"Aishhhhh uda maju selangkah aja sama siduda ganteng."
Lara akhirnya membuka suaranya setelah dari tadi cuma senyum-senyum tak jelas sambil mandangin wajahku. Kayak lagi jatuh cinta aja, padahal yang seharusnya kesem-semkan aku, bukan dirinya.
Eh! Maksudnya bukan gitu. Kesem-sem dalam artian bangga, punya atasan seganteng Pak Bagas.
"Ngeri gue kalau ngebayangin alergi lo kumat pas lagi sedep-sedepnya makan, buk." celetuk Dyra, "Pasti lo sibuk garuk sana, garuk sini. Kayak kejadian yang dirumah Lara kemarin."
Waktu makan siangku kali ini langsung diambil ahli sama mereka bertiga. Katanya sih ada banyak bahan gosip yang beberapa hari ini terlewat olehku. Padahal nyatanya yang jadi bahannya itu adalah aku.
"Lo ngelakuin apa sih, bro, sampek bisa dapetin nikmat dunia begitu? Iri gue seriusan," sambungnya lagi.
Jovita yang sedari tadi sibuk dengan makanannya, kini menatap lekat Dyra, "Nikmat dunia, Dyr? Kalau itu mah kenikmatan dunia sampek akhirat. Wahh gak kebayang kalo lo, nyet, nikah sama tu orang, anaknya pasti behhh cakep parrah. Secara lo kan termaksud bibit unggul, gak beda jauh sama doi." aku menggeleng mendengar celetukan asal Jovita.
"Lo berdua konsisten dong manggil gue, kadang ibuk, kadang bro, kadang nyet. Gue jadi bingung sebenarnya gue itu manusia apa hewan." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Malas banget dijadiin bahan gosipan gini. Walaupun aku tau mereka tidak akan melewati batas wajar, tetapi tetap saja. Apalagi kalau sudah membahas suatu hal yang belum tentu terjadi, bikin pusing sendiri.
"Alah, biasanya juga enggeh-enggeh aja," Dyra berbicara mengejek. "Ayo jelasin dulu, lo kok bisa kesana sama si duda ganteng? Terus Nanta gimana? Gue denger-denger dia naksir berat sama lo."
Aku mengernyitkan dahi. Bukannya geer, tapi emang aku pun menyadari gerak-gerik Nanta yang seperti memberi perhatian lebih padaku. Mulai dari bertanya sudah makan apa belum, bagaimana hari-hari yang kulewati, apakah ada yang mengecewakan, atau lainnya. Pertanyaan basic itu kujawab dengan sepenuh hati. Sebab akupun berterimakasih, ada orang luar yang masih bersedia mencurahkan perhatiannya padaku.
"Gue uda ngelakuin banyak hal sama Andre. Jatuh-bangun, baik-buruk, sedih-senang gue lakuin sama dia. Dari awal pacaran sampek dia sendiri yang memilih berkhianat sama gue, gue gak sekalipun mikir, ni cowok emang b******k. Andre itu laki-laki idaman gue banget. Gantengnya cuma menjadi nilai plusnya aja, tapi yang lain, mulai dari baiknya, ramahnya, lembut tuturnya, senyum manisnya dan hormatnya sama orangtua gue, gak akan pernah ada yang bisa gantiin, sampek kadang gue mikir gue ada salah apa sama dia sampe-sampe gue diginiin sama dia."
Dari awal kenal Jovita dan Lara, aku langsung bercerita tentang perjalanan cintaku yang kelam. Bagaimana sedihnya, ketika aku terjatuh kejurang yang paling dalam saat mengingat kembali kenangan-kenangan indah bersamanya, dan bagaimana senangnya ketika menyadari bahwa pilihanku sudah sangat tepat dengan membiarkannya pergi.
Namun tak dapat dipungkiri, walaupun sudah berbulan-bulan terlewati, nyatanya aku masih belum bisa melepas bayangannya. Andre masih pentahta hebat dihatiku.
Andre, seseorang yang pernah memiliki hubungan denganku, atau orang yang pernah aku harapkan untuk selalu bersamaku. Tetapi sekarang sosoknya tidak lagi menjadi bagian dari hidupku seperti dulu. Aku masih memiliki perasaan untuknya, walaupun faktanya ternyata Andre b******k dan pernah menyakitiku tidak hanya sekali.
Aku sadar bahwa di dalam hatiku, aku sudah tidak ingin bertemu dan berhubungan lagi dengannya. Tetapi tetap saja, aku masih merindukannya walaupun ia telah berbuat seperti padaku.
Pada hakekatnya kita, sebagai manusia, lebih bisa melupakan orangnya, namun tidak dengan kenangannya. Dia yang kita rindukan pelukannya tetapi tidak dengan pemeluknya.
"Lo sadar gak sih, buk, lo beruntung banget bisa ngambil keputusan itu. Lihat aja sekarang, temen lo yang namanya Sandra itu malah ditinggalin, kondisi hamil loh padahal. Gila gak sih? Gue gak kebayang jadi dia," Jovita berkata miris.
"Kalau aja gue tau si Andre-Andre itu, seriusan deh, pasti tonjokan gue ini melayang. Seenak jidat aja ninggali anak orang begitu. Gak tanggung jawab." Dyra membungkam mulutnya dengan bakso beranak besar, ia memasukkannya tanpa memotong sekaligus, "Gue gak tau gimana perasaan mak bapaknya ngelihat anak yang udah susah payah dibesarin, disayangin, disekolahin malah seenaknya dirusak begitu saja sama seorang laki yang statusnya aja gak jelas."
"Gue kira lo kenal, Dyr."
"Gue cuma tau namanya doang, Jov, sama dia gak pernah dikenalin," tunjuk Dyra kearahku dengan dagunya.
Aku mendapat kabar dari beberapa temanku yang lainnya, kalau Sandra sudah hamil, jalan enam bulan. Sandra sempat meminta pertanggung jawaban dari Andre, namun sayangnya laki-laki itu kabur tanpa memberi alasan yang pasti. Padahal saat itu Andre sudah hampir menyelesaikan skripsinya dan akan mulai sidang diminggu berikutnya. Dan ketika ia melakukan kesalahan seperti itu, Andre memilih kabur, sampai sekarang tidak ada yang tau posisinya dimana.
"Walaupun begitu, gue gak bisa dengan mudahnya menggantikan posisi Andre dihati gue. Tapi tenang aja, gue bakal usaha kok, kalian tinggal tunggu hasilnya aja," seruku mencoba menjelaskan bahwa semua akan baik-baik saja.
"Tapi Al, coba deh lo jujur sama gue, lihat mata gue," Lara menangkup pipiku, menurunkan kembali satu tusuk sate ayam yang hendak ku santap, "Masa lo gak ngerasa gitu ada yang beda dari lo semenjak lo uda sedekat itu sama Pak Baga? I mean, you look like a diffrent kalau uda disamping doi. Misalnya, hal-hal simple yang kayak Pak Bagas bicara sesuatu nih, terus menjerumus ke yang lainnya, tapi masih lo menjadi topik utamanya. Pak Bagas ngasih lo gombalan receh dan itu bikin pipi lo tiba-tiba merona, atau----gue gak buta ya, Al, kemarin gue ngelihat Pak Bagas ngusap puncak kepala lo, lo gak berasa gitu kayak diperut lo ada banyak kupu-kupu yang beterbangan?"
Aku mencoba mengingat semuanya. Mengorek kembali perlakuan-perlakuan manisnya terhadapku. Tak bisa kupungkiri bahwa aku merasakannya, pipiku merona kalau sudah digombali, perutku seperti diterbangi ribuan kupu-kupu kalau Pak Bagas sudah memberiku perlakuan manis seperti mengusap kepalaku, menggenggam tanganku, memeluk pingganggan dan... OH TIDAK, mencium bibirku. Ya Tuhan, aku mengingat kejadian manis itu.
Refleks aku melepas tangan Lara, menggantikannya dengan tanganku. Bahuku ikut terangkat ketika merasakan gemas yang luar biasa mengingat betapa nikmatnya jadi aku yang selalu diperlakukan seperti ratu olehnya.
"Oh... wait-wait, ada apa gerangan nih? Kenapa lo tiba-tiba kesurupan? Gue gak salah omong kan, Jov?" ditanya seperti itu, Jovita yang sedang menyeruput kuah baksonya menjadi terbatuk.
"Minum-minum, sakit nih tenggorokan gue," dengan cepat Lara mengulurnya.
"Sorry-sorry."
Dyra menggelengkan kepalanya, pasti perempuan ular itu sudah tau yang telah terjadi.
"Gue mencium aroma-aroma kebusukan nih, kira-kira ada yang tau gak?"
Alarm tanda bahaya sedang berbunyi, saatnya aku mengubah kembali ekspresiku kemode datar.
"Apa tuh? Gue gak mencium nih, atau jangan-jangan lo aja, soalnya mulut sama p****t lo deketan," jawabku asal, mencoba mengalihkan topik.
"Sialan lo, nyet, awas aja lo kalau yang ada dipikiran gue ini bener adanya. Habis lo ditangan gue." Tuhkan, bener. Emang susah kalau uda menghadapi ibuk-ibuk komplek. Bawaannya keos terus.
Dyra mengepalkan tangan kanannya, kemudian menghembuskannya. Mengirimkan sinyal seakan-akan perempuan itu siap meninjuku kalau saja ada sesuatu yang diketahui olehnya terlebih dahulu tanpa aku sendiri yang memberi tahunya.
Aku menghembuskan nafas pelan, melipat kedua tanganku diatas meja. Mataku menatapnya intens, lalu berucap, "Dyr, kemarin waktu gue sama Pak Bagas visit proyek, Pak Afif tiba-tiba nelfon Pak Bagas. Nanyain lo, lo kemarin perginya beneran sama sepupu lo kan? Terus sepupu lo itu cewek apa cowok?"
"Dibayar berapa lo sama dia jadi mata-mata?"
Aku berdecak kesal, "Apaansih? Gue gak dibayar sepeser pun. Gue cuma nanyak. Lo kasih tau gue lah. Lagian Pak Afif baik kok. Tipe lo banget, ganteng, tinggi, badannya tegap."
Jovita dan Lara ikut mengangguk.
"Semua orang juga tau, Al, kalau dia baik."
"Terus lo nunggu apa lagi?" Tanya Lara.
"Gue gak nunggu apa-apa dari dia. Gue cuma gak mau dianggap sama rendahnya sama perempuan yang selama ini nempelen dia terus."
"Maksudnya?" Tanyaku tidak mengerti.
"Dia punya temen main cewek, maybe, friends with benefit, gue gak tau pastinya gimana." Dyra bangkit, membuat mata kami bertiga mengikuti gerakahannya, "Gue gak suka laki-laki yang begituan. Mainnya jelek, gak seru. Cuma karena nafsu," lalu kini pandangannya turun kepadaku, "Kasih tau dia, Al, itu adek sepupu gue, cowok. Kalau dia tanyak gue uda punya pacar apa belum, bilang uda."
"Siapa, nyet?"
"Lo, gue sekarang doyannya sama lo," jawab Dyra tegas yang membuat Jovita merinding.
Saat aku kembali kemejaku, aku melihat dua kantong plastik dan satu tote bag tergeletak diatasnya. Aku kebingungan sendiri, siapa gerangan yang kemungkinan lupa atau hmmm mungkin seseorang yang sedang iseng memberi itu kepadaku.
"Mbak Alana, tuh tadi dititipin satpam, gak tau dari siapa," Hana yang sedang sibuk dengan mem-fotocopy berbicara kepadaku.
"Uda lama diletakin disini, Han?"
"Baru aja, Mbak... soalnya Pak Satpam naruh disitu pas banget aku lagi disini, mungkin dua atau tiga menit yang lalu."
Aku mengangguk kemudian mengucapkan terimakasih kepada salah satu juniorku itu.
Sesampainya dirumah, dengan cepat aku membongkar isinya. Betapa terkejutnya aku ketika melihat isi dari dua kantong plastik tersebut. Ada banyak jenis obat-obatan, ada yang tablet ada juga yang sirup. Aku mengenali beberapa jenisnya, seperti CTM, Cetirizine, Paracetamol, Sangobion, Betadine, termometer serta hansaplast.
Sedikit banyaknya aku mengetahui beberapa jenis juga manfaatnya, seperti CTM, obat untuk meredakan gejala alergi yang bisa dipicu oleh makanan, obat-obatan, gigitan serangga, paparan debu, paparan bulu binatang, atau paparan serbuk sari. Kemudian Cetirizine yang manfaatnya sama seperti CTM, cuma ini untuk lebih mengatasi seperti pilek, hidung tersumbat, mata berair, bersin-bersin, rasa gatal pada mata, hidung atau tenggorokan, serta ruam pada kulit.
Kalau Paracetamol itu untuk meredakan demam. Sangobion, vitamin dan zat besi untuk penambah darah. Dan Betadine, Termometer serta handsaplast, kalian pasti sudah tau lah ya manfaatnya apa.
Tapi ini masalahnya kenapa ada Combatrin, yang mana itu adalah salah satu obat untuk penyakit cacingan. Astaga... aku menggelengkan kepala, tak habis fikir, apalagi ketika melihat tulisan tangannya yang sangat kuhapali, membuatku tergelak.
Al, seriusan, saya gak tau obat-obatan untuk mencegah Alergi itu apa. Jadi saya belikan itu semua untuk kamu. Ada juga beberapa camilan kesukaan kamu, semoga kalau saja nanti malam kamu beneran sakit cuma karena memenuhi kemauan saya, ada obat-obat itu sebagai peredanya. Kalau pelukannya, nanti nyusul. Soalnya saya lagi sibuk.
Bagas.
Sesimpel itu tapi bikin aku senyum sendiri, sampe aku tak menyadari ada Mama yang uda ikutan nimbrung disampingku.
"Ma! Ih... demen banget buat anaknya jantungan."
"Makanya kalau pulang itu salam dulu, bukannya malah sibuk senyum-senyum kayak orang gila cuma karena surat begituan."
Kuucapkan salam dihadapan Mama, kemudian kukecup pipinya, "Assalamualaikum Mama ku yang cantik."
"Waalaikumsalam anak Mama yang paling cantik..."
Mama ikut membongkar isi kantong plastik tersebut kemudian betapa terkejutnya Mama saat mendapati di tote bag tersebut ada banyak jenis cokelat-cokelatan dan camilan.
"Aduh... ini mah obatnya kamu bukan Cetirizine lagi, tapi camilannya. Cokelat lagi, apa korelasinya coba? Kamu bukan PMS yang tiba-tiba moodnya berubah, dan obatnya itu cokelat. Haduh... ini Bagas gimana sih? Mau bikin kamu jadi tambah bodoh atau tambah sehat?" Mama dengan segala ocehannya itu adalah hal paling seru untuk didengarkan.
"Bagus dong. Mama gak perlu nambah stok obat alergi ku lagi, aku juga gak perlu repot-repot beli jajan lagi," aku tersenyum jumawa, "Seneng deh, tau aja kesukaanku."
"Beda emang kalau yang lagi jatuh cinta, tai aja bisa berubah jadi cokelat." ujar Mama, tangannya masih sibuk mengacak-ngacak isi dari kantong plastik tersebut.
"Siapa coba yang lagi jatuh cinta?"
"Kamu lah, masa Mama," balas Mama.
"Mama sama aja kayak yang lainnya, nuduh aku lagi jatuh cinta, padahal gak."
"Wah... berarti bener dong."
"Gak, Ma, beneran deh," ucapku mulai jengah.
"Maling mana ada yang ngaku, ya kalau ngaku, penuhlah penjara," setelah mengatakannya, Mama berlalu begitu saja.
Emang iya aku jatuh cinta? Semudah itu?
Ya tidak mungkin lah. Pak Bagas itu laki-laki yang masih terjebak dengan masalalunya. Tak akan semudah itu. Kalaupun memang sudah waktunya untuk mencari penggantinya, sudah pasti itu bukan aku.