Aku bersembunyi dibalik tembok pembatas antara kamar mandi dan dapur. Berusaha sekuat mungkin agar tidak menimbulkan suara. Sebab sekarang, aku tengah mendengarkan pembicaraan Dyra si perempuan ular dan Mbak Laras si perempuak licik.
Mereka berdua asik membicarakan sesuatu, sampai tidak menyadari, sedari tadi aku sudah berdiri sembil menyesap kopi dengan pandangan yang tidak sedikitpun beralih dari mereka.
Aku tidak mengerti mengapa perempuan ular itu mau, biasanya ia lah yang paling anti jika ada sangkut pautnya dengan Mbak Laras.
Apa mungkin Dyra sudah tidak mau berteman dengan ku lagi? Apa ini bentuk sebagai ajang balas dendam yang ia lakukan, dengan mendekatkan dirinya pada perempuan yang ku benci?
Setalah apa yang kami lakukan bersama, Dyra sebegitu mudahnya melepas pertemanan kami?
Hampir tidak ada satupun cerita yang terlewati olehnya didalam hidupku. Segalanya ku bagi, bukan hanya senangnya, juga pahitnya. Dan sialnya perempuan itu menerima, tidak pernah mengeluh sedikitpun.
Dan hanya karena aku membentaknya kemarin, sekarang ia sudah berpaling? Jadi, apa gunanya kami berteman selama ini?
"Nanti saya usahain, saya juga gak bisa seenaknya pergi gitu aja. Masih ada yang harus diselesaikan," ujar Dyra.
Aku masih menunggu. Menunggu topik apa yang mereka bicarakan hingga Dyra mau saling bertatap muka dengannya.
"Team kamu dan team saya berbeda. Apa susahnya jika kita menyatukan sebuah perbedaan?"
"Ya karena berbeda, makanya saya gak semudah itu buat pergi, Mbak Laras. Saya harus nge-handle beberapa proyek yang belum selesai. Masih ada yang nganggur, saya belum sempat selesain."
Masalah pekerjaan ternyata.
Mbak Laras yang tadinya memandang lurus kearah jendela, mengubah posisi badannya menjadi menyamping. "Saya tunggu, dua atau tiga hari. Kalau memang kamu tidak mau sendiri, silahkan bawa Lara atau Jovita. Saya gak masalah."
Namaku tidak disebut, karena peranku tidak sedikitpun bisa diambil ahli olehnya. Hanya Pak Bagas yang boleh.
"Iya, Mbak Laras, akan saya usahakan. Sudah kan, Mbak? Saya permisi."
Dyra yang sudah siap-siap melangkahkan kakinya pergi. Sayangnya, tangannya langsung dicekal oleh Mbak Laras, "Saya lihat-lihat, sudah dua hari kamu tidak bersama Alana. Apa ini satu langkah baik, dengan kamu yang mulai mengerti, bahwa berteman dengannya sangat tidak menguntungkanmu?"
Mendengarnya, badanku menegak. Perlahan-lahan menurunkan gelas kopi yang masih kugenggam.
"Maksudnya?"
"Sudah saya katakan, Alana dan segala ucapannya itu sangat disayangkan jika dipercaya begitu saja. Jangan mau dimonopoli olehnya," balas Mbak Laras percaya diri. Ia melipat kedua tangannya didepan d**a lalu tersenyum miring.
"Ternyata Mbak peka juga. Saya kira, cuma saya yang berpikiran seperti itu," ujar Dyra tanpa ku sangka-sangka. Kukira ia akan membela ku. Ku kira ia juga akan membalas perkataan Mbak Laras dengan kata-kata yang lebih menyakitkan. Ternyata aku salah.
Memang sejatinya, manusia itu paling tidak bisa untuk diharapkan.
Mbak Laras bertepuk tangan. Senang, tentu saja. Ternyata ia mempunyai suara yang sama dengan Dyra. "Lara dan Jovita juga kasih tau. Gak baik, kalau kamu sendiri saja yang mengetahui betapa toxicnya Alana. Saya aja kasihan lihat Pak Bagas yang tiap hari ketemu dia, apalagi kalian. Kalian kan hampir 24 jam sama dia terus."
Sok tau.
"Saya juga kasihan sama Pak Bagas. Saya pengen bilang, mending Bapak pecat Alana aja. Alana gak ada gunanya. Skill dia gak bisa dipake sama sekali. Taunya cuma nyusahin. Nanti deh saya bilangnya, nunggu waktu yang tepat."
"Sama Lara dan Jovita juga," tambah Mbak Laras.
"Tentu aja, Mbak. Kita gak bakal mau temenan sama orang toxic. Kita juga uda capek kok ngadepin dia, banyak mau. Kalau permintaan dia gak dituruti, ngambek. Suka nyuruh-nyuruh. Mentang-mentang jabatan dia paling tinggi," jelas Dyra. Tanganku semakin kuat menggenggam gelas tersebut. Mungkin rasanya akan pecah. Karena rasa geram ku pada Dyra semakin membara.
Aku memandang keduanya dengan tatapan tidak suka. Siap menyerang siapa saja yang sudah menjelekkan-jelekkanku dibelakang, walaupun itu sahabatku sendiri.
Mbak Laras mendaratkan kedua tangannya dibahu Dyra, menepuknya pelan. "Kamu tenang aja, kalau Alana gak mau temenan sama kamu, kamu gabung di team saya aja. Orang-orangnya baik, gak banyak mau. Kami terima-terima aja kok. Jangan sungkan."
Setelahnya, Dyra maju, memeluk Mbak Laras. Menepuk pelan punggung perempuan itu. "Pasti, Mbak."
Awalnya memang terlihat pelan, namun lama-lama pukulannya menjadi kuat. Hingga Mbak Lara melepas paksa pelukannya dan menatap Dyra dengan ekpresi tanya.
"Pasti. Pasti kalau semua itu cuma angan-angan Mbak aja," jawab Dyra.
"Maksudnya?"
Dyra mendengus geli, mendorong lengan Mbak Laras dengan kuat. "Saya pikir apa yang Mbak bicarakan tadi adalah suatu hal yang ada didalam diri Mbak. Mbak pikir Mbak sehebat apa sampe saya mau bertemu dengan Mbak kalau bukan karena pekerjaan? Sejujurnya saya itu ogah banget lihat muka Mbak. Apalagi lama-lama begini, saya mau muntah. Awalnya saya pikir ada baiknya saya ketemu Mbak, karena Mbak juga masih senior saya. Tapi makin kesini, kok seru juga ya, apalagi gibahin anak orang yang jelas-jelas perangainya lebih baik dari Mbak. Pasti Mbak tadi ngerasa keren banget karena saya percaya. Kasihan deh, tapi bohong!" Dyra menjulurkan lidahnya.
Terlihat Mbak Laras menaikkan sebelah tangannya. Membuat Dyra lebih dulu menyadari apa yang akan dilakukan oleh lawannya.
"Apa? Mau nampar saya? Atau mau adu otot sama saya? Skuy, lah. Ya kali gak."
Tiba-tiba saja bibirku berkedut menahan senyum. Dyra ini... awas aja.
"Saya gak sudi sentuh-sentuh kamu. Najis." ketus Mbak Laras.
"Yah... padahal lagi pengen berantem," lirik Dyra.
"Kamu itu munafik juga ya. Masih aja mau dibohongin sama perempuan seperti dia." Mbak Laras menjentikkan jarinya dihadapan Dyra. "Hei dengar, Alana itu bukan orang baik. Mungkin kamu kira saat ini saya tengah berusaha sekeras mungkin untuk menjelekkannya, faktanya tidak. Alana lebih buruk dari yang kamu bayangkan. Sebelum melangkah lebih jauh, sebaiknya kamu berjauhan dengan Alana. Jangan membuang waktumu dengan berteman dengannya."
Kenapa sih Mbak Laras masih saja keras kepala menjelaskan itu pada Dyra. Sudah tau Dyra tidak akan perduli. Masih saja coba-coba.
"Bangun, Mbak. Kayaknya kesadaran Mbak masih ketinggalan deh dirumah."
"Sembarangan kamu sama senior!"
"Senior?" Dyra mangut-mangut, "Iya deh yang senior. Uda tua, uda bau tanah. Sadar, Mbak. Inget suami dan anak dirumah. Jangan nambahin beban mereka. Syukur-syukur mereka gak tau kalau tingkah laku Mbak begini."
Aku terkejut saat Mbak Laras sudah menjambak rambut Dyra. Membuat Dyra harus mendongak dan terpekik kaget.
"Woi!" Teriakku. Tidak perduli walaupun mengundang banyak orang. "Perempuan gila!" Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulutku.
Bukannya menjauhkan tangannya dari Dyra, aku malah ikut menjambak rambut Mbak Laras. Membuatnya mengadu dan otomatis melepas Dyra.
"Enak aja main jambak sahabat gue." Aku semakin menarik rambutnya kebawah, tidak memberi kesempatan Mbak Laras lagi. "Lawan gue dulu kalau berani."
Kalau biasanya aku akan patuh, kalau biasanya aku akan mengalah. Kali ini tidak. Mbak Laras sudah kelewatan. Bukan hanya ucapan, ia sudah mulai berani main fisik.
Kami main jambak-jambakan. Mbak Laras dengan berani menaikkan kedua tangannya. Tangan kiri menjambakku dan tangan kanannya menjambak Dyra. Suara jeritan terdengar menggema. Awalnya hanya dihadiri oleh satu atau dua orang, ternyata ketika aku membuka mata, sudah hampir satu kantor memperhatikan kami. Sampai Pak Satpam pun ikut. Hanya saja ia tidak berani melerai, ada banyak orang yang melarangnya. Sungguh seperti pertikaian anak kecil.
Semakin kuat Mbak Laras menjambakku, maka semakin kuat juga aku menarik rambutnya. Aku tidak perduli mau rambutku serusak apapun nantinya, yang penting hari ini aku ingi membalaskan dendamku padanya.
"COLOK MATANYA, AL!" Teriak Dyra.
"SERIUSAN?!"
"IYALAH!"
Aku menggeleng, "GILA! NTAR BUTA DIA!"
"ROBEK BIBIRNYA, AL!"
Mbak Laras semakin brutal. Ia menendang tulang keringku dan Dyra secara bergantian. Membuat kami semakin menjerit.
"PEREMPUAN SIALAN!" teriaknya diantara kami berdua.
"APA LO BILANG? PEREMPUAN SIALAN? TERIMA INI!" Dyra mengacak-ngacak wajah Mbak Laras. Meninggalkan bekas yang mampu membuatku tertawa.
"JELEK AMAT MUKA LO! KAYAK NENEK LAMPIR!" Jerit Dyra tepat ditelinga Mbak Laras.
"LO KIRA LO UDA SEHEBAT ITU? LO LEBIH JELEK DARI PADA GUE. KALAU GUE KAYAK NENEK LAMPIR, LO APA? SAMPAH? TAI LO! GAK ADA ADABNYA SAMA SENIOR!" Mbak Laras memaki Dyra.
Aku masih setia menjambak rambutnya. Enggan berpindah tempat. Hingga membuat beberap rambutnya rontok saat sepasang tangan besar melingkupi tanganku. Jambakkanku mengedur, mau tidak mau aku melepasnya.
"Sudah, Al. Nanti tangannya sakit," bisik Pak Bagas.
Begitu juga Dyra. Sudah ada Pak Afif dibelakangnya. Memeluk perempuan itu dari belakang.
Kami sudah seperti menemukan pawang kami masing-masing.
Dyra memang lebih aktif dalam masalah ini. Ia tidak akan segan-segan melakukan apapun, demi mengalahkan lawannya. Padahal tadi aku yang bertekad. Tetapk Dyralah yang lebih semangat.
"Hei, sudah..." Pak Afif masih berusaha menjauhkan Dyra dari Mbak Laras. Sedangkan aku sudah melepasnya, dipeluk oleh seseorang yang lengannya melingkupi setengah badanku yang mungil.
"DIA DULUAN!" Adu Dyra. Kini Dyra mengacak-ngacak rambut Mbak Laras. Sedangkan Mbak Laras, memukul-mukul sisi kepala Dyra.
"Iya, saya tau. Sudah, Dyra..."
Dyra menggeleng. "SAYA MAU HANCURIN DIA!"
Nafasku tersengal-sengal, membuat Pak Bagas menepuk-nepuk pelan perutkut. "Pelan-pelan nafasnya, Al."
Aku mengangguk.
"GUE GAK BUTA YA! LO SELALU BEGINI KE ALANA. LO KALAU IRI SAMA DIA, BILANG. JANGAN MAINNYA KOTOR BEGINI. MAU GIMANA PUN, ALANA TETAP PEMENANGNYA. JANGAN MERASA SOK HEBAT!"
Dari sayap kiri, sudah ada Lara dan Jovita yang mendukung Dyra. "Gas, Dyr. Jangan kasih ampun!" Teriak keduanya.
Aku baru tau kalau ternyata mereka sudah mendengarnya. Rupanya selama ini mereka juga menyimpan dendam yang sama dengan Mbak Laras. Apalagi ini topik masalahnya adalah aku.
"Dyra kesurupan, Al. Saya takut!" Bisik Pak Bagas. Kemudian menyembunyikan wajahnya pada ceruk leherku.
"Ish! Jangan modus!" Aku menghentakkan kakiku kesal.
Dihadapan kami, Dyra masih saja bertarung dengan Mbak Laras. Sungguh, keduanya tidak sekalipun terlihat capek. Apalagi Dyra, sepertinya benar, ia sudah kesurupan.
"Dyr, sudah..." Pak Afif berusaha menarik tangan Dyra, "Kasihan Larasnya. Kamu jago banget. Dia gak bakal kuat."
"AW! SAKIT!" Mbak Laras meringis saat Dyra sudah menggerauk alisnya.
"RASAIN!"
Mungkin merasa jengah dengan Dyra, Pak Afif langsung mengangkat badan Dyra. Layaknya karung beras, Pak Afif meletakkan Dyra dibahunya. "Haduh, pusing saya."
Dyra memberontak, memukul-mukul punggung Pak Afif. "GAK MAU! LEPASIN!" Pak Afif tidak perduli. Membawa Dyra pergi, sampai keduanya menghilang dibalik ruangan laki-laki itu.
Mbak Laras berdiri dengan sempoyongan. Ketika hampir terjatuh, dengan cepat anak buahnya menangkapnya. Ia sempat beradu pandang padaku, lalu mengalihkannya saat badannya ikut berbalik dibawah anak buahnya.
Sorakan untuk Mbak Laras terdengar. Setelah itu semuanya langsung terdiam, ketika Pak Bagas menepuk tangannya. Hanya sekali, tetapi mampu membungkam mulut mereka.
"Bubar!"
Semuanya bubar, tanpa tertinggal sedikitpun. Aku mengkode Lara dan Jovita agar pulang nanti berkumpul dirumahku, yang mendapat persetujuan dari mereka.
"Kok bisa gini sih, Al?" Pak Bagas merapikan rambutku.
Aku yang sesekali meringis, mencebikkan bibirku kesal.
"Sakit pasti kepalanya?" Tanyanya.
"Sakit. Apalagi tadi dijambaknya kuat banget."
Kami saling behadapan. Aku yang lebih pendek darinya, harus berusaha semaksimal mungkin agar bisa menatap wajahnya.
"Gimana? Tetap cantik? Atau sekarang sudah berubah pikiran?" Godaku.
Pak Bagas menyemburkan tawanya. Hanya beberapa detik, setelahnya, bibirnya maju mengecup ujung hidungku.
"Saya gak pernah main-main dengan ucapan saya. Dari awal mengenal kamu, hingga sekarang, disaat kamu sudah acak-acakan begini, kamu tetap yang paling cantik dimata saya."
Perkataannya sungguh memabukkanku. Segala rasa sakit dan kesal yang tadinya menyatu, kini meluap begitu saja. Digantikan rasa kagum yang menggebu-gebu saat mendengar pujiannya.
Tak lagi memperdulikan sedang dimana aku berada. Atau siapapun yang akan melihat kami, aku mendekat, mengikis jarak diantar kamu berdua.
Bibirku mendekat, menyetuh bibirnya. Menyapanya sejenak, hingga berubah menjadi lumatan dan hisapan yang penuh hasrat dan gairah