Sudah larut, aku melirik jam yang ada dipergelangan tanganku. Menghembuskan napas dalam saat menyadari sudah pukul sebelas malam. Hari ini, tidak begitu melelahkan, seharusnya. Pekerjaan di kantor tidak begitu menumpuk, hanya butuh beberapa persetujuan dari Pak Bagas demi mendapatkan tanda tangannya. Hanya saja, pemikiran-pemikiran bodoh yang saat ini tertinggal diotakku membuat ku capek sendiri. Aku melangkahkan kaki dengan gontai. Membuka pelan pintu utama yang langsung terhubung oleh ruang tamu. Seperti biasa, sunyi. Namun, semakin aku masuk, maka semakin terlihat pula paras seorang laki-laki menawan, yang selalu menyiapkan bahu lebarnya untuk tempatku pulang dan bersandar. "Hai, My Queen," ujarnya. Selesai menyeduh teh untuknya. Aku tersenyum lemah, mendaratkan kepalaku dibahunya. "

