Aku dan Pak Bagas memutuskan untuk makan siang disebuah warung ayam penyet. Tempatnya lumayan jauh dari kantor. Emang sengaja, supaya tak ketahuan sama orang-orang kantor.
"Mau makan apa?"
"Terserah," balasku malas.
"Ikan atau ayam? Panggang atau goreng?"
"Ikut Bapak aja."
"Saya pesenin nasi juga ya, saya tau, kamu pasti belum sarapan."
Aku mengernyitkan dahi.
"Bingung saya tau dari mana?"
"Gak, b aja." balasku cuek.
Pak Bagas tersenyum, kemudian ia menunduk, sibuk menuliskan pesanannya.
"Mereka tadi bilang apa?"
"Gak bilang apa-apa."
"Alana," nadanya sekarang terdengar lebih berat.
Aku berdecak, "Mereka suruh saya bernegosiasi ke Bapak," aku melipat kedua tangan diatas meja, "Saya gak tau harus bernegosiasinya gimana, karena saya pun gak tau masalahnya apa," kemudian daguku terjatuh dengan lesu diatas kedua tangan, "Tapi kalau boleh saya meminta, silahkan dipikirin lagi, Pak. Perusahaan bakal kehilangan banget kalau Bapak melakukannya untuk orang sebanyak itu."
Pak Bagas memajukan badannya, tangannya turulur melewati meja yang menjadi pembatas kami, "Lantas bagaimana menurutmu?" Telapak tangannya yang besar menyentuh puncak kepalaku, kemudian mengusapnya lembut.
Aku mencebik dan menggeleng, kemudian mataku tertutup untuk menikmati sentuhan manisnya. Aku sudah seperti seekor kucing yang menganggap bahwa elusan di bagian kepala adalah sebagai bentuk perhatian sekaligus kasih sayang yang diberikan manusia kepadanya.
"Saya rasanya buang-buang tenaga kalau masih mepertahankan mereka. Ini terjadi bukan sekali-dua kali, Alana. Tapi berkali-kali. Saya sempat memaklumi, tapi kelihatannya mereka keenakan dan menganggap remeh. Makanya hasilnya selalu berantakan gitu. Diposisi ini yang lembur bukan cuma mereka aja, saya juga, tapi mereka seenaknya menganggap bahwa ini semua penyebab dari seringnya mereka lembur," jelasnya.
Sentuhannya turun kepipi, tangannya melingkupi penuh pipi tembemku, "Sekali lagi boleh? Kalau memang masih, saya gak akan mau capek-capek bernegosiasi dengan Bapak."
"Tadi malam makan apa sih, Al?" Bukannya merespon, Pak Bagas malah mengalihkannya. Kini laki-laki ganteng itu sudah mencubit-cubit pipiku.
"Emang kenapa?"
"Perasaan semalam gak sebesar ini deh."
Eh, emangnya semalam Pak Bagas nyentuh pipiku?
"Hmmm, semalam dijajanin Domino sama Dyra, dua kotak."
Lagian gak mungkin baru makan dua kotak Domino pipiku langsung membesar.
"Dua-duanya dihabisin?"
"Gak."
"Syukur lah."
"Tapi aku sisasin satu aja untuk Dyra."
"Lainnya?"
"Kuhabisin."
Mendengarnya Pak Bagas tersenyum geli.
Domino itu satu kotaknya ada delapan slize. Jadi, kalau misalnya ada dua kotak berarti semuanya enam belas slize dan aku dapat menghabiskan lima belas slize.
"Pantes gembul gini, jadinya,” aku membuka mata, menatapnya nanar. Tega sekali.
"Cuma lima belas slize, gak mungkin berubahnya secepat itu," aku memberenggut.
Tangannya tertarik bertepatan dengan datangnya pesanan kami. Aku selalu suka makan berdua dengannya. Pak Bagas selalu melakukan hal-hal sederhana yang membuatku terpesona olehnya.
Persis seperti saat ini, Pak Bagas ikut membantu pegawainya menata manakannya. Menaruh mangkuk berisi air cuci tangan serta mengambilkan sendok dan garpu untukku. Kemudian mengelapnya dengan tisu. Aku mencoba menyeimbangkan perhatiannya dengan mengambil air mineral miliknya, lalu membukanya, namun gagal saat tangannya lebih cepat mendahuluiku.
"Tolong isiin piring saya aja, jangan banyak-banyak. Kuahnya juga sedikit. Ikannya saya mau yang panggang, kalau masih panas gak usah, ntar tangan kamu melepuh. Udang sama cuminya,-" ucapannya terhenti saat menyadari, "Kenapa kamu lihatin saya begitu? Ada yang salah?"
Aku tersenyum, "Gak pa-pa."
Pak Bagas mengulurkan air mineral yang tutupnya sudah terbuka kepadaku, "Thankyou..." aku kesem-sem sendiri. Ini tuh kayak aku lagi berperan menjadi seorang istri dan Pak Bagas sebagai suaminya. Aku melayaninya dari mulai nasi hingga lauk-pauknya.
"Terimakasih kembali," balasnya saat menerima piring yang sudah berisi permintaannya.
Kami makan dalam diam. Namun diamnya bukan sembarang diam, ada lirikan dan tatapan penuh pujaan sesekali terlihat olehku. Membuat perutku seperti merasakan sensasi kupu-kupu yang sibuk berterbangan didalam sana. Sungguh sangat menggelikkan.
"Sudah? Mau tambah lagi?"
"Perutku mau meledak, kenyang banget. Takutnya nanti malah ketiduran," keluhku padanya, "Kalau Bapak? Rasanya sih sudah, melihat hmmmm satu dua tiga empat," aku pura-pura menghitung kepala ikan yang sudah habis disantapnya---termaksud dari dipiringku.
"Siapa suruh hari ini kamu pulangnya cepat? Jadi saya harus melampiaskan recharger saya ke ikan-ikan yang sudah saya makan."
Dahiku mengernyit tak paham atas omongannya.
"Makanya yang diisi itu bukan cuma pipi, tapi otak kamu juga." Pak Bagas mengedipkan sebelah matanya, "Yuk, keburu macet, saya jadi makin gak bisa lepas dari kamu."
Ambigu banget ih, gak jelas deh Bapak duda satu ini. Uda tau kapasitas otakku itu dibawah rata-rata, masih aja suka bikin bingung. Untung cakep.
Sesampainya dikantor kami balik ke mode silent, berbicara seadanya, berdekatan sewajarnya. Tidak boleh berlebihan, nanti ada yang menerka-nerka, gawat aku.
Baru aja diomongin, uda ada aja yang...
"Al, gue lihat-lihat nih ya, lo itu setiap selesai makan siang selalu barengan sama Pak Bagas. Gak pernah ikut kita lagi. Sombong banget semenjak uda naik pangkat. Gak ingat lo kemarin-kemarin ngeluhnya sama siapa kalau si bos bikin lo pusing tujuh keliling?" seperti biasa, siember Dyra mulai kembali ke perannya.
"Gue lihat-lihat juga beberapa hari ini lo deketan mulu sama si bos. Apalagi kalau uda sore, sering kan lo beduaan sama dia diruangannya? Gue tau, jangan pura-pura bego." Jovita malah ikut nimbrung. Mati aku.
"Please, gue gak mau disebut makan gaji buta. Kalian balik dulu gih, sesi tanya jawabnya nanti aja, kerjaan gue numpuk banget. Bisa-bisa gue dipecat cuma karena ngeladenin kebacotan kalian bertiga."
"Mon maap Buk Asisten, gue gak ikut-ikutan."
Ni lagi satu, si ibu-ibu patah hati. Bukannya nyembuhin hatinya malah sibuk ikut sama duo sejoli itu.
"Lar, mending lo cabut deh. Karoke kek, nonton film kek, atau apalah, supaya gak kecipratan sama kekepoan mereka. Kasian tuh otak lo, jadi gesrek begini," ucapku miris. Lara cuma senyum-senyum aja, dasar orang gila.
"Gue sih gapapa ya, Al. Lo mau deket sama siapapun gue gak perduli. Yang ngejalanin juga elo, yang ngerasaan juga elo. Tapi lo gak boleh bego, apalagi masalah hati," Dyra menepuk pelan bahuku seakan-akan memberi kesadaran, "Pak Bagas loh ini, si duda ganteng yang sampe sekarang masih belum bisa lepas dari mantan istrinya. Lo yang sering bilang, jangan pernah berharap sama seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya karena bisa berpotensi membuat kita hanya menjadi pelampiasannya aja. Lo gak ingat? Perlu gue tunjukin vn-nya supaya lo sadar?"
Dulu aku pernah menasehati Jovita saat ia mulai jatuh cinta pada seorang laki-laki yang ditinggal pergi oleh mantan kekasihnya. Mereka sudah pacaran kurang lebih lima tahun, dan dengan mudahnya ia meminta Jovita untuk menjadi kekasihnya padahal ia saja masih belum berdamai dengan masalalunya.
Aku mengatakan bahwa Jovita tidak perlu betanggung jawab atas lukanya, sebab jika itu terjadi maka Jovita akan hanya menyalahkan diri sendiri jika suatu saat gagal karena tak mampu membuatnya keluar dari masalah yang sulit.
"Gue itu asistennya, wajar dong gue kemana-mana nemplokin dia terus."
"Tapi jangan keseringan, kasihan sama jantung lo. Gue paham banget ni, lo mulai dag dig ser kan sama dia? Jangan bohong," ujar Dyra sok tau.
"Gak, Dyr. Gue biasa aja kok. Lo percaya sama gue. Gak bakal gue cinta sama dia. Lo bisa pegang omongan gue."
"Awas aja ya lo. Jangan main-main sama gue, kalau ketahuan sama gue, habis lo." ancam Jovita.
"Dah sana balik, gue mau masuk kedalam," tunjukku pada ruangan Pak Bagas yang pintunya sudah tertutup rapat.
“Alana,” panggil Lara.
“Apalagi, Lar?”
"Lo ngerti gak sih, diantara kita bertiga, yang jomblonya uda karatan itu dia, tapi kenapa dia seakan-akan sok tau ya? Menasehati orang pacaran, padahal dia sendiri gak pacaran,” ucap Lara polos.
"Gue juga baru ngeh, lo tau kenapa Jov?”
Jovita menatap Dyra dari atas sampai bawah, membuat Dyra memukul puncak kepala Jovita dengan ponsel yang ada digenggamannya, lalu berkata, “So sorry sister-sister sekalian, pelatih itu tidak bermain,” jawabnya jumawa, lalu pergi meninggalkan kami yang sudah menatapnya horor.
Sekembalinya Dyra, Jovita dan Lara, membuat otakku disuruh bekerja dua kali lipat. Benar-benar kurang ajar, bikin tambah beban aja.
Aku melangkahkan kaki dengan malas, kalau tak karena mereka, pasti mood ku bagus banget untuk menjumpainya.
Aku mengetuk pintu ruangannya beberapa kali, harap-harap cemas dengan kondisi hatiku. Saat merasa tak ada respon dari sipemiliknya, dengan keberanian luar biasa aku memutar knop pintu dan yang pertama kali yang kulihat adalah Pak Bagas sedang duduk dikursi kebesarannya.
"Maaf, Pak, saya sudah mencoba mengetuk beberapa kali, tapi gak ada jawaban dari Bapak."
Pak Bagas tersadar dari lamunannya. Aku tau itu, ketika aku mendapati perubahan wajahnya.
"Saya mau nyerahin berkas-berkas hasil proyek semalam. Tinggal tanda tangan Bapak, setelah itu semuanya beres," aku berdiri diseberang mejanya.
Aku terkagum saat melihat urat dan pembuluh darahnya yang menonjol dipermukuaan kulitnya, apalagi dibagian punggung tangannya. Mungkin disetiap harinya Pak Bagas rajin melakukan aktifitas fisik atau olahraga lainnya, khususnya angkat beban. Makanya hasilnya begitu. Gagah banget kelihatannya.
Pak Bagas mengangguk, kemudian menandatanganinya, "Jadi kamu yang bakal nyerahinnya?"
"Hah? Hngg... iya, sekalian saya mau izin, kalau saya besok datangnya agak siangan," aku tergaguk menjawabnya, setelah tertangkap basah sedang memperhatikannya.
"Saya minta supir kantor yang nganterin kamu. Jangan sendirian, bahaya. Apalagi saya yakin kamu kesananya naik angkot."
"Saya sudah biasa, Pak..." Aku tersenyum lebar mencoba memberinya kepercayaan.
"Tetapi saya yang belum terbiasa ketika nanti saya mendengar ada salah satu staf saya kenapa-kenapa diluar sana. Jadi tolong, kali ini boleh kerjasamanya dengan mengikuti kemauan saya demi keselamatan kamu?" Pak Bagas mengangkat kepalanya, menelusuri eksperiku yang tampak terkejut dan seketika ia tersenyum miring. Seperti biasa, ciri khasnya. "Atau kamu mau saya memohon, Alana?" refleks membuatku menggeleng.
Ini nih akibat terdoktrin sama ucapan trio kutu kupret, kelihatannya jadi tambah bego begini.
"G-gak usah, saya bakal ikut maunya, Bapak. Tetapi kenapa?"
"Kenapa apanya?"
“Kenapa belakangan ini Bapak selalu mendominasi saya. Mulai dari pekerjaan saya, makan siang saya juga jadwal pulang saya,” ucapku mencoba memberanikan diri.
“Karena kamu itu asisten pribadi saya, apa saya salah?” balas Pak Bagas cuek.
“Saya takut salah menafsirkan perasaan ini dengan sendirinya. Tetapi semakin memikirkannya, semakin membuat saya gila. Saya tidak mau terbelenggu dalam perhatian Bapak, saya tidak mau terjebak dalam perlakuan manis Bapak. Sebelum perasaan saya terlalu jatuh kepada Bapak, tolong berhenti. Saya tidak mau terlalu berharap,” ujarku dengan membalas tatapan Pak Bagas yang terasa sangat mempesona.
“Lantas kalau saya bilang saya tidak mau berhenti, bagaimana?”
Melihat Pak Bagas yang sudah tersenyum miring, jatungku mulai berdetak dengan tak karuan. Aku terus berusaha meyakinkan diri, bahwa Pak Bagas itu sama saja dengan laki-laki lainnya. Sama-sama buaya.
Aku tersenyum lebar, kemudian berkata, “Berarti saya yang harus berhenti berkeliaran disekitar Bapak. Sebab saya tidak bisa berada dalam kukungan seorang laki-laki yang masih belum selesai dengan sama lalunya.”
Balasku akhirnya. Aku tidak bisa, kalaupun boleh aku sedikit merasa percaya diri, dapat ku simpulkan bahwa laki-laki itu sedang tertarik padaku. Terlihat dari caranya memperlakukanku juga memperhatikanku. Kalau memang faktanya begitu, aku akan menerimanya. Pak Bagas lahir dari keluarga baik-baik, keluarga kami juga sudah saling mengenal. Aku sendiri, begitu pula dirinya. Tidak akan ada yang merasa tersakiti jika kami memulai suatu hubungan baru.
Tetapi, lagi-lagi aku harus melenyapkan itu semua dari dalam pikiranku. Bekas luka yang dibuat oleh Andre masih terasa dihatiku. Andre saja, yang selalu menjadikanku prioritas utamanya, masih bisa mengkhianatiku, bagaimana dengan dirinya? Bahkan aku masih sering melihatnya melamun sambil memandangi gambar istrinya yang terpajang indah disudut mejanya.
Apa aku mampu? Mungkin tidak, mungkin juga iya. Aku masih seperti berada dipersimpangan yang tidak tau, ujungnya akan kemana.