya adalah Mbak Laras.
"Kalau gak bisa, bilang. Jangan diem aja,” sambungnya lagi. Aku hanya bisa terdiam. Bukannya tak berani melawan, Mbak Laras itu seniorku, jadi apa nanti aku kalau melawannya. "Pantes sih, kemampuannya kan gak ada. Masuk kesini juga karena Papanya mohon-mohon ke Pak Bagas supaya bisa kerja disini."
Aku menggelengkan kepala, mendengus pelan. Mencoba meraup kesabaran agar lebih bisa bertahan menghadapinya.
Semuanya asik beradu argumen, kemudian terdengar kericuhan ketika aku melirik jam tangan sudah menunjukkan pukul dua belas, yang artinya sudah waktunya jam makan siang. Aku menghela nafas lega, setidaknya aku bisa lepas dari mereka walaupun sejenak.
"Aku permisi ya, Mbak. Mau nyusulin Dyra-" ucapanku terpotong ketika laki-laki itu datang dengan tatapan penuh kemarahan.
"Ngapain? Mau ikut bodoh juga kayak mereka?" Suara itu mengejutkanku, "Saya suruh kamu manggil Tari, bukannya ikut nimbrung sama mereka."
Tanpa sadar, aku mencebikkan bibir, "Maaf, sebentar saya-"
"Gak usah, saya sudah gak butuh."
Aku menatapnya sebentar kemudian tersenyum, "Okei." Aku hendak melangkahkan kaki, berniat ikut menyusul Dyra dan yang lainnya kekantin, lantas urung ketika suara beratnya bertanya padaku.
"Mau kemana?"
"Kantin."
"Ngapain?"
"Tebar pesona," balasku cepat. Satu-persatu dari mereka sudah mengantongi izin dari Pak Bagas untuk melakukan ritual makan siangannya, tinggallah kami berdua disini "Ya makan lah, ngapain lagi."
Laki-laki itu menggelengkan kepalanya. Kemudian menggerakkan dagunya kearah kanan selaras dengan lirikan matanya.
Aku mengkerutkan dahi, tak mengerti, "Hah?"
Lagi, Pak Bagas mengulang gerakan yang sama.
"Apa sih?"
Pak Bagas menepuk dahinya sendiri, "g****k banget," gumamnya, "Cantik-cantik g****k ya kamu."
"Dih!"
"Temenin makan."
Apanih, kesurupan?
"Laper, tadi gak sempat makan."
"Terus masalahnya sama saya apa?"
"Masalahnya kamu harus temenin saya makan."
"Gak. Saya permisi dulu."
Pak Bagas tersenyum miring, senyum yang menurutku biasa saja, tetapi staf-staf lain bilang itu luar biasa. Dan berucap, "Langkah pertama, gaji kamu dipotong. Langkah kedua, kamu dikasih surat peringatan. Langkah ketiga mungkin kamu dipecat. Silahkan dipilih mau berapa langkah."
"Sejak kapan?"
"Sejak hari ini, hanya untuk kamu. Kenapa? Mau protes? Gak bisa lah, kamu kan punya saya," katanya sok keren.
Aku merutuki diri sendiri, mau tak mau mengikuti kemauannya. Terpaksa jadwal makan siangku kembali diatur olehnya.