Part 14

1580 Kata
"Kok bisa?" "Ya bisa!" "Apanya?" "Kok bisa berantemnya, Dyra?" "Tanya aja sama temenmu itu." Pak Afif berdecak kesal, mengetuk-ngetuk dahi Dyra yang sedari tadi mengkerut. "Laras gak mungkin nantangin kamu-" "Gak mungkin katanya?" Dyra tertawa mengejek. "Iya deh yang paling tau. Bela aja terus." Dyra tidak sedikitpun memperlihatkan wajah manisnya. Seperti mempunyai dendam yang teramat dalam pada laki-laki yang sedang susah payah merapikan rambutnya, Dyra membalas ketus setiap apapun yang dikatakannya. Aku, Dyra, Lara, Jovita, Pak Bagas dan Pak Afif tengah berada dirumah Pak Bagas, si duda ganteng yang masih sibuk memijat-mijat kakiku. Membatalkan niat yang ingin berkumpul dirumahku, membuat Lara dan Jovita mau tidak mau harus berbesar hati melihat Dyra sedari tadi mengamuk tidak menentu. Untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki dirumah megah ini. Seperti istana yang berada dinegeri dongeng, setiap tembok yang dicet warna putih bersih, memperlihatkan banyaknya figura-figura menarik yang dibiarkan terpajang bebas sebagai pengisi kekosongannya. Aku mendongak menatap tidak percaya pada rumah tersebut. Klasik dan modern jika disatukan ternyata menjadi semenakjubkan ini. Pilar-pilar tinggi terpasang tokoh sebagai penyangga, memperlihatkan kesan estetik. Setiap sudut ruangan diisi oleh guci-guci yang kuyakini harganya tidak main-main. Apalagi kursi dan mejanya, seperti ditempah khusus sehingga terlihat mewah dan penuh pesona. Bukannya bermaksud membandingkan rumah orangtuaku dengan rumahnya, bukankan rumah ini terlalu besar bila ditinggali hanya ia sendiri? Bagaimana cara mengurusnya? Bagaimana cara membersihkannya? Pasti sepi dan sunyi mengundang pedih. Beberapa pekerja hanya datang dijam tertentu, sedangkan Pak Bagas mungkin membutuhkan teman disaat malam telah datang. Yang dimana, ia dibiarkan sendiri dalam rumah sebasar ini. Aku cukup prihatin. Apa yang ia lakukan ketika merasa sendiri? Apa yang ia lakukan untuk mengusir sunyi? Siapa yang ia panggil jika ia membutuhkan sesuatu? Ntahlah, aku pun tidak tau serta terlalu malas mencari tau. Pak Bagas sudah besar, sudah pasti ia punya cara tersendiri untuk mengatasinya. Buktinya hingga saat ini Pak Bagas terlihat baik-baik. Tidak kekurangan sedikitpun. Lantas, kenapa aku dilanda cemas? Hubungan kami tidak seserius itu sampai-sampai otakku yang kecil ini harus memikirkannya. "Uda gede, masa masih doyan berantem sih, Dyr? Gak inget umur? Gak malu sama orang?" Pak Afif masih sabar. Kini rambut Dyra jauh terlihat lebih rapi dari sebelumnya. "Kalau gak karena dia duluan, saya juga males. Gak sudi deket-deket sama dia. Dia bau!" "Dan kamu sudah wangi?" "Iya lah!" Pak Afif memajukan badannya, "Mana coba sini, saya pengen tau kamu sewangi apa." Diterpa rasa bingung, Dyra membuang muka. Menjauhkan wajahnya dari Pak Afif hingga kini tatapan kami saling bersibobrok. "Lagian Mbak Laras wajar kok digituin. Kemarin dia ngata-ngatain Alana. Bilang Alana gak cocok sama Pak Bagas, Alana gak berguna, Alana gak becus jadi asisten Pak Bagas," ujar Lara. Jovita ikut membenarkan, "Betul. Saya sampe pikir, dia kok bisa seenggak suka itu ya sama Alana? Gak mungkin cuma karena iri saja. Apa karena dia suka Pak Bagas?" Pertanyaannya terakhir Jovita mampu mengundang tawa Pak Bagas. "Laras itu sudah punya suami, Jov." "Tau, Pak. Tapi kenapa dia selalu sewot setiap kali melihat Alana sama Bapak? Saya rasa gak masalah, karena Alana kan asisten Bapak. Alana berhak ikut kemanapun Bapak pergi," jelas Jovita. "Pasti nenek lampir itu iri, Alana kan lebih cantik dari dia. Bener kan, Pak?" Pipiku rasanya memanas, rona merah tentu saja sudah menjalar sampai telinga. Aku berusah sekuat mungkin menghindari tatapannya yang menatap ku geli. Sialan, Dyra sama sekali tidak bisa diajak kompromi. "Lagian saya gak ada alasan untuk membenarkan kalau istri orang jauh lebih cantik dari pada asisten saya," jawabnya tenang, namun mampu mendebarkan jantungku. "Jadi cantikan, Alana?" Tuntut Lara. "Tentu saja. Alana jauh lebih cantik dari siapapun. Setidaknya itulah yang saya lihat sampai saat ini." Mereka berseru senang, kecuali aku dan Pak Afif. Sempat terlintas dibenakku bahwa yang dikatakan Mbak Laras itu ada benarnya. Aku dan Pak Bagas mempunyai banyak perbedaan yang ternyata menimbulkan efek seluar biasa ini. Aku tidak ingin memaksakan segalanya. Pak Bagas dan kesempurnaannya sangat terasa jauh untuk ku gapai. Apa lagi ada beberapa hal yang masih mengganjal dihatiku tentang statusnya. Aku tidak tau bagaimana tanggapan orang nanti ketika tau aku telah menjalin hubungan serius dengannya. Seorang duda, kaya raya yang ditinggal istrinya pergi. Papa dan Mama memang memberi restu. Tetapi tidak dengan ruang lingkup yang mereka punya. Keluarga kami berasal dari keluarga terpandang. Tidak satupun dari kami yang berhasil mencoret nama baik keluarga sebab konsekuensinya kalau tidak dihukum ya dikeluarkan dengan cara tidak terhormag. Ada beberapa kriteria atau peraturan yang cocok dan tidak cocok tercantum didalamnya jika salah satu dari kami, baik anak maupun cucu memulai mencari pasangan hidup. Dan salah satu yang tidak cocok adalah, seorang duda ataupun janda. Sangat sulit memberi paham bahwa status bukan suatu hal yang perlu dipermalukan. Tetapi keluarga besar kami tetap berdiri teguh pada peraturannya. Tidak berani menyangkal ataupun melanggar. Padahal setahuku, peraturan ada untuk dilanggar. Pak Afif berdiri dari duduknya, memakai kembali jasnya, "Saya pergi dulu. Ada urusan," katanya entah pada siapa. Kami hanya mengangguk, kecuali Dyra. Perempuan itu tersenyum kecut. "Mau kemana, Pip? Uda malem banget ni. Gak nganterin Dyra sekalian?" Tanya Pak Bagas. Pak Afif menunduk, mengulurkan sebelah tangannya untuk mengelus puncak kepala perempuan yang kemarin mematahkan hatinya. "Gue lagi males patah hati. Kalau gue ajak pulang, ni orang pasti gak mau. Gue tau diri. Jadi mending gak usah diajak sekalian," ujarnya. Dyra mendongak, menepis tangan Pak Afif. "Baguslah. Sering-sering kalau bisa. Pulang sana, hati-hati," usir Dyra. Pak Afif mengangguk, sebelum meninggkan Dyra, Pak Afif lebih dulu meninggalkan satu kecupan manis didahi Dyra. Tidak lama, tetapi mampu membuat aku, Lara dan Jovita memekik kaget. "WOW!" Ini suara Jovita, memukul-mukil bahu Lara. Aku tertawa, sampai tertunduk. Tidak sengaja menjatuhkan kepalaku tepat dibahu Pak Bagas. Pak Bagas melilit pinggangku dengan posesif. Mengelus-ngelusnya menggunakan ibu jarinya. Sepeninggalnya Pak Afif, Dyra menatap horor kami semua. Melupakan Pak Bagas yang seharusnya ia hormati. "Apa?!" Ketusnya. "Gue gak minta, dia yang ngasih sendiri." "Iya, saya mengerti, Dyra." "Jangan mancing, Pak Bagas. Ini diluar jam kerja, mungkin rasa hormat saya terhadap Bapak sedikit menghilang." Pak Bagas mangut-mangut sedangkan Dyra sudah kembali mengacak-ngacak rambutnya. "Temen Bapak itu kenapa sih? Gak ada capek-capeknya. Saya aja yang dia giniin capek, masa dia enggak? Padahal saya uda kasih tau, gak perlu ngelakuin apapun, cukul diam dan menjauh. Kenapa dia gak juga mengerti? Harus saya mengemis? Harus saya berlutut kalau saya gak mau." Perkataan Dyra membungkam kami semua. Kenapa tiba-tiba perempuan ular itu meluapkan unek-uneknya? "Saya akui, saya sempat terhanyut dalam setiap perlakuannya. Saya juga sempat terpesona dalam setiap perhatiannya. Tapi itu cukup, saya gak mau lebih. Saya gak mau menjadi pribadi yang mempunyai rasa ingin memiliki atas dirinya. Disaat saya diam-diam menaruh rasa padanya, tapi diluar sana, dia diam-diam memberi rasanya. Tentu saja bukan pada saya. Pak Afif baik, ganteng dan mapan. Banyak yang menaruh hatinya, tetapi saya bukan salah satunya." Pak Bagas melepasku, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. Lara dan Jovita masih diam, mendengar setiap kata yang dilontarkan olehnya. "Gue tau, Al. Lo kayak gini karena lo sayang sama gue. Lo mengusahakan yang terbaik buat gue. Lo juga gak mau gue terlalu lama terjerat sam mantan gue. Sayangnya sekuat apapun, gue gak bisa kalau laki-lakinya itu masih saha Pak Afif. Dia bukan orang sembarang, dia menyimpan banyak pesona yang mampu membuat perempuan diluar sana menekuk lutut padanya." "Maksudnya?" Kata Pak Bagas tiba-tiba. "Seharusnya Bapak mengerti, laki-laki dewasa tidak akan mampu mengurus dirinya sendiri, jika didalamnya tidak ada penawarnya." Dyra tertunduk lesu, "Beberapa kali saya mendengar Pak Afif berbicara dengan seorang perempuan. Saya gak kenal. Tapi saya tau wajahnya. Wajahnya berulang kali muncul disaat Pak Afif pulang kantor. Awalnya saya menduga kalau itu pacarnya, tetapi semakin saya berusaha tidak perduli, wanita itu malah memunculkan dirinya dengan laki-laki yang berbeda. Saya berusaha menepis rasa penasaran, sialnya saya mendengar mereka. Kalau mereka mempunyai hubungan itu, friends with benefit. Dan saya membenci hubungan yang seperti itu." Aku menggembungkan pipi, kedua mataku menyipit kearas Pak Bagas. "Hah? Apa? Saya gak begitu, Al. Seriusan," elak Pak Bagas. "Saya juga baru tau kalau Afif punya hubungan seperti itu." "Pinter dia mainnya," cicit Dyra. "Buktinya Bapak aja yang temen deket gak tau." "Terus lo sebenarnya suka apa gak sama dia?" Tanya Lara. "Gue bingung, Lar. Gue gak mau berandai-andai. Gue takut gagal. Gue juga takut terperangkap dalam jurang yang sama. Gue lebih baik marahin, bentakin dia, supaya dia benci sama gue. Gue bak mau dicintai sama oranh kayak dia." Ada benernya juga sih. Aku juga tidak suka dengan laki-laki yang mempunyai hubungan seperti itu. Tidak ada gunanya. Buang-buang waktu. Apalagi itu sesat. Dosa. Takut Dyra semakin kalut, Lara dan Jovita berinisiatif untuk membawa perempuan itu pulang. Tidak baik membiarkannya terlarut dalam perasaan seperti itu. Terlebih Dyra adalah perempuan yang mempunyai banyak cara untuk membuatnya lebih baik. Bisa saja ia berakhir mengamuk disini atau parahnya pergi keklub malam, melampiaskan segalanya lewat minuman alkohol yang sangat ia cintai keberadaannya. Aku masih enggan berbicara, membiarkan Pak Bagas larut dalam kerjaannya. Sudah pukul sepuluh malam, aku tersadar saat Pak Bagas bangkit dari lesehannya, lalu duduk disampingku. "Kamu kenapa?" "Saya gak pa-pa." Kedua alisnya menukik, "Gak pa-pa mu membuat saya kenapa-kenapa. Apa perkataan Dyra membebanimu?" Aku mengerjap beberapa kali. "Untuk apa? Itu urusan Dyra dan Pak Afif, saya tidak mau ikut campur. Lagian kesenangan orang iti berbeda-beda. Kalau Pak Afif maunya begitu, saya bisa apa." Tiba-tiba Pak Bagas memelukku, menyurukkan wajahnya diperpotongan leherku, "Saya berani bersumpah, saya tidak seperti itu. Kamu percaya kan?" Seharusnya aku senang mendengarnya, tetapi rasanya biasa saja. Seharusnya Pak Bagas tidak perlu berbicara seperti itu hanya karena ingin membalikkan perasaanku. Seharusnya ia juga mengerti, tidak ada yang perlu dikatakan, hubungan kami tidak seberharga itu untuk dijelaskan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN