Part 12

1561 Kata
Setelah hampir satu minggu dirawat dirumah sakit, akhirnya aku bisa bernafas lega. Menghirup udara sebanyak mungkin sebagai bentuk balas dendam sebab sudah merasa terkurung. Hari ini, hari yang paling mengesankan untukku. Ada Dyra dan Pak Afif yang akhirnya bertemu dalam satu waktu. Tanpa ajakan atau ucapan selamat tinggal seperti biasanya. "Udah gue bilang, lo masuk rumah sakit bukan karena alergi lo, tapi asam lambung lo naik. Lo budek atau gimana sih, Al? Gue harus apa lagi supaya lo mengerti? Minum kopi itu gak bagus, apalagi terus menerus. Lo juga gak doyan makan nasi. Lo maunya apa sih? Mati? Jangan nyusahin gue terus lah," Dyra sibuk mengoceh. Padahal tangannya tengah bergerak cepat mengetik sesuatu di laptopnya. Aku dan Dyra sudah berada dirumah, atau lebih tepatnya dikamarku. Inginnya quality time berdua, tetapi Pak Afif datang menganggu, katanya sedang rindu pada Dyra. Dangdut banget. "Pintunya biarin dibuka aja. Masuk, ngapain berdiri disitu?" Sarkas Dyra tanpa ampun. "Buset dah. Galak bener buk," tutur Pak Afif. "Pak Afif bawa apa?" Tanyaku. "Mau saya bilang ini dari saya, tapi takut ada yang cemburu," lirik Pak Afif pada Dyra. Mungkin sedang berharap perempuan itu bereaksi, namun sayangnya tidak sama sekali. Merasa diabaikan, Pak Afif berdehem, tersenyum tipis sambil melangkahkan kakinya semakin dekat padaku yang masih rebahan diatas tempat tidur. "Dari saya. Maaf kemarin gak bisa jenguk. Saya harus keluar kota, ada beberapa masalah yang harus saya selesaikan." Aku tersenyum lebar. Tidak ingin menyakiti hatinya lebih dalam lagi. "Gak pa-pa. Lagian saya sudah sembuh kok. Pak Afif kesini sendiri?" Pak Afif mengangguk. Mengeluarkan satu kota martabak manis dan asin dari dalam plastik. "Kenapa? Kamu berharap saya kesininya bawa Bagas?" Pak Bagas semakin mendekatkan tubuhnya, dan berbicara dangat pelan kepadaku. "Al, saya tau ini akan sangat memalukan. Saya juga tau ini saya beli untuk kamu. Tapi saya boleh minta yang asinnya beberapa potong gak? Mau saya kasih sama," liriknya pada Dyra. Bibirku berkedut. Ingin sekali aku menertawakannya. "Bapak tau aja kesukaan Dyra." "Boleh, Al?" tanyanya lagi kemastikan. Aku mengangguk. "Kamu mau juga? Supaya saya ambilin sekalian." "Gak usah, Pak. Makasih atas tawarannya." Dengan senyuman yang masih mengembang. Pak Afif mengambil piring bersih yang berada diatas nakas samping tempat tidurku. Lebih dulu menaruh tisu sebagai alasnya agar minyaknya dapat terserap pada tisu tersebut. Sangat telaten sekali. Seperti sudah terbiasa memahami apa yang disuka oleh Dyra. Tanpa banyak omong, Pak Afif menaruh tiga potong martabak asin, menatanya rapi. Lalu memberi space sedikit diujung piring sebagai tempat mangkuk kecil yang berisi kuah sebagai cocolan. "Tau dari mana Dyra cuma bisa makan tiga? Dia yang kasih tau sendiri?" tanyaku super pelan. Takut Dyra mendengarnya. "Saya lihat, saya perhatikan kalau dia lagi makan." Aku mengangguk. "Dia cantik banget kalau lagi makan. Apalagi sampai mulutnya penuh, gemes. Kayak anak kecil. Pengen saya bungkus, bawa pulang," cerocosnya. Aku mengerling jahil, "Terus, sampe rumah diapain?" Pak Afif menatapku sejenak, kemudian tertawa, "Kamu serius nanyain ini?" "Iya," jawabku pasti. "Saya jadiin ART lah, apalagi. Lumayan gratis." Mendengarnya, aku ikut tertawa. Kuat sekali. Sampai-sampai Dyra berdehem. Mungkin merasa berisik. "Gak lah. Saya kekep, saya kelonin, saya jagain dari pagi sampai malam." Setelah mengatakannya, Pak Afif mengantar martabak tersebut pada Dyra. Pak Afif bergerak sangat pelan. Tidak mau menganggu konsentrasi Dyra yang sedang mamasang mode serius. Merasa ada sesuatu dihadapannya, Dyra mengangkat kepala, menatap Pak Bagas dengan ekspresi tanya. "Please, kali ini saya lagi gak mau berantem." "Emang siapa yang mau berantem!" "Kamu." "Perasaan." Ketus, ingin sekali rasanya aku memukul kepala Dyra. Apa yang salah dari Pak Afif? Pak Afif menyukainya, Pak Afif menaruh harapan lebih untuknya. Apa yang membuat Dyra lalai dalam menilainua? Pla Afif tidak seperti Pak Bagas yang berstatus duda. Ia masih sendiri. Hidupnya sudah mapan. Hartanya banyak. Bukan hanya itu, wajahnya ganteng, kulitnya putih, bersi. Seperti terawat. Mengapa Dyra tidak juga membuka hatinya untuk Pak Afif? "Makan kali, Dyr. Lo yang bilang sendiri, kalau lo dari semalam belum makan." Pak Afif langsung menolehkan pandangannya kearahku. "Iya," aku mengangguk, "Dyra belum makan dari semalam. Katanya gak selera. Saya uda tawarin makanan dari sini, kebetulan semalam Mama lagi masak menu kesukaan dia, tapi dianya gak mau." "Kamu kenapa? Kok belum makan? Nanti sakit," ujar Pak Afif lembut. "Yang sakit kan saya. Bukan Bapak!" "Tapi saya gak suka kalau kamu sakit." "Kenapa gak suka? Ingat, saya bukan siapa-siapanya Bapak. Jadi Bapak jangan berlaku seperti saya itu adalah seseorang yang kehadirannya sangat berharga untuk Bapak." Dyra memandang Pak Afif dengan tajam. Alisnya ikut menukik, "Mending Bapak pulang. Saya gak suka kalau Bapak ada didekat saya. Saya juga muak lihat muka Bapak. Jangan hubungi saya lagi. Jangan kirimin saya pesan-pesan tak bermutuh itu lagi. Jelas kan?" Pak Bagas menghembuskan nafasnya pelan, "Saya cuma gak mau kamu sakit. Apa saya salah? Seharusnya kamu tau, kahadiran kamu, senyum kamu, tawa kamu, adalah hal yang sangat saya syukuri dihidup saya. Saya gak tau saya salah apa, sampai kamu tidak sedikitpun membuka ruang dihati kamu untuk saya. Saya selalu bertanya-tanya, kapan ya Dyra bisa menerima saya? Kapan ya Dyra membuka matanya, sedikiiiiiit saja untuk melihat saya, bahwa saya benar-benat mengharapkannya? Kapan ya Dyra mencoba mengerti saya?" Seharusnya Pak Afif marah, seharusnya Pak Afif balik membalas tatapan Dyra yang tajam. Sayangnya tidak. Laki-laki itu malah tersenyum, meredupkan matanya. "Kalau memang kamu gak suka saya berada didekat kamu, saya minta maaf. Mungkin saya sedang lupa diri. Kalau begitu, saya pamit. Dimakan," Pak Afif mendorong piring tersebut hingga menyentuh tangan Dyra, "Setidaknya untuk yang terakhir kalinya." Pak Afif bangkit dari duduknya. Menyambar kunci, dompet juga ponselnya diatas meja. "Saya pulang, Al. Makasih sudah dibolehin jenguk. Semoga cepat sembuh." Ia tak lagi melihat Dyra. Ia tak lagi berpamitan pada Dyra. Langkahnya yang lambat semakin menyakitkan hatiku. Tidak enak hati melihatnya seperti ini. "Dyr, sumpah! Lo apa-apaan sih? Lo gak seharusnya kayak gitu. Bisa gak sih, lo jangan egois, sedikiiiiit aja. Dia uda sering banget baik sama lo. Gak pernah gue denger dia ngeluh kalau lo bulak balik nolak dia. Dia tetap kekeh ngejar lo. Oke, gue faham kalau ini perasaan lo, gue gak ada hak buat ngatur. Tapi setidaknya lo hargai, apa sesusah itu nerima martabak dari dia? Lo kenapa sih, Dyr? Jangan gini dong. Gue aja yang lihatnya sakit hari banget. Apalagi dia." Tanpa pikir panjang aku mengucapkannya. Tidak perduli kalau Dyra merasa sakit hati. Tapi ini sudah keterlaluan. "Lo gak akan ngerti, Al," balasnya. Dyra bangkit, dari yang duduk lesehan menjadi diatas sofa. Lalu menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa sambil tangannya memijat sisi kepalanya. "Dibagian mana yang gue gak ngerti? Kasih tau gue, Dyr." "Pokoknya lo gak akan ngerti!" Bentaknya tiba-tiba. Dibentak seperti itu, emosiku akhirnya terpancing. "APA YANG GAK GUE NGERTI KALAU LO GAK SEKALIPUN CERITA KE GUE?! PAK AFIF ITU BAIK, DYR. LO LIHAT, DIA RELA MALAM-MALAM KERUMAH LO CUMA KARENA DIA TAU KALAU LO LAGI SENDIRIAN. DIA RELA GAK JADI NGANTOR, CUMA KARENA NUNGGUIN LO DI RUMAH MANTAN LO YANG SIALAN ITU. DAN LO BILANG KALAU GUE GAK NGERTI? BUKA MATA LO LEBAR-LEBAR. JANGAN TAUNYA IYA-IYA AJA KE MANTAN LO YANG b******k ITU!" "DIA GAK b******k!" Bela Dyra. "GAK b******k?" Aku tertawa sarkas. "GAK WARAS. LO MENDING PULANG DEH! JADI GUE YANG MUAK LIHAT MUKA LO!" Kesabaranku benar-benar tidak bisa dibendung lagi. Sudah dari dulu kukatakan bahwa mantannya itu tidak ada bagus-bagusnya. Berbeda dari Andre yang kepergok selingkuh, tapi yang ini kepergok mukulin Dyra. Sampe mukanya Dyra lebam-lebam. Dan ia masih mencoba membelanya? Sialan. "NGAPAIN? PULANG SANA!" Dyra langsung berdiri. Merapikan barang-barangnya dengan kasar. Tidak ada yang perlu diperjelas lagi, aku sudah muak dengan segala keegoisannya. Saat punggungnya hampir hilang dibalik pintu. Pak Bagas tiba-tiba saja muncul, kemudian menahan tangannya. Sempat ku dengar laki-laki itu bertanya mengapa Dyra pulang. Perempuan sialan itu menghempaskan tangan Pak Bagas, melangkahkan kakinya pergi tanpa menoleh sedikitpun. "Hi, whats going on?" Tanyanya. Lebih dulu meletakkan sebuah totebag diatas meja kemudian berjalan mendekat kearahku. "Pusing," ungkapku. "Need hug?" "Maybe." Pak Bagas langsung menarikku. Menenggelamkanku dalam pelukannya yang hangat. "Pusing kepalanya." Tangannya yang tadi mengusap punggungku, menjadi naik kekepalaku. Memijatnya seraya sesekali mengecupnya. Kami berdua sama-sama saling terbungkam. Aku yang memang emosinya masih terpancing, harus mencoba meredakannya. "Pak Afif tadi kemari. Tapi uda balik duluan sebelum Dyra," ceritaku. Suaraku teredam sebab masih tenggelam dalam pelukannya. "Pasti mereka berantem lagi," balasnya. Aku mengangguk, "Padahal tadi Pak Afif cuma mau ngasih martabak yang dibawanya, tapi Dyra ngelantur kemana-mana." Aku mendongak, "Dia bilang gini, Mending Bapak pulang. Saya gak suka kalau Bapak ada didekat saya. Saya juga muak lihat muka Bapak. Jangan hubungi saya lagi. Jangan kirimin saya pesan-pesan tak bermutuh itu lagi. Kan kesel." Aku sudah seperti seorang anak kecil yang sedang mengadu pada Ibunya. Pak Bagas tersenyum geli, menangkup pipiku dan kini memainkannya. "Gemes!" Serunya. Memajukan wajahnya, hingga kini ujung hidung kami saling bersentuhan lalu menggesek-gesekkannya sampai terdengar suata mmmmm. Mungkin merasa sudah puas, Pak Bagas menjauhkan wajahnya dariku. "Saya gak tau kenapa Dyra seenggak suka itu sama Afif." Aku terdiam, menimang-nimang apakah aku harus memberitahunya alasan mengapa Dyra tidak menyukainya atau tidak? Beberapa menit kemudian Pak Bagas melepaskan pelukannya, tidak bertanya sedikitpun. Ia hanya mengingatkan bahwa, "Saya gak mau lihat kamu sakit lagi. Jadi tolong kerja samanya. Boleh?" "Kalau saya gendut gimana?" Ia berjalan, tanpa permisi mencomot sepotong martabak yang dibawa Pak Afif. "Tetap cantik. Gemes. Manis. Imut." Pak Bagas menghabiskannya dalam dua kali gigitan, lalu melanjutkannya, "Gimanapun bentuk kamu, saya tetap suka. Dan saya harap kamupun begitu ke saya." Ini aku uda boleh minta langsung dinikahi aja gak sih? Suka banget.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN