"Amy!"
Suara lengkingan anak kecil terdengar memenuhi ruangan tempat aku dirawat. Kaki yang pendek dengan langkah yang kuyakini sudah bekerja semaksimal mungkil, masih saja membawanya dengan lambat. Sungguh menggemaskan.
"Amy Amy Amy!" teriaknya tanpa henti. Pak Bagas yang memperhatikannya hanya menggelengkan kepala, membiarkan gadis kecil tersebut melompat-lompat dihadapannya.
"Apy mau naik. Mau peluk Amy!" ujarnya penuh keceriaannya. Rambutnya yang dikepang dua, bergoyang kesana kemari.
"Naik sendiri. Apy males gendong kamu, kamu berat."
"Apy... mau naik, mau peluk Amy, boleh kan, Amy?"
"Kamu berat," Pak Bagas masih saja kekeh dengan ucapannya. Berat dari mana? Jahat banget.
Tadi malam, suhu tubuhku meningkat drastis. Entah karena apa, aku tidak tau. Sangat terpaksa, Papa dan Mama membawaku kerumah sakit, kebetulan dokter yang biasanya menangani keluarga kami, sedang berada keluar kota.
"Aku gak berat, Apy," ucapnya semangat dengan ceringan menggemaskan yang ia tampilkan untuk melunakkan hati Pak Bagas. "Lingan kok, tadi cuma makan ayam dua potong. Gak berat Apy..."
Pak Bagas menggeleng sambil berkacak pinggang, "Jawab dulu, satu tambah satu berapa?"
"Dua!"
"Dua tambah dua?"
"Empat!"
"Empat tambah empat?"
"Delapan, Apy." Gadis kecil itu mulai bergerak lucu, kekanan dan kekiri. Jangan lupakan, jari jemarinya saling bertautan seperti ia sedang mendengar seksama apapun yang diucapkan oleh Apynya dan menghitungnya.
Pak Bagas menyunggingkan senyum, saat kulihat, ia membalasnya, kemudian mengedipkan sebelah matanya. Why he is so f*****g handsome?
"Kalau delapan tambah delapan?"
Kini badannya berhenti bergerak, jari telunjuknya yang kecil naik mengetuk-ngetuk dahinya. Ia bergumam, lama sekali, sampai aku harus menggepalkan tanganku karena melihat wajahnya yang sangat menggemaskan.
Ingin sekali aku mencubit pipinya, memainkannya sampai puas. Ya Tuhan, sepertinya empuk, persis seperti donat.
"Sebental ya, Apy, aku hitung dulu," ujarnya. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara, menghitukan satu persatu jarinya, setelah di hitungan kedelapan, ia berhenti dan berkata, "Jalinya gak cukup, Apy."
Tanpa pikir panjang, aku mengeluarkan kedua tanganku yang sedari tadi tersembunyi didalam selimut lalu menyodorkannya, "Pakai jari Amy, Nak..." ucapku untuk pertama kalinya.
Entah karena sudah menyebutkan diriku dengan sebutan Amy atau karena menyebutnya dengan sebutan Nak, tiba-tiba dadaku menghangat. Pipiku bersemu merah. Apa ini pertanda bahwa hubungan ku dan Pak Bagas sudah selangkah lebih maju?
"Sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, lima belas, enam belas, tujuh.....be..." ia menggeleng, berpikir sejenak, "Enam belas Apy!" jawabnya penuh keyakinan.
Pak Bagas terdiam, memasang ekspresi marah sedangakan si gadis kecil tersebut hanya nyengir sampai memperlihatkan giginya yang ompong dibagian depan.
"Bener gak ya?" Pak Bagas bergumam, "Bener gak, Amy?" tanyanya padaku, "Salah deh kayaknya," aku menaikkan alis. "Atau bener?"
"Benel, Apy!"
Pak Bagas membungkukkan badannya, mensejajarkan wajahnya padanya, "Cium Apy dulu."
Lucu sekali, ia menciumnya, setelah pipi kanan, gantian pipi kiri, "Bener. Anak Apy emang pinter!"
Ia berjingkrak ria, "Makasi, Apy!"
"Sama-sama, nak..." dan mudahnya Pak Bagas mengangkatnya, mendekatkannya padaku, "Kenalan dulu sama Amy."
Tangan mungilnya terjulur padaku, "Laya, Amy..."
Aku menerima tangannya, "Laya?" beoku.
"Iya, Laya, el a ye a..."
Aku tertawa saat mendengarnya tengah mengeje namanya. Cadelnya yang membuatku salah arti. Aku kira namanya Laya, ternyata...
"Raya, Amy, bukan Laya," jelas Pak Bagas.
Raya mengangguk setuju.
"Alana. Amy Alana..." ujarku pelan.
Raya memajukan badannya, dan mencium punggung tanganku, seketika membuatku terpesona. Masih kecil begini, sopannya sudah minta ampun. Bagaimana besar? Ngedidiknya pinter nih orang tuanya.
"Pinter banget..." bisikku kepada Pak Bagas.
"Kita harus punya yang begini satu dirumah. Nanti saya tanya Raga dan Kayyisa bagaimana cara membuatnya," mendengarnya, aku membelalakkan mata, "Kamu tenang aja, yang penting kamu harus mau jadi lawan main saya," setelahnya, Pak Bagas berhasil mencuri satu kecupan dibibir ku yang kering.
Bisa saja modusnya.
"Papa sama Mama dimana, nak?" tanya Pak Bagas, saat aku mulai mengusap-ngusap pipinya yang super duper lembut sedangkan diatas gendongannya, Raya sedang asik tersenyum dengan kedua mata yang terpejam.
"Dikamal sebelah, Apy. Tante Caca lahilan, dedek bayinya cowok. Aku kilain cewek," balasnya sedikit cemberut membuatku tersenyum.
"Kenapa emang kalau cewek?"
"Kalau cewek bisa aku ajak main boneka-bonekaan, masak-masakan."
Seperti tau maksud kesedihan keponakannya, Pak Bagas ikut tersenyum, "Cowok sama cewek itu sama aja."
"Beda, Apy. Kalau cowok mainnya motol-motolan kalau cewek mainnya boneka-bonekaan," ujarnya tak mau kalah.
"Tapi sama-sama manusia, sama-sama bisa jadi temennya Raya. Sama-sama bisa diajak main sama Raya. Gak ada bedanya."
Aku menahan tawa melihat interaksi mereka dan berkata, "Dedek bayinya pasti seneng punya kakak kayak kakak Raya. Mau dedeknya cewek, mau dedeknya cowok, gak ada bedanya. Sama-sama bisa jadi temennya Raya. Jangan sedih, nanti dedeknya ikutan sedih."
Pancaran matanya yang tadinya meredup kini mulai kembali cerah, "Belalti aku tetap bisa main boneka-bonekaan, Amy, sama dedek bayi?"
"Bisa, dong," baru saja aku berniat ingin gantian memeluknya, Pak Bagas lebih dulu memelukku. Mengecupi puncak kepalaku berulang kali.
"Subhanallah..." gumamnya yang terdengar olehku.
Kami sudah seperti keluarga kecil yang paling bahagia dimuka bumi ini.
"Amy Amy, kenapa tangannya di kasih penutup? Kenapa juga halus ada selang? Gunanya apa, Amy? Kalau dilumah, selang itu gunanya untuk ngalilin ail di kolam ikan," tanyanya. Saat Raya hendak menyentuh punggung tanganku yang sudah terpasang infus, gerakannya terhenti dan terkejut sebab ucapan salam yang kuat dari seorang laki-laki yang tak kalah menawan dari Pak Bagas.
"Assalamualai- eh... jangan di pegang tangan Amynya, kak..." katanya spontan dengan tangan naik keatas sebagai bentuk arahan agar Raya tidak melanjutkan kegiatannya.
Disusul sosok perempuan cantik dibelakangnya. Ia tersenyum, sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku gak pegang kok, Papa, cuma mau sentuh saja," katanya polos.
"Sama aja bocil," tutur Papanya yang mendapatkan sikutan dari perempuan cantik disebelahnya.
Keduanya berjalan kearah kami, membuatku semakin jelas melihat bahwa mereka terlihat sangat cocok jika disandingkan berdua begini.
"Papa, Amynya cantik, sepelti Mama," ujar Raya tiba-tiba yang tidak didengar oleh Papanya.
"Halo, Mbak, saya Raga adiknya Mas Bagas dan ini istri saya, Kayyisa." Raga dan Kayyisa menunduk padaku.
Aku tersenyum, "Saya Alana, asistennya Pak Bagas," balasku apa adanya.
Kayyisa melirik kearah Raga sedangkan Raga menatap heran Pak Bagas.
"What?" tanya Pak Bagas sok keren, "Emang kenyataannya gitu kan?"
"Aku kirain hubungan kalian sudah sejauh itu makanya Mas iyain waktu Raya bilang, Mbak Alana yang bakal jadi Amynya," ceplos Raga.
Alisku menyatu, tidak habis pikir.
"Terus siapa lagi? Mau aku bilang Alena? Kan sudah meninggal. Cuma Alana yang deket sama ku, yasudah."
Aku terdiam seribu bahasa.
"Yahsudahlah, kak, Mas Bagas juga gak salah kok. Kakak dari tadi sensian terus."
"Bukan gitu, sayang, maksud aku tuh-"
"Papa, Amy cantik, kayak Mama," tutur Raya pelan, atau lebih tepatnya mengulang ucapannya tadi.
Kayyisa mendengus geli, "Cantikan Mamalah kemana-mana," kata Raga. Laki-laki itu duduk disalah satu sofa dekat tempat tidurku sedangkan istrinya tengah sibuk menata makanan yang sudah dibawanya.
"Tapi Amy juga cantik, Papa. Mama cantik, tapi Amy juga. Kalau dihitung satu sampai sepuluh, Mama cantiknya enam kalau Amy empat. Maaf, Amy..." ujarnya takut-takut.
Aku tertawa, tanganku yang bebas dari infus, menariknya agar duduk diatas pahaku. "Its okei, sayang. Malahan menurut Amy, Mama cantiknya sepuluh, Raya juga."
"Laya cantiknya kayak Mama, Amy?"
"Raya cantiknya persis seperti Mama," sungguh indahnya makhluk kecil satu ini. Bagaimana Raya bisa semenggemaskan ini? Walaupun cadel, Raya tetap lancar dalam berbicara. Sopan dan sangat ceria. Padahal masih tiga tahun, tetapi tingkahnya persis seperti anak-anak yang usianya berada diatasnya.
Raya maju, memelukku. Membuat Kayyisa sedikit tertawa dan berkata, "Makasih, Mbak..."
Aku pernah mendengar cerita tentang Kayyisa, aku pernah mendengar bagaimana susahnya Raga dalam mendapatkan hati Kayyisa. Kayyisa yang kehadirannya selalu tidak diinginkan oleh keluarganya, membuatnya harus sakit dan hancur dalam satu waktu. Kayyisa juga harus terjebak dengan seorang laki-laki yang kepercayaan tidak searah dengannya. Demi Kayyisa, Raga berusaha, Raga melakukan apapun untuk mendapatkannya. Setidaknya itulah yang kudengar dari Pak Bagas juga Mama.
Pak Bagas kini sudah ikut bergabung dengan Raga, entah apa yang mereka perbincangkan, namun keduanya terlihat sangat serius.
"Ini aku panggilnya kamu Mbak atau gimana?" tanyaku pada Kayyisa.
"Panggil Ayyik saja, Mbak." Lembut sekali suaranya. Bagaimana bisa orangtuanya tidak menginginkan sosoknya? Tidak hanya parasnya, hatinya juga sepertinya baik. "Mbak mau makan sup? Tadi kebetulan aku masak sup ayam. Kalau mau, ini biar aku siapin."
"Sup ayam buatan Mama, enak Amy. Aku suka," ucap Raya yang sudah terkikik geli sambil memainkan ujung rambutku yang sedikit keriting.
"Aku boleh coba? Aku juga belum makan."
Sebagai anak satu-satunya, aku selalu ingin mempunyai saudara kandung. Supaya ada teman curhat, teman main, teman liburan juga teman yang kalau lagi diluar, syarat untuk pulang, harus bawain makanan supaya dikasih masuk.
Oh god, kenapa Papa dan Mama anaknya cuma satu sih?
Coba kalau ada, pasti seru. Apalagi adik, enak banget untuk disuruh-suruh, tentu saja, tidak boleh marah.
Kayyisa mengangguk, "Kak Raga sama Mas Bagas, mau sup ayam?"
Keduanya langsung menggeleng.
"Makasih, Ayyik. Tapi aku enggak, tadi baru aja selesai makan siang dikantor," jawab Mas Bagas.
Dan Raga, "Kamu mah gitu, doyan banget bikin perut suaminya buncit."
"Tinggal olahraga. Apa susahnya sih?" balas Kayyisa.
"Kalau gak sama kamu, aku males. Gak seru," jawab Raga. Mengerti maksud dan tujuannya, aku langsung menutup kedua telinga Raya.
"Hei, bukan gitu maksudnya," ucap Kayyisa malu-malu.
"Lah, kamu sendiri yang bilang olahraga."
"Bukan olahraga itu maksud aku, kak Raga..."
"Terus? Olahraga apa yang kamu maksud selain olahraga malam, Kayyisa?"
Kayyisa memaksakan tersenyum, sedangkan aku saling adu pandang dengan Pak Bagas.
"Kamu kan sering nge-gym. Nge-gym juga olahraga kan? Jangan aneh-aneh deh pikirannya, ada Raya disini."
Mungkin melihat istrinya yang wajahnya sudah merah padam, Raga berhasil menyemburkan tawanya. Ia tertawa hingga Raya mencibir.
"Papa aneh, Amy. Tiba-tiba ketawa sendili," ujar Raya sok tau.
"Iya, Papamu aneh. Pengen Apy bacain ayat kursi supaya sadar," tutur Pak Bagas.
Raga masih asik tertawa sedangkan Kayyisa hanya menggelengkan kepalanya. Perempuan itu dengan sabar meracik sup yang akan diberi padaku.
"Sayang," panggi Raga.
Kayyisa hanya berdehem.
"Ayyik," ulangnya.
"Lihat sini dulu dong."
"Sebentar, kak..."
"Kayyisa," dan ketika Raga mengatakan itu, Kayyisa langsung membalikkan badannya.
"I love you," ujar Raga lalu melemparkan satu kecupan jarak jauh untuk istirnya.
Kayyisa memang menggelengkan kepalanya, tetapi kedua tangannya terjulur kedepan. Seakan mengambil kecupan dari suaminya itu. Setelah dapat, ia menggenggamnya kuat, lalu memasukkannya kedalam hatinya.
Melihat Raga dan Kayyisa dengan tingkah anehnya, membuat Pak Bagas mengkerutkan dahinya. Mungkin ia tengah berpikir buruk tentang Raga dan segala kebucinannya.
Punya pasangan yang romantis, mungkin bagi sebagian orang akan terasa sangat menakjubkan. Tetapi tidak dengan yang lainnya. Bagi mereka, memiliki pasangan yang tingkahnya satu frekuensi lebih menyenangkan. Selera humor yang sama, pergaulan yang terasa seru juga perbincangan yang tidak ada habisnya.
Setiap hari, setiap jam hingga detik, hari-hari akan terasa lebih berwarna. Tanpa merasa terbebani, keduanya dengan lapang d**a menerima kekurangan juga kelebihan masing-masing. Tidak merasa gengsi jika bersikap konyol dan hubungan akan terasa tidak membosankan.
Sedari tadi aku memandangn keduanya, mereka memilikinya, pasangan satu frekuensi. Aku sangat menyukainya. Aku bahkan ingin memiliki pasangan seperti itu.
Ketika aku melihat Pak Bagas, aku masih harus menerka-nerka. Apakah ia masuk dalam kriteria yang kumaksud atau bukan.
Namun sayangnya, ketika aku melihatnya lebih lama lagi, aku dapat merasakan kejanggalan yang akupun tak tau itu apa. Tetapi yang jelas untuk saat ini, aku sedang malas memikirkannya.