Part 5

2014 Kata
"Hei, ada apa?" Aku melewatinya begitu saja. Semalam, setelah mengantarkan kopi untuknya, aku bergegas pergi dari ruangannya, tidak ingin berlama-lama didekatnya atau lebih tepatnya tidak ingin menangis dihadapannya. "Al, saya minta maaf kalau saya ada salah," ucapnya pelan. "Jangan minta maaf, kalau Bapak sendiri sedang tidak merasa bersalah." Aku terus menunduk, membereskan kertas putih yang sudah berserakan diatas mejanya. "Ya gak pa-pa, saya cuma mau minta maaf saja." "Ini bukan lebaran." Jawabku ketus yang menbuatnya bangkit dari duduknya, lalu bergerak mengitari meja dan terhenti dengan kedua lengannya yang sudah memelukku dari belakang, "Im here," bisiknya, "for you." Setalah mengatakannya, bibirnya dengan cekatan memberi kecupan-kecupan ringan di rahangku. "Minggir, ini susah buat ngeberesinnya," didalam pelukannya, aku meronta ingin dilepas, "Lepasin, Pak." "Gak mau," tuturnya dengan suara teredam sebab kini wajahnya sudah tenggelam diceruk leherku dan tentu saja, hidungnya bekerja lebih ekstra untuk mengendus-ngendus kulit leherku yang masih tertutupi oleh helaian rambut. "Kalau ada sesuatu yang mengganjal dihati kamu, kamu bisa kok bilang ke saya. Saya gak mau menerka-nerka, saya takut salah." Suaranya, hembusan nafasnya, kecupan ringannya sungguh sangat memabukkan. Apa hal seperti ini akan terasa sangat wajar jika dilakukan oleh seorang atasan terhadap bawahannya? "Jangan begini, Pak. Saya bingung menghadapinya bagaimana." Pak Bagas menarik wajahnya dariku, menumpukan dagunya diatas kepalaku, "Kenapa harus bingung?" "Kita sudah melangkah terlalu jauh. Bapak tau sendiri, saya itu bawahan Bapak, dan Bapak atasan saya. Kita gak ada hubungan lain selain rekan kerja, dan apa yang kita lakukan beberapa hari ini, sudah melewati batas. Saya gak mau orang melihat kita dengan kondisi seperti ini. Jadi tolong berjarak dengan saya, jangan terlalu dekat. Saya gak mau menimbulkan fitnah." Aku berusaha lepas dari kukungannya yang terasa sangat posesif, lebih dulu memisahkan beberapa berkas yang telah ia tandan tangani dan belum, lalu berlanjut membereskan beberapa helaian kertas yang sudah berserakan diatas laptopnya. Aku mengabaikannya. Mengabaikan sosoknya yang kini masih setia berdiri dibelakangku, dengan satu tangan yang menumpu badannya dan tangan lainnya memainkan rambutku. Perkataan Mbak Laras selalu terngiang-ngiang diotakku, apalagi masalah aku yang bisa sampai disini karena Papa, tidak punya kemampuan sedikitpun. Kerjaannya bikin susah. Kalau bukan karena Papa, aku tak bakal jadi asisten pribadinya Pak Bagas, mungkin aku masih tiduran diatas kasur, dengan lampu yang meremang. Menonton drama kesukaanku sambil memakan beberapa camilan sebagai temannya. Aku akan berlarut-larut dalam kekosongan. Dimana tidak ada satupun yang bisa mengerti aku selalu Andre. Andre yang dulunya selalu menemaniku, memanjakanku dengan hal-hal menarik juga mengagumiku dalam kondisi apapun. Kalau boleh jujur, aku rindu padanya. Rindu wajahnya, rindu tatapannya, senyumnya, tawanya juga sentuhannya. Mungkin kalau dulu yang ia lakukan hanya selingkuh, aku akan memaafkannya, walaupun membutuhkan waktu lama. Sayangnya, tidak hanya selingkuh, ia juga b******u dengan Sandra, yang notabenenya adalah sahabat baikku. Andre dan Sandra adalah sosok yang kehadirannya sangat berpengaruh untukku. Seluruh kepercayaan kuberi pada keduanya, tetapi sayangnya, mereka merusaknya. Pada saat itu, tahun pertama dan kedua sangat menyenangkan, aku mampu berbaur dengan banyak orang. Aku juga aktif mengikuti beberapa kegiatan keorganisasian dari kampus, juga berhasil memasuki kawasan anak-anak hits kampus, yaitu ikut bergabung dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Memasuki tahun ketiga- semester ke lima- aku mulai sibuk dengan tugas-tugasku. Laporan dimana-mana hingga akhirnya aku menyerah sendiri, memutuskan untuk tidak mengikutin aktivitas BEM lagi. Sempat aku merasa kesepian, untung saja aku punya pacar yang pengertian, yang selalu ada dan menemaniku kapanpun dan dimanapun yang aku mau. Namun sialnya, laki-laki yang teramat kupercayai itu telah berkhianat. Katika aku sibuk dengan dunia perkuliahaanku, komunikasi kami merenggang. Jarak terbentang luas seperti memisahkan kami, padahal kami hanya terpisahkan oleh kelas. Ia kelas A dan aku kelas B. Aku memergokinya sedang b******u dengan teman dekatku. Percumbuan itu terjadi tepat didepan mataku. Tanpa suara, aku memperhatikan keduanya, seakan menikmati tontonan seru dari keduanya. Diruangan sepi yang jauh dari jangkauan para penghuni kampus, mereka seperti merasakan dunia ini hanya milik berdua, yang lain tentu saja mengontrak. Entah uda gaya keberapa, akhirnya mereka menyadari keberadaanku, "Alana..." lirih Sandra, "A-lana, aku... aku..." Aku menyunggingkan senyum, "Hai Sandra, Hai pacarku," aku berdiri dari dudukku, memperhatikan keduanya, dari ujung kaki hingga ujung kepala, "Lo sedep juga ya, Sand, kalau dilihat-lihat. Pantesan aja beberapa hari ini cowok gue bawaannya pengen ketemu lo terus. Ternyata ini penyebabnya." "Gue khilaf, Al." ucapnya. "Tadinya gue gak ada maksudnya, tapi kan-" "Defenisi khilaf gimana sih menurut lo? Kalau menurut gue sih, khilaf itu ketika kita melakukan kesalahan yang gak disengaja. Emangnya ini lo gak sengaja? bukannya mencoba melepas penyatuan kalian, lo malah bilang kalau lo khilaf?" balasku acuh. Tatapanku terhenti tepat pada keintiman keduanya, hanya beberapa detik. Lalu aku mengalihkan pandanganku, mengepal tanganku kuat. Berusaha sekua mungkin membalas tatapan Sandra dan mengedipkan sebelah mataku. Buru-buru Sandra dan Andre melepasnya. Dapat kulihat sisa-sisa kegairahan mereka berceceran tepat ketika Andre menarik miliknya. "Babe, kamu ngeluarinnya didalem? dan kamu gak pakai pengaman?" tanya Sandra terkejut. Andre terperanjat kaget, "s**t, im forgetting about that." Andre membantu Sandra memakai kembali dalamannya, dilanjutkan dengan celananya. So sweet sekali sepasang manusia tak berakhlak ini. "Kok bisa sih? kamu tau kan kalau ini tuh lagi masa-masa suburku? Kalau aku hamil gimana? Mana ini bukan yang pertama. Kamu itu kebiasaan deh. Kamu pura-pura lupa ya?" tanya Sandra dengan panik. "Ups! Uda sering rupanya," ceplosku, memandang keduanya penuh jijik. Sandra menutup mulutnya, memukul-mukulnya sejenak, baru berucap, "Gak, Al, ini gak seperti yang lo pikirkan." Darahku mulai mendidih, kepalaku seperti diterjang bara api yang membara, "Gak seperti lo pikir?" ulangku, "Lo kira gue buta, Sand? Lo kira gue bodoh? Terus ini yang lo lakuin itu apa? Belajar kelompok? Ngerjain tugas? Nongkrong? Lo sadar gak sih, Andre itu pacar gue. Apa-apa tentang dia, gue selalu cerita ke lo. Kalau gue ada masalah sama dia, gue juga selalu larinya ke lo. Lo nganggep gue bodoh beneran?" "Aku bakal tanggung jawab, i love you, i love you so much." ujar Andre. Aku berdecih, "Iki bikil tingging jiwib! Ckckck," aku berjalan mendekat ke Sandra, merapikan rambutnya, "Selamat ya, Sand," lalu turun mengusap perutnya, "Selamat menjadi calon Mama muda." Wajahnya panik, matanya menatap Andre dengan memohon. "Dan kamu, Ahhh aku minta maaf ya, selama kita pacaran, aku gak bisa ngasih kamu jatah. Makasih sudah mau bertahan, hingga sekarang akhirnya aku tau kalau beginilah bentuk aslimu. Kita selesai ya, Ndre. Terimakasih banyak telah melewati banyak kesempatan bersamaku." Setelah mengatakan itu aku berbalik badan, meninggalkan keduanya. Jujur, bukan bermaksud sok kuat, tetapi aku gak mau memperlihatkan kesedihanku didepan Andre, karena aku takut akan dicap lemah olehnya. Lagi pula, selama kami pacaran, Andre selalu mau menerima kekuranganku. Tak banyak kesalahan yang ia lakuin, hingga akhirnya hari ini lah puncaknya. Sesampainya dirumah, tentu saja aku menangis. Aku sempat tak mau keluar kamar selama tiga hari, sampai Papa dan Mama pusing sendiri melihatku. Well, setelah kejadian itu aku memutuskan untuk menutup rapat hatiku. Aku trauma, aku tak mau disakiti lagi. "Apa kamu masih kira, semua laki-laki itu sama? Seharusnya kamu tau, bahwa saya dan Andre itu adalah dua orang yang berbeda." Pak Bagas mundur selangkah, "Saya cuma pengen tau kamu kenapa, apa yang membuat kamu muram, apa yang membuat kamu jutek ke saya. Kalau saya ada salah, kamu bilang, tegur saya. Saya gak akan marah. Agar saya bisa intropeksi diri." "Jauh sebelum bertemu kamu, saya adalah pribadi yang buruk. Dengan pasangan saya, tidak sekalipun saya berusaha mencoba mengerti dirinya. Saya pendiam, saya cuek. Saya menutup diri rapat-rapat. Dan karena itu semua, saya gagal. Setelah ketemu kamu, saya berusaha mengubahnya, saya menjadi lebih agresif, banyak bicara, manja dan banyak mau. Saya berubah, selain untuk kamu juga untuk diri saya sendiri. Ternyata saya nyaman. Tetapi kenapa, setelah nyaman, kamunya yang terlihat tidak nyaman?" Aku menggigit bibir bawah dengan perasaan kalut. Apalagi saat aku merasa sosoknya semakin menjauh dariku. Setelah berkas-berkas tersebut tersusun rapi, aku membalikkan badan, menatapnya yang ternyata sudah berdiri didekat jendela dengan pandangan yang sama sekali tak lepas dariku. "Bapak hanya sedang terbawa suasana. Jangan melebih-lebihkan." Pak Bagas tersenyum miring, "Padahal semalam kita masih baik-baik aja, Al," jarinya saling bertaut-tautan, harap-harap cemas mendengar ucapannya selanjutnya, "Saya kira hubungan kita sudah lebih dari itu. Tapi ternyata tidak. Kamu benar, saya hanya terbawa suasana." Pak Bagas menatapku lekat, membuat jantungku berdetak tak karuan. Lalu ia membalikkan badannya, membelakangiku. "Kalau sudag tidak ada lagi yang ingin kamu lakukan, silahkan keluar." Aku menghela nafas dalam, dengan berat hati aku melangkahkan kaki keluar dari ruangan. Dan ternyata, Mbak Laras sudah berdiri dibaliknya. Maka ketika aku keluar dengan raut wajah yang muram, ia tersenyum. "Sudah saya bilang, jangan coba-coba. Kamu itu masih kecil, jangan terlalu banyak berharap. Kalau bukan karena Papamu, kamu gak akan bisa disini. Inget, kamu harus tau diri," ucapnya. "Mbak juga harus tau diri, Mbak gak seharusnya berkata seperti itu kepada saya. Seperti yang Mbak tau, saya disini memang karena Papa saya, dan karena Papa saya, Mbak bisa kehilangan pekerjaan Mbak," Ujarku yang membuat senyumnya luruh, kemudian pergi meninggalkanku. Untuk pertama kalinya, setelah sekian lama dilayani seperti ratu oleh Pak Bagas, akhirnya aku kembali kejati diriku semula, sebagai asisten seorang Bagas Dirgantara. Biasanya aku akan duduk dikursi paling depan, tepat disampingnya, kini pengecualian, aku memilih kursi paling belakang. Tertunduk lesu kearah bawah, sampai rasanya aku pengen ikut menyatu dengan keramik dari pada mendengar suaranya saling bersaut-sautan dengan yang lainnya. Perempuan picik itu duduk menggantikanku. Ia tersenyum setiap apapun yang dikatakan Pak Bagas, ia mengangguk setiap apapun arahan dari Pak Bagas. Ia tak sekalipun berkomentar. Lamunanku semakin jauh, keheningan seperti melingkupi. Tidak ada lagi orang, tidak ada suara. Hanya aku disini, duduk sendiri bersama sejuknya angin yang sesekali menghembus rambutku. Entah sudah berapa lama aku sibuk dengan duniaku sendiri, hingga tidak sadar, Mbak Tari ternyata sedari tadi memanggil-manggil namaku. "Al..." "Alana!" panggilnya tepat ditelingaku. Aku terperanjat kaget, benda pipih yang sedari tadi dipangkuanku, ikut terjatuh kebawah. "I-iya," balasku gugup. Ternyata semua orang yang ada diruangan tersebut, tengah menatapku. Aku tersenyum kaku, "Iya, Mbak?" tanyaku pada Mbak Tari. Aku megalihkan pandangan, menatap sosoknya yang berdiri tegap didepan sana. Pak Bagas menggelengkan kepalanya, membuatku meringis tak enak hati. "Keluar," ucapnya. Dahiku berkerut, tak mengerti. Aku mengedarkan pandangan kesemua orang, mungkin ia tengah meminta sesuatu, "Keluar!," ucapnya kembali. "Sssttt, Alana. Keluar..." bisik Mbak Tari. "Saya, Mbak?" tanyaku. "Iya, kamu. Siapa lagi! Jangan mentang-mentang kamu asisten saya, saya gak bakal ngusir kamu. Sudah saya bilang berulang kali, kalau saya sedang mempresentasekan sesuatu, didengar, dimengerti. Ditanya kalau ada yang tidak tau. Bukannya malah diam, bengong." Diatas paha, jari-jemariku saling bertautan. Jantungku berdebar kencang. Aku memberanikan diri membalas tatapannya, "Maaf, Pak, saya-" "Saya tidak perduli. Keluar, sekarang." titahnya. Aku masih duduk, tak ada niatin ingin beranjak. "Kamu gak mau keluar juga?" Pak Bagas menggelengkan kepalanya, "Baik. Saya yang bakal keluar." Tanpa pikir panjang, Pak Bagas langsung menutup laptopnya. Mengambil dengan kasar beberapa bundel kertas yang tertata rapi. "Ck elah. Apa susahnya sih, Al, kamu yang keluar?" "Tau tuh. Mentang-mentang asisten, jadi seenaknya." Aku memijat dahiku, sungguh tak tahan dengan kericuhan yang timbul semenjak ditinggal pergi oleh Pak Bagas. "Ck, nyesel gak kalian semua berutang budi sama dia?" tutur Mbak Laras, yang tidak kuperdulikan, "Tarik semua rasa terimakasih kasih kalian ke dia. Bisanya bikin susah aja." Setelah mengatakannya, Mbak Laras beserta yang lainnya ikut meninggalkan ruangan. Hingga tersisa aku dan Mbak Tari. "Yuk, Al, keburu gelap ni." Aku menggeleng. "Gak usah diambil hati. Kamu tau sendiri, Mbak Laras suka begitu sama junior. Lagian, kamu juga manusia, wajar kalau sesekali melakukan kesalahan." Dalam hati aku mengiyakannya. "Sebelum kamu kesini, Pak Bagas bilang, masalah pemecatan kemarin uda dibatalin sama kamu. Waktu ditanya kok bisa kamu, gak dijawab sama Pak Bagas. Pak Bagas malah nyruh mereka bilang makasih sama kamu. Makanya tadi Mbak Laras bilang gitu." "Kok aku, Mbak?" Mbak Tari mengedikkan bahunya, "Gak tau. Saya aja bingung. Padahal kemarin team saya uda ketar-ketir. Eh tadi dengan mudahnya Pak Bagas ngebatalinnya." "Terus, Mbak?" "Itu aja. Gak ada terusnya," Mbak Tari bangkit dari kursinya, "Mau keluar bareng gak, Al?" Aku menggeleng dengan lesu. "Kalau gitu saya duluan ya, Al." Pamitnya dan aku memaksakan bibirku agar tersenyum. Kupikir Pak Bagas akan tetap pada pendiriannya. Sebab, saat aku mencoba meyakinkan dirinya untuk lebih menahan rasa emosinya, ia dengan sabar menepisnya. Menepis bahwa mereka semua tak layak untuk dipertahankan. Nyatanya tidak. Dibelakangku, Pak Bagas berkata lagi. Apa memang suaraku seberharga itu untuknya?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN