Part 11

1715 Kata
"Bagas gak makan dulu? Ini Tante uda bawain sup ayam. Papanya Alana suka banget ini." Mendengarnya, aku dan Pak Bagas saling berpandangan. "Tadi juga Alana makan sup ayam. Dibawain Kayyisa," ujarku. "Kayyisa?" ujar Mama ragu. "Iya, Kayyisa. Istrinya Raga." Pak Bagas dengan telaten memotong kuku ku dengan penjepit kuku, merapikannya, lalu menghebusnya pelan, "Selesai!" serunya membuat ku tersenyum. "Baru aja balik, Tante. Sama Raya juga," sambung Pak Bagas. Mama menutup kembali mangkuk supnya, takut dingin. Merapikan piring juga sendok. Aku masih kenyang, Pak Bagas mau pulang karena sudah ditunggu orangtuanya, Papa juga masih asik kerja. "Kok Mama gak jumpa ya, Al?" "Rumah sakit ini lebar, Ma. Tipis kemungkinan kalau berjumpa. Apalagi tadi kita sempat keruangan temennya Mama, gak ketemu lah," ujar Papa tanpa melihat Mama. Setelahnya, Pak Bagas izin pamit. Ponselnya sudah berdering berulang kali, menampilkan nama sekaligus foto Mamanya yang sama sekali tidak mengenal kata tua. Aku yakin banget, pasti wajah Mamanya jauh terlihat lebih cantik jika bertemu secara langsung. Papa dan Mama mengantar Pak Bagas sampai luar ruangan, kemudian masuk kembali dengan senyuman yang merekah namun sayangnya penuh sindiran-sindiran halus. "Alana ngantuk, pengen bobo," kataku, mencoba mencari cara agar tidak ditanya yang aneh-aneh. "Tidak semudah itu, Queen. Kamu utang penjelasan sama Papa dan Mama," ujar Papa yang langsung menutup laptopnya kemudian duduk disisi tempat tidur, "Kok bisa Bagas ada disini? Kok bisa Raga disini? Apalagi istri dan anaknya ikut. Papa sih gak yakin kalau kalian cuma segedar partner kerja." Aku membalikkan badan, menjadi memunggungi Papa. "Oohh... ceritanya mau main sembunyi-sembunyi nih dari Papa?" Mama ikut menimpali, "Sama, Pa. Mama juga. Seratus persen, Mama yakin, Alana dan Bagas pasti sudah maju satu langkah. Buktinya tadi Bagas mau-mau aja potongin kuku Alana. Selama Alana disini, Bagas rutin kemari, kayak gak ada kerjaan lain selain lihatin Alana." Aku membenamkan wajahku lebih dalam lagi kedalam selimut, menghalau rona merah yang kini sudah muncul tanpa diundang dipipiku. "Mama itu pengen banget ketemu Raya. Pasti anaknya lebih menggemaskan dari pada di foto," ujar Mama, "Mama gak kebayang punya cucu seperti Raya, Mama jamin, pasti Mama ajak main tiap hari." "Papa kira Raya baru lahir." Terdengar Mama berdecak kesal, "Sudah tiga tahun, Pa. Papa tau sendiri, anak umur segitu pasti lagi lucu-lucunya." "Ya Papa mana tau, Ma." Dasar suami takut istri. Saat nama Raya disebut, aku pelan-pelan menurunkan selimut. Sepertinya sudah mulai pindah ketopik lain nih. "Semalam Mama ketemu sama Omanya, Rayanya sih gak dibawa, tapi fotonya dijadiin wallpaper sama Omanya. Cantik banget, Pa." "Jangan bikin Papa penasaran, Ma." Aku semakin menurunkan selimut, hingga kini selimut tersebut hanya tinggal menutup separuh badanku. Lalu membalikkan badan, dan... aku menghembuskan nafas kesal, sudah ada Papa dan Mama tepat dihadapanku. "Kaget!" ujarku, lebih tepatnya sok kaget. "Halah, gak usah banyak alasan. Kasih tau Mama, kamu dan Bagas itu ada hubungan apa? Kalau kamu jawabnya hanya segedar teman kerja, sorry sorry to say nih, Mama gak percaya." Aku mengangguk cepat, "Y-ya emang cuma sebatas partner kerja, Ma. Gak lebih. Mama sendiri tau, aku gak doyan sama laki-laki yang umurnya jauh diatas ku." "Gak yakin, Mama." "Papa juga, Ma..." si Papa malah ikutan. "Selama aku hidup, aku cuma pacaran satu kali, Ma. Namanya Andre. Mama pasti ingat. Laki-laki yang aku ceritain pernah selingkuh dari ku. Dia umurnya sama kayak aku. Dan aku, belum ada niatan cari laki-laki lain,-" "Jangan bilang kamu belum move on dari dia?" Aku mengedikkan bahu, "Gak tau. Tapi kayaknya belum, soalnya Andre masih sering ada dipikiranku." Papa dan Mama serentak memukul dahinya. "Bocah edan!" ujar Papa. Sedangkan Mama, "Paksa pikiranmu itu buat melupakan dia. Dia bisanya cuma nyakitin kamu. Mending sama Pak Bagas, sudah baik, ganteng, mapan, ramah, paket komplit. Menantu idaman ibu-ibu komplek. Lihat saja, gak cuma umurnya aja yang matang, wajahnya juga, apalagi tubuhnya... beh... mantul, mantap betul," Mama mengacungkan kedua ibu jarinya. "Tapi Pak Bagas Duda, Ma. Mama gak mungkin setuju lah, apa lagi Papa," aku tersenyum menang. Perkataanku akan mampu membuat Papa dan Mama tidak berkutik. Sayangnya, itu hanya imajinasi ku semata. Sebab yang Mama katakan selanjutnya, membuat jantungku berdebar. "Emang kenapa? Apa ada yang salah dari seorang duda?" Aku tergugup, "Y-ya gak ada." "Lantas kenapa? Mama setuju-setuju aja. Selama laki-lakinya baik, rajin bekerja, sayang sama orangtuanya, gak banyak tingkah, Mama pasti setuju. Gak cuma Bagas, kalau memang diluar sana ada duda yang lagi ngincer kamu, Mama izinin, selama dia memang sudah tidak terikat lagi dengan masalalunya." Pembicaraan mulai serius, "Apa Papa dan Mama gak malu punya mantu seorang duda?" Papa dan Mama serentak menggeleng, "Cakep gitu, gimana Papa bisa nolak?" ujar Papa menggoda, "Tapi Papa serius, Al. Ini bukan karena kamu, Papa seneng banget kalau uda sama Bagas. Apa yah... Bagas itu rendah hati banget, walaupun terkadang cuek, tetapi Papa yakin, cueknya dia hanya untuk orang-orang yang tidak mengenalnya dengan baik. Setiap apapun yang Papa lakukan, kalau sudah Bagas ikut turun tangan, pasti semuanya beres dengan cepat. Papa gak tau, Bagas pakai pelet apa, tapi Papa cukup mengaguminya. Eit... Papa bukan bermaksud berkampanye tentang betapa hebatnya Bagas ya, tetapi kalau memang mau, bolehlah dibicarakan lagi," Papa menyengir dihadapanku. "Sama aja, Papa..." Belum lagi siap sama Papa dan Mama, trio ubur-ubur sudah datang membawa kegaduhan. "ASSALAMUALAIKUM!!!!" Ucap mereka serentak. Aku memukul dahiku. "Eh ada Om dan Tante..." ucap Dyra sok ramah. "Waalaikumsalam..." ujar Mama, memeluk Dyra, Lara dan Jovita secara bergantian. "Om!" Pekik Dyra, si anak Papa yang ngakunya sering tersakiti. Papa merentang kedua tangannya kepada Dyra, lalu memeluk Dyra erat. Diikuti Lara dan Jovita. Dyra dan Papa itu sudah seperti best friend forever, apalagi masalah nge-roasting aku, pasti langsung maju, saling mendukung satu sama lain. "Uda makan, Nak?" tanya Papa. "Uda, Om. Baru aja selesai," balas Jovita. "Om Om Om, tau gak-" ujar Dyra terpotong yang langsung disambung Papa. "Haduh... ini nih, dua kata yang paling sering menjadi awalan pergosipan." Aku kira Papa bakal menggelengkan kepalanya, melenggang pergi keluar kamar, taunya... "Apa? Kayaknya seru nih!" Otomatis Dyra, Lara dan Jovita saling bertepuk tangan. Mama sampai mengepalkan kedua tangannya keatas, seakan ikut merasa senang. "Tapi jangan sampe ketahuan orangnya ya? Ini kita-kita aja yang tau." Dyra kampret. Buta ya mata lo?! Jelas-jelas gue ada disini. "Kemarin aku lihat Alana dan Pak Bagas pelukan dipinggir jalan, malah maghrib-maghrib, gak takut apa ditemenin setan? Gak cuma disitu aja, Alana dan Pak Bagas juga sering dua-duaan diruangannya. Wajar sih emang, namanya juga Alana itu asistennya Pak Bagas, tapi ini kurang ajar, Om, Tante. Alana duduknya dipangku sama Pak Bagas, beh... saya sih gak tau sampe ciuman apa gak, tapi..." tutur Dyra. Aku membelalakkan mata kaget. Dari mana perempuan ular ini tau? "Tapi apa? Jangan bikin Tante penasaran dong!" Dyra menarik Papa, Mama, Lara dan Jovita agar lebih dekat dengannya, "Tapi Pak Bagas uda cium pipi Alana!" Sialan! Ngajakin berantem ni orang. Papa dan Mama langsung bersorak gembira. Lara ikut menganggukkan kepalanya sedangkan Jovita jatuh menyandarkan punggung pada sandran sofa. "Pantas Raga dan istrinya kesini. Rupanya hubungan kalian sudah sejauh itu?" pungkas Papa. Kepalanya mengangguk sambil tersenyum penuh arti. "Jangan percaya sama perempuan ular itu, Pa! Dia doyan banget ngarang cerita!" tunjukku murka pada Dyra. Kalau saja saat ini tanganku tidak sedang diinfus, sudah pasti aku akan turun dan menerjangnya tanpa ampun. "Dyra bener, Om, Tante. Lagian kalau hanya sebatas partner kerja, gak mungkin lockscreen hpnya Pak Bagas itu foto Alana. Mana candid lagi," bela Jovita. Kalau yang ini aku beneran gak tau. "Serius lo?" tanya Lara seakan memahami isi pikiranku. "Serius. Waktu meeting kemarin gue gak sengaja lihat hp dia. Hp dia kan kalau kesentuh dikit aja langsung nyala gitu, yaudah, ada foto Alana disana. Kayaknya waktu kemarin mereka kunjungan proyek gitu, soalnya bajunya sama." Astaga Pak Bagas, apa-apaan sih? Kan jadi... suka... Aku gak pernah tau dan aku gak pernah mencoba mencari tau. Selama aku belum menjadi apa-apanya, aku tidak pernah berani mencoba menyentuh barang pribadi miliknya. Aku tak mau dicap lancang, sedangkan aku harus berusaha memberikan yang terbaik untuknya. Eh tunggu-tunggu, yang terbaik untuknya? Kenapa aku harus melakukan itu? "Sudah Tante duga. Bagas itu selalu nyempatin diri lihat Alana kerumah, alasannya ada yang mau diobrolin sama Om. Ngobrol apaan? Waktu denger suara pintu kamar Alana kebuka, anaknya langsung kabur. Waktu Tante tanya kenapa, Bagas cuma senyum. Gak jelas." "Itu namanya kangen, Tante," Jovita menjentikkan jarinya, "Cuma pengen tau kabar Alana, cuma mau ngepastiin apakah Alana baik-baik saja? Apakah Alana tidurnya nyenyak? Wahh parahh, kelihatan banget yang bucin duluan siapa!" "Kalian setuju gak kalau Alana sama Bagas?" Wah, bisa-bisanya Mama bertanya seperti itu, tentu saja, "SETUJU TANTE!" Aku memukul-mukul kepalaku pelan. Ingin melenyapkan mereka semua dari sini. Lebih baik aku sendirian, dari pada harus ditemani oleh orang-orang tidak punya pri-kemanusiaan seperti mereka. Tentu saja itu berlaku untuk Papa dan Mama, yang tiba-tiba lupa anaknya sedang sakit. Baru saja aku hendak mengambil air putih demi menghalau rasa kering ditenggorokanku, benda pipih yang sedang tergeletak diatas meja menghentikan kami semua. Ponselku menyala. Dan rezekinya, bagi Papa, Mama, Dyra, Lara dan Jovita, yang menjadi penyebabnya itu adalah Pak Bagas. Dengan gerakan kilat Dyra mengambilnya lalu menyodorkannya padaku. "Loudspeaker!" bisik Mama kuat. Aku menggeleng. "Loudspeaker atau Mama gak akan izinin kamu nonton drama lagi!" Ancaman yang sangat menakutkan. Dengan kesal aku mengangkatnya, menghidupkan loudspeakernya. Yang pertama kali kudengar adalah salam darinya yang lembut. "Assalamualaikum, Al..." Lidahku mendadak kelu. "Assalamualaikum, Al..." ulangnya. Aku mendengarnya, hanya saja aku sedang tidak mampu berkata apapun. "Assalamualaikum cantiknya saya, saya cuma mau laporan kalau saya sudah sampai dirumah. Ini mau makan, ada Raya juga." Dari seberang sana aku mendengar Raya menjerit, "Halo Amy, Assalamualaikum..." Aku menggigit bibir bawah menahan rasa bahagia. "Halo, Waalaikumsalam, nak..." tukasku sedikit bergetar. "Amy, Laya makan dulu ya... dadah Amy..." setelah itu suara beratnya kembali menyapaku, "Amy," ujarnya. Aku berdehem. "Salam dari saya belum dibalas." Aku tersenyum, saat menyadari bahwa ia tidak sedang berada disampingku, aku berucap, "Waalaikumsalam, laporannya saya terima. Terimakasih sudah menyempatkan diri untuk memberi kabar." "Saya gak mau membuat kamu khawatir." Jawaban yang mampu menyejukkan hati. "Makan dulu gih, nanti sakit," pintaku pelan. "Siap bu bos yang paling cantik! Kalau nanti saya hubungi lagi, boleh?" "Boleh." "Oke deh! Assalamualaikum Amy cantik." Rona merah jelas menjalar dipipiku, mungkin sudah sampai telinga. Aku tersenyum-senyum tidak jelas, tidak mengerti kenapa Pak Bagas bisa sangat menggemaskan. Saat aku ingin mengembalikan ponselku keatas nakas, aku langsung merutuki diriku sendiri ketika melihat Papa, Mama, Dyra, Lara dan Jovita sudah memandangku kaget. Ya Tuhan, ujian apa lagi ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN