"Beneran deh, gue kayaknya pinter banget. Pasti lo ada masalah kan sama pacar simpenan lo itu sampe-sampe beberapa hari ini lo bawaannya badmood terus. Mana kalau lagi meeting kalian berdua diem aja, gak kompak kayak biasanya." Matanya emang sibuk memilih menu apa yang kami pesan untuk kopi di siang hari ini, tetapi kenapa mulutnya ikut sibuk nyerocos juga sih? Gak capek apa ni orang. "Yang pahit apa ya, Buk? Perasaan selama ini gue mesennya Caramel Machiato terus, sampe gak tau kalo Starbucks punya menu yang lain," ucapku mencoba mengabaikannya. "Cukup pahit yang hidup, Buk. Kopi jangan." "Tinggal jawab." "Marah muluk, heran. Caffe Americano sih." "Oke gue pesen itu." Dyra mengangguk, "Pak Bagas juga sekarang doyan marah-marah, gak kayak biasanya, kalau uda ngelihat muka lo pasti

