Part 7

1917 Kata
"Al, Alana!" Aku berjalan cepat, menghiraukan panggilannya. Sungguh, saat ini aku sedang tidak berselera meladeninya. Bukan apa-apa, aku hanya takut, Pak Bagas merasa bersalah. Dan akan meminta maaf berulang kali, padahal ini bukan salahnya. "Sebentar, Al. Saya mau ngomong." Aku menunduk saat melewati orang-orang yang memandang kami penuh tanda tanya. Beberapa satpam saja, harus ikut menghadang jalanku, ketika melihat sang bos sibuk kejar-kejaran denganku. Aku mengumpat dalam hati. Tau begini, lebih baik tadi aku menerima tumpangan dari Dyra. Sudah pasti, tidak akan dihadapi oleh posisi seperti ini. "Bu Alana, Bu Alana. Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya Pak Satpam penuh perhatian. "Maaf, Pak. Saya harus buru-buru." "Tapi Pak Bagas sedang-" Aku membalikkan badan, mengdengus geli saat melihatnya berjalan cepat sedangkan aku sudah berlari. Nasib bagi seseorang yang mempunyai kaki pendek. "S-say, saya lagi buru-buru, Pak. Orangtua saya minta saya pulang cepat. Masalah Pak Bagas saya gak tau, yang penting itu tidak ada sangkut pautnya dengan saya," ucapku cepat. "Tapi, Bu-" "Maaf, Pak. Saya permisi." Dengan segala rasa hormat yang ada, dan akan meminta maaf dihari esok. Aku memotong ucapannya, sedikit menepis tangannya yang terentang menghadap jalanku. Entah sudah sejauh mana aku berjalan, yang penting saat ini, sudah sepi. Area kantor sudah tak terlihat lagi. Hanya ada beberapa para pejalan kaki yang terlihat saling bergandengan tangan atau segedar bercengkrama ria. Saat melihat kursi kosong, aku dengan cepat melangkahkan kaki. Takut keburu diambil orang. Setelah berhasil, akhirnya aku dapat mengistirahatkan kakiku. Nafasku yang terasa sudah ngos-ngosan membuatku capek sendiri. Untung saja hari ini aku memakai pakaian yang super tertutup. Blazer panjang juga celana panjang. Tapi sialnya, aku baru ingat kalau aku sedang memakai hells, jadilah tumitku rasanya mau lepas. Aku meringis, ketika melepaskan hells tersebut. Bayangkan saja, aku harus berlari menggunakan hells dengan hak 9cm. "Sialah, Lara. Aish!!" Ringis, ketika melihat tumitku sudah sangat memerah. Aku menyilangkan kaki, hendak menunduk memijak tumitku. Tetapi ada sepasang tangan besar yang ternyata sudah lebih dulu menyentuhnya. Tanpa rasa jijik dan kotor, laki-laki itu memijatnya pelan. Membuat ku harus menahan nafas saat ia menengadahkan kepala, kemudian tersenyum miring padaku. "Nakal banget, Al." Seketika aku memberenggut, menjatuhkan dahiku keatas lutut. Lalu berkata, "Capek banget." Aku mendengar dengusannya. "Siapa suruh lari-larian begitu, serasa lagi shooting film kamu?" Kembali aku meringis saat pijatannya menyentuh area yang terasa sakit walau hanya segedar disentuh. "Tau ah." Pak Bagas tertawa, "Kamu itu, kerjaannya kalau tidak ngoceh, marah ya ngambek. Gemesin." Aku memutarkan bola mata malas, "Diem deh." Pak Bagas melepas pijatannya, lalu mengambil satu botol air mineral yang tak kusadari kehadirannya didalam kantong jasnya. "Minum dulu, capek banget kayaknya. "Emang," balasku cuek juga menunggunya untuk membuka tutupnya. "Pelan. Baca Bismillah dulu." Aku mengangguk, menerima uluran darinya. Sudah lama tidak berolahraga, sudah lama juga tidak merasakan keringat yang sebanyak ini membanjiri badanku, aku merasa jompo sekali. Baru segini saja sudah mau mampus rasanya. Saat minum, aku otomatis menengadahkan kepala keatas, membuat leher putihku yang harus dialiri keringat tersebut terekpos olehnya. Setelahnya, aku merasa kulitnya yang dingin menyentuh kulit leherku. Mengelap bekas keringatnya menggunakan punggung tangannya. Aku meremang. Apalagi saat Pak Bagas sudah duduk disampingku, "Haus, buk?" Pengen banget ku jawab, ya menurut lo! Tapi sayangnya aku tidak seberani itu. Sungguh tidak tau malu. Sudah dibawain air, bukannya sedikit berbagi, malah menandaskannya bingga habis. "Hmm, habis..." ucapku takut-takut. Bukannya membalas ucapanku, tangannya naik menyeka keringat yang ada diwajahku. Sangat pelan dan lembut. Telapak tangannya yang kasar, sangat terasa saat berhasil menyentuh pipiku. Pak Bagas tersenyum, teduh sekali. Aku sampai terpesona. Apalagi kami jaraknya hanya tersisa beberapa jengkal lagi, membuat kadar kegantengannya meningkat drasti, walau emang pada dasarnya ganteng. Mau gimanapun, ya tetap saja ganteng si duda satu ini. "Boleh saya tau kamu kenapa? Setelah semalam saya disinisin, dan sekarang saya dihindarin. Apa saya kembali melakukan kesalahan?" tanyanya. Aku menggeleng, dengan wajahku yang masih dalam sentuhannya. "Lantas kenapa?" Mendengar aku menghembuskan nafasku pelan, Pak Bagas menurunkan tangannya. Duduk yang tadinya saling berhadapan, kini berubah posisi menjadi bersisian. Memandangan lurus jalan yang sudah mulai sepi sebab malam akan datang. "Saya cuma gak mau Bapak merasa bersalah kalau saja besok atau lusa alergi saya kambuh." Pak Bagas mengangguk, "Selain itu?" Aku memutar kepala. Menatap sisi wajahnya yang terpahat sempurna. "Itu saja, tidak ada lagi." Kembali Pak Bagas mengangguk, seperti tidak ingin menanyakan yang lain. Didiamkan seperti ini, membuatku bingung sendiri. Apa harus aku katakan padanya apa yang sebenarnya terjadi? Bukankah jika iya, aku terlihat seperti seorang pengadu? Atau membuat Pak Bagas tidak lagi berteman dengan Mbak Laras? Aku takut- "Kalau ada apa-apa, kamu bilang sama saya. Saya tidak mau menerka-nerka, Alana. Saya takut salah." Aku menunduk, memainkan jari jemariku diatas paha. "Eng... anu... saya..." Pak Bagas dengan santainya menarik tanganku, megenggemnya, melingkupinya dengan tangannya yang besar. Aku membalas tatapannya, entah mengapa perasaan bersalah kembalu melingkupiku. Penglihatakanku memburam, pelupuk mataku memberat dan dalam satu kedipan mata, air mata tersebut langsung jatuh tanpa pemisi. "Lah, nangis dia," ucap Pak Bagas yang kuyakini hanya untuk dirinya sendiri. Tanpa aba-aba dan juga tanpa persetujuannya, aku memeluknya erat, menenggelamkan wajahku didadanya yang sangat bidang. Rasa marah, rasa tak suka dan rasa kecewa seakan bercampur menjadi satu. Seharusnya aku mengerti, semua rasa itu tidak ada sangkut pautnya dengannya. Kata-kata yang keluar dari Mbak Laras juga yang lainnya, seharusnya hanya sampai ditelingaku yang sebelah kanan dan keluar pada sebelah kiri. Bukannya malah memberinya beban lewat diamku. Aku tau, Pak Bagas yang dulu dengan Pak Bagas yang sekarang, jauh berbeda. Pak Bagas sudah lebih bisa mengekspresikan dirinya, bebas menyampikan sesuatu, tidak terlalu cuek. Aku senang bukan main. Pak Bagas berhasil berubah sejauh itu. Laki-laki dewasa itu tidak sedikitpun bertanya atau bersuara. Ia memberiku kebebasan menangis, meluapkan emosi yang menggelung dipikiranku. Sepuluh menit kemudian, tangisku mereda. Meninggalkan isak. Aku masih setiap bersender didadanya, tidak ada niatan sedikitpun menjauh darinya. "Amy, jangan nangis." Mendengarnya, seketika aku tertegun. Amy? Bahasa apa itu. "Amy, jangan nangis," ulangnya. "Amy?" gumamku. "Iya, Amy." Pak Bagas menyelipkan tangannya disela-sela ketiak dan lututku. Dengan ringan, ia mengangkatku, memindahkannya keatas pangkuannya. "Raya pengen ketemu sama Amynya," katanya, sambil memperbaiki kakiku hingga kini bisa berselonjor. Setelah dirasa pas, sebelah tangannya menahanku dengan menepuk pelan penggungku sedangakan tangan yang lainnya, sibuk merapikan rambutku yang berantakan. "Raya? Anaknya Raga dan Kayyisa?" Pak Bagas mengangguk, lalu mencium kedua mataku, "Anaknya uda bisa ngomong. Semalam kamu dikenalin Amy sama Mamanya." "Seriusan? Kok bisa?" "Gak tau. Saya juga bingung. Semalam, waktu sampai dirumah Mama, Raya uda sibuk minta kenalan sama kamu. Gak tau Raga sama Kayyisa cerita apa tentang kamu makanya jadi seneng begitu." Senyumku mengembang sendirinya. "Kayaknya mereka kira saya dan kamu sudah mempunyai hubungan yang lebih, selain sebatas partner kerja." "Yang bener?" Pak Bagas berdehem. "Perasaan kemarin baru lahir deh, masa uda bisa ngomong aja?" "Diceng-cengin Raga terus. Mungkin Rayanya merasa tertantang." "Gak mungkin, ih..." ujarku manja. "Sudah tiga tahun, Al. Wajar dong." Aku mengangguk, menikmati tatapannya yang tidak beralih sedikitpun dariku. "Kalau saya Amynya, terus Bapak siapanya?" Pak Bagas diam sejenak, seperti berpikir. "Apynya. Sebenernya saya gak tau Amy dan Apy itu bahasa apa. Papa dan Mamanya kayaknya sok kegaulan. Makanya begitu. Anaknya jadi ikut terdoktrin." "Hush... gak boleh gitu," tuturku. Sisa isakanku masih terdengar. Walau tidak separah tadi, tetap saja membuat nafasku sesak. Tidak terasa, matahari sudah tenggelam dari singgah sananya, tidak terlihat lagi. Angin pun berhembus dingin, hingga mampu menusuk ke dalam tulang-tulangku. Aku menggigil, mendakap badanku sendiri. Pasti ini simulasi dari awal munculnya alergiku. "Raya pasti cantik deh kayak Mamanya," ucapku membayangkan sosok Kayyisa yang cantiknya keterlaluan sudah mempunyai kembaran dengan versi yang lebih kecil. Sedikit banyaknya aku mengetahui hubungan Raga dan Kayyisa. Bukan karena Pak Bagas, tetapi Mama dan Papa. Kayyisa ini bukan perempuan sembarang. Perempuan kuat yang hatinya selalu dihancurkan oleh keluarganya. "Banget. Lagi gemes-gemesnya. Saya sampe pengen punya juga," balas Pak Bagas dengan senyum yang tertahan. "Yasudah, buat gih." "Tapi nunggu Ibu yang satu ini dulu," jari telunjuknya naik mencolek ujung hidungku. Mendengarnya, pipiku bersemu merah mungkin saja sudah menjalar hingga telinga. Jantungku berdebar kencang. Ucapannya memang sederhana, tetapi mampi memutar balikkan perasaanku. "Saya gak tau penyebabnya apa, sampai kamu menyembunyikan satu hal, bahwa Laras dan teamnya sering memojokkan kamu. Saya dan Laras memang berteman, tetapi ada saatnya saya bisa marah kalau Laras sudah melewati batas yang sudah ditentukan. Bukan karena saya sedang dekat dengan kamu, melainkan hal-hal seperti itu terlalu bocah untuk diungkapkan. Apalagi didepan orang banyak." Aku terdiam. Sangat kontras dengan perasaanku tadi. Tidak mampu membalas apapun yang diucapnya. "Dari awal saya bertemu kamu, saya sudah tertarik dengan kamu. Awalnya memang sebatas partner kerja. Seiring dengan berjalannya waktu, perasaan itu mulai membuncah. Mengesampingkan itu semua, saya sudah melihat skill kamu, nilai-nilai kamu, kerja kerasa kamu, dan perkembangan kinerja otakmu dari awal kamu memulai perkuliahan hingga sampai saat ini. Saya akui, kamu hebat. Potensimu berkembang pesat. Saya suka." Aku menggigit bibir bawah, sejujurnya aku bingung. "Kalau saja dia tau bahwa perusahaan menerima kamu bukan karena orangtuamu, pasti mereka terdiam. Kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya? Okei, juga saya akui, saya memang ikut turun tangan agar kamu mau menerima penawaran saya. Tetapi saya berani bertaruh, didalam otak kamu, yang biasanya sempit ini, masih bisa menampung semua pelajaran agar menjadikan dirimu yang lebih baik lagi," ujarnya sambil mengetuk pelan sisi kepalaku dengan jari telunjuknya. "Ayo jangan diem aja. Katakan semua uneg-unegmu, supaya saya tau." Aku menghembuskan nafasku pelan, "Kalau boleh saya jujur, dari dulu, dari awal saya menginjakkan kaki diperusahaan, saya tidak sedikitpun merebut paksa jabatan Mbak Laras sebagai asisten Bapak. Saya juga gak ada niatan bersanding dengan Bapak. Saya gak bisa memaksa. Keadaan yang membuat saya semakin dekat dengan Bapak. Apa saya salah? Apa saya salah menjadi asisten Bapak? Apa saya salah dekat dengan Bapak melebihi partner kerja? Saya gak tau, dan saya gak bisa mengatur keadaan. Saya nyaman berdekatan dengan Bapak. Bapak baik, saya suka. Saya gak tau harus mengatakan bagaimana, karena apapun yang saya lakukan, pasti terlihat salah dimata mereka. Apa lebih baik saya mengundurkan diri, dari pada tetap bertahan ditempat banyak orang yang tidak menginginkan kehadiran saya?" Aku tidak menangis, aku juga tidak terisak. Aku menjelaskannya dengan sebisaku. Jika pada akhirnya Pak Bagas memilih untuk berjarak, berarti memang sudah begitu semestinya. "Kamu akan kalah jika kamu memilih untuk mengundar diri. Saya juga akan merasa salah jika saya membenarkan isi pikiran kamu, dengan memberi sedikit jarak diantara kita. Saya suka, saya senang bila bersama kamu. Saya selalu menikmati waktu bila didekat kamu. Saya memang belum sepenuhnya siap untuk melangkah kejenjang yang lebih serius lagi. Tetapi bukannya kita belajar untuk saling memahami terlebih dahulu? Selebihnya, bisa kita bicarakan nanti. Masih banyak hari esok yang selalu menunggu kita berdua. Saya dan kamu. Bagas dan Alana." Aku mengusap wajahku kasar. Menggoyang-goyangkan kepalaku kekanan dan kekiri. Ya Tuhan, kenapa laki-laki dewasa ini selalu mampu membuat perasaanku campur aduk? "Bisa gak sih, setiap kata yang Bapak ucapkan itu gak perlu pake gombal? Saya bingung mau balasnya apa. Seriusan deh." Pak Bagas tertawa, sapai perutnya yang keras itu terasa berguncang. Apa yang lucu? "Gak lucu ih," ucapku merajuk. "Gak ada yang lucu, cuma kamu yang lucu." "Dih!" aku memukul manja dadanya. "Sini, Al," Pak Bagas menarikku, kembali memelukku dengan sangat erat. Hingga rasanya badanku yang mungil tenggelam oleh pelukannya. Pak Bagas mengusap-ngusap lenganku. Bibirnya tidak berhenti tersenyum saat aku mulai terbuai dalam sentuhannya. "Dingin ya, Al?" Aku mengangguk. "Kalau diginiin dinginnya berkurang?" Aku mengangguk lagi. "Kalau ada apa-apa tolong cerita ya? Bahu saya masih kuat kok kalau kamu mau membagi beban kamu. Saya siap menerimanya." "Saya gak bisa janji, tapi akan saya usahakan," ucapku sebelum akhirnya keluar dari pelukannya. "Ganteng banget," tambahku. Setelah itu mencium bibirnya yang semakin hari semakin manis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN