Part 9

1778 Kata
Here we go again... Aku terbangun saat merasakan seluruh badanku mulai gatal. Tidak hanya wajah, bibirku juga sudah mulai memucat. Perutku seperti dililit hingga aku meringkuk menahan sakit. Mual sekali, tetapi aku tak sanggup berjalan kekamar mandi. Jadilah, aku memilih berdiam diri sambil mendengar kuliah tujuh menit dari Mama. "Mama uda bilang, Al, makan itu jangan asal-asalan. Dilihat loh, itu yang mau dimakan apa, bukannya asal masuk begini. Kamu uda besar, masih aja gak bisa bedain mana makanan yang cocok sama kamu dan mana yang enggak," Mama menggeleng miris. Menyodorkan beberapa obat dan segelas air putih. "Masa mau Mama ingetin terus?" "Iya, Mama... maaf. Alana lupa." "Kamu itu lupa atau pura-pura lupa?" "Pura-pura hehehe... soalnya Pak Bagas suka seafood, segan banget kalau Alana nolak, mana menggiurkan," aku mencoba memberikan senyum terbaik. Lalu melahap habis obat-obatan tersebut, "Yah sudah, aku makan aja. Kebetulan lapar juga." Mama menaikkan sebelah alisnya, "Masa? Lebih menggiurkan mana, seafoodnya atau yang ngajakin makan seafoodnya?" goda Mama padaku. Aku memutar bola mata malas, "Kalau Alana jujur pasti diceng-cengin sampe besok, jadi Alana milih bohong aja. Enakan seafoodnya." "Masa sih, Al? Kalau menurut Mama sih lebih ke yang ngajakin makan." Mama membereskan kotak obat khusus yang letaknya didalam laci kamarku, "Mama gak yakin kalau efeknya cuma ini doang, pasti nanti muka kamu bakal bengkak-bengkak kayak biasanya. Jadi hari ini jangan kerja dulu ya, Nak, istirahat. Nanti Mama bilangin Papa supaya izinin kamu ke Bagas." Badanku yang lemas rasanya tak bisa lagi membantah, hanya mengangguk mengikuti kemauan Mama. "Thanks, Mom, sorry uda ngerepotin," ucapku tulus tapi dibalas dengan... "Halah... biasanya juga ngerepotin tapi gak ada tuh bilang makasih, tunggu begini aja baru. Mama balik kamar ya, jangan rewel, nikmatin aja sensasinya." Ketika Mama hendak balik kekamarnya, benda pipih yang letaknya diatas nakas samping tempat tidurku berbunyi, memperlihatkan nama Pak Bagas dilayarnya, "Nih, pacarmu telepon, angkat. Bilangin kalau kamu beneran sakit karena ulahnya, supaya besok-besok dia tau kalau mau makan, ngajaknya kemana." Mama melemparkannya kepadaku, membuatku meringis mendengar ocehannya. Aku menggeleng melepas kepergian Mama. Lalu berdeham mencoba menetralkan suaraku, "Halo..." "Diangkat ternyata, padahal tadi saya iseng." Iseng-iseng berhadiah kali, Pak. Bisa aja ngelesnya. "Kebangun. Badannya gaenak banget, keringetan terus gatel-gatel. Kulitnya sampek hampir luka karena saya garukin terus," aku mengadu diikuti bibirku yang mengerucut layaknya seorang anak kecil. "Ya ampun... saya minta maaf ya, Al.... Saya gak tau alerginya kamu beneran kambuh secepat ini. Aduh... saya jadi gak enak begini. Uda minum obat? Atau jangan-jangan obat yang saya belikan itu gak ada satupun yang termaksud obat alergi kamu ya?" Aku menggeleng, kemudian meralatnya ketika menyadari laki-laki itu tidak akan bisa melihatnya, "Uda kok, baru aja dikasih Mama. Ada, Pak... Bapak ngasihnya uda ngalahin apotek, banyak banget. Mama sampek bingung sendiri, apalagi ada Combatrine." Pak Bagas tertawa, "Kalau yang itu saya khilaf, saya juga gak tau Ibu penjaga Apoteknya bakalan kasih itu juga. Kamu butuh sesuatu gitu? Makanan mungkin? Supaya saya anterin." Aku memiringkan tubuh kesamping, menarik selimut tebal agar lebih bisa menyembunyikan seluruh bagian badanku, "Gak usah, uda jam berapa ini. Lagian tadi uda disulangin nasi pake ikan sama Mama. Tapi by the way, Pak... Bapak tau kan manfaat Conbatrine itu apa? "Tau lah, saya gak sebego itu ya, Alana." Senyumku mengembang. Kantuk dan rasa tak nyaman yang tadi datang menyerangku, telah hilang begitu saja, tergantikan rasa syukur sebab didekatkan dengan seorang laki-laki dewasa seperti Pak Bagas. "Apa coba?" "Untuk itu," "Ya untuk apa?" tanyaku lagi. Aku mendengus geli saat mendengar suara helaan nafasnya yang berat, "Untuk mengobati orang-orang yang terkena cacingan, Alana. Sudahlah, saya malu." Sungguh menggemaskan. Walaupun sosoknya tidak ada disampingku, aku dapat membayangkan wajahnya yang memerah menahan malu. "Bapak kok belum tidur? Telat loh nanti ngantornya, apalagi nanti ada jadwal meeting." Aku sengaja mengalihkan pembicaraan, tak ingin membuatnya merasa semakin malu. "Masih selesaian sisa yang dikantor tadi. Sayang kalau dibiarin gitu aja. Lagian saya belum ngantuk, soalnya tadi habis minum kopi." "Kebiasaan deh," aku berdecak kesal, kebiasaan buruk yang baru kusadari setiap mengetahui hal-hal buruk yang dilakukannya. "Bapak tau kan bahaya minum kopi itu apa? Apalagi kalau minumnya pas sore atau malam, bisa jadi sulit tidur terus bangun dengan tubuh kelelahan. Saya tau kopi itu mengandung kafein yang bisa meningkatkan kewaspadaan sehingga otak jadi lebih fokus bekerja dan lebih produktif, tapi jangan keseringan dong, kasihan badannya. Mana masih merokok lagi, campur aduk deh jadinya- Bapak? Uda tidur ya? Gak mungkin..." aku terdiam, memastikannya masih mendengarkanku apa tidak. Padahal aku sendiripun masih doyang minum kopi. "Belum, i can hear you, lagi dong, seneng kalau denger kamu ngoceh. Adem telinga saya." "Ih... serius tauk!" "Kamu kalau ngomongnya gitu jangan lewat telepon ya, gemes saya, saya jadi gak bisa lihat wajah cemberut kamu secara langsung." "Out of topic banget, malesssss..." Pak Bagas tertawa, dapat kudengar grasak-grasuk yang kuyakini laki-laki dewasa itu sedang berpindah tempat dari tempat duduknya ke tempat tidurnya, "Kamu loh yang lagi sakit, bukan saya. Kok jadi saya yang diceramahin?" "Jadi gak suka?" "Suka, banget malahan. Kalau bisa tambahin." Baru kali ini aku menemukan seseorang yang diceramahin bukannya marah atau tapi kesenengan. "Capek ah, jadi tambah sakit badannya," elakku. Padahal seger banget, walaupun masih ada lemesnya, tapi denger suaranya itu kayak ngebangkitin imun gitu loh. Ibaratnya kayak kamu lagi ditempat umum nih, terus rasanya ngantuk, bosen, karena gak ada temen ngobrol. Dan ketika kamu melihat ada gerombolan laki-laki ganteng dateng dan parahnya duduk disamping meja kamu. Gak kebayangkan dampaknya gimana? Mata auto melek, ngantuk hilang, perasaan jadi seneng gitu. Duh, faktanya emang nyegerin. "Request satu lagu dong, Al, saya lagi pengen nyanyi nih." Dahiku mengkerut mendengar perkataannya, "Random banget," "Gak tau, tiba-tiba pengen nyenengin kamu." "Bapak aja, saya dengerin, moga-moga bisa bikin saya ngantuk lagi." "Okei, tapi jangan di-judge ya, saya lagi berusaha ini," Aku berdehem, membiarkan Pak Bagas sibuk memilih lagu kemudian menyanyikannya. You're just too good to be true Can't take my eyes off of you You'd be like Heaven to touch I wanna hold you so much At long last love has arrived And I thank God I'm alive Bagas Dirgantara, seseorang yang selama ini tak akan pernah kusadari kehadirannya, akan memberi efek seluar biasa ini padaku. Laki-laki yang irit ketika berbicara kepada orang lain, cuek dan begitu dingin itu sedang menyanyikan sebuah lagu cinta untukku. Suara beratnya begitu menenangkan hingga rasanya aku terbuai ingin mendengarnya secara langsung. You're just too good to be true Can't take my eyes off you Pardon the way that I stare There's nothing else to compare The sight of you leaves me weak There are no words left to speak But if you feel like I feel Please let me know that it's real You're just too good to be true Can't take my eyes off you Pak Bagas tak hanya memberi aman, melainkan nyaman dan damai. Setiap perlakuan manisnya seakan-akan menghipnotisku, menyatakan bahwa akulah satu-satunya perempuan beruntung sebab telah berada didekatnya. I need you, baby, and if it's quite alright I need you, baby, to warm a lonely night I love you, baby, trust in me when I say Aku hanya manusia biasa yang pernah diberi luka mendalam oleh seseorang yang teramat berharga bagiku. Andre, sosoknya yang selalu mencintaiku, membuatku harus selalu merasa berkegantungan dengannya. Tiap hari, tiap menit hingga tiap detik, aku ingin berada didekatnya, tenggelam dalam dekapan hangatnya juga tersenyum dalam indah wajahnya. Aku selalu menanti saat-saat dimana hari akan terasa lebih menyenangkan dengannya. Hingga pada akhirnya, aku yang terlalu banyak berharap, harus terluka akibat harapanku sendiri. Dan aku pun belum tau, apakah aku bisa melupaknnya atau tidak. Sebab, untuk memulainya saja aku belum mampu. Mendengar setiap kata yang keluar dari bibir manisnya, akhirnya kantuk itu datang kembali. Bukan hanya lagunya yang enak didengar, melainkan suaranya juga. Semenjak bekerja dengan seorang laki-laki bernama Bagas Dirgantara, aku seperti kembali menemukan pelangi ditengah derasnya rintik hujan. Kami pernah berdebat, kami pernah saling beradu argumen, tetapi itu semua tidak membuat kami berjarak. Oh, pretty baby, don't bring me down, I pray Oh, pretty baby, now that I found you, stay And let me love you, baby, let me love you Aku memegang teguh pendiriannya, bahwa yang dilakukannya padaku adalah cara terbaik seorang atasan yang ingin melindungi anak buahnya. Aku menepis segala rasa kagum, suka dan pesona yang datang padaku. Aku tidak ingin berjarak juga aku tidak ingin terlalu dekat dengannya. Aku masih belum bisa sepenuhnya melepas Andre, dan ia juga merasakan hal yang sama dengan mantan istrinya. Lantas, untuk apa aku harus mencari kepastian atas diriku, apakah aku sudah mencintainya apa tidak? Tidak ada gunanya. Aku tidak akan pernah bisa mencintainya, atau lebih tepatnya tidak ingin. Perlahan-lahan penglihatanku mulai mengabur, mataku tertutup seiring dengan suaranya yang semakin jauh untuk kudengar. Akhirnya aku tertidur tanpa tau bagaimana ujung dari sesi telponan kami kali ini. Kembali aku terbangun saat menyadari jahatnya terik matahari terasa menusuk-nusuk mataku. Sudah pukul sebelas, pantas saja. Bukan hanya aku, tapi semua orang, yang dilakukan setelah bangun tidur adalah memeriksa ponsel, bukannya mencuci muka, sikat gigi atau membersihkan tempat tidur. Sepi, belum ada tanda-tanda kehidupan baik itu dari grup kantor maupun grup cewek-cewek ceriwis yang berisikan Dyra, Jovita dan Lara. Namun ada satu notifikasi darinya, membuat senyumku perlahan berkembang diikuti perasaan senang saat membaca sebuah pesan manisnya untukku. Selamat pagi, Alana, selamat beristirahat. Hari ini saya izinin kamu untuk gak masuk kantor, jadi jangan tiba-tiba mendadak heboh sebab merasa akan terlambat. Jangan lupa makan dan minum obat. Saya bakal selalu tungguin kamu disini, kamu harus kembali pada saya dalam keadaan sehat walafiat. Oke, Alana? Ku peluk ponsel bermata tiga itu dengan luapan kebahagiaan. Ia mengatakan akan selalu menungguku, sungguh kata-kata yang sederhana namun mampu membuat perasaanku jungkir balik. Tanpa perasaan malu atau memang sudah tidak mempunyai malu lagi, aku memfoto diriku sendiri, tanpa filter juga makeup. Hanya sedikit polesan dari sinar matahari dan selimut tebal yang menutupi bagian dadaku. Segera kukirim padanya, lalu memberitahunya bahwa aku sudah bangun. Kukira ia akan sibuk, namun nyatanya balasan darinya masuk dalam hanya hitungan detik. Pak Bagas Dirgantara Cakep banget, Alana. Matahari sampai insecure saking kalah cerahnya dari kamu. Alana Makasih deh atas pujiannya, saya tau saya emang cakep, tapi gak perlu diperjelas gitu dong, saya kan jadi malu? Pak Bagas Dirgantara Mandi sana, bau, uda tercium sama saya sampai sini. Alana Mager ahhh, mandiin dong... Tidak!!! Demi apapun, nekat banget. Harap-harap cemas aku menunggu balasan darinya. Pesan itu sudah memperlihatkan centang birunya namun tak kunjung juga dibalas. Dan beberapa menit kemudian, muncullah sebuah pesan berisikan, Pak Bagas Dirgantara Iya, nanti, tungguin ya, kalau sudah sah dimata Tuhan dan negara. Eits... ape ni? APE NI? Mendadak greget sendiri sampe ponselku terbanting begitu saja sakin senengnya. Maksudnya gimana? Ada yang bisa jelasin? Kalau sudah nikah gitu? Pak Bagas naksir aku? Cinta aku? Kok tiba-tiba deg-degkan sih, kan seharusnya biasanya aja.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN