Bugh!
"Aw! Gila ya lo, masih pagi uda main kasar aja."
Dasar perempuan ular. Seenak jidat melempar aku pakai gumpalan kertas yang ukurannya besar.
"Lo tega, buk, seriusan deh. Gak punya prikemanusiaan dan prikeadilan." Dyra memberenggut disampingku.
"Dih sok cakep lo," balas ku. Aku mengambil gumpalan kertas tadi, melempar-lemparnya keatas, sambil sesekali bersiap, akan menyerangnya kembali, sebagai bentuk balas dendam.
"Gue telpon gak diangkat, gue WA juga gak dibalas. Uda gak minat lo jadi temen gue lagi?" tanyanya menggebu-gebu, membuatku melengos.
"Gue sibuk."
"Anjrit! Gitu ya lo sekarang. Mentang-mentang baru ketemu Nanta, lagak lo uda sok aja."
Langkahku terhenti sambil tanganku mengetep ID card sebagai akses masuk kedalam gedung, "Bukan ketemu tapi visit proyek."
"Lah, yang punya Tante gue?" Dibelakangku, Dyra melakukan hal yang sama. Setelahnya menyusulku lalu berjalan denganku seiringan.
"Yoi."
"Ooooo.... gitu ya mainnya sekarang, main tunggal. Gak mau ganda putri lagi. Dulu aja sibuk minta temenin, eh sekarang uda berani aja. Gue temen lo dari SMA, kita sudah melewati banyak hal. Bahkan muka lo pas lagi jelek-jeleknya aja gue uda lihat. Dan sekarang lo seenaknya mau buang gue?" Tiba-tiba matanya nengerjap, kemudian mengapit tangan kananku, "Lo sama siapa, buk?"
Sok-sokan, bilang aja kepo. Dasar perempuan ular.
"Sama Pak Bagas, Dyr. Gue masih setia kok, walaupun terkadang kesannya gue harus mengemis sih."
Dyra terperanjat kaget, "Ngapa sama doi? Tumben mau turun langsung? Setau gue semenjak ditinggal bininya, tu orang uda jarang banget visit-visit begituan. Banyakan ngabisin waktu dikantor, karna lo tau sendiri ni gedung punya bininya."
"Terus masalahnya apa, bukkkk?" jawabku malas.
"Masalahnya sekarang lo juga kalau makan siang kagak pernah sama kita lagi. Mentang-mentang uda naik pangkat, gue doain turun lagi jabatan lo."
"Ih mulutnya... gak baik ngomong gitu." kutepuk bibirnya dengan gemas, "Kebiasaan ya, Dyr. Diaminin baru tau rasa lo."
"Woi!!!!" Jovita yang tingkahnya dulu kuharapkan akan kalem, lembah lembut, ternyata gagal. Sangat berbanding terbalik dengan adik perempuannya yang kelewat pendiam, tidak banyak omong. "Ngomongin gue ya?"
"Najis banget." Dyra memasang ekspresi menjijikkam, "Tumben lo gak sama Lara?"
"Anaknya uda dateng duluan. Ada deadline katanya, makanya gue sendirian."
Aku mengangguk setuju, lantas kini memindahkan pandanganku kepada Dyra. "Dyr, lo kemarin kemana?"
"Kemarin kapan?" tanyanya sok polos.
"Yang kemarin lo bilang digrup, kalau lo mau pergi sama adik sepupu lo," ucapku penuh kegemasan.
"Ya pergi. Kenapa emang?"
Aku berdecak kesal, "Ya kemana? Adik lo cewek atau cowok?"
Dyra terdiam sejenak, lantas senyuman jahil muncul dibibirnya, "Anjrit, tipe lo uda gak yang kayak Pak Bagas lagi?"
"Gue cuma nanyak, buk..." kenapa jadi aku yang dicurigain.
"Berarti tipe lo beneran duda kayak Pak Bagas?"
Aku berpindah tempat, menjadi disamping Jovita, "Kok gue ditengah? Gue gak mau denger bacotan dia," sarkas Jovita.
"Gue juga gak mau," balasku tak mau kalah.
"Kalau lo gak mau, kenapa lo pindah?" Jovita mulai nyolot.
"Kok lo nyolot?"
"Gue gak ada nyolot, perasaan lo kali." Jovita membalas tatapan ku tajam. "Buktinya tadi-"
Langkah kaki kami terhenti secara bersamaan saat laki-laki yang beberapa hari ini perannya sudah sangat mendominasi disetiap hari-hariku, berdiri tegap dihadapan kami.
"Eh- good morning, Pak Bagas..." sapa Dyra dan Jovita secara bersamaan. Berusaha tersenyum selebar mungkin walau aku tau itu hanya segedar formalitas.
"Morning. Mana satu lagi?" tanya Pak Bagas.
"Siapa, Pak?"
"Lara."
"Oh... uda dateng bulan, Pak." ceplos Dyra tak jelas. Minta digebukin emang.
"Dateng bulan?"
Kusikut perut Jovita, "Kok jadi gue nyet!"
Aku membelalakkan mata. Menyikut kembali perutnya.
"Aduh- eh maksud Dyra dateng duluan, Pak." ujar Jovita akhirnya walau sedikit meringis akibat sikutanku.
Pak Bagas manggut-manggut. Kemudian tatapannya beralih padaku, "Keruangan saya langsung, bawa catatan semalam."
Aku mengangguk, "Baik, Pak." Lalu ia pergi tanpa meninggalkan senyuman untukku.
Begitu saja rupanya. Sialan... padahal aku berharap lebih. Awas aja nanti minta dimanjain, tak akan mau aku menurutinya. Ah wait, kami kan sedang kemusuhan.
"Pak Bagas tuh gimana yak, uda cakep, mapan, rajin, pekerja keras. Gak ada kekurangan sedikitpun, malah gue lihat banyak kelebihan. Tapi makin hari gue makin sadar, kalau dia ternyata punya kekurangan."
"Kekurangan apa?" tanya Jovita.
Dyra menggelengkan kepalanya, "Kekurangan kosa kata," tuturnya membuat aku mendengus geli, "ckckckc kasihan gue sama siapapun perempuan yang bakal dinikahi atau digebet sama dia. Pasti dianggurin, buk. Dicuekin gitu aja."
Demi apapun, aku pengen banget bilang, "GAK Dyra, enggak. Dia sama aja sama yang lainnya. Manja, keras kepala. Bacot banget, banyak tingkah." Sayang sekali, aku hanya bisa berbicara dalam hati. Sebab kalau kuucapkan, maka sesi wawancara dadakan akan terjadi hingga kantor tutup.
Jovita memukul-mukul lengan Dyra, "Ada satu lagi, buk!" serunya kuat.
"Ape lagi?"
"Kekurangan gue dihidupnya."
"Ah, banyak omong lo!"
Sebelum berlari meninggalakan kami. Dyra lebih dulu mengacak wajah Jovita lalu rambutnya. Dan kabur entah kemana.
"Lah, kok pintunya dikunci?" aku terkejut ketika Pak Bagas menekan tombol kunci diremotnya, "Kalau yang lain mau masuk gimana?"
"Mau morning person with special person."
Aku mengedikkan bahu, menganggap berlalu atas gurauan anehnya.
"Semalam filenya langsung dikirimin Nanta. Kendalanya sih belum ada, tapi masih ada beberapa pekerja yang terus-terusan sakit, efek peralihan musim, Pak," kataku. Tanpa permisi menjatuhkan badanku dikursi yang terasa lebih empuk dari pada kursiku.
Indonesia itu mempunyai dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Maka yang sedang terjadi adalah musim pancaroba yang artinya masa peralihan dari dua musim tersebut. Jika musim itu datang, akan banyak orang sakit, sebab perubahan cuaca yang tidak menentu bisa membuat daya tahan tubuh seseorang melemah sehingga menjadi rentan terkena penyakit. Kebanyakan penyakit yang menyerang disebabkan bakteri atau virus. Seperti flu dan batuk-natuk.
Kami tidak bisa mamaksakan mereka yang memang pertahanan tubuhnya melemah. Sebab kami harus tetap malaksanakan K3 (Kesehatan Keselamatan Kerja) demi mencegah dan mengurangi penyakit akibat kerja dan penyakit lain, serta kecelakaan kerja pada karyawan. Karena kami ingin mewujudkan sebuah kantor yang bersih, aman, nyaman, karyawan yang sehat dan produktif. Begitupula berlaku bagi mereka yang terjun langsung kelapangan.
"Lantas, asupan apa yang sudah diberikan untuk mereka?" tanya Pak Bagas.
"Vitamin sudah dikirimkan. Dokter dan beberapa perawat juga sengaja ditempatkan untuk beberapa hari ini disana. Jaga-jaga, takutnya masih ada yang tumbang."
Aku harus profesional. Walaupun kini perasaanku rasanya tak karuan, tidak mungkin kuperlihatkan begitu saja.
Pak Bagas mengangguk, "Bilang sama kepala proyek yang disana, ucapan terimakasih dari saya karena sudah menepati janjinya."
Kini giliran aku yang mengangguk.
"Terimakasih juga buat kamu yang sudah menemani saya. Maaf kalau kemarin jadwal pulangnya lebih larut," tambahnya.
Aku tersenyum, "Gak pa-pa, Pak. Saya jadi gak ada kesempatan untuk ngedrakor lagi. Sering-sering ya, Pak."
"Sering-sering?"
"Iya."
"Sering-sering saya ajak jalan lagi? Berduaan sama saya?"
"Sering-sering ikut visit proyek."
"Oh... kirain kan."
Halah, sok-sokan sedih, padahal seneng. Bilang aja deh pak, jangan malu-malu.
"Alana..."
"Hm?"
"Can you give me your hug? I need that right now."
"For what?"
"For everything... please..."
"Tapi kita kan lagi kemusuhan," ujarku pelan, seperti takut kedengeran olehnya.
"Gak boleh ya? Oke deh." Bahunya menurun lesu, tatapannya berubah menjadi sendu.
Ragu-tagu tapi mau aku berdiri, mengitari mejanya hingga kini berdiri disampingnya yang masih duduk.
"Bapak atau saya yang meluk duluan?"
"Saya aja." Tanpa membuang waktu, laki-laki itu memeluk perutku sangat erat membuatku harus bersandar pada sisi meja.
Aku membalasnya memeluknya dengan tak kalah erat sembari membelai punggung lebarnya. Berharap agar bisa menghilangkan kegusarannya. Setelah itu menyisiri rambut-tambutnya yang entah kenapa pagi ini terbebas dari minyak rambut.
Aku memilih diam, membiarkannya mencari aman, nyaman dan damai. Semoga saja, setelah ini moodnya menjadi lebih bagus juga hari-harinya akan lebih menyenangkan.
"Udah, Alana." Pak Bagas mendongak, sedangkan aku menunduk. Dapat aku melihat senyumnya juga binar matanya yang sudah terlihat lebih tenang dari sebelumnya.
"Uda tenang?"
"Uda, banget. Thankyou so much, Al..."
Aku tersenyum menyisir kembali rambut hitam legamnya yang terlihat berantakan akibat ulahku.
"Pagi-pagi itu harusnya seyum bukan cemberut. Kalau senyum kan ganteng."
Pak Bagas mengalungkan tangannya dipinggangku. "Kamu sudah makan?"
"Sudah. Makan nasi goreng pakai sosis, pakai keju, pakai telur dadar. Kalau Bapak?"
"Udah juga."
"Makan apa?"
"Makan cinta dan kasih sayang dari kamu."
"Bisa aja," aku tertawa, langsung kucubit hidung bangirnya. "Jangan merokok lagi ya, kasihan paru-parunya, kasihan juga yang menghirup asapnya. Ntar saya beliin permen deh, supaya bisa jadi penggantinya." tambahku, sebagai seorang asisten pribadi yang sedang memberi peringatan terhadap atasannya.
Pak Bagas melepasku, punggungnya menyandar pada kursi kebesarannya, "Saya gak mau permen."
"Terus maunya apa?"
"Kamu."
"Saya gak bisa dimakan, Bapak," ditatap sebegitu intensnya, aku menjadi salah tingkah.
"Tapi bisa saya emut."
"Apanya?"
"Ininya..." lalu ia berdiri, sedetik kemudian sebuah kecupan yang belum terasa manis menyapa bibirku, "Bibir kamu."
Sebentar, hanya menempel tapi efeknya tidak perlu diragukan lagi. Luar biasa.
"Saya merokok setiap dua hari sekali bakalan habis satu kotak. Hitung aja, satu kotak isinya dua belas batang, otomatis satu hari enam batang. Belum lagi dalam satu batang terdiri dari beberapa hisapan. Ngerti maksud saya?" jelas Pak Bagas. Bibirnya merapat menahan senyum.
Damn it, jika satu harinya Pak Bagas menghabiskan enam batang dengan hisapan yang mungkin saja tidak bisa dihitung, berarti... s**t men, habislah bibirku.
Aku memutar bola mata malas, berpura-puta tidak mengerti adalah pilihan terbaik, "Gak ngerti." aku menggeleng membuat sepasang alis tebalnya menjadi bersatu.
"Serius gak ngerti."
Kembali aku menggeleng.
Pak Bagas menarik pinggangku hingga semakin merapat dengannya. Ibu jarinya mengusap bibirku dengan penuh kelembutan lalu mengecupnya lagi sebagai sebuah sapaan yang menyejukkan, kemudian tak menunggu waktu lagi, Pak Bagas mengulum bibirku. Tanpa malu-malu, ciumannya terkesan berkuasa. Tak sedikitpun membiarkanku lengah kala bibirnya dengan haus menghisap bibirku.
Aku melenguh, meremas kemeja bagian atasnya. Kedua mataku tertutup, tak berani membalas tatapannya. Ini diluar kendali, otakku seakan-akan berhenti bekerja dalam sejenak, padahal hari baru saja dimulai.
Setiap perlakuan sederhananya seperti, mendengarkan segala ocehanku, memberikan usapan lembut, selalu tertawa, tersenyum, marah dan cemberut, tanpa jaim sedikitpun. Jarang senyum dan jarang omong terhadap orang lain, tetapi clingy, manis juga bertutur lembut hanya padaku- Aku menyukai semuanya. Lambat-laun rasanya itu semua sangat menyenangkan untuk dinikmati olehku.
Apalagi sekarang kami sudah memasuki tahap skin ship, langsung bersentuhan antara kulit kekulit atau yang baru saja terjadi, saling bertukar air liur. Semakin jelas saja bahwa hubungan kami ini sebenarnya apa? Perlu tidak aku menuntut sebuah penjelasan sekarang setelah kemarin menolaknya?
Tapi rasanya tak perlu, aku harus menikmati setiap ciuman berserta kecupan-kecupan manisnya yang singgah dipipiku, belum tentu besok-besok ini terjadi lagi.
Sejak kapan aku mengharapkan hal ini harus terulang kembali? Sialan.
Benda pipih yang mengintip dari dalam kantong kemejanya berbunyi, mengintrupsi aktifitas ciuman kami.
"Sorry, Al..." ucapnya, "Saya angkat bentar ya." bukannya menjauh, Pak Bagas duduk kembali, dengan santainya ia menerima panggilan tersebut. Ketika aku hendak meninggalkannya, Pak Bagas cepat menahan tanganku.
"Ya, Halo?"
"..."
"Saya belum dikabarin. Kamu tunggu aja, jangan banyak tanya."
"..."
"Yasudah, kalau menurutmu gak worth it, tinggalin aja. Jangan buang-buang waktu, saya gaji kamu bukan untuk nungguin omong kosong dia."
"..."
"Hm, Alana?" aku menatapnya tanda tanya, "Sama saya. Mungkin gak sengaja kekunci waktu Alana masuk tadi." buru-buru Pak Bagas menekan tombol buka diremotnya, "Coba sekali lagi," pintunya terbuka menampilkan sosok Lara dengan ekspresi terkejut kemudian tersenyum jahil kerahku.
"Kena lo!" Bisiknya pelan saat melewatiku yang sudah berdiri bersebrangan dengan Pak Bagas.
"Sialan!" Balasku.
Atau lebih tepatnha, mati aku.
"Hm, Pak, maaf sebelumnya, Alana ini anaknya suka gak tau diri. Makan gak tepat waktu, kopi jalan terus tapi air putih dilupakan terus. Saya sih gak masalah, toh yang sakit lambung dan dehidrasi juga dia, bukan saya. Saya, Dyra dan Jovita capek banget ngingetin, gak pernah digubris sama dia, paling sesekali ngejawab, gue jomblo, gak ada yang ngingetin, simpel banget jawabannya, Pak, tapi terkadang pengen saya tonjok."
Kok jadi gibahin aku????
Aku membulatkan mata, Lara ini manusia apa bukan sih? Bisa-bisanya gituloh.
"Terus? Korelasinya sama saya apa?"
"Saya boleh minta tolong?"
"Silahkan." Malah diladenin sama si Bapak.
Bukannya memperjelas visi dan misinya kesini, Lara malah sibuk ngelantur gak jelas menjadikan aku sebagai objeknya.
"Tolong bantu ingetin Alana. Saya sih gak muluk-muluk, Pak, cukup ingetin dia kalau sarapan itu batasnya sampek jam sembilan pagi bukan jam dua siang. Konsumsi air putih yang disarankan itu sekitar delapan gelas berukuran 230 ml per hari atau totalnya 2 liter. Bukannya malah kopi yang gelonggongan tapi air putih enggak. Hmmm apa lagi yak," Lara menjeda ucapannya, berpikir sejenak sambil mengedipkan sebelah matanya kearahku, "Sekali-sekali ajakin ngedate, Pak, kemanaaaa gitu, kasihan pacaran sama laptop terus."
"Kemarin baru saya ajakin."
"Ngedate?!" tanya Lara dengan sedikit menjerit.
"Visit proyek, tapi selesai dari situ saya dan Alana pergi makan seafood di depot nasi uduk deket rumahnya. Apa itu sudah dikatakan dengan ngedate?"
Lara menatapku, dengan greget lalu berkata, "Lo serius?" gumammya, aku mengangguk, "Alana makan seafood, Pak?"
"Iya."
Lantas mataku membelalak, ketika mengetahui apa yang akan dikatakannya. Aku tidak mau...
"Alana alergi seafood, Pak."
Aku tidak mau Pak Bagas merasa bersalah.
Wassalam... sudah terjadi. Terimakasih banyak Lara. Kamu hebat.