"Kamu uda makan, sayang?" "Ya menurut Bapak?" "Belum." "Tuh tau, pake nanyak segala." "Jutek banget. Gimana gak makin naksir saya." Aku memutar mata dengan malas. "Naksir-naksir doang, di halalin kagak gue." Gumamku, sambil berjalan mendahuluinya. "Apa?" Tanyanya. Aku semakin cepat melangkahkan kaki, hendak menjauh darinya. "Gak ada apa-apa tuh." "Emangnya kamu selama ini babi, makanya minta saya halalin?" Aku berbalik, menatapnya tidak percaya. Pak Bagas ini apa sih? Jokesnya garing banget. "Buru, nanti aku mau ketemu Papa," ujarku malas. Pak Bagas dengan sigap berjalan mendahaluiku. Lebih dulu membukakan pintu mobil untukku, kemudian menaruh tangannya tepat diatas kepalaku agar tidak terbentur. "Aku tuh laper bangetttttttt. Kirain tadi mau langsung ke tempat makan, rupanya mal

