Part 4

2116 Kata
Kami berjalan beriringan menuju beberapa orang yang sudah berkumpul didalam satu ruangan. Janji ini seharusnya hanya diisi olehku, tetapi kali ini tidak. Si Bapak duda ganteng itu ikut gabung, padahal sedari tadi aku sudah memintanya untuk menunggu dimobil. "Eh... Alana... sudah datang, bersama dengan..." "Bagas Dirgantara." Tanpa menunggu, Pak Bagas menyaut. "Pak Bagas Dirgantara? Ya Tuhan, senang sekali bisa bertemu langsung dengan Bapak." sang lawan bicara dengan sok asiknya langsung memeluk laki-laki itu. Membuatnya mau tak mau menerimanya. Aku melihat lirikan matanya yang risih sebab diperlakukan seperti itu. "Ini sebuh kehormatan bagi saya juga team saya karena pertemuan kali ini didatangi langsung oleh salah satu petinggi perusahaan terkenal di Indonesia." Pak Andre, klien teramah, terbanyak cakap dan tersok asik yang pernah kukenal. Well, beliau memang baik, namun ketertarikannya dalam banyak bicara membuat kami, sebagai lawan bicaranya terkadang merasa risih sendiri. "Bayu, kemari. Ada tamu spesial berkunjung kesini," panggilnya terhadap seorang laki-laki yang sibuk berkoordinasi dengan yang lainnya. "Selamat siang, saya Alana dan ini," aku hendak menyalamnya sebagai tanda perkenalan dan ia menerimanya dengan baik. Saat aku mengulurkan tangan akan berjabatan dengannya, Pak Bagas lebih dahulu mendahuluiku. "Dan Saya Bagas Dirgantara. Senang bertemu dengan anda," aku terpaku disampingnya. Kembali kuturun tanganku, "Maaf sebelumnya saya kemari tidak memberitahu anda terlebih dahulu." "Gak masalah, dengan kunjungan anda kesini sudah menjadi suatu kehormatan bagi saya. Jangan sungkan-sungkan, tolong anggap saja milik sendiri. Kalau butuh sesuat, bilang saya atau team saya, kami akan siap membantu." Aku tak tau atau bahkan lebih tepatnya aku baru tau kalau kesini bersama Pak Bagas akan dilayani dengan sepenuh hati. Siapa sangka, setiap singgah seorang diri, aku akan menjadi bahan godaan bagi beberapa yang notabenenya sudah mengenalku. Mereka akan dengan percaya diri menawariku sebuah makan siang gratis, kalau perlu makan malam juga. Beruntung aku hidup masih bersama orangtuaku, maka tanpa pikir panjang aku menolaknya. Mungkin kalau kesempatan itu datang dimasa kuliah, aku akan dengan cepat menyetujuinya, lumayan, makan gratis. "Eh, Ibu Alana, tumben agak siangan? Biasanya pagi, sampek satpam aja ngira ini proyek yang megang Ibu atau saya," akhirnya muncul, seorang laki-laki yang digadang-gadang sedang naksir kepadaku. "Kesiangan tadi. Apa kabar? Maaf ya telfonnya kemarin gak saya angkat, kebetulan ada meeting mendadak." Laki-laki yang lesung pipinya muncul tanpa malu-malu itu tersenyum lebar dihadapanku, "Baik. Santai, Bu, syukur-syukur nomor saya disimpan bukannya malah dianggurin gitu aja." Namanya Nanta, sepupunya Dyra. Sebetulnya keberadaannya tak ada sangkut pautnya disini, cuma kebetulan proyek yang digarap ini milik salah satu saudaranya, jadinya Nanta yang syukurnya sedang mempunyai banyak waktu senggang, diamanahkan untuk sesekali berkunjung. "Dan ini?" ia menunjuk Pak Bagas ragu-ragu. "Pak Bagas, Nan. Bosnya Dyra juga." Mulutnya membentuk huruf O, sebagai tanda ia mengingat saat beberapa hari lalu Dyra sempat bercerita bahwa kami mempunyai seorang bos yang sama. Takut diserobot lagi, aku lebih dahulu mengulurkan tangan kearah Nanta, membuat sebelah alisnya terangkat, "Senang ketemu kamu lagi, semoga gak bosen-bosen ya." Nanta tertawa, matanya tertutup hingga menimbulkan bentuk bulan sabit, "Al, apaan sih. Ya enggak lah. Kamu berkunjung kesini aja, aku uda seneng banget. Kalau perlu tiap hari ya, supaya imunku naik terus," candanya. "Bisa aja." Aku ikut tertawa mendengarnya. Nanta ini emang anaknya nyenengin banget. Walaupun pertemuan kami masih bisa dihitung jari, tapi entah kenapa, setiap pertemuan itu ada, Nanta selalu menyelipkan sebuah memori menyenangkan untukku. Sedang asik-asiknya mengobrol, tiba-tiba Pak Bagas pergi menjauh. Awalnya kukira ia cuma ingin melihat-lihat bagaimana perkembangannya, ada kesalahan atau kekurangan. Namun nyatanya aku salah. Saat dekat dengannya, Pak Bagas seperti berusaha menjauh, membuatku harus berpikir keras, apa kesalahan yang telah kuperbuat padanya. "Ih kenapa sih? Sinian deh, panas kalau disitu, ntar kulitnya hitem," ujarku. Pak Bagas menggeleng, kakinya kembali melangkah meninggalkanku. "Pak Bagas, sini dulu. Kenapa sih? Saya ada salah? Kalau ada saya minta maaf." "Uda saya maafin," ucapnya pelan namun masih bisa terdengar olehku. "Terimakasih kalau sudah dimaafin, tapi jangan disitu dirinya, disini aja. Panas tau, ntar kulitnya hitem," ulangku lagi. Masalahnya, si duda ganteng ini lagi sok-sokan ngelihatin dua gunung pasir dan beberapa sisa batu bata yang terbengkalai akibat belum terpakai sebab ada banyak para pekerja yang sedang sakit akibat perubahan musim. Juga, ini jam satu siang, jam-jam matahari sedang terik-teriknya. Kalau tadinya jam sembilan atau sepuluh aku mah oke-oke aja, lumayan untuk kesehatan. "Emang lagi taning," ujarnya tanpa melihatku. "Taning? Sejak kapan?" "Sejak hari ini." "Ih serius..." aku memberenggut saat Pak Bagas berbalik badan menghadapku, "Jangan kayak anak-anak deh, Pak. Capek tau ngikutin Bapak terus," ucapku mulai jengah. "Ya siapa suruh ngikutin saya? Sana pergi, sama temenmu si Nanta-Nanta itu, saya gak perlu ditemani. Saya sudah biasa sendiri." Dih dangdut banget nih aki-aki, wkwkwk canda Pak Bagas. "Kenapa jadi bawa Nanta? Ntar orangnya batuk-batuk loh," tepat sekali, setelahnya terdengar suara batuk Nanta, juga suara beberapa orang yang meminta pertolongan untuk mengambilkan segelas air putih untuknya, "Tuhkan, dosa loh. Gak baik tau." Akhirnya laki-laki tua yang hari ini tidak sadar kalau ia sudah tua itu berjalan dengan lunglai. Seperti anak kecil, Pak Bagas menyeret kakinya dengan malas. "Panas..." adunya manja. Refleks membuat tanganku naik untuk mengelap bulir-bulir keringat didahi hingga dagunya. "Tuh kan, siapa suruh coba panas-panas. Kalau hitem gimana? Kalau sakit gimana? Mau tanning? Jangan disini, tanning enggak, pingsan iya." Pak Bagas mendengus geli, "Tinggal angkat. Ngapain susah-susah." "Hei lihat saya, lihat badan saya dan badan Bapak. Bandingkan. Emang saya sanggup buat angkat Bapak? Bisa jadi kita berdua yang sama-sama pingsan." Aku nyerocos sambil membukakan sebotol air mineral dan menggulirkannya padanya, "Minum dulu, ntar dehidrasi." Rasanya aku tengah mengurusi anak kecil yang sedang banyak mau. Lucu sekali, gemes sekali. Pengen nonjok aja bawaannya. Tapi tak boleh, harus kalem. Bisa jadi gajiku dipotong atau mungkin dipecat jika itu harus kejadian. "Udah?" "Uda, thankyou, Alana." "Hm sama-sama." Pak Bagas berdiri berhadapan denganku. Badannya yang tinggi seakan menutupiku dari teriknya sinar matahari. Mau tak mau aku tersenyum. Hal simpel seperti ini yang selalu dilakukannya ketika bersamaku. Membuat senyumku berpendar teduh, dalam hati mengucap syukur sebab didekatkan dengan seorang laki-laki yang selalu memperlakukanku dengan baik. "Kenapa sih bawa-bawa Nanta? Padahal dia gak ada dosa sama Bapak." "Selama ini sih gak ada, tapi hari ini ada." "Masa? Emang dia apain Bapak?" Pak Bagas mengambil tangan kananku, kemudian mengambil tisu basah yang selalu terselip dikantong bagian luar tasku. Lalu mengelapnya ketanganku, "Dia salim kamu. Itu dosa banget untuk saya." "Kok dosa sih? Kan cuma salaman gitu doang, gak yang lain." Betapa terkejutnya aku, saat perlakuan Pak Bagas selanjutnya membuat mataku membola. Bagaimana tidak, Pak Bagas mengecup telapak juga punggung tanganku secara bergantian. "Eh!" Setelah itu dengan perasaan tak bersalahnya, Pak Bagas menggenggam tanganku lalu memasukkannya kedalam kantong celana kainnya yang sejujurnya berukuran kecil, sehingga terasa sangat sempit. "Sudah saya sterilkan. Gak boleh lagi. Cukup tadi aja sebagai tanda perkenalan, pulangnya gak boleh lagi. Biar saya aja." Kenapa sih Pak Bagas? Emang bersamalam dengan laki-laki lain dosa gitu? "Bapak kayak anak kecil," ledekku padahal aku sendiri tidak mengerti apa yang sedang berada didalam otaknya. "Kalau kamu yang jadi ibunya saya mau." "Aneh." "Deket kamu saya bisa berubah menjadi aneh atau bodoh. Pikiran saya jadi tumpul dan rasanya kayak gak bisa dipakai lagi, walaupun sudah diasah berulang kali. Lihat kamu saya suka senyum-senyum sampai kadang ngerasa ngeri sendiri, takut saya gila. Kadang juga caper. Kayak tadi, lumayan, dapat jatah diperhatikan. Kira-kira kamu tau gak saya kenapa?" Dahiku berkerut mencoba mencari pengertian atas perkataannya yang menurutku tidak masuk akal. "Susah emang kalau bicaranya sama anak kecil, suka gak mudeng." Pak Bagas mengusap-ngusap dahiku yang berkerut, "Jangan sering-sering begini dahinya, Al, takut kamu cepat tua." "Tuaan Bapak." balasku. "Kalau itu gak perlu diperjelas saya juga tau." Aku tertawa. Pak Bagas mengacak rambutku, gesture yang beberapa hari ini sering menyapaku. Simpel tapi dampaknya sangat luar bisa untukku. "Jangan sering-sering ini," aku menghentikan gerakannya, menurunkan tangannya agar menjauh dariku, "Kasihan jantung saya, Pak, gak kuat." "Dulu, sama istri saya, saya gak sempat manjain dia, karena keburu dipanggil Tuhan. Walaupun kami menikah sudah hampir satu tahun, tidak sekalipun saya rasa, saya membuat dia bahagia. Saya selalu memberinya kesedihan dan dia selalu menangis karena saya." Matanya yang hitam pekat, menatapku dalam, "Waktu kehilangan dia, saya hancur. Saya menangis sejadi-jadinya sampai keluarga saya bingung, gimana cara membuat saya tenang." Aku dengan seksama mendengarnya, mendengar ceritanya yang ternyata tidak semenyenangkan apa yang dikatakan orang. "Dulu saya lebih cuek, Al. Lebih dingin. Bahkan saya tidak tersentuh oleh siapapun. Dan hanya Alena dan Sarah yang bisa menalukkan saya. Ketika saya kehilangan keduanya dalam satu waktu, saya pusing, saya tidak bisa mengontrol diri." Pak Bagas menjeda kalimatnya, menghirup udara banyak-banyak, dan menghembusnya dengan pelan, "Tiga tahun yang lalu, adalah tiga tahun yang paling berat untuk saya. Saya dipaksa untuk berdamai dengan masa lalu juga saya dipaksa untuk berdamai dengan diri saya sendiri. Saya terpuruk, saya terjatuh. Saat itu lah baru saya sadar, tidak akan ada yang berhasil membuat saya damai, kecuali diri saya sendiri. Sampai saya bisa disini. Berdiri dikaki saya sendiri, berdiri disamping kamu. Dan berdiri memperbaiki banyak hal yang tertunda akibat kekacauan yang telah saya perbuat." Saat melihat tatapannya yang mulai meredup, aku langsung menyelipkan kedua tanganku diantara tangannya. Lalu menariknya kemudian memeluknya dengan erat. Aku sendiri tidak tau persis apa yang sedang kulakukan. Tetapi, aku yang tidak bisa melihatnya serapuh ini, cukup menghacurkan hatiku. "Im here..." ucapku pelan, "For you." Pak Bagas mengangguk, menyembunyikan wajahnya diceruk leherku. Awalnya aku terkejut, sedikit meremang ketika merasa hembusan nafasnya yang hangat menyetuh kulit-kulit leherku. Setelahnya, aku berusaha mengendalikan diri. Tidak berpikir apapun, selain apa yang sedang kulakukan ini hanyalah sebuah rasa empati dari seorang staf biasa terhadap atasannya. "Al, gimana?" "Pasti bisalah. Apalagi ini Alana, Pak Bagas gak bakal menolak." Aku menghentikan langkah, menatap jengah mereka semua yang sedang berdiri didepan mejaku. "Saya sudah bilang, saya gak bisa janji." Mas Adi memasang wajahnya selesu mungkin, "Yah... padahal saya sudah berharap banyak sama kamu," lalu duduk kembali kekursinya. Mbak Laras tau-tau sudah muncul disampingku, dengan sengaja ia sedikit menabrak bahuku, membuatku menatapnya heran, "Emang paling susah berharap sama manusia, Di. Apalagi manusianya bentukannya begini, gak bakal lah." Ya Tuhan, Mbak Laras ini kenapa sih? Aku ada salah apa? "Banyak-banyak berdoa aja, nanti saya bantu ngomong sama Pak Bagas," tambahnya, lalu ia mendekat, membisikkan sesuatu padaku, "Kamu itu..." Mbak Laras menatap lekat penampilanku, "Cuma bocah kecil, jangan berharap lebih bisa dapetin Pak Bagas." Aku melengos, Mbak Laras kira aku bakal takut? "Ya kenapa emang kalau saya hanya bocah kecil? Masalah buat Mbak? Mbak itu kenapa sih? Tobat Mbak, jangan kerjaannya bikin saya sensi terus. Uda tua juga," ujarku. "Maksud kamu apa? Kamu bilang saya gak pantas berada disini? Kamu suka gitu ya orangnya, gak tau diuntung. Sudah menjadi asisten pribadi, tapi masih mau merebut jabatan saya. Belum puas juga kamu?" Aku membelalakkan mata ketika mendengar intonasinya yang berubah menjadi kuat. "Mbak, apa sih." "Wah... anak baru, uda beraninya melawan senior." Aku menurunkan bahu, sangat lelah menghadapinya yang terlalu banyak bicara. "Terserah Mbak saja." Aku tidak perduli mau dibilang tidak sopan, tidak hormat kepada atasan. Aku hanya tidak ingin menambah rasa tidak suka padanya. Aku berjalan melewati kubikel Dyra, Jovita dan Lara. Tidak memperdulikan mereka yang sedari tadi sudah memanggilku. Aku sudah pernah bilang sama Papa, aku mau dan aku bisa menjadi asisten pribadinya tanpa Papa yang harus turun tangan. Kejadian seperti ini sangat sering terjadi, bukan hanya disini, diperusahaan Papa juga. Aku tidak mau dirundung, tidak mau dihina oleh mereka yang sebenarnya tidak tau bahwa yang memintaku sedari awal disini bukan Papa, melainkan Pak Bagasnya sendiri. Pak Bagas meminta kepada Papa untuk meyakinkanku bahwa menjadi asistennya jauh lebih menguntungkan dari pada menjadi staf biasa dikantor Papa. Mama menolak, rasanya sangat tidak pantas jika menempatkanku sebagai asisten Pak Bagas, sedangkan diperusahaan Papa, aku bisa diletakkan ditempat yang lebih tinggi dari pada itu. Ntah apa yang terjadi, keesokan paginya, Mama memilih ikut satu suara dengan Papa. Maka disinilah aku, menjadi asisten pribadinya. Seperti tidak punya semangat lagi, padahal selesai makan bersama Pak Bagas tadi perasaanku luar biasa senangnya. Dan dalam hitungan menit, semuanya berubah. "Al, bisa minta tolong buat-" Aku mendongak, menatap dingin wajahnya. "Bisa minta tolong buatin saya kopi." Tanpa membuang waktu, aku beranjak, wajahnya yang timbul dibalik pintu memperlihatkan ekspresi bingung. "Hey," Pak Bagas dengan cepat menarik tanganku, "Ada apa?" Aku menggeleng, "Are you oke?" Aku terdiam sejenak, menepis tangannya yang rasanya sangat hangat. "Kenapa? Ada yang bisa saya bantu?" Padanganku mengedar disetiap sudut ruangan, berharap tidak ada satupun dari mereka yang melihat kami. Setelah merasa aman, aku mengangguk, membuat sepasang alisnya naik. "Bapak tim bubur diaduk atau tidak diaduk?" "Maksudnya?" "Bubur diaduk atau tidak diaduk?" Pak Bagas berdehem, "Tidak diaduk." Aku tim bubur diaduk. Hal sederhana seperti itu saja, kami masih harus berbeda. Bagaimana yang lainnya? Aku menghempas tangannya dengan kasar, membuatnya sedikit terkejut, "Nanti saya antar kopinya," ucapku, lalu pergi dari hadapannya dengan perasaan yang aku tidak mengerti apa artinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN